Merantau ke Pekan Baru (22)

Setelah melewati sayap dermaga itu dengan perasaan gamang, kami sampai di dermaga induk tempat kapal yang tadi aku lihat bersandar. Si Pemancing belok kekanan menuju lapangan parkir, aku tetap mengikutinya dari belakang. Sampai di lapangan parkir luar dermaga, dia belok kekanan dan kekanan lagi, menuruni tebing tepi sungai disamping dermaga.

Aku terus membuntuti si pemancing menuruni tebing hingga dia sampai mendekati permukaan sungai Siak, dan masuk kebawah kolong dermaga. Setelah menemukan tempat yang cocok untuk memancing, diapun meletakkan peralatannya ditanah. Kalau tadi aku hanya membuntuti di belakang, sekarang aku duduk di sampingnya. Memperhatikan bagaimana dia mempersiapkan pancingnya, memasang umpan dan melemparkannya ke tengah sungai di bawah kolong itu.

Kalau diatas dermaga tadi kami kepanasan, di kolong dermaga ini udara cukup sejuk, karena kami terlindung dari cahaya langsung matahari. Badanku yang tadi berkeringat dan baju yang kupakai basah, kini  sudah mulai mengering. Dibawah kolong dermaga inipun suasana cukup tenang tidak berisik. Yang terdengar hanya suara kecipak aliran air sungai Siak, atau suara dayung merengkuh air sampan yang lewat

Setelah duduk cukup lama dalam kebisuan, sementara ikan yang di pancing belum satupun yang dapat, aku merasakan mataku memberat karena mengantuk ditiup angin yang berembus.

Dalam suasana hening itu, kami tiba-tiba di kejutkan suara gemuruh diatas dermaga. Aku menengadahkan kepala, melihat keatas dari sela-sela lantai dermaga. Karena tidak begitu jelas aku lalu naik ke atas dermaga.

Sampai di atas aku melihat sebuah truk parkir di dermaga, bagian belakangnya merapat ke badan kapal, namun tak sampai bersentuhan. Aku mendekati kapal dari arah hilir, dari sana barulah aku lihat aktifitas yang terjadi. Rupanya kapal sekarang tengah bersiap membongkar muatannya keatas truk. Para pekerja saat itu tengah menyusun karung-karung yang penuh itu kedalam jaring yang terbuat dari tali. Setelah penuh keempat sudut jaring itu di sangkutkan ke pengait yang seperti pancing di ujung kabel yang terulur dari tiang yang diujungnya terdapat roda besi.

Begitu mesin penggulung tali baja itu berputar, jaring berisi muatan karung itupun terangkat, makin lama makin tinggi. Setelah posisinya sejajar dengan truk, besi pengangkat muatan karung itu berputar dan berhenti ketika muatannya berada pas diatas truk. Karung-karung itu di turunkan hingga kelantai truk. Seorang pekerja yang berada di dekat truk lalu naik, dan melepaskan jaring dari pengait, dengan meninggalkan salah satu sudut jaring tetap tersangkut di pengait. Lengan besi itu kembali berputar ke kapal sambil menarik jaring yang tersangkut di pengaitnya, sementara karung-karung tinggal di atas truk. Untuk memenuhi bak truk dengan muatan, pekerjaan memuat itu berjalan dua kali. Setelah penuh trukpun berangkat meninggalkan dermaga mengatarkan muatannya ketempat penampungan. Setelah truk itu pergi meninggalkan dermaga, truk lain pun masuk menggantikannya, kemudian ikut di muat dengan karung-karung yang berisi penuh itu seperti truk yang pertama tadi.

Aku begitu terpesona melihat bekerjanya alat-alat yang berada di kapal itu, semua bekerja otomatis, kecuali waktu pemuatan karung ke jaring, yang masih memakai tenaga manusia. Aku membayangkan bagaimana kalau alat-alat pengangkat itu tidak ada? Berapa orang di butuhkan untuk mengangkat karung-karung itu dari kapal ke truk, dan berapa lama waktu di butuhkan untuk mengisi sebuah truk?

Aku tidak tahu berapa lama aku menonton pekerjaan membongkar muatan kapal itu, hingga aku merasakan perutku lapar. Akhirnya aku kembali ke loket ketempat kakakku bekerja.

Sampai di loket aku di marahi kakakku karena aku bermain begitu jauh dan lama, sehingga ia kebingungan mencari aku. Apalagi aku baru pertama kali kesana, ia mencemaskan aku kalau aku hilang atau hanyut di sungai siak.

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *