Merantau ke Pekan Baru (12)

Panas matahari pagi membangunkan aku dari tidurku. Rupanya aku tertidur tidak lama sejak keluar dari lubang kalam. Kini kudapati bus berhenti, rupanya aku di baringkan di atas bangku tempat dudukku yang menyambung dengan bangku sopir. Aku lalu melihat ke belakang, semua bangku kosong, begitu juga familiku tak ada di sampingku. Tiba-tiba aku mendengar pintu bus di buka, dan muncullah sopir bus kami. “awak lah tibo di palayangan Rantau Berangin…!” katanya.

Aku lalu melihat kedepan, rupanya benar, kami akan naik pelayangan lagi. Ketika itu aku mau turun, karena semua penumpang telah berada pelayangan. Tapi sopir melarang aku turun, karena bus sudah akan naik pelayangan. Bus yang di depan kami saat itu sudah mulai memasuki pelayangan dan mengambil posisi parkir. Setelahselesai, sekarang bus kami yang akan naik pelayangan.

Bus bergerak pelan menuruni jalan menuju dermaga, aku disuruh berpegangan kuat- kuat di besi pegangan di dasbor. Pak sopir mengendalikan mobilnya hati-hati sambil melihat aba-aba dari orang yang menuntunnya dengan melambaikan tangannya di atas pelayangan.

Roda bus mulai menginjak jembatan yang menghubungkan dermaga dengan pelayangan, pelan-pelan lalu naik. Beban bus yang cukup berat di atas tenda membuat pelayangan sedikit tertekan menahan bus kami yang baru mendaki naik, bus sedikit oleng, peganganku hampir lepas, karena badanku juga agak oleng. Aku terkejut, dadaku berdebar, darahku mengalir kencang. Dalam hati aku berkata, bagaimana kalau bus ini tergelincir masuk sungai yang dalam dan mengalir deras itu?

Roda depan bus sudah sepenuhnya berada di atas pelayangan, posisi bus saat ini seperti sedang dalam pendakian yang agak curam, aku tak bisa melihat posisi pelayangan, karena kepala bus seakan mendongak, pak sopir terus melihat ke arah pemandu melalui samping bus. Begitu roda belakang pas berada di ujung jembatan, dia menekan gas lebih dalam, bunyi mesin menderum lebih keras, sehingga bus menanjak dengan cepat mendaki jembatan, tangankupun berpegangan lebih erat, tak lama kemudian bus Sinar Riau sepenuhnya berada diatas pelayangan dan lalu mengambil posisi parkir.

Aku melepaskan nafasku yang tadi tertahan, rasa lega menyelimutiku. Pelan-pelan debar jantungku kembali normal, pak sopir lalu melihat ke arahku, dia tersenyum. “Hebat kamu, anak pemberani. Kamu tidak takut kan?

Aku hanya diam tanpa menjawab, aku tadi sebenarnya takut, karena aku membayangkan bagaimana kalau bus yang kami tumpangi ini tergelincir masuk sungai dan hanyut?

Pelayangan pelan-pelan bergerak menyeberang, aku tetap berada di atas bus bersama sopir. Aku melihat keluar ke arah ruang tunggu, tapi mataku terhalang oleh bus disebelah kami. Aku hanya bisa melihat ke seberang sungai yang kami tuju, serta ke samping kiri. Di mana aku dengan jelas melihat kawat besi baja yang menahan pelayangan yang membawa kami beserta segenap isinya. Ujung kawat itu bergerak pelan sesuai kecepatan pelayangan, terikat pada roda yang mengantung di kawat baja lain yang membentang selebar sungai. Alangkah kuatnya kawat baja itu, bisa menahan beban pelayangan berikut muatan yang ada di atasnya. Bagaimana-kalau seandainya kawat ini putus?

Melihat aliran sungai yang begitu deras menerpa pelayangan, seakan siap menelan pelayangan beserta segala isinya. Rasanya aku tak sabar untuk segera sampai di seberang. Membayangkan semua itu, pelayangan ini bergerak terasa begitu lambat dan pinggir sungai di seberang terasa begitu jauh.

 

Bersambung

 

* “kita sudah sampai di pelayangan Rantau Berangin…”

Join the Conversation

4 Comments

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *