Merantau ke Pekan Baru (27)

Bosan duduk di tangga, aku turun dan masuk kedalam oloh, melihat kesibukan para tukang yang sedang bekerja itu lebih dekat. Aku berpindah-pindah dari bangku yang satu ke bangku yang lain. Setiap bangku di isi satu tukang, dan setiap tukang membuat perabot yang berbeda. Tidak setiap tukang bisa mengerjakan semua pesanan, tergantung pengalamam dan masa kerja masing-masing tukang. Tukang-tukang yang mempunyai masa kerja yang lama dan berpengalaman, dapat dipastikan kebagian pekerjaan membuat perabot yang proses pembuatannya lebih sulit dan lebih lama. Dan tentu juga dengan upah yang lebih tinggi. Tuan salim tiap sebentar melihat dimana aku berada, dan menegor aku agar tak terlalu dekat dengan tukang-tukang yang sedang bekerja itu, agar mereka tak terganggu.

Karena asyiknya aku memperhatikan mereka bekerja tanpa berkata-kata atau bertanya, aku sering dikerjai oleh para tukang-tukang itu. Adakalanya mereka menjatuh kaleng berisi paku di belakangku, sehingga aku terkejut mendengar bunyinya yang berdentang berisik. Tukang yang mengerjai aku lalu tertawa melihat rona wajahku, diiringi oleh tukang-tukang yang lain, sementara aku hanya tersenyum kecut.

Setelah tinggal beberapa hari di sana, aku mulai bosan dengan lingkungan oloh atau bengkel perabot itu. Aku mulai bermain-main diluar oloh. Awalnya hanya dihalaman, sementara tuan Salim tetap memperingati aku, agar tak bermain jauh-jauh. Tapi peringatan tuan Salim itu hanya bertahan sesaat, dari hanya sekitar halaman, aku kemudian terus ke kebun di sekitar oloh.

Kebun itu cukup luas, lebih luas dari kebun kami dikampung. Tapi tanaman yang tumbuh dikebun itu, tidak sebanyak tanaman yang tumbuh di kebun kami. Aku melihat beberapa pohon rambutan, yang saat itu tidak berbuah dan pohon nangka. Dibanding rambutan, pohon nangka ini lebih banyak dan lebih merata. Pohonnyapun tidak terlalu tinggi seperti pohon nangka yang ada di kebun di samping rumah gadang di kampungku. Bahkan buahnyapun hanya sejangkauan tangan orang dewasa.

Yang membuat aku senang bermain di kebun itu, adalah tanahnya yang lapang dan rumputnya yang jarang. Tidak seperti rumput yang tumbuh di kebun kami, yang begitu banyak sehingga kebun kami seperti semak belukar. Tanah yang tidak di tumbuhi rumput itu seperti tertutup pasir, aku tidak tahu apakah ini pasir asli yang ada di sini atau ada yang menyebarkan pasir itu di kebun ini. Keasyikanku bermain di kebun ini, berbuah sentilan di kupingku oleh tuan Salim, karena aku terlambat pulang!.

Ketakutanku akan kemarahan tuan Salim, hanya bertahan dua hari. Kejenuhanku pada situasi oloh yang selalu berisik dan hiruk pikuk dengan suara peralatan kerja yang tak ada habisnya, membuat aku tak betah. Bolak balik dari oloh ke ruang tamu rumah mak Linuh serta halaman rumah membuat aku bosan.

Panggilan kebun dengan pohon nangka dan rambutan serta suasana yang tenang, sambil berayun atau memanjat pohon rambutan yang dahannya rendah, dan kemudian duduk di atasnya, membuat aku lupa dengan kupingku yang kena sentil beberapa hari sbelumnya. Aku kembali masuk kebun dan bermain di bawah pohon nangka, mencoba menjangkau putiknya yang lebih tinggi dariku. Kemudian berpindah kepohon rambutan, kali ini aku tak memanjatnya. Telingaku mendengar suara klakson kendaraan yang melintas di jalan raya.

Perhatianku kini beralih, aku mengikuti jalan pintas yang aku lewati bersama tuan Salim ketika pertama kali datang ke sini. Tak berapa lama, akupun sampai di jalan raya. Aku memperhatikan kendaraan yang lewat. Panas matahari menjelang siang mulai membakar tubuhku, keringat mulai membasahi tubuhku, begitu juga mukaku. Karena capek berdiri, aku lalu mencari tempat berteduh. Dari mulut gang aku belok kekiri, berjalan kearah kantor polisi.

Sampai di gerbang kantor polisi, aku berhenti. Sambil bersandar di tiang gapura, aku melihat kearah kantor polisi itu, melihat para polisi yang sedang bekerja. Sesekali aku dilewati oleh polisi yang baru datang,maupun yang mau keluar kantornya.

Sejak aku pernah diajak umi ke kamp tahanan tentara pusat dan bermalam disana, sewaktu terjadi pergolakan PRRI, aku tak pernah takut lagi bertemu dengan polisi atau tentara. Padahal, sewaktu para tentara itu pertama kali datang kerumah kami dengan seragam lengkapnya, lalu naik kerumah gadang sambil memanggul senjata dan tanpa melepas sepatu lars mereka, seisi rumah diam dan menggigil ketakutan, termasuk aku!

Suara beduk sebagai pertanda masuknya waktu shalat zuhur, menyadarkan aku dari keasyikan menonton polisi-polisi yang memakai seragam itu. Aku lalu beranjak dari sana, berjalan pulang ke oloh. Perutku sudah merasa lapar, badanku penuh keringat disengat matahari siang. Rasa hauspun menyertai langkahku.

Semakin dekat ke oloh, perasaanku makin tak tenang, wajah tuan Salim membayangiku. Benar saja, mungkin ada yang melihatku, lalu menyampaikannya pada tuan Salim. Karena baru saja aku mendekat ke halaman oloh, tuan Salim telah menyongsong aku dengan wajah penuh kemarahan. Aku hanya menundukkan kepalaku, tak berani menatapnya. Begitu dia sampai didekatku, tangannya langsung menyambar telingaku dan memelintirnya. Aku meringis kesakitan, tanpa melepaskan tangannya, aku digiring masuk oloh. Para tukang yang sedang istirahat makan siang, semuanya melihat kepada kami.

Aku digiring menuju tangga kamar gantung, setelah sampai di tangga barulah telingaku dilepaskannya. Aku disuruh naik, dia mengiringi dari bawah, berjaga-jaga kalau aku terpeleset dan jatuh. Setelah aku sampai di dalam kamar, dia turun lagi. Aku hanya terdiam di dalam kamar, aku meraba telingaku, terasa sakit, dan membuat kepalaku agak pusing.

Tak lama kemudian dia naik lagi, membawa sepiring nasi dan air minum. Setelah meletakkannya di dekat aku duduk dan menyuruh aku makan, dia turun lagi. Begitu sampai di bawah, dia mengangkat ujung tangga, dan menggantungkannya di tempat biasa.

Aku terkurung!

Lama aku terdiam sambil bersandar ke dinding, tanpa menyentuh nasi yang diantarkan tuan Salim. Rasa sakit di telingaku menghilangkan rasa lapar dan hausku.

Pikiranku melayang jauh, nun di sana Kamang Ilia, kampung halamanku. Tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Wajah umipun terbayang. Wajah yang telah meninggalkan kami beberapa tahun yang lalu. Wajah yang lembut penuh kasih sayang, satu-satunya tempat aku mengadu dan bermanja. Namun perang telah memisahkan kami selamanya.

Kelopak mataku terasa panas, tanpa kusadari beberapa tetes air mata mengalir membasahi pipiku. Aku lalu merebahkan badanku, berbaring miring menghadap dinding. Sambil memeluk bantal, seakan aku memeluk umi. Terasa umi begitu dekat denganku……


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *