Merantau ke Pekan Baru (7)

Bus Sinar Riau yang kami tumpangi sampai di kelok 9, atau tikungan terakhir dalam pendakian menjelajahi hutan raya Bukit Barisan.  Setelah melewati tikungan terakhir itu kami mulai melewati jalan yang tidak terlalu menanjak, walau juga belum sepenuhnya datar.

Belum begitu jauh kami melewati tikungan terakhir itu, jalan yang kami lewati tak lagi semulus jalan sebelumnya. Bus kami mulai melewati jalan berlumpur dan berlubang disana sini. Aspal jalan sudah tak lagi kelihatan, karena tertutup tanah lumpur. Bus pun mulai berjalan zig-zak menghindari lubang-lubang yang menganga sepanjang jalan. Kecepatan bus pun jauh berkurang, pak sopir bekerja keras mengatasi keadaan. Dia ekstra hati-hati, karena kalau terlalu kepinggir di sisi kiri, maka jurang dalam menganga siap menelan kami.

Belum lepas kami dari jebakan lubang-lubang yang menganga itu, pak sopir terpaksa menghentikan kendaraannya. Di depan kami sebuah truk penuh muatan terperosok kedalam lubang yang cukup besar dan dalam. Setiap sopir truk itu berusaha untuk keluar dari jebakan, truknya malah terpuruk semakin dalam. Langkah terakhirpun dilakukan. Kenek truk itu lalu menarik gulungan kawat yang melilit pada sebuah motor yang ada di plang depan mobilnya. Ujung kawat itu lalu dilingkarkan pada sebatang pohon yang cukup besar di pinggir jalan, lalu ujungnya yang terdapat pengait seperti pancing itu, disangkutkan lagi pada kawat yang membentang.

Setelah semua terpasang, sopir menjalankan truknya. Motor yang terdapat di plang depan truk itu pun ikut berputar, menarik truk itu pelan-pelan keluar dari lubang. Setelah truk terbebas dari dari lubang yang seperti kubangan kerbau itu, kami semua bernafas lega. Tapi kami belum bisa mendahului truk tersebut, karena pada saat truk tadi masih terjebak di lubang, dari arah berlawanan kendaraan yang datang dari arah Pekanbaru ikut terjebak kemacetan, karena posisi truk yang serong, tidak memungkinkan kendaraan dari depan melaju.

Begitu juga di belakang kami, beberapa kendaraan ikut terpaksa mengantri. Aku tidak tahu, ada berapa kendaraan yang antri di belakang bus kami, dari sorotan lampu masing-masing kendaraan, jalanan disekitar kami jadi terang benderang, karena semua kendaraan menyalakan lampu depannya, memberikan penerangan kepada kenek dan sopir truk yang sedang bekerja melepaskan truknya dari cengkeraman lubang lubang yang dalam dan licin.

Setelah lepas dari lubang, kenek dan sopir truk itu lalu memasang rantai di kedua roda belakang truk mereka. Rantai yang telah di jalin seperti jaring itu melingkar di sekelliling ban, bila truk itu berjalan, maka rantai itulah menapak di jalanan.

Di saat kenek dan sopir truk bekerja melepaskan diri dari lubang, kenek bus yang kami tumpangi rupanya juga langsung melakukan hal yang sama, memasang rantai di kedua ban belakang bus kami, dibantu oleh sopir satu. Rupanya bus dan truk yang melewati jalan ini semuanya memakai rantai di ban belakang kendaraan mereka. Itu aku lihat setelah kendaraan yang datang dari arah Pekanbaru berpapasan dengan kami, di saat truk yang berada di depan kami sudah terbebas dari lubang dan antrian kendaraan yang datang dari Pekanbaru itu sudah terbebas dari halangan truk.

Setelah truk yang di depan kami mulai berjalan, barulah bus kami juga berjalan. Bus kami tidak bisa segera mendahului truk, karena kondisi jalanan yang tidak memungkinkan. Jalannya hancur, aspalnya tak lagi kelihatan, lubang dimana-mana, sehingga sopir harus membawa kendaraannya meliuk-liuk atau ber zig-zag untuk sedapatnya menghindari lubang yang sudah sangat dalam dan lebar. Rantai yang melekat di ban belakang bus benar-benar membantu untuk mengatasi licinnya jalan, sehingga menghindarkan bus dari tergelincir di jalan yang licin dan masuk lubang.

Ketika mendapatkan jalan yang agak lebar dan tidak berlubang dan aspalnya belum habis sama sekali, barulah bus kami bisa mendahului truk yang berada di depan. Ketika melaju di jalan yang lumayan bagus dan beraspal itu, terasa ada perbedaan di bus yang kami tumpangi. Bus kami tidak lagi berjalan normal seperti sedia kala, ada bunyi yang terdengar aneh namun konstan. Itulah suara rantai yang berisik ketika beradu dengan aspal dan menjadi nyanyian malam sepanjang jalan yang kami tempuh,  bunyi itu menghilang bila kami telah bertemu lagi dengan jalan rusak berlumpur tebal dan berlubang dalam, diikuti dengan liukan mobil menghindari lubang, yang membuat kami para penumpang ikut oleng kekiri dan kekanan, sesuai dengan ayunan bus Sinar Riau yang kami tumpangi.

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *