Merantau ke Pekan Baru (25)

Setelah beberapa lama tinggal bersama kakakku anduang Ipah dan anduang Pidan di Pasar Bawah, aku di jemput oleh kakak laki-lakiku tuan Salim, dan di ajak ketempat tinggal yang juga sekalian tempat dia bekerja di Sukajadi.

Dengan menumpang oplet, kami berangkat dari pasar bawah menuju Sukajadi. Tidak sampai satu jam, kami tiba di Sukajadi. Turun dari oplet, sebelum memasuki gang yang akan menuju rumah tuan Salim, aku melihat ke kiri dan ke kanan. Disebelah kanan disamping tanah kosong aku melihat kantor polisi. Disebelah kiri aku melihat kebun, tapi aku tidak tahu tanaman apa yang ditanam disana, karena terhalang oleh pagar hidup yang lebih tinggi dari aku, kecuali beberapa pohon nangka dan rambutan, yang kelihatan dari pinggir jalan.

Dari mulut gang kami memasuki perkampungan, sebelah tanganku dipegang oleh tuan Salim, mungkin dia takut aku akan ketinggalan atau tersesat. Sebenarnya aku tak betah dibimbing seperti itu, karena aku terbiasa bebas kalau berjalan. Apalagi aku kadang setengah berlari mengikuti langkahnya yang panjang dibanding langkahku. Pegangannya juga sering terasa keras ditanganku, sehingga aku merasa kesakitan. Tapi aku tak berani mengatakannya, karena aku merasa takut padanya.

Kami melewati jalan pintas, melewati kebun yang cukup luas. Dikebun itu aku melihat banyak pohon rambutan, juga pohon nangka. Di ujung kebun yang tak mempunyai pagar itu, kamipun sampai di tempat tinggal sekaligus tempat bekerja tuan Salim.

Kami masuk, tempat tinggalnya itu berupa oloh, bengkel perabot rumah tangga yang sangat besar yang pernah kulihat. Dikampungku, oloh ini hanya berisi dua atau tigabangku. Tapi disini, aku melihat begitu banyak bangku untuk para tukang yang bekerja disana.

Aku melihat para tukang yang berada disana, sebagian ada yang kukenal. Tapi lebih banyak lagi yang aku tidak tahu siapa mereka dan dimana kampungnya. Diantara yang aku kenal itu mereka lalu menyapaku, aku hanya tersenyum dan tertunduk, tak tahu harus menjawab apa. Paling-paling yang keluar dari mulutku hanyalah kata-kata ya, ya atau tidak. Kalau ada pertanyaan yang agak panjang atau mendetail aku hanya diam membisu

Aku lalu diajak menemui induk semang tuan Salim. Rumahnya terletak menyambung dibagian ujung oloh. Pintu masuk menuju ruang tamunya ada dua, pintu pertama langsung dari oloh, yang kedua pintu yang menghadap kehalaman depan.

Kami masuk dari pintu pertama, dari dalam oloh. Kami menunggu di ruang tamu, tak lama kemudian seseorang keluar dari ruang dalam, rupanya beliau adalah mak Linuh. Aku disuruh oleh tuan Salim untuk menyalaminya, sementara dia sendiri tidak. Mungkin karena dia tinggal disana dan setiap hari bertemu, tuan Salim tak merasa perlu ikut bersalaman dengan mak Linuh. Berselang tak lama kemudian istri mak Linuh etek Nurjana, menyusul keluar diiringi putri kecilnya, bergabung mengobrol bersama kami.

Mak Linuh masih punya hubungan keluarga dengan kami, karena satu suku. Sebagai keponakan aku harus memanggil mamak atau mak pada dia, dan memanggil etekatau amai pada istrinya Nurjana. Tapi di kampung kami, isteri mamak ini juga sering dipanggil aciak, yang berasal dari kata kaciak atau kecil, yang menandakan bahwa sang mamak usianya lebih kecil dari usia umi kami.

Aku tidak tahu, sudah berapa lama mak Linuh merantau di kota Pakanbaru ini. Yang kudapati sekarang adalah, dia sudah mempunyai toko perabot di jalan Sumatera. Mempunyai oloh yang sangat besar dan mempekerjakan banyak tukang, yang semuanya berasal dari Kamang Ilia, kampungku.

Mak Linuh ini mempunyai beberapa orang anak, tapi saat itu aku tak bertemu dengan mereka, kecuali satu orang, yaitu anaknya yang paling kecil, mungkin berbeda setahun atau dua tahun lebih kecil dari aku, dan tadi ikut ngobrol bersama kami. Sementara yang lainnya sudah bersekolah.

Selesai acara perkenalan dan mengobrol sebentar dan menanyakan keadaan kakakku Ipah dan Pidan, tuan Salim mengajakku kembali kedalam oloh. Sementara mak Linuh pergi ke toko perabotnya di jalan Sumatera, yang aku sendiri belum tahu adanya dimana, karena belum pernah kesana.

Tuan Salim telah mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja, sementara dia mempersiapkan alat-alat kerjanya, dia menyuruh aku main disekitar oloh. ”Jangan jauh-jauh nanti kamu hilang…!, katanya menakutiku.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.