Merantau ke Pekanbaru (8)

Buruknya jalan yang kami lewati , membuat para penumpang bagaikan sedang menumpang perahu yang sedang diamuk badai. Terayun kekiri dan kekanan dan terhuyung kedepan bila bila tiba-tiba roda depan bus masuk lubang yang agak dalam.

Perjalanan malam dengan pemandangan terbatas, disertai tubuh yang lelah diayun dan di guncang oleh jalan bus yang tidak stabil, membuat mataku mengantuk. Kepalaku beberapa kali terantuk ke dasbor bus, karena tanganku yang memegang besi pegangan terlepas karena tertidur. Akhirnya aku tertidur sambil bersandar sandaran bangku bus, tapi inipun tak nyaman. Badanku sering miring ke kanan dan mengenai tangan sopir yang sedang mengemudi. Karena merasa terganggu, badan atau kepalaku suka disikut dan didorong oleh sopir, hingga kembali ke posisi semula, atau miring kekiri kearah familiku. Tapi itu tak berlangsung lama, karena kemudian aku tak merasakan apa-apa lagi, tidur pulas.

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. Aku terbangun karena bus berhenti, di sampingku sopir bus kami tidak ada, bangkunya kosong. Dengan mata yang masih mengantuk aku mencoba melihat kesekitar bus. Didepan kami aku melihat bus lain juga berhenti, aku lalu menggosok mataku agar dapat melihat lebih jelas. Disaat kesadaranku telah pulih, dan kantuk mulai menghilang, barulah aku benar-benar memperhatikan keadaan disekeliling. Didalam bus, para penumpang banyak yang masih tidur. Yang bangun asyik mengobrol dengan teman sebangkunya, atau dengan penumpang lain yang duduk di depan maupun di belakangnya.

Aku lalu melihat keluar, di depan bus kami ada bus lain berwarna kuning. Karena jalan didepan kami menurun dan agak menikung, aku bisa melihat panjangnya antrian mobil di depan kami, begitu juga ketika aku melihat kebelakang, mobil yang di belakang kami juga telah membentuk antrian yang cukup panjang. Disebelah kiri maupun kanan jalan, aku melihat warung kopi maupun warung yang menjual makanan kering dan rokok serta rumah makan berderet sepanjang jalan. Warung-warung itu, maupun rumah makan kulihat cukup ramai, dan suasananya terang benderang oleh cahaya lampu sitarongkeng yang dipasang di setiap warung, apalagi rumah makan, mereka memasang begitu banyak lampu mulai dari halaman hingga ke dalam rumah makannya.

Aku ingin turun dari bus, untuk melihat-lihat keadaan sekitarnya. Tapi begitu kulihat jalanan becek penuh lumpur, aku mengurungkan niatku, dan tetap duduk di dalam bus.

Beberapa saat kemudian, aku melihat ada kendaraan yang datang dari arah depan, dua bus dan dua mobil jip. Setelah kendaraan itu melewati kami, sopir bus kami naik kedalam bus. Tak lama kemudian antrian kendaraan didepan kami mulai bergerak maju. Aku mengira semua kendaraan disana akan langsung berjalan meneruskan perjalanan, tapi rupanya tidak. Baru beberapa saat bus bergerak lalu berhenti lagi. Begitu seterusnya beberapa kali.

Jarak bus kami dengan sungai tidak lagi begitu jauh, karena dari dalam bus aku sudah dapat melihat aliran sungainya, walaupun hanya sedikit. Karena tertutup oleh kendaraan yang berada di depan kami.

Dari sopir bus barulah aku tahu, bahwa kami sedang antri untuk menyeberang sungai dengan mempergunakan pelayangan. Rasa ingin tahu, membuat aku memberanikan diri turun dari bus, melalui pintu sebelah kanan, tempat sopir turun dan naik kedalam bus. Karena di sebelah kiri, familiku tidur cukup pulas, dan aku tidak berani membangunkannya, karena aku takut kalau aku tidak diperbolehkan turun dari bus.

Pelan-pelan aku lalu turun dari bus, menginjak jalan yang becek dan berlumpur. Walau tidak setebal lumpur yang kami lewati selepas kelok 9. Aku berhenti sejenak memperhatikan sekelilingku, beberapa saat kemudian aku berjalan menuruni jalan menuju sungai. Setelah dekat ke sungai barulah aku tahu, sungainya sangat lebar dan airnya mengalir deras. Aku tak berani terlalu mendekat kepinggirnya, karena aku takut hanyut dan aku belum bisa berenang.

Pelayangan yang akan menyeberangkan kami saat itu berada diseberang sebelah sana, sedang menaikkan kendaraan keatasnya. Dari tempat aku berdiri tak begitu jelas kelihatan olehku, karena suasana malam dan ditengah sungai terlihat gelap, bagaimana mobil-mobil itu di naikkan keatas pelayangan, dan bagaimana cara menyeberangnya.

Bersambung


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *