Merantau ke Pekan Baru (30)

Dikejar Bayang-bayang Ketakutan

 

Hari masih pagi, anduang  Ipah dan anduang Pidan sudah berangkat ketempat kerja masing-masing. Anduang Pidan ke kompeksi pakaian, disana dia bekerja sebagai tukang jahit. Anduang Ipah ke Sungai Siak, dekat jembatan ponton yang menghubungkan kota Pakanbaru dengan kota Rumbai. Jembatan yang selalu aku kagumi. Karena dia akan terbelah dua ditengahnya, ke masing-masing sisi sungai, bila ada kapal yang akan lewat dari hulu ke hilir atau sebaliknya. Dan akan  bertaut lagi, bila sang kapal telah lewat.

Andung Ipah bekerja disalah satu loket yang menjual tiket kapal, yang berjejer ditepi sungai Siak dekat jembatan. Pertama kali aku diajak kesana, aku begitu kagum, melihat banyaknya lalu lintas kapal yang bolak-balik berlayar sepanjang sungai Siak yang lebar. Kapal yang bersandar di dermaga di pinggir sungai. Melihat crane terayun-ayun sewaktu membongkar barang dari kapal, maupun sebaliknya ketika memuatnya. Begitu juga ketika melihatspeedboat yang melaju kencang membelah air sungai. Atau sekadar menonton orang lagi memancing didermaga tempat kapal bersandar.

Setelah bosan bermain dirumah kost kakakku, mendengarkan radio yang bisa dinyalakan hanya ketika listrik hidup, mendengarkan lagu-lagu India kesenangan pemilik rumah kost, dari siaran radio Singapura atau Malaysia. Aku turun dari rumah. Aku tidak tahu akan pergi kemana. Karena anak kecil berusia antara 5 tahun belum bisa membuat rencana perjalanan!

Aku mengikuti saja kemana kakiku melangkah, menuruti kata hati. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang melarang, dan tidak ada yang menemani! Tapi setelah dewasa, aku menyadari. Ada tangan yang menuntun, maupun menjagaku saat itu. Tangan yang tak kelihatan, tapi begitu perkasa dan kuasa. DIA yang telah memanggil ayahku keharibaannya disaat aku tujuh bulan dalam kandungan ibuku. Kemudian DIA juga mengambil ibuku dari sisiku disaat aku berusia 4 tahun, dan menyusul kemudian nenekku disaat aku 7 tahun.

DIA-lah yang menjagaku saat itu, disaat kesendirianku setelah kakak-kakakku pergi bekerja untuk mencari sesuap nasi penyambung hidup. DIA-lah yang menemani hari-hariku, sehingga aku tak merasa kesepian, walau tanpa teman sepermainan!

***

Aku terus berjalan semakin jauh dari rumah kost, lepas dari gang masuk ke jalan raya. Melihat ramainya lalu-lintas, melihat manusia dengan kehidupannya masing-masing. Ada yang berjalan kaki seperti aku, ada yang berjalan terburu setengah berlari, ada juga yang santai, ada yang bersepeda, dan ada juga yang naik mobil. Ada juga yang berjalan sambil mendorong gerobak, yang diatasnya bertumpuk barang yang dimasukkan kedalam karung. Serta yang berjalan kaki, sambil menjujung barang diatas kepalanya. Ada yang baru saja membuka tokonya, dan menata barang dagangannya, maupun pedagang kaki lima yang memajang dagangan dipinggir jalan. Maupun penjual makanan, yang diletakkan di dalam gerobak  tetutup dengan kaca, hingga makanan yang dijualnya tetap terlihat. Semua dengan kesibukannya!

Sayang aku belum bisa membaca, sehingga aku tidak tahu nama-nama toko yang terpampang disepanjang jalan itu. Ada yang diukir indah, dengan bermacam warna dan gambar. Ada juga yang hanya ditulis satu warna, hitam atau merah. Ada yang panjang, hingga menutupi seluruh bagian atas tokonya, juga ada yang ukurannya kecil dan hanya ditulis di atas kertas.

Disepanjang jalan yang kulewati, aku melihat banyak orang. Tua muda, besar kecil. Tapi hanya akulah satu-satunya anak terkecil disepanjang jalan itu! Karena anak-anak  seusiaku, saat itu mungkin sedang asyik makan disuapi oleh orang tuanya, atau sedang asyik bermain di sekolah taman kanak-kanak! Sedang aku, bocah kecil yang berjalan seenaknya tak tentu arah tanpa alas kaki, celingukkan kiri-kanan seperti orang bingung, tapi dengan rasa ingin tahu yang besar!

Aku kagum melihat toko-toko yang berdiri rapi sepanjang jalan, juga isinya yang beraneka ragam. yang kebanyakan aku tak tahu  apa nama barangnya, juga gunanya.

Aku berhenti didepan seorang pedagang kakilima yang sedang menunggui barang dagangannya. Aku memperhatikan satu persatu barang yang dijual disana. Ada yang aku sudah tahu namamya, ada juga yang masih asing bagiku, karena baru pertama kali aku melihatnya. Lampu senter aku sudah tahu, karena aku sering melihatnya di kampung dipakai malam hari untuk pergi shalat ke surau, atau dipakai oleh orang-orang yang sedang ronda malam. Bila musim durian tiba, lampu senter yang sumber listriknya dari baterai itu sangat dibutuhkan untuk mencari durian yang telah matang jatuh dari pohonnya malam hari.

