Merantau ke Pekan Baru (4)

Setelah menembus pebukitan, bus kami kembali memasuki perkampungan, Simpang Batuampa. Bus bisa kembali melaju agak kencang karena perkampungannya tidak begitu ramai dan jalannya lumayan lebar. Kami melewati kebun-kebun dengan aneka ragam tanaman. Kebun jagung, kacang tanah dan sayur-sayuran, tapi pohon pisang tetap lebih dominan. Disetiap sudut kebun, halaman maupun pinggir sawah yang berbatasan dengan kampung, daun pisang yang lebar itu berayun dan berkepak ditiup angin. Disela-sela kebun itu menjulang tinggi pohon kelapa dengan buahnya yang sarat, tergantung diantara pelepah daun.

Kami melewati nagari Piladang, pak sopir mengatakan tak lama lagi kita akan sampai di kota Payakumbuh. Aku tidak tahu kota Payakumbuh itu seperti apa, sama seperti aku belum begitu tahu dengan kota Bukittinggi, yang tidak begitu jauh dari kampungku. Karena baru sekali inilah sejak aku dilahirkan, aku keluar dari kampungku, itu juga karena kakakku yang menyuruh aku datang ke Pekanbaru. Kalau tidak, maka sampai kini tentu aku tidak akan pernah naik bus Sinar Riau ini. Bus yang jauh lebih besar dan muatannya lebih banyak dari oplet Batu Bajak yang menambang dari kampungku ke Bukittinggi.

Apa yang dikatakan pak sopir tadi ternyata benar. Perkampungan yang kami lewati mulai kelihatan semakin ramai, rumah penduduk semakin banyak, diantaranya rumah gadangpun mulai kelihatan satu- satu. Bendi-bendi yang ditarik kuda, seperti satu-satunya bendi yang dipunyai inyiak Papah di kampungku, semakin banyak terlihat. Pedati yang ditarik kerbau dan berjalan lambat juga mulai terlihat. Bunyi ganto yang berayun dan berdentang lembut, menjadi teman dan hiburan sendiri bagi inyiak tukang padati yang duduk santai diatas pedatinya.

Pohon kelapa yang menjulang tinggi juga semakin banyak terlihat, bertumbuhan sepanjang jalan dan di kebun-kebun di sekitar rumah penduduk. Pak sopirpun mengatakan, Payakumbuh ini terkenal dengan kota gelamai, atau orang Bukittinggi bilang kalamai. Sejenis makanan yang dibuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan gula merah dan santan kelapa beserta bumbu pelengkapnya, yang memasaknya membutuhkan waktu setengah hari hingga matang,  warnanya hitam kemerah-merahan, dengan bentuk yang kenyal dan padat.

Seperti pernah aku lihat ketika ada orang di kampungku yang akan baralek atau kenduri. Kalamai ini, adalah salah satu makanan wajib dalam adat, yang tak boleh ketinggalan. Kalau tak ingin dipermalukan dalam acara pasambahan, pidato adat yang bersahut-sahutan dua orang pemangku adat dari suku yang sama atau berbeda, mewakili si pangka dan si alek yang berdiri di tengah undangan yang duduk bersila di lantai rumah acara alek.

Bus yang aku tumpangi memasuki kota Payakumbuh yang ramai, toko-toko berderet sepanjang jalan yang kami lewati. Apalagi pusat pasarnya, yang behadapan dengan kantor bupati. Aku begitu terpesona dengan keramaian itu, aku belum pernah melihat keramaian seperti ini, sangat jauh bedanya dengan keramaian kampungku. Pak sopirpun bilang, kalau kita lewat kota Payakumbuh ini hari Minggu, maka bus ini akan berjalan seperti pedati, karena padatnya jalanan ini oleh orang dan kendaraan yang memenuhi jalanan yang kami lewati ini.

Aku belum bisa membayangkan, seperta apa gerangan kota Payakumbuh di hari Minggu, hari pakan istilah orang kampungku. Seperti juga Bukittinggi, hari pasarnya Rabu dan Sabtu, dimana penduduk berduyun – duyun pergi ke kota membawa hasil pertanian mereka, beras, sayur-sayuran, cabe, pisang, jagung, kacang tanah, kelapa atau buah- buahan yang panen sekali semusim seperti, durian, manggis, jambu, kepundung, rambai, langsat, mangga, kwini dan lain-lainnya. Juga hasil industri penduduk kampungku, seperti; kursi, lemari, meja tulis, meja makan dan entah apa lagi yang semuanya adalah perlengkapan atau perabot rumah.

Kota Payakumbuh kami tinggalkan dengan segumpal pertanyaan yang masih menggantung di kepalaku, tapi aku sendiri juga tidak sepenuhnya tahu, apakah gerangan itu.

Bus melaju meninggalkan keramaian kota, kembali memasuki alam pedesaan, yang tak berbeda jauh dengan apa yang dari tadi kami lewati. Rasa capek karena sejak berangkat dari Bukittinggi hingga melewati kota Payakumbuh asyik menikmati pemandangan dan obrolan pak sopir, mulai kurasakan, kosentrasiku mulai goyah, pemandangan di depan tak lagi menarik hatiku, mataku mulai terasa berat, lalu aku tak ingat apa-apa lagi.

Aku terbangun ketika kurasakan mobil tak bergerak dan penumpang didalam bus terdengar agak berisik. Ketika mataku benar-benar terbuka dan aku bangun memperhatikan keadaan, rupanya bus Sinar Riau yang aku tumpangi benar-benar berhenti. Di luar aku melihat banyaknya rumah makan yang berderet sepanjang jalan. Diantara penumpang ada yang mengatakan, bahwa kami telah sampai di Lubuak Bangku.

Aku turun mengikuti famili yang aku tumpangi, pak sopirpun bilang padaku: “Ayo, turun makan, setelah ini kita akan masuk hutan Bukit Barisan…!”

Besambung


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *