Merantau ke Pekan Baru (28)

Setelah dikurung di kamar gantung, akhirnya aku kembali ke Pasar Bawah, bersama anduang Ipah dan Pidan. Pengembaraanku di jalanan kota Pekanbaru kembali berlanjut.

Pagi itu setelah kedua kakakku pergi ketempat kerjanya masing-masing, akupun pergi meninggalkan rumah tempat kost kami.

Pertama aku pergi ke pabrik roti yang hanya berjarak dua tiang listrik dari rumah kami. Aku melihat kesibukan para pekerja pabrik itu membuat roti hingga memasukkannya ke tunggu pemanggangan. Setelah puas melihat kesibukan para pekerjanya dan kenyang dengan aroma roti yang baru matang, serta ngiler dengan orang-orang yang mebeli dan memakannya disana, sementara aku tak punya uang untuk membelinya, akhirnya aku pergi meninggalkan pabrik roti itu.

Setelah melewati beberapa gang yang sering aku lalui, aku akhirnya sampai di jalan besar dimana mobil mulai terlihat lewat, walau masing jarang.

Sambil memperhatikan keramaian kota dengan segala macam kesibukan orang-orangnya, aku terus berjalan hingga aku sampai di persimpangan. Di depanku kini terbentang jalan yang lebih lebar lagi. Jalannya terbagi dua, masing-masing jalan untuk kendaraan satu arah.

Ditengahnya terdapat taman yang memanjang sejajar jalan. Aku menyeberang menuju taman itu. Setelah sampai disana, kudapati hamparan pasir memanjang membelah jalan yang di batasi tembok setinggi betisku di sekelilingnya.

Di tengah taman pasir itu berdiri tiang besi yang tinggi. Di puncaknya, tiang besi itu seperti bambu terbelah dua membentang melengkung kekiri dan kanan, di masing-masing ujungnya terpasang bola lampu listrik besar, mungkin ada sebesar kepalaku. Aku menghitung ada empat tiang lampu di sepanjang taman itu. Aku lalu berdiri sejajar ditengah-tengah diantara dua tiang, lalu membentangkan kedua tanganku, dan membayangkan aku adalah salah satu dari tiang listrik lampu jalan itu.

Di ujung taman yang membulat, terdapat tempat pemutaran mobil, setelah pemutaran kembali taman yang panjang seperti taman tempat aku berada. Aku tidak tahu, ada berapa taman berderet di sepanjang jalan ini.

Tertutupnya matahari oleh awan, membuat aku betah bermain di taman yang berisi pasir ini. Aku membuat taman bermain sendiri diatas pasir, gunung, sungai yang berliku, sawah berkotak-kotak maupun bertingkat di kaki gunung.

Usai bermain pasir, aku berjalan mengitari taman yang baru kubuat, menikmati hasil karyaku. Lapangan bermainku bertambah dengan berlari sambil membentangkan tangan mengelilingi tiang listrik sepanjang taman. Aku bagaikan elang yang sedang terbang bebas diangkasa, menikmati suasana pagi menjelang siang. Memandang indahnya pemandangan yang terbentang luas di hadapanku. Alampun tersenyum menemani. Dalam kesendirianku, aku menikmati kebebasan, kemerdekaan…

Matahari siang mulai menampakkan diri, setelah awan beranjak di tiup angin. Badankupun telah basah oleh keringat, setelah letih berlari mengitari taman. Dengan berat hati kutinggalkan taman impianku, menyeberangi jalan menuju pulang. Dari seberang jalan aku membalikan badan, melihat taman yang kutinggalkan, kurasakan ada sesuatu yang tertinggal disana dan melambai padaku sambil berkata: “Datanglah lagi kemari esok hari, kami akan menemanimu dalam kesendirian….”

 

Kisah sebelumnya:

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *