Merantau ke Pekan Baru (20)

Disaat kakakku dan temannya sibuk dengan pekerjaannya, aku melihat keluar. Kulihat beberapa mobil berbaris di lapangan parkir yang menuju ke arah jembatan. Kutanyakan kepada kakakku kenapa mobil-mobil itu berhenti dan berbaris disana. Kakakku menjawab, ada kapal yang akan melewati jembatan, jadi mobil tidak bisa lewat. Dalam pikiranku jadi kapal itu akan menabrak jembatan besi yang membentang di atas sungai Siak tadi? Semacam ketakutan segera menyergap aku, bayangan jembatan besi itu tertabrak kapal dan berantakan menghantuiku. Tapi rasa ingin tahu juga membuat hatiku jadi penasaran.

Rupanya kakakku membaca pikiranku.

“Kalau kamu mau melihat kapal lewat di jembatan, ayo kita kesana…” tanpa menunggu kakakku selesai bicara aku segera keluar dari loket tempat penjualan karcis itu dan segera disusul oleh kakakku.

Kami berjalan mendekati jembatan besi yang tadi kulihat terbentang di atas sungai Siak. Di kedua pinggir sungai kulihat mobil sudah berbaris. Aku belum melihat kapal yang akan melintas berada di dekat jembatan. Ketikan kuarahkan pandanganku ke arah hulu sungai barulah terlihat sebuah kapal berlayar dengan gagahnya di tengah sungai, walaupun jalannya pelan tapi kapal itu makin lama semakin dekat ke jembatan. Seperti juga kami, aku juga melihat banyak orang-orang yang turun dari mobil dan berdiri dekat jembatan. Tapi petugas jembatan melarang kami terlalu dekat.

Ketika kapal semakin dekat tiba-tiba aku melihat jembatan itu bergerak. Pelan-pelan di bagian tengah jembatan putus dan terangkat. Kedua ujung jembatan yang tadinya bertemu di tengah segera terpotong jadi dua. Kedua ujung yang tadi rebah pelan-pelan berdiri, bertumpu di masing-masing pinggir jembatan di tepi sungai. Aku terpesona melihat kejadian itu, kini di tengah sungai terdapat pintu yang lebar untuk melintasnya kapal, kecemasanku terjadinya kapal menabrak jembatan segera hilang, berubah menjadi kekaguman atas kehebatan jembatan itu.

Setelah kedua ujung jembatan itu berada di posisinya di masing-masing pinggir yang berseberangan, dengan tenang kapal yang akan berlayar mengikuti aliran sungai Siak menuju ke laut lepas itu pun lewat. Aku merasa sangat beruntung menyaksikan ke ajaiban itu, dan memandanganya dengan penuh takjub dan kekaguman.

Setelah kapal selesai melintasi jembatan, keajaiban itupun berulang lagi. Kalau tadi kedua ujung jembatan itu bergerak naik, kini sebaliknya. Pelan-pelan kedua potongan jembatan itu bergerak turun menuju titik pertemuan di atas permukaan sungai Siak. Kekagumanku tak pernah habis menyaksikan pertunjukan itu, hingga akhirnya kedua ujung jembatan itu kembali bertaut di tengah sungai. Dan ketika semua telah selesai, barisan mobil-mobil yang tadi menunggu, segera bergerak melanjutkan perjalanannya.

Aku seakan tak mau beranjak dari jembatan itu, aku ingin melihatnya kembali beraksi seperti baru saja kusaksikan. Kendaraan yang tadi berbaris di lapangan parkir sudah mulai berkurang hingga akhirnya habis dan lalu lintas kembali normal seperti kami lewat tadi pagi.

Aku dan anduang Ipah kakakku kembali ke loket penjualan karcis, tapi dalam perjalanan kesana aku beberapa kali melihat kebelakang, kearah jembatan ajaib itu. Seakan-akan dia akan kembali beraksi sepeninggal aku dan aku tak ingin melewatkannya walau sekejap mata. Sampai di loket tempat kakakku bekerja, dia lalu mengatakan nama jembatan itu, Ponton…..

 

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *