Mission Completed

Walau dengan suasana hati yang tidak karuan, saya tetap berusaha secepatnya meninggalkan bank, menemui pengemudi Grab yang dengan sabar menunggu di sudut halaman. Melihat saya keluar dari bank dengan langkah yang tergesa, sang pengemudi nampaknya juga sudah mulai mengerti kalau saya sedang berkejaran dengan waktu. Diapun segera naik dan menyalakan motornya. Tanpa banyak omong lagi saya juga segera membonceng di belakang.

Baru saja kami keluar dari halaman bank dan masih berada di gerbang, sebagaimana saat kedatangan saya kesana tadi, kemacetan belum terurai. Otak saya bekerja cepat dan mengambil keputusan, tidak mungkin saya dengan cepat menuju kedutaan dengan kondisi lalulintas yang amburadul begini.

Saya turun dari Grab, mengambil selembar uang yang tadi saya mabil di ATM dan memberikannya kepada pengemudi Grab. “Sudah mas, ya…” kata saya kepada sang pengemudi yang menerima uang dalam keadaan bingung.

Saya berlari keluar dari gerbang, belok kanan melewati trotoar yang sudah tidak ketahuan bentuknya, sehingga saya lebih sering berlari di pinggir jalan menuju selatan, melawan arus kendaraan yang datang dari arah Pasar Minggu. Sesekali saya memperlambat lari untuk menormalkan nafas yang sesak, lalu kemudian mempercepat langkah saya lagi.

Walau mungkin sudah tahu bahwa dollar sudah ada di tangan saya, namun karena saya tidak merespon setiap panggilan telepon yang masuk maupun pesan melalui WhatsApp, maka sepanjang jalan yang saya lewati sambil berlari maupun bergantian dengan jalan cepat itu, dering telpon maupun denting pesan WhatsApp ikut berkejaran di handphone saya. Saya tidak mempedulikan lagi semua dering panggilan telpon maupun pesan WhatsApp itu. Keterlambatan sekian menit dari tenggat waktu lebih memacu adrenalin saya untuk bergerak lebih cepat lagi agar sampai di kedutaan.

Saya tidak tahu berapa menit waktu yang terpakai dalam perjalanan yang benar-benar menguras energi maupun emosi saya itu, hingga saya sampai di gedung yang saya tuju. Baru saja saya tiba di depan pintu lobby gedung dimana kedutaan berada, saya sudah disongsong seorang laki-laki yang usianya tak beda jauh dengan saya dengan wajah perawakan keturunan Asia Selatan.

Setelah bersalaman, tanpa banyak bicara dan nafas masih ngos-ngosan saya langsung menyerahkan dollar yang ada di tangan saya kepadanya. Mata saya berkeliling mencari kursi buat beristirahat melepaskan capek dan sesak nafas saya, tapi saya malah diajak untuk ikut bersama dia.

Kami menuju lift yang terletak tidak jauh dari meja resepsionis. Sang agen mengaktifkan tombol lift dengan visitor card yang diberikan oleh resepsionis, memencet nomor lantai yang kami tuju dan beberapa saat kemudian lift bergerak naik.

Hanya dalam beberapa detik kemudