Merantau ke Pekan Baru (21)

Bosan hanya bengong melihat kakakku dan temannya sibuk bekerja, aku lalu keluar dari loket penjualan karcis. Melihat aku keluar kakakku sudah wanti-wanti agar aku tidak bermain jauh-jauh. Aku hanya menjawab: “ya…!, yang dalam hanya sekejap hilang dalam ingatan, karena sesuatu yang dari tadi bermain dalam imajinasiku, menarik langkah kakiku kesana. Jembatan ponton…

Hanya dalam beberapa saat aku telah berada kembali disana, di tempat tadi aku berdiri bersama kakakku memperhatikan bagaimana jembatan ponton itu bekerja. Karena lalu lintas kendaraannya tidak begitu ramai, aku dapat melihat jembatan itu dengan lebih leluasa.

Ketika sebuah truk lewat diatasnya, jembatan itu berayun dan tertekan semakin dalam kedalam air. Tapi jarak permukaan jembatan dengan permukaan air masih cukup jauh. Begitu truk itu sampai di ujung jembatan dan kembali ke jalan raya, jembatan itu kembali mengapung cukup tinggi, ketika dari arah berlawanan sebuah jip melintasi jembatan, jembatan itu hanya bereaksi sedikit. Berat jip itu rupanya tak cukup untuk membuat jembatan itu berayun seperti truk yang tadi lewat.

Setelah puas mengamati jembatan dan bosan menunggu kapal yang akan lewat, aku beranjak berjalan kearah hulu sungai. Dari pinggir sungai Siak pandanganku tak lepas dari sungai yang membentang membelah kota Pekanbaru itu. Perahu dayung yang aku tidak tahu muatannya apa, speedboat yang bila melaju kencang membelah sungai, membuat ombak terbelah dibelakangnya, mengayunkan perahu dayung dan akhirnya memecah di kedua sisi sungai. Menikmati semua itu, aku tak merasakan panas matahari yang menyengat dan membuat bajuku basah oleh keringat.

Kesibukan orang-orang di sekitar pinggir sungai dengan berbagai macam aktifitas, yang tak pernah kutemui di kampungku, mengalahkan pesan kakakku yang melarang aku bermain jauh-jauh dari loket. Perahu berbagai ukuran yang di tambatkan di pinggir sungai, para pekerja yang sedang memanggul barang ke daratan dari perahu yang di sesaki oleh berbagai macam muatan. Hingga tanpa terasa aku sampai di dermaga sungai Siak, tempat bersandarnya kapal yang panjangnya seperti rumah gadang kami di kampung.

Dermaga itu berlantai kayu yang tebal, kayunya retak-retak di terpa hujan dan panas, tapi tidak lapuk, malah terasa keras sekali.

Di sela-sela retakan kayu itu aku melihat butiran beras yang tercecer serta semen yang telah membeku. Kayu-kayu alas dermaga itupun tidak disusun rapat, ada celah diantaranya sehingga aku bisa melihat air sungai siak mengalir di bawahnya.

Aku semakin mendekat ke kapal yang sedang bersandar disana. Ketika aku sampai di pinggir dermaga dan melihat ke permukaan sungai, aku terkejut. Rupanya dermaga itu cukup tinggi dari permukaan sungai, sehingga ketika aku perhatikan agak lama aku merasa pusing melihat arus sungai yang mengalir di bawahnya, lalu aku menjauh dari pinggir dermaga dan beralih memperhatikan kapal yang sedang bersandar di dekatnya.

Kapal itu berayun-ayun oleh pergerakan air sungai, tali pengikatnya yang lebih besar dari tanganku  tertarik kencang dan mengendor bergantian, sesuai ayunan kapal. Beberapa orang bolak-balik keluar masuk kedalam kapal. Diantaranya ada yang memegang lembaran kertas surat-surat, tapi ada juga yang dengan tangan kosong.

Semakin kebelakang kulihat kapal itu punya tempat terbuka di tengahnya. Disana aku melihat tumpukan karung goni yang terisi penuh menumpuk tersusun rapi begitu banyak, entah apa isinya aku tidak tahu. Kain tebal penutupnya yang berwarna coklat, telah di lipat kesamping kapal. Dekat ujung belakang aku melihat tiang besi yang tinggi. Disampingnya terdapat besi lain yang terayun-ayun yang ujung atasnya bergantung pada tali yang terbuat dari besi. Diujung besi itu ada roda besi yang dilingkari oleh tali kawat lain yang di ujungnya tergantung sebuah pengait seperti mata pancing yang sangat besar.

Setelah puas melihat-lihat kapal, aku berjalan kearah ujung dermaga kearah hulu sungai.  Sayap dermaga itu kecil, seperti tangan yang di bentangkan. Ada rasa takut berjalan disana. Tapi rasa ingin tahuku lebih kuat dari rasa takutku.

Diujung dermaga tersebut aku melihat ada orang duduk sendirian. Tangannya bergerak-gerak memegang sesuatu, yang dari jauh kelihatannya seperti tangkai pancing. Aku berjalan mendekatinya, melewati sayap dermaga yang lebarnya sedepa tangan orang dewasa, melawan rasa takut melihat arus sungai di bawah dermaga.

Setelah aku sampai di ujung dermaga, barulah aku dapat melihat dengan jelas laki-laki itu. Rupanya dia memang sedang memancing. Diam-diam aku berjongkok di sampingnya agak kebelakang, karena aku masih takut terlalu dekat kepinggir dermaga, gamang menyaksikan air mengalir di bawahnya.

Aku melihat di sekitar orang yang sedang memancing itu, kalau-kalau dia sudah mendapatkan ikan hasil pancingannya, kosong.

Kehadiran seorang anak kecil di dekatnya, rupanya cukup mengherankan dan menimbulkan tanda tanya si pemancing. Diapun lalu melihat kearahku dan menanyaiku, karena aku orangnya yang pendiam, maka aku menjawab hanya sekadarnya saja. Setelah agak lama, si pemancing rupanya merasa kepanasan di dermaga. Dia lalu berdiri dan mengemasi peralatannya, setelah itu berjalan meninggalkan dermaga, aku mengikutinya dari belakang.

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.