Merantau ke Pekan Baru (16): Tanah Merah

Aku beserta famili teman seperjalalanku dari kampung, menunggu di depan rumah setelah mengetok pintu dan memanggil tuan rumah. Beberapa saat kemudian terdengar suara engsel pintu berderit dan pintu rumah itu terbuka. Seorang wanita yang nampaknya baru saja selesai melaksanakan shalat subuh dan masih memakaitelekungnya menyembul dari balik pintu, setelah bertegur sapa dia mempersilakan kami masuk. Famili teman seperjalananku menolak masuk, karena akan langsung pulang kerumahnya. Rupanya dia mampir kerumah ini hanya untuk mengantarkan aku. Tak lama kemudian diapun pergi meninggalkan aku di rumah itu. Rupanya aku tidak langsung diantarkan ke rumah kakakku. Akan tetapi kerumah kakak sepupuku yang lain tuan Ismail.

Setelah si pengantar pergi, aku dan istri tuan Ismail yang kalau di kampung kami panggil tuan Maie masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah rupanya tuan Maie telah bangun.

Aku duduk di ruang tamu, di atas balai-balai yang terbuat dari palupuah bambu. Rumah itu cukup sederhana dan jauh lebih kecil dari rumah gadang kami di kampung, tapi lantai rumah ini memakai semen, tidak seperti rumah gadang yang berlantai papan dan mempunyai kolong yang dipakai untuk kandang ayam dan itik. Aku belum terbiasa dengan lantai semen ini, udara pagi yang dingin menambah dinginnya lantai ini kurasakan. Untuk menghangatkan kaki dan badanku, aku duduk bersila di atas balai-balai bambu itu.

Hari semakin siang, semua penghuni rumah telah bangun, termasuk anak-anak tuan Maie tiga orang, dua laki-laki dan satu perempuan yang masih bayi masih tidur. Tuan Maie telah selesai mandi. Segelas kopi telah tersedia diatas meja. Untukku dan dua anak-anaknya. Kak Suma, demikian nama istri tuan Maie yang membukakan pintu rumah untukku tadi pagi, telah menyajikan segelas teh manis. Tapi perut “kampung”ku masih belum bisa menerima teh manis ini. Trauma “masakan Jawa” sewaktu di tahanan tentara bersama umi, belum hilang dari ingatanku. Mulutku masih terasa aneh bila pagi hari minum teh manis.

Anak tertua tuan Maie usianya sama dengan uda Des, namanya Sudarmadji , sehari-hari dipanggil Maji. Adiknya juga seusia denganku, aku hanya lebih tua beberapa bulan, saban hari di panggil Man. Sementara si kecil yang perempuan di panggil As, nama lengkapnya aku tidak tahu.

Sebagaimana umumnya profesi orang kampungku, Tuan Maie juga bekerja sebagai tukang perabot rumah tangga, dia bekerja pada induk semangnya yang juga orang kampung kami. Saat ini dia sudah siap untuk berangkat, aku tidak tahu kapan aku akan bertemu dengan kakak-kakakku, apakah aku akan diantarkan kesana atau mereka yang akan menjemputku ke rumah ini.

Tinggal di rumah baru dengan suasana baru dan orang-orang yang masih asing bagiku, membuat suasana hatiku tidak sepenuhnya nyaman. Tapi nasehat etek Timah dan amai Uda serta kak Inan, membantu aku menyesuaikan diri. Suasana asing itu membuat aku lebih banyak diam, aku tak tahu harus berbuat apa.

Walau anak-anak tuan Maie itu sebaya denganku, tapi nampaknya mereka juga merasa tak bisa akrab denganku yang hanya duduk berdiam diri. Hanya sebentar setelah sarapan pagi dan ayah mereka pergi bekerja, mereka telah menghilang dari rumah, bermain dengan teman-temannya. Tinggallah aku sendiri, masih di balai-balai sebagaimana pertama aku datang pagi tadi.

Melihat aku duduk bengong sendirian, kak Suma menyuruh aku untuk bermain keluar ke teras rumah, sambil melihat-lihat kendaraan yang lewat. Dengan langkah berat akupun beranjak dari tempat dudukku dan pergi ke teras seperti yang dikatakan istri tuan Maie itu.

Di teras aku duduk di bangku panjang dari kayu. Matahari pagi bersinar begitu cerah. Di depan rumah terbentang jalan beraspal hitam. Palangkin, demikian orang kampungku menyebut benda hitam yang di padu dengan batu kerikil untuk memadatkan jalan itu. Tidak jauh dari sana aku melihat seorang laki-laki tua sedang berjemur di bawah hangatnya matahari pagi. Usianya mungkin lebih tua dari inyiak aki-ku di Guguak Rang Pisang.

Aku mengikuti saja langkah kakiku berjalan ketempat si orang tua itu duduk. Bangku kayu yang nampaknya sudah cukup tua di tempa hujan dan panas. Aku ingin menghangatkan badanku, yang sedari tadi berada di ruangan lembab oleh lantai semen.

Melihat aku hanya duduk diam tanpa berkata-kata sambil ikut berjemur, rupanya menimbulkan pertanyaan bagi si kakek. Diapun bertanya tentang aku,  seperti biasanya, aku hanya menjawab secukupnya.

Mengetahui bahwa aku orang baru di daerah itu, si orang tuapun bercerita dan mengajak aku mengobrol. Walau yang sebenarnya terjadi hanya pembicaraan satu arah, aku hanya jadi pendengar yang baik. Dia mengatakan bahwa kampung tempat kami berada ini namanya Tanah Merah. Tapi, dari obrolannya yang belum seberapa itu hanya itulah yang berhasil kutangkap. Rupanya hangatnya matahari pagi itu membuat mataku yang selama tiga hari dua malam berada di dalam bus Sinar Riau tidak mendapatkan istirahat yang cukup, pagi itu terasa berat. Sehingga suara pak tua itu terdengar mulai sayup-sayup sampai.

Melihat mataku yang mulai terpejam dan dudukku yang mulai limbung, pak tua itupun menyadarinya. Aku lalu di bangunkan dan disuruh pulang dan tidur yang cukup. “Besok kita bercerita lagi…! Katanya.

Aku lalu bangkit dari dudukku, dan pulang kerumah tuan Maie. Sampai di rumah kulihat kak Suma sibuk di dapur. Aku lalu membaringkan badanku di balai-balai di ruang tamu, dan menjadikan bungkusan pakaianku sebagai bantal, tak lama akupun tertidur pulas.

 

Telekung = mukena

palupuah = bambu yang di cacah atau di belah-belah tapi tidak sampai putus

Inyia aki = kakek

tuan = panggilan untuk kakak laki-laki di kampungku = uda, mas (jawa)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *