Merantau ke Pekan Baru (15)

Setelah mengantri hampir dua jam, akhirnya bus Sinar Riau yang kami tumpangi mendapat giliran menyeberang. Setelah dua kali menaiki pelayangan, aku mulai terbiasa, rasa gamang dan takut akan terjadi sesuatu, tidak lagi mengganggu pikiranku. Aku kini malah dapat menikmati rasanya naik pelayangan. Ayunan pelayangan ketika dinaiki kendaraan yang akan menyeberang, tak lagi menimbulkan ketakutanku. Begitu juga derasnya air sungai yang kami seberangi, bisa aku nikmati seperti aku menikmati agam yang mengalir melewati kampungku, yang juga mengalir deras ketika airnya penuh bila musim hujan datang.

Dengan menikmati ayunan-ayunan kecil pelayangan yang di terpa aliran sungai, aku merasakan penyeberangan kami yang terakhir ini terasa lebih cepat dibandingkan dengan pelayangan sebelumnya. Rasanya aku belum puas bermain dalam buaian rakit pelayangan, tiba-tiba kami telah sampai di seberang dan harus segera turun dan melanjutkan perjalanan.

Rasa senang terbebas dari keharusan naik pelayangan lagi, yang membuat perjalananku pergi merantau untuk yang pertama kalinya ini terasa begitu menyiksa, karena harus terlambat sekian jam untuk mengantri dan menyeberang di pelayangan sebanyak tiga kali, tanpa bisa melakukan apa-apa, kini berakhir sudah. Rasa tak sabar untuk segera sampai di kota Pekanbaru, kini malah membebani perasaanku, sehingga kini bus yang kutumpangi berjalan terasa begitu lamban.

Kerinduanku untuk segera bertemu dengan ketiga kakakku, anduang Ipah, anduang Pidan dan tuan Salim semakin membuat dudukku diatas bus ini serba tak tenang. Aku ingin bus ini segera melaju sekencang-kencangnya dan kalau bisa terbang melayang di udara dan lalu mendarat di halaman rumah tempat tinggal mereka.

Tapi sayang ini hanyalah sebuah bus biasa, yang tidak bisa bergerak secepat yang kuinginkan sesuai dengan khayalan kanak-kanakku. Bus ini sarat penumpang, begitu juga beban barang-barang yang menumpuk diatas tendanya, yang membuat dia tidak bisa bergerak lincah dengan kecepatan yang lebih tinggi. Bus ini hanya lebih cepat sedikit dibanding dengan truk-truk khusus pembawa barang. Dan jalanan yang kami lewati tidaklah pula mulus seperti jalan yang kami tempuh di awal perjalanan kami, antara Bukittinggi dan Payakumbuh hingga ke Lubuak Bangku.

Tingginya curah hujan di sepanjang hutan Bukit Barisan, membuat aspal jalanan tak bertahan lama. Air yang mengalir dari hutan, menggerus badan jalan dan membuat genangan di sana-sini, dilindas oleh kendaraan dengan muatan yang berat, maka jadilah lubang-lubang seperti kubangan kerbau. Untunglah aku menaiki sebuah bus dengan seorang sopir yang hebat, yang membuat aku menimba banyak ilmu dan pengalaman disepanjang perjalanan ini, dan memori otak kecilku yang masih kosong, merekam dengan baik kisah perjalanan ini dan menyimpannya selama puluhan tahun, walau mungkin ada diantaranya yang terlupa, ikut tergerus dan menghilang dengan semakin bertambahnya usia.

Azan subuh menyambut kedatangan kami di kota Pekanbaru. Lampu-lampu jalan menerangi kota hinga terang benderang. Tidak seperti kampungku yang gelap-gulita bila malam telah tiba, kecuali di surau atau di oloh yang memakai lampu sitarongkeng.

Bus menuju loket yang berada ditengah kota yang masih sepi. Beberapa penduduk perempuan kelihatan keluar dari rumah mereka dengan memakai telekung menuju masjid, untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Yang laki-laki memakai sarung dan kopiah hitam dan jaket untuk menghangatkan diri dari dingginnya udara subuh.

Sesampai di loket semua penumpang turun dari bus. Para penumpang yang sebagiannya adalah pedagang, menunggu barang-barang mereka di turunkan dari tenda bus. Familiku tidak banyak membawa barang, hanya sebuah koper besi dan barang lain yang dimasukkan kedalam bungkusan kain panjang. Begitu juga aku dengan sebuah bungkusan kecil berisi pakaian sehari-hari.

Kami menaiki oplet, yang saat itu masih kosong. Familiku mengatakan” Tanah Merah…!” sopir opletpun menganggukan kepalanya, aku tak tahu maksudnya tanah merah, tapi aku hanya diam dan mengikuti saja kemana oplet itu membawa kami. Setelah jauh dari loket bus dan beberapa kali berbelok dan melewati persimpangan, oplet melewati turunan yang cukup dalam kemudian mendaki lagi, beberapa saat setelah melewati puncak pendakian dan kembali melewati jalan datar kamipun sampai di tujuan, rumah familiku.

 


Agam = sungai

Oloh = bengkel tempat kerja tukang perabot rumah tangga di kampungku.

Sitarongkeng = petromax

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *