Merantau ke Pekan Baru (13)

Dengan menahan perasaan galau dan diselimuti kecemasan akhirnya pelayangan yang aku tumpangi sampai juga di dermaga sungai seberang, aku bernafas lega, karena apa yang aku cemaskan dan takuti tidak terjadi.

Karena tadi bus kami yang terakhir naik, sekarang bus kami pula yang pertama turun, karena jembatan penyeberangan antara pelayangan dan jalan yang terbentang di hadapan kami persis berada di depan bus yang kami tumpangi.

Setelah pelayangan benar-benar merapat dan tertambat dengan kuat, sopir kami mulai menyalakan mobilnya. Stokar mengambil besi engkol mesin bus, memasukkannya di lubang engkol mesin di depan bus lalu memutarnya dan hanya dengan sekali putaran, mesin bus Sinar Riau itu menyala berderum.

Pemandu kendaraan telah memberikan aba-aba, agar sopir kami menjalankan mobilnya. Pelan-pelan bus mulai bergerak meninggalkan pelayangan, melindas papan jembatan, terayun sejenak ketika roda depan bus melindas jembatan menurun menuju jalan, dan terangguk lagi begitu roda depan menapak jalan, kemudian menyusul roda belakang melindas papan jembatan, dan beberapa saat kemudian bus kamipun meninggalkan pelayangan dan melaju sepenuhnya di jalanan. Setelah agak jauh dari pinggir sungai sopir meminggirkan bus dan lalu parkir, menunggu penumpang yang berjalan dari pelayangan untuk menaiki bus.

Setelah semua penumpang naik, bus kembali melanjutkan perjalanan menembus hutan Bukit Barisan. Mengikuti jalan yang menurun dan mendaki dengan belokan yang kadang tajam dan mengancam. Di kiri maupun kanan jalan kayu-kayu dengan pohon besar dan tinggi seakan mengawal jalanan, lalu melewati dinding bukit yang disatu sisinya jurang menganga seakan siap menerkam. Kemudian keluar melewati pinggiran hutan lalu menyusuri aliran sungai yang lebar dan berliku, disinari matahari pagi yang menyongsong dari depan.

Kampung dengan rumah panggung yang berpencilan, menyiratkan pertanyaan di hatiku, sejak kapan mereka disini? Apakah mereka tidak takut dengan binatang buas yang berkeliaran di sepanjang hutan, seperti harimau yang buas itu?

Menjelang tengah hari, bus kami mulai memasuki perkampungan yang agak ramai. Sopir satu yang saat itu mengemudikan bus pun mengatakan, tidak lama lagi kita akan sampai di Bangkinang. Kota pertama yang akan kami temui, setelah sehari semalam keluar masuk menjelajahai hutan lebat Bukit Barisan dan menyeberangi sungai yang lebar dan dalam dengan memakai pelayangan.

Semakin dekat ke kota Bangkinang, perkampungan semakin ramai. Rumah-rumah panggung yang kandangnya lebih tinggi dari rumah gadang kami, semakin banyak kami temui. Semua rumah itu bentuknya hampir serupa. Di dinding sampingnya aku melihat kayu-kayu yang sudah dipotong pendek-pendek dan di belah kecil-kecil seperti untuk kayu bakar, ternak sapi dan kambingpun terlihat di tambatkan dekat pekarangan. Orang Bangkinang pekerjaannya membuat gambir, kata pak sopir. Diapun menanyaiku apakah aku tahu dengan gambir? Aku menganggukkan kepala.

Gambir adalah teman makan sirih nenekku di kampung. Kalau mau makan sirih, nenek akan mengambil selembar atau dua lembar daun sirih, lalu mengoleskan sadah yang tidak terlalu encer yang berwarna putih ke permukaan bagian dalam daun sirih, kemudian mematahkan sekeping kecil gambir dan meletakkannya di atas sadah. Karena gigi nenek sudah tak kuat mengunyah pinang, maka pinang tidak lagi teman makan sirih beliau. Setelah sadah dan gambir lengkap, daun sirih lalu dilipat hingga kecil, setelah itu baru lalu di makan.

Seperti yang dikatakan sopir kami sudah memasuki kota Bangkinang, sopir bus Sinar Riau itu lalu memasuki pekarangan sebuah rumah makan dan memarkir busnya di depan rumah makan itu. Para penumpang bus turun. Sebagian penumpang langsung masuk rumah makan, sebagian yang lain pergi kamar mandi membersihkan diri dan kemudian pergi ke mushalla untuk melakukan shalat zuhur.

 

Bersambung

 

sadah = kapur sirih

carano = cerana

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *