Merantau ke Pekan Baru (19)

Kerinduanku kepada kedua orang kakakku Ipah dan Pidan terbayar sudah. Kini aku tinggal bersama mereka, bertiga di kamar samping beranda rumah ibu Jawa, demikian kakakku selalu memanggil si ibu pemilik rumah itu yang memang keturunan Jawa.

Hari pertama aku tinggal di sana aku diperkenalkan sama ibu pemilik rumah itu. Dia cukup ramah, namun aku tak mengerti omongannya, karena dia berbicara bahasa Indonesia dengan dialek Jawanya, dan aku belum mengerti bahasa Indonesia, kecuali beberapa kata yang sama artinya dengan bahasa kampungku. Kalau ibu itu berbicara bahasa Minang, kedengaran olehku juga kata-kata yang aneh, yang kadang membuat aku tersenyum karena kedengaran olehku ucapannya lucu.

Di ruang dalam rumah terdapat sebuah lemari kecil dengan kaca diatasnya, orang kampungku menyebutnya lemari bopet. Diatas bopet ini terdapat sebuah radio yang terhubung ke listrik yang ada di dinding dibelakang bopet. Saat itu kedengaran olehku radionya sedang menyanyikan lagu India.

Selain ke kamar mandi atau ke kakus aku tak berani masuk labih jauh kedalam rumah ini. Petuah umi yang juga disampaikan oleh kakakku, melarang aku memasuki rumah atau kamar yang bukan rumah kami sendiri. Lemari bopet dengan radio di atasnya itulah tempat terjauh yang bisa aku masuki di rumah itu. Itu juga karena letaknya hanya beberapa langkah dari pintu masuk ke ruang dalam rumah itu. Bopet itu persis menghadap ke pintu masuk dan membelakangi kamar pertama di ruangan itu.

Setelah sarapan pagi dengan makanan yang dibeli dari anak penjaja kue yang berkeliling kampung sambil meneriakkan dagangannya, aku diajak oleh anduang Ipah ketempat kerjanya. Sementara anduang Pidan berangkat sendiri ketempat kerjanya, menjadi tukang jahit di perusahaan kompeksi.

Aku dan anduang Ipah menuruni tangga rumah ibu Jawa. Melewati gang yang kami lewati waktu baru datang kemarin. Sampai di jalan raya kami belok kekanan, menyelusuri jalan raya yang ramai dengan orang berjalan kaki maupun kendaraan. Sepanjang jalan aku melihat beberapa toko sudah mulai buka, juga pedagang yang berjualan dipinggir jalan memakai gerobak, maupun yang cuma beralaskan tikar. Kami berjalan melewati beberapa persimpangan, berbelok beberapa kali masuk ke jalan lain hingga akhirnya sampai di lapangan yang cukup luas. Aku melihat beberapa truk parkir disana dan didepanku kini terlihat sungai Siak membentang.

Melihat lebarnya sungai Siak itu aku teringat sungai yang aku lewati dengan pelayangan beberapa hari yang lalu. Tapi disini aku tak melihat pelayangan. Yang terlihat justru kapal yang bersandar di dermaga di pinggir sung Siak itu, maupun perahu yang ukurannya bermacam-macam.

Kami berjalan melewati lapangan parkir itu terus menuju bangunan yang berdiri persis di pinggir sungai siak. Tidak berapa jauh di sebelah kiri bangunan itu aku melihat jembatan besi yang membentang di atas sungai Siak.

Aku dan anduang Ipah memasuki bangunan yang bentuknya memanjang dan terbagi beberapa ruang tersebut. Kami memasuki ruangan paling ujung yang paling dekat ke jembatan besi, ruangan itu besarnya hampir sama dengan kamar kami di rumah ibu Jawa.

Seorang wanita seusia anduang Ipah ikut masuk bersama kami. Rupanya dia adalah teman kerja anduang Ipah di tempat itu. Aku duduk disalah satu kursi yang ada disana, memperhatikan kakakku dan temannya menyiapkan peralatan kerjanya. Diantara peralatan yang di letakkan diatas meja itu aku melihat beberapa buku berukuran kecil. Ketika kulihat isinya sama semua dari awal sampai akhir. Ketika kutanyakan, anduang Ipah bilang itu tiket kapal. Waktu ada yang membeli, aku lihat tiket itu seperti karcis bus Sinar Riau yang kami tumpangi beberapa hari yang lalu. Aku bingung, seperti karcis namanya kok tiket? Rupanya kalau mau naik bus kita pakai karcis, dan kalau mau naik kapal orang beli tiket.

Bersambung

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.