Merantau ke Pekan Baru (23)

Gara-gara bermain di panas terik setengah hari di sungai Siak, malamnya badanku meriang. Anduang Ipah maupun anduang Pidan kebingungan. Kepalaku di kompres pakai kain basah, akupun di belikan obat, aku tidak tahu namanya. Tapi diantara obat itu satu diantaranya selembar kertas kecil yang ada lemnya yang kemudian ditempelkan di pelipisku, aku mendengar kakakku menyebut kertas yang ada lemnya itu koyok.

Aku tak pernah takut minum obat bagaimanapun pahitnya, karena aku sudah terbiasa sejak perutku pernah kena borok sewaktu umi masih hidup. Tapi selama ini aku belum pernah memakai koyok. Bau koyok yang di tempelkan di pelipis kiri dan kananku itu membuat perutku mual, sehingga semakin membuat aku pusing. Tapi keinginan agar segera sembuh, membuat aku juga tak mau membuangnya. Untunglah obat lain yang aku minum mulai terasa bereaksi, membuat mataku mengantuk, hingga kemudian aku tertidur pulas.

Bangun pagi panas badanku sudah mulai turun, namun bau koyok itu masih saja mengganggu aku dan membuat perutku mulas. Akhirnya aku melepas dan membuangnya. Kedua kakakku membiarkan saja apa yang aku lakukan, mereka hanya bertanya bagaimana keadaanku, sambil menempelkan pungung tangannya kekeningku. Mungkin karena panas badanku sudah mulai turun, keduanya kelihatan agak tenang, tak lagi mencemaskan keadaanku seperti tadi malam, saat aku suka mengigau.

Pagi itu perutku belum sepenuhnya bisa menerima sarapan yang dibelikan anduang Ipah. Mulutku masih terasa pahit, namun aku paksakan juga memakan godok yang dibelikan kakakku dari penjaja keliling yang menjadi langganan kami, seorang anak laki-laki yang usianya beberapa tahun lebih tua dariku. Setiap pagi dia melewati rumah tempat kami tinggal sambil meneriakkan dagangan yang diletakkan dalam panci, di atasnya ditutup dengan kertas koran bekas yang juga berfungsi sebagai pembungkus bila ada yang berbelanja. Dengan meletakkan panci yang berisi dagangannya itu di kepala dan memeganginya dengan sebelah tangan bergantian, anak laki-laki itu berkeliling kampung sedari pagi sebelum matahari terbit. Sering kami mendapatkan dagangannya masih panas saat kakakku membelinya, sebagaimana juga yang kami dapatkan pagi itu.

Setelah sarapan yang tak sepenuhnya dapat aku nikmati, kecuali air putih hangat yang diberikan kakakku yang membuat aku berkeringat, aku lalu disuruh minum obat berbentuk bubuk yang rasanya pahit, setelah itu aku tidur lagi.

Setelah tidur pulas karena pengaruh obat, siangnya aku bangun. Kedua kakakku tidak ada. Dengan badan yang masih lemas aku duduk di kursi yang ada di beranda. Mengetahui aku sudah bangun ibu Jawa si pemilik rumah, menyuguhi aku makan siang. Tapi perutku belum bisa menerima makan siang suguhan Ibu Jawa itu, aku hanya mencicipinya sedikit. Mulutku masih terasa pahit belum bisa menerima makanan, aku hanya minum segelas air hangat yang diberikan bersamaan dengan nasi dan langsung menghabiskannya.

Akibat dari minum air hangat segelas penuh yang diberikan ibu Jawa, keringatku mengucur deras, pakaianku basah, begitu juga kepalaku. Bintik-bintik keringat memenuhi mukaku. Selimut yang tadi masih membalut tubuhku pelan-pelan ku lepas. Hembusan angin di beranda rumah itu meniup tubuhku, terasa dingin. Aku lalu memakai lagi selimut yang ku lepas tadi, kembali ke kamar, tidur lagi.

Ketika aku terbangun lagi dari tidurku, keringat benar-benar membasahi seluruh tubuhku. Tapi aku juga merasakan tubuhku mulai terasa enak. Kepalaku tidak lagi pusing, denyutannyapun sudah mulai hilang. Aku juga melihat satu bungkus nasi terletak di samping tikar tempat tidurku. Rupanya kakakku pulang selagi aku tidur tadi, tapi aku tidak tahu kakakku yang mana, anduang Ipah atau Pidan.

Aku membuka nasi bungkus itu. Saat itu perutku memang sudah terasa lapar, tapi aku tidak tahu apakah sudah bisa menerima hidangan nasi bungkus ini. Aku mencicipi nasi itu sedikit demi sedikit, rupanya perutku sudah bisa menerimanya, hingga tak terasa separo nasi bungkus itu telah berpindah tempat.

Selesai makan aku duduk-duduk di beranda, sambil tidur-tiduran diatas kursi, menunggu datangnya sore saat kedua kakakku pulang kerja.

Sorenya anduang Ipah pulang lebih cepat dari biasanya, mungkin dia mencemaskan aku yang ditinggal di rumah sendiri dalam keadaan kurang sehat. Begitu aku dilihatnya tengah duduk di beranda dengan kondisi yang sudah agak sembuh, diapun tersenyum. Setelah dekat dia kembali meletakkan tangannya di keningku. “sudah tidak panas lagi…! katanya sambil membelai rambutku.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.