Aku juga melihat ada minyak rambut yang dikemas dalam kaleng berbentuk oval, yang gambar depannya seorang wanita bergaun putih. Orang dikampungku banyak yang memakainya, mereka menyebutnya minyak lavender, minyaknya berwarna hijau dan baunya khas. Disamping minyak lavender juga dipajang sisir yang ukurannya bermacam-macam, ada yang besar, tanggung, maupun yang ukurannya kecil yang pas untuk dimasukkan kedalam kantong. Juga terdapat sisir yang bilah-bilahnya rapat sekali. Kami menyebut sisir itu “sikek bamban”, gunanya untuk menyisir rambut yang ada kutunya. Aku pernah melihat kakakku memakainya. Sebelum rambutnya disisir, lebih dahulu dia membentangkan kain putih dilantai. Barulah kemudian dia menyisir rambutnya diatas kain itu. Begitu dia menyisir, berjatuhanlah kutu-kutu yang bersarang dirambutnya, juga kotoran atau ketombe dan potongan rambut yang putus. Kutu rambut yang berjatuhan itu berjalaran kesana kemari, lalu di pencet pakai kuku hingga mati.

Dalam pengembaraan keseharianku di kota Pakanbaru, aku sering melihat orang bertransaksi dan tawar menawar. Dan bila terjadi ketidak cocokan harga karena sipemberli menawar terlalu rendah maka jual beli antara pedagang dan pembeli tidak terjadi.

“Pak, sisir ini berapa satu? Aku menanyakan harga sisir kecil yang pas buat kantong.

“Lima belas rupiah…

“Dua belas, ya…

Pedagang itu melihat kepadaku, “Ya, ambillah…”

Aku terkejut, kukira pedagang itu akan mempertahankan harganya dulu, atau walau akan menurunkan harganya mungkin hanya sekitar satu atau dua rupiah. Nyatanya dia langsung menyetujui tawaranku. Atau dia yang bingung atau kaget karena tawaranku tinggi? Aku bingung, lalu tanpa berpikir panjang aku menurunkan tawaranku.

“Sepuluh, ya pak!

“Ya…”

Aduh, bagaimana ini? Aku kan tidak punya uang!. Yang aku butuhkan saat itu adalah penolakan atas tawaranku! Sehingga aku bisa pergi dan meneruskan perjalananku.

Keringat dingin mulai membasahi tubuhku, aku takut kalau pedagang kakilima itu tahu kalau aku tidak punya uang sepeserpun. Aku tadi menawar dagangannya karena merasa pasti dia akan menolak tawaranku yang rendah, tapi kenyataannya?

“Delapan rupiah ya, pak? Aku kembali menurunkan tawaranku, dan aku merasa sekarang pasti dia akan menjawab tidak.

“Ya…”

Aku semakin terpojok! Sisir yang tadi kupegang aku letakkan kembali ketempatnya. Perutku mulai terasa sesak, keringat semakin membasahi bajuku. Malangnya, tidak ada orang lain yang juga berbelanja berada disana selain aku, untuk sekadar mengalihkan perhatian pedagang itu dariku.

“Lima rupiah, ya pak! Aku sebenarnya sudah mulai panik, dan dalam kepanikanku aku tetap menawar, dan jawaban yang kutunggu adalah kata: TIDAK BISA. Tapi yang keluar dari mulut pedagang itu tetap saja diluar keinginanku

“Ya…” katanya enteng, seakan dengan menjual seharga tawaranku dia masih untung!

Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, aku tidak berani menatap kearah pedagang kaki lima tersebut, posisiku yang sedang jongkok terasa semakin berat untuk berdiri, mukakupun telah berubah, jadi pucat.

“Satu rupiah, ya pak! Sambil tetap menunduk tak berani menatap sang pedagang, aku menggeser kakiku kebelakang, tapi belum sempat aku benar-benar bergeser, jawaban sipedagang telah datang bagaikan petir disiang bolong.

“Ya…”

Kini aku tak lagi menggeser kakiku, tapi aku langsung berdiri dan, brrrrr. Aku  berlari secepat mungkin dan sekuat tenaga yang aku bisa. Aku tak berani melihat kebelakang. Karena aku dikejar oleh bayangan sipedagang yang menjulurkan tangannya akan menangkap kerah bajuku. Benar-benar aku ketakutan saat itu, seakan-akan sang pedagang kaki lima itu tepat berada dibelakangku. Aku berlari sekencang-kencangnya, melalui persimpangan jalan, berbelok masuk gang, lalu tembus lagi ke jalan raya  yang menuju ke pelabuhan sungai Siak. Aku berusaha secepat mungkin tiba di sana. Dengan harapan sang pedagang tak akan mengejarku sampai kesana.

Sampai di dermaga pelabuhan Sungai Siak, aku menuruni tebing sungai, lalu bersembunyi dibalik tiang dibawah lantai dermaga.

Mataku liar memandang sekeliling, terutama kearah jalan darimana tadi aku datang. melihat kalau si pedagang mengejar aku, nafasku sesak tersengal-sengal, keringatku bercucuran membasahi seluruh tubuhku.

Sambil mengipasi tubuhku yang telanjang dengan baju yang telah basah oleh keringat. Aku sempat berfikir dan merasakan keanehan, kenapa pedagang tersebut tidak berteriak  melihat aku lari, sehingga orang-orang yang berada disekitar sana dapat dengan mudah menangkap aku. Dan dalam pelarianku, aku juga tidak mendengar bunyi langkah orang yang sedang mengejar aku. Atau apakah sebenarnya dia memang tidak pernah mengejar aku? Dia meng-iya-kan tawaranku hanya juga untuk sekadar mempermainkan aku? Jangan-jangan dia malah tertawa terkekeh-kekeh melihat aku lari pontang panting di kejar ketakutanku sendiri! Dasar anak kecil iseng!

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *