Menuju Kota Harapan!

Setelah menempuh jalan desa yang hanya beralaskan tanah atau sebagian tempat berpasir dan berbatu, begitu sampai di Baso kami bertemu jalan raya beraspal hitam. Kami menyeberangi jalan itu. Aspalnya yang panas diterpa panas matahari, membuat kakiku yang tanpa alas juga kepanasan. Aku menyeberang cepat-cepat. Tanganku yang tadi dipegang oleh pak Uwo aku lepaskan. Aku berlari menuju ke seberang jalan sambil meringis menahan panasnya aspal.

Sampai di seberang aku berdiri di sisi rel yang ditumbuhi rumput, menunggu pak Uwo yang menyusul di belakangku. Setelah pak Uwo berada di dekatku, kami lalu menyeberangi rel dua jalur dan terus berjalan menuju stasiun. Belum ada kereta di Stasiun Baso itu, karena kereta apinya belum datang.

Sampai di ruang stasiun kami menjumpai cukup banyak calon penumpang yang juga sedang menunggu kereta api. Kami lalu duduk di bangku panjang yang menempel ke dinding ruang tunggu. Stasiun ramai seperti pasar, karena stasiun Baso itu memang berada di seberang Pasar Baso. Sementara aku duduk, pak Uwo lalu mengatakan kepadaku agar tidak kemana-mana, karena pak Uwo akan pergi ke loket membeli karcis kereta.

Sekembalinya pak Uwo membeli karcis, beliau kembali ke tempat aku duduk, tempat duduk yang ditinggalkannya tadi sudah diisi orang lain. Pak Uwo menyuruh aku berdiri, kemudian beliau menggantikan tempat dudukku.  Sambil berdiri aku meraba sekitar celanaku yang tadi basah sewaktu menyeberang sungai. Nampaknya bagian luar semuanya sudah kering, kecuali bagian dalam di sekitar kantong, masih terasa agak lembab.

Di seberang jalan raya depan stasiun, berderet toko-toko yang menjual bermacam barang dagangan. Bahkan ada yang di depan tokonya menumpuk buah pisang yang belum dipisahkan dari tandannya, dan ada juga yang tokonya penuh dengan berkarung-karung beras hingga melimpah dan menumpuk ke bagian depan tokonya.

Dari obrolan calon penumpang kereta api yang juga duduk di ruang tunggu stasiun itu, aku mendengar kalau pisang dan beras itu akan dikirim ke Pakanbaru, dimana aku pernah merantau bersama dua kakakku 4 tahun sebelumnya.   

Di ujung deretan pertokoan terdapat los Pasar Baso, bersebelahan dengan lapangan sepakbola. Karena memang hari Minggu adalah hari pasarnya Pasar Baso, maka pasar itupun penuh sesak oleh pedagang maupun pengunjung yang berdatangan. Tidak hanya dari sekitar Baso, tapi dari nagari-nagari lain di sekitar Baso. Keluarga ayahku di Guguak Rang Pisang pun sering ke Pasar Baso ini.

Cukup lama kami menunggu hingga kereta datang. Capek berdiri, juga karena berjalan sejak dari kampung tadi, mataku mengantuk. Dalam keadaan bersandar di kaki pak Uwo, kadang-kadang badanku oleng, dan segera dipegangi oleh pak Uwo sambil menggoyangkan badanku hingga aku terbangun lagi, walau dalam keadaan mataku masih berat.

Akhirnya kereta yang kami tunggu datang juga. Dari jauh kedengaran suara peluitnya yang khas melengking tinggi dengan suara cuit, cuit… serta asap hitam yang mengepul dari lokomotifnya. Para penumpang di stasiun segera bersiap-siap, termasuk kami. Pak Uwo bangun dari bangku yang didudukinya, sambil memegangi tanganku kami berjalan mendekati peron.

Setelah kereta memasuki stasiun dan berhenti, aku lihat cukup banyak juga penumpang yang turun. Penumpang yang menunggu di bawah berebutan naik, sehingga tangga kereta menuju pintu masuk gerbong yang terletak di ujung dekat persambungan antar gerbong, menjadi sempit karena berdesakan.

Karena kami tak membawa barang seperti kebanyakan penumpang lain, dengan cepat kami bisa naik ke atas kereta dan mendapatkan tempat duduk di pinggir dekat jendela, bukan di bangku tengah yang tidak ada tempat bersandarnya. Ini adalah kedua kalinya aku naik kereta api, setelah dulu aku pernah ke Bukittinggi bersama kakakku.

Kereta berhenti cukup lama. Penumpang di sebelah kami mengatakan, lokomotifnya minum dulu. Aku tak mengerti apa maksudnya lokomotif minum dulu, aku menyimak saja apa yang di bicarakan orang itu. Selagi menunggu kereta berangkat, aku mendengar suara cuitan kereta api dari arah berlawanan masuk stasiun meleweati rel kosong yang berada di sebelah kereta yang kami tumpangi. Orang di dekatku mengatakan, bahwa kereta yang baru tiba itu datang dari Payakumbuh. Benar saja, tak lama setelah itu serangkaian gerbong kereta api berhenti di rel di sebelah kami.

Sambil membalikkan badan dan bersimpuh diatas bangku yang aku duduki, aku lalu melihat kereta yang baru datang itu. Warna cat kereta itu kuning muda yang sudah mulai pudar di bagian atas dekat jendela, lalu berwarna hijau daun di bagian bawahnya. Cukup banyak juga penumpang yang ada di atas kereta itu, tempat duduk yang dekat jendela penuh, sehingga pandanganku kebagian dalamnya agak terhalang.

Tak lama setelah kereta dari Payakumbuh itu berhenti, kereta yang kami tumpangi mulai bergerak. Pak Uwo menyuruhku kembali duduk seperti semula, menyender ke dinding dan membelakangi jendela, sambil menakuti aku nanti bangku tempat dudukku diambil orang.

Karena duduk membelakangi jendela, aku tak bisa melihat pemandangan yang ada di luar, begitu juga aku tidak bisa melihat pemandangan dari jendela di seberang tempat duduk kami, karena juga tertutup oleh orang yang duduk di sana. Kecuali hanya pucuk-pucuk pohon yang seakan berlari melawan arah laju kereta yang aku tumpangi.

Rupanya karena tidak ada pemandangan yang menarik hatiku di atas kereta itu, juga karena keletihan berjalan jauh, membuat mataku kembali mengantuk. Beberapa kali aku mencoba untuk menahannya tapi hanya bertahan sebentar, hingga akhirnya aku tertidur pulas tak ingat apa-apa lagi.

Setiap kereta api berhenti di stasiun aku terbangun, tapi begitu kereta berjalan kembali aku tertidur lagi. Irama roda kereta api yang beradu dengan rel, beserta ayunan kereta itu, kurasakan bagaikan ayunan yang menina bobokkan aku hingga aku tertidur pulas…

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *