Merantau ke Pekan Baru (29)

Hari minggu, anduang Ipah libur, aku diajak ke sentral listrik. Ada orang sekampung yang tingal dan bekerja disana.

Setiap aku diajak pergi oleh kakakku ini aku selalu di kuliahi, jangan ini, jangan itu, duduk yang baik jangan bikin malu. Karena tak ingin di cubit kecil yang maha perih itu bila berbuat salah, maka akupun berusaha tampil sebagai anak manis yang patuh dan santun, yang kalau di tanyapun sering menjawab hanya dengan senyuman.

Karena keseringan tak punya uang untuk ongkos, maka jadilah kami sebagai pejalan yang tangguh. Berjalan se jam dua jam bagi kami bukanlah masalah. Apalagi saat itu sarana transportasi masih sangat minim.

Begitupun saat itu, dari rumah di pasar bawah kami berjalan ke sentral listrik. Aku tidak tahu berapa lama kami berjalan, hingga kami ampai di tempat yang dituju.

Ketika kami telah sampai di tempat yang di tuju, masuk pekarangannya saja hatiku sudah ciut, karena belum pernah masuk lingkungan rumah orang seperti itu sebelumnya. Pekarangannya tertata rapi dengan taman dan bunga-bunga yang bermekaran serta halaman yang di taburi batu-batu kerikil.

Sebelum kami masuk kerumahnya aku melihat sebuah mobil-mobilan disudut taman, mobil-mobilan itu dijalankan dengan mengayuhnya seperti mengayuh sepeda. Aku sudah membayangkan alangkah enaknya bermain dengan mobil-mobilan itu, berputar-putar di sekitar dihalaman.

Ketika anduang Ipah telah bertamu masuk rumah, aku sengaja tinggal di luar, lalu mendekati mobil-mobilan itu. Aku memperhatikan, medekati lalu berjongkok, mengelus, memegang setirnya. Bayangan kenikmatan bermain mobil-mobilan itu telah merasuki hatiku. Aku lalu berdiri, sambil memegang setirnya aku lalu mengangkat kakiku untuk masuk kedalam mobil-mobilan itu.

“Mi…!” Suara anduang Ipah mengejutkan aku, dengan cepat kakiku yang telah masuk kedalam mobil-mobilan itu kutarik kembali keluar. Belum sempat aku menarik nafas keterkejutanku, anduang Ipah telah berdiri di sampingku. Tanganku dipegang dan aku ditarik menjauhi mobil-mobilan itu.

“Kamu tidak boleh main disitu, itu bukan punya kita, kalau nanti rusak bagaimana?”

Aku hanya terdiam sambil menunduk mendengarkan omongan anduang Ipah, aku di giring masuk rumah. Di dalam rumah orang yang kami temui duduk di kursi tamu. Kami lalu bergabung duduk bersama tuan rumah. Mereka melanjutkan pembicaraannya, sementara aku diam duduk terpaku tertunduk memandang lantai, dengan perasaan bagai terkurung didalam ruangan sempit.

Entah berapa lama mereka ngobrol, sementara aku duduk dengan perasaan tersiksa, hingga akhirnya kami pulang.

Keluar dari rumah, mataku kembali melihat ke arah mobil-mobilan itu. Disana dia seakan kembali memanggil-manggil aku untuk bemain bersamanya…..


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *