Merantau ke Pekan Baru (11)

Bus Sinar Riau yang kami tumpangi pelan-pelan meninggalkan daerah pelayangan, bus tidak bisa berjalan cepat karena jalanan sempit, disamping itu juga becek dan licin. Kendaraan yang parkir di sebelah kanan kami, yang menunggu antrian untuk naik pelayangan cukup banyak, tapi rasanya tak sebanyak di tempat kami antri tadi.

Setelah kami lepas di ujung antrian, barulah bus bisa berjalan agak cepat. Tapi kondisi jalan tetap menjadi kendala, lumpur, licin dan berlubang-lubang. Namun semakin jauh kami dari lokasi pelayangan, kerusakan jalan makin berkurang, sehingga bus bisa melaju lebih cepat. Dan itu juga dibantu oleh jalanan yang mulai sepi dari perkampungan penduduk. Yang kadang-kadang memperlambat laju bus adalah tikungan tajam, sehingga sopir harus memperlambat kendaraan.

Jalan yang kami tempuh tidak selamanya hutan dikiri kanan, ada kalanya kami bersisian dengan Sungai Kampar, yang baru saja kami seberangi dengan pelayangan. Namun gelapnya malam membuat aku ak dapat melihat indahnya aliran sungai yang berkelok berliku-liku itu.

Di tengah obrolan penumpang yang agak ramai, karena belum ada yang tidur. Sopir memberitahu bahwa tidak lama lagi bus akan masuk lubang kalam. Aku bingung, karena aku tidak tahu apa itu lubang kalam. Tapi untuk bertanya aku juga tak berani, cuma dalam bayanganku apakah bus ini akan terjun masuk lubang dan langsung sampai di Pekanbaru?

Jantungku berdebar kencang, aku lebih cemas dibanding olengnya pelayangan sewaktu dilindas mobil yang pertama naik pelayangan tadi. Berapa besar lubang di tanah yang akan menelan bus yang kami tumpangi ini? Bagaimana kalau sampai di lubang kalam itu kami tidak bisa keluar lagi, apakah kami akan mati semua? Aku benar-benar takut, keringat dingin membasahi tubuhku. Rasanya ingin aku kembali pulang ke kampung dan tak ikut ke Pekanbaru menemui kakakku. Tapi bagaimana aku akan turun disini, di tengah hutan ini, tengah malam ini?

Dalam kegelisahan hatiku, mataku menatap tak berkedip terhadap jalan di depan yang akan kami lalui. Di sebelah mana lubang kalam itu, seperti apakah dia?

Tiba-tiba jalan di depan kami terlihat seperti buntu, karena di depan kami aku melihat bayangan bukit, tapi aku tak melihat bayangan jalan yang diterangai cahaya bulan yang samar-samar seperti jalan yang kami lewati tadi.

“Ko nyo ah, lubang kalam tu!, supir memberi tahu para penumpang bahwa kami akan memasuki lubang kalam itu.

Aku semakin erat berpegangan ke besi yang melintang di dekat dasbor bus. Sambil tetap berpikir entah akan bagaimana kami semua ini nantinya.

Begitu kami sampai di depan pintu lubang kalam, terlihat olehku lubang kalam itu menembus bukit. Pintunya bulat seperti setengah lingkaran. Setelah bus kami mulai memasukinya, dalam hati aku bertanya, apakah lubang ini sampai ke Pekanbaru? Tapi dengan telah beradanya kami di dalam lubang kalam itu, rasa takut dan cemas yang tadi kurasakan mulai berkurang, keringat dinginkupun berangsur hilang, apa lagi cahaya lampu depan bus Sinar Riau itu cukup terang menerangi jalan didepan kami. Disanalah aku baru mengerti, apa artinya lubang kalam. Yaitu jalan yang menembus bukit!.

Aku baru benar-benar bisa bernafas lega setelah bus yang kami tumpangi keluar lagi dari lubang kalam itu, dan aku kembali dapat melihat jalan biasa seperti yang kami lewati selama ini. Melihat pantulan air sungai yang diterangi bulan, dan pohon-pohon kayu yng tumbuh di pinggir jalan. Debaran jantungku telah normal lagi, rasa takutpun telah hilang, seiring juga dengan mengeringnya keringat dingin yang tadi membasahi tubuhku.

Bersambung

Lubang kalam-lubang gelap = terowongan

“Ko nyo ah, lubang kalam tu! = ini dia terowongannya!

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.