Merantau ke Pekan Baru (9)

Setelah muatannya penuh, cukup lama aku menunggu dan memperhatikan, bagaimana pelayangan itu menyeberangi sungai yang lebar dan airnya cukup deras itu. Dari tempat aku berdiri, kulihat pelayangan itu bergerak sangat lambat. Apalagi suasana malam yang gelap di tengah sungai, membuat pergerakan pelayangan itu terlihat begitu pelan. Aku tidak tahu berapa menit lamanya proses penyeberangan itu, namun lambat tapi pasti, dia semakin mendekat kearah pinggir sungai ketempat aku berada.

Setelah pelayangan itu merapat, beberapa orang pekerja meletakkan ujung dua buah papan yang cukup tebal di pinggir pelayangan, ujung yang lainnya di tanah di pinggir sungai, rupanya papan itu berfungsi sebagai jembatan untuk kendaraan yang turun dari pelayangan.

Setelah semua siap, pelan-pelan satu persatu kendaraan yang berada di pelayangan turun ke jalan, saat itu aku melihat ada dua bus dan satu truk diatasnya. Setelah ketiga kendaraan itu turun ke jalan dan melanjutkan perjalanannya, baru aku bisa melihat bentuk pelayangan itu denga jelas, karena disetiap sudut pelayangan tergantung masing-masing satu lampu sitarongkeng, sehingga cukup untuk menerangi seluruh permukaan pelayangan.

Pelayangan itu bentuknya seperti rakit persegi empat, luasnya cukup untuk membawa tiga buah truk atau bus besar seperti yang kami tumpangi, dan sisanya masih cukup untuk sekadar memutar agar posisi kendaraan diatasnya bisa lurus.

Di salah satu sisi rakit tersebut di buat ruang tunggu bagi penumpang yang menyeberang. Sisi luarnya di beri dinding dan diatasnya di beri atap. Bangku panjang tempat duduk diletakkan dekat dinding, sehingga penumpang dapat bersandar ke dinding.

Agar rakit ini tidak hanyut terbawa air, di salah satu sudutnya diikatkan tali yang terbuat dari kawat baja. Ujung kawat baja yang satunya di kaitkan ke tali baja lain yang membentang dari sisi sungai yang satu ke sisi sungai di seberangnya, ujungnya di beri roda agar bisa bergerak bebas diatas kawat baja dari ujung yang satu keujung yang lain mengikuti pergerakan rakit pelayangan. Diikatkannya kawat baja ini disudut rakit, membuat seolah-olah rakit ini seperti perahu, dengan salah satu sudutnya menjadi haluan.

Rakit ini tidak mempunyai mesin pendorong, tapi mempunyai kemudi, pergerakan rakit ini di dorong oleh arus air pada sisi samping kiri atau kanan, tergantung arah tempuh dari rakit pelayangan ini.

Setelah semua kendaraan dan para penumpang turun dari rakit pelayangan, kini giliran kendaraan dan para penumpang yang akan menuju Pekanbaru menaiki pelayangan tersebut.

Bus Sinar Riau yang kami tumpangi saat itu ada pada barisan kelima, berarti aku harus menunggu rakit ini menyeberang sekali lagi dan lalu kembali ke sisi tempat kami berada. Barulah kami bisa menyeberang dan melanjutkan perjalanan.

Setelah dua bus dan satu truk yang berada di depan kami naik ke pelayangan, kendaraan yang dibelakangnyapun bergerak maju lebih mendekat ke pinggir sungai. Kini bus kami ada di posisi kedua, di belakang bus berwarna kuning yang aku tidak tahu namanya.

Dinginnya udara malam, membuat perutku terasa lapar. Aku lalu kembali naik ke bus Sinar Riau. Sampai di dalam bus, rupanya familiku sudah bangun dan menanyakan aku dari mana. Aku katakan dari pinggir sungai melihat pelayangan, dia mengingatkan aku agar tidak bermain di pinggir sungai, karena airnya cukup deras mengalir, kalau sampai jatuh dan hanyut takkan dapat di ketemukan lagi. Aku mengangguk mengiyakannya.

Aku bilang mau makan karena lapar, diapun menyuruh aku makan. Aku lalu mengambil nasi sisa yang kubungkus tadi. aku makan di dalam bus, sementara familiku mencarikan air minum di warung sekitar sana. Mungkin karena udara malam yang dingin, sisa nasi yang lebih dari separo tadi sore, habis aku makan.

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *