Merantau ke Pekan Baru (14)

Setelah semua penumpang selesai shalat dan makan, stokar kembali memanggil penumpang agar menaiki bus, perjalanan akan dilanjutkan lagi.

Panas tengah hari menjelang sore mengiringi perjalanan kami. Angin yang berhembus melalui jendela bus, cukup menyejukkan bagi penumpang yang berada di belakangku. Tapi tidak bagi aku yang duduk di bangku depan yang sejajar dengan sopir. Aku tetap kepanasan, hanya kadang-kadang angin sempat berembus.

Kepanasan dengan perut kenyang habis makan, membuat mataku mengantuk. Apalagi sekarang yang membawa bus adalah sopir dua, yang pendiam dan jarang berbicara dengan penumpang. Sehingga aku juga tak banyak tahu dengan tempat-tempat yang kami lewati. Hingga kota Bangkinang aku lewati tanpa ada tambahan informasi, hingga akhirnya aku tertidur dibuai ayunan bus yang melewati jalanan berbatuan bercampur lumpur, tapi tanpa lubang-lubang besar seperti kubangan kerbau.

Aku terbangun ketika hari telah menjelang senja, aku hanya melihat bayangan merah dilangit yang tertutup awan. Bus kami masih meliuk-liuk bergantian diantara hutan maupun pingiran sungai. Jalanan yang kami lewati berliku, sebagaimana berlikunya sungai yang berada di sisi kiri kami. Kota Bangkinang telah jauh kami tinggalkan, dan aku tidak tahu dimana saat ini kami berada, karena sopir sibuk dengan stir yang dipegangnya, tanpa sempat sekalipun menjelaskan sudah sampai dimana perjalanan yang kami tempuh ini. Hutan rimba tanpa perkampungan, tanda-tanda kehidupan yang sempat aku lihat hanyalah gerombolan monyet yang melintasi jalan, serta kalong-kalong yang beterbangan baru keluar dari sarang, menyongsong datangnya malam

Yang sedikit menghibur saat ini hanyalah kalason bus yang menyanyikan lagu saluang, maupun lagu lainnya, yang aku tidak tahu itu lagu apa. Sehingga perjalanan menempuh hutan yang sepi itu tidak terlalu membosankan.

Aku tidak tahu saat itu jam berapa, kami harus naik pelayangan lagi. Pelayangan terakhir dalam menuju tanah rantau Pekanbaru, pelayangan Danau Bingkuang.

Ketika sampai di pelayangan, kami mengantri cukup jauh dari sungai. Karena disamping kendaraan bus-bus maupun truk jarak jauh, kendaraan jarak dekat dari Bangkinang dan sekitarnya mulai ikut meramaikan jalan menuju pelayangan ini. Banyak penumpang yang turun dari bus untuk melaksanakan shalat magrib yang di jamak dengan isya. Begitu juga dengan familiku, tapi aku tidak ikut turun, udara malam cukup menusuk kulitku. Aku hanya duduk didalam bus sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang, maupun para pedagang yang berjualan disekitar sisi jalanan.

Aku menyaksikan penumpang yang sudah lapar lagi ditengah dinginnya udara malam, masuk ke rumah makan yang berderet di sepanjang jalan. Ada juga yang hanya ingin minum kopi atau makanan kecil. Cukup banyak jenis makanan yang dapat dinikmati di warung-warung disana, pisang goreng yang masih panas, jagung rebus atau bakar, kacang rebus, pisang rebus semuanya dalam keadaan panas, untuk melawan dinginnya udara malam, tak terasa aku ingin menikmati salah satu diantaranya, dan rupanya Tuhan mendengarkan keinginanku.

Selagi aku asyik memperhatikan semuanya itu, familiku datang dan naik kedalam bus. Aku di bawakan jagung rebus yang masih panas, setelah dibantu mengupasnya, aku lalu menikmati jagung rebus itu. Jagung muda masih segar, seperti jagung yang baru di petik di sawah di kampungku, yang ditanam untuk menyelingi masa bertanam padi, hingga musim kesawah datang lagi. Hm…. Nikmat.

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.