Merantau ke Pekan Baru (17)

Aku terbangun dari tidurku. Kudapati tubuhku diselimuti dengan selimut putih bergaris-garis biru, juga kepalaku telah beralaskan bantal, tidak lagi kain bungkusan pakaianku.

Aku duduk dan melihat ke sekeliling, rumah terasa sepi. Tak satupun penghuni rumah yang kelihatan. Tiba-tiba dari dalam kamar kak Suma keluar, rupanya dia baru saja selesai shalat. Itu kelihatan dari tangannya yang sedang melipat telekungnya dan mukanya yang masih kelihatan lembab.

Melihat aku sudah bangun, aku di tawari mandi. Aku memang sudah tiga hari tidak mandi, sejak aku meninggalkan kampung aku belum pernah mandi, begitu juga para penumpang bus Sinar Riau. Ada beberapa orang yang pernah mandi sewaktu mampir di rumah makan, tapi ebih banyak lagi yang tidak.

Selesai mandi dan berganti pakaian aku disuruh makan. Makan siang pertama yang aku nikmati dalam suasana normal, bukan dalam perjalanan dan di dalam bus. Aku makan sendiri, aku tidak tahu apakah kedua anak tuan Maie, Sudarmaji dan adiknya Man sudah pulang sejak mereka pergi bermain tadi pagi, aku tidak tahu, karena aku tidur pulas sekali.

Selesai makan aku bermain diteras rumah, sendiri menikmati suasana lalu lintas yang ramai di banding kampungku, sekali-kali kak Suma keluar sambil memangku si kecil As, melihat aku masih ada dia masuk lagi.

Di samping kiri rumah terdapat tanah kosong yang dipenuhi semak belukar, bercampur dengan pohon yang aku tidak tahu namanya. Disebelah kanan terdapat satu rumah lagi agak lebih besar dari rumah tuan Maie. Di depan rumah seberang jalan terdapat kebun, Cuma karena dihalangi pagar aku tidak tahu apa isi kebun itu, kecuali beberapa pohon nangka yang cukup tinggi yang kelihatan dari tempat aku bermain.

***

 

Sore tuan Maie pulang kerja, dia mengatakan besok tuan Salim akan datang menjemput aku. Aku agak sedikit kecewa, karena yang aku harapkan menjemput aku adalah anduang Ipah atau anduang Pidan dan kalau bisa saat itu juga. Aku hanya diam saja mendengar pembicaraan tuan Maie, kecuali kalau ada pertanyaan langsung, baru aku menjawab atau hanya sekadar mengangguk atau menggelengkan kepala.

Malam itu aku tidur di balai-balai yang aku tempati untuk tidur tadi siang. Aku tidur sendiri, sementara tuang Maie dan anak-anaknya tidur di satu-satunya kamar tidur yang ada dirumah itu.

Malam itu terasa dingin, kalau di kampung aku sudah terbiasa tidur dengan selimut tebal yang hangat peninggalan umi. Sementara malam ini aku tidur berselimutkan selimut putih bergaris-garis biru. Untuk menghangatkan badanku aku memeluk bungkusan pakaianku, dan menekuk lututku dalam posisi miring.

Entah karena siang tadi aku tidur cukup pulas, atau karena beberapa hari di atas bus tidurku tidak teratur, atau mungkin juga suasana tidurku yang tidak nyaman, malam itu aku sulit sekali memejamkan mata. Bolak-balik miring ke kiri dan ke kanan dan menelentang, mataku tak juga terpejam. Terbayang anduang Ipah maupun anduang Pidan yang kini sudah dekat, tapi aku tak tahu dimana rumahnya. Begitu juga tuan Salim, yang lebih dahulu meninggalkan kampung sejak umi tak lagi ada bersama kami. Teringat juga kampung dan rumah gadang yang aku tinggalkan beserta segenap isinya. Uda Des, kak Inan dan nenek yang sudah sakit-sakitan. Begitu juga tuo dan etek Timah sekeluarga bersama pak aciak dan anaknya Fitrizal. Amai Uda bersama suami beliau Angku Lunak dan anaknya kak Azizah dan Widadi. Juga keluarga ayahku di Guguak Rang Pisang, Inyiak aki dan inyiak uci, tuo Sima beserta suaminya pak uwo Katik Basa dan dua anaknya tuan Wan dan kak Ida, angah Siman dan suaminya pak angah Darusan Bagindo Sutan, etek Sini yang belum berkeluarga. Keluarga dengan penuh kehangatan. Apalagi semenjak umi tiada, mengiringi ayah yang tak sempat kulihat dan kukenal wajahnya. Terkenang semuanya, aku menarik nafas panjang, dadaku sesak, tak terasa airmataku menetes.

Tengah malam aku terbangun, aku mendengar suara hewan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Suara itu terdengar sangat menakutkan. Diluar terdengar angin bertiup kencang. Kulihat kesekeliling, sepi. Lampu dinding menyala bergoyang-goyang ditiup angin. Kaca semprongnya yang kotor membuat cahaya yang terpancar tidak merata, dan itu membuat bayangan yang juga bergoyang-goyang didinding. Aku menutup mukaku dengan selimut, tapi justru bayangan yang lebih menakutkan melintas di kepalaku, hingga aku semakin merinding. Aku merapatkan punggung kedinding, menutup seluruh tubuhku dengan selimut, meninggalkan mata yang tetap terbuka dengan pandangan yang liar menatap setiap gerakan. Sebenarnya aku ingin berteriak atau memanggil tuan Maie, tapi takut dimarahi atau di tertawakan oleh anak-anaknya sebagai penakut juga mencegah aku melakukannya. Kembali suara hewan itu terdengar, suaranya hanya satu- satu tapi dalam nada rendah yang panjang. Aku ingin semoga malam ini cepat berlalu, rasanya aku tak sanggup untuk tinggal lebih lama disini dan berharap tuan Salim segera menjemput aku.

Dalam suasana dan persaan takut yang tinggi akhirnya aku tertidur juga, dan Tuhan masih melindungi aku dengan tidak mengirimkan mimpi yang lebih menakutkan dalam tidurku.

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *