Merantau ke Pekan Baru (26)

Aku duduk ditangga dekat pintu yang menuju rumah mak Linuh. Sejak di kampung, duduk di anak tangga paling atas rumah gadang, yang dikampung dinamai kapalo janjang, adalah kesenanganku. Dari sana aku bebas mengamati orang-orang yang bekerja di halaman rumah maupun di dapur, atau kesibukan kakak-kakakku membantu umi menumbuk kopi dibawah pohon manggis. Tapi kesenanganku ini sering menjadi bencana bagiku. Sepupuku Fitrizal, sering mendorongku dari belakang tempat dudukku, hingga aku jatuh terguling ke dasar tangga, disambut oleh batu tempat pijakan mencuci kaki dari air cibuak. Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi aku. Aku tak pernah luka serius, setiap jatuh dari tangga yang tingginya melebihi tingginya orang dewasa itu!

Begitu juga saat ini, dari tangga paling atas rumah mak Linuh yang tangganya hanya setinggi pinggang orang dewasa, aku mengamati para tukang yang bekerja disana, maupun lingkungan kerja mereka.

Oloh tempat para tukang dan kakakku bekerja itu, sangat besar. Panjangnya mungkin sama dengan panjang rumah gadang kami di kampung, lebarnya malah mungkin lebih! Di sekeliling oloh bagian dalam dipenuhi dengan perabotan yang sudah jadi maupun setengan jadi, serta yang baru berupa bentuk kerangka. Yang sudah jadi tinggal dibawa ketoko dan kemudian di cat dengan vernis disana, sebelum di jual kepada pembeli.

Aku memperhatikan tukang-tukang itu bekerja. Ada yang membuat lemari, kursi makan, meja makan dan kursi untuk diruang tamu, yang dalam bahasa dikampungku bernama sice. Kursi tamu berkerangka kayu, dengan alas duduk maupun maupun alas punggungnya dari rotan yang dianyam. Seperti yang saat itu dibuat oleh tuan Salim.

Bunyi pergesekan gergaji dengan kayu yang sedang di potong, bersahut-sahutan dengan katam yang sedang menyerut kayu agar rata. Juga panokok yang sedang memukul paku, membuat suasana di dalam oloh atau bengkel perabot itu gaduh dan berisik. Tapi aku yang sudah sering mendengarnya di kampung, tak merasa terganggu. Hanya saja bila ada tukang yang membutuhkan sesuatu, dia harus setengah berteriak meminta kepada orang yang ditujunya, dan kadang benar-benar berteriak kalau mereka berjauhan.

Para tukang yang mangatam, atau menyerut kayu akan duduk diatas bangku kerja mereka. Bangku tempat mereka bekerja terbuat dari selembar papan tebal. Tinggi bangku ini tidak sama, bagian depan tingginya hanya setinggi lutut mereka, sedang bagian belakangnya setinggi pahanya. Tiang bangku ini juga sangat kuat, kakinya dibuat melebar kebawah. Dibagian depan kira-kira sehasta dari ujung bangku, dari papan yang lebih tipis ditempelkan ganjalan selebar bangku. Ditengah-tengahnya dipotong seperti jari telunjuk dan jari tengah yang ujungnya dibentangkan, seperti tangkai katapel. Di setengah panjang bangku dibuat dua lubang sejajar. Kedalam lubang ini dimasukkan kayu, yang kegunaannya nanti untuk menjepit papan yang akan dikatam di bagian sisi papan yang belum rata. Selagi tidak terpakai, penjepit ini akan dibenamkan hingga rata dengan permukaan bangku, sehingga tidak mengganggu tukang yang lagi bekerja.

Oloh ini juga mempunyai atap yang tinggi, melebihi tingginya atap rumah biasa. Atap yang tinggi ini dibuat sengaja, gunanya adalah untuk menyimpan kayu berupa papan bahan baku yang sudah kering, agar tak basah bila hujang datang. Kayu ini didirikan di dalam oloh, agar tidak terlalu banyak mengambil tempat.

Dibagian tengah oloh, dibuat sebuah kamar yang menggantung dibawah atap. Kamar ini adalah tempat tinggalnya para tukang yang masih bujangan, atau yang sudah berkeluarga, namun para istri maupun anak-anaknya tinggal di kampung. Untuk naik ke atas kamar ini dibuatlah sebuah tangga. Agar keberadaan tangga ini tidak menggangu para tukang yang sedang bekerja dibawahnya. Bila semua penghuninya telah turun, maka ujung tangga sebelah bawah kemudian di angkat dan di gantungkan pada sebuah kawat yang dikaitkan di kayu kasau kuda-kuda bangunan oloh. Agar ujung tangga sebelah atas tidak bergeser atau jatuh, di ujungnya dipasang engsel yang cukup kuat, agar tidak lepas saat tangga ini tergantung.

Kamar gantung ini cukup besar, bisa muat sepuluh orang dewasa yang tidur berjejeran. Dengan kehadiranku, hanya akulah satu-satunya anak kecil yang ikut tinggal disana.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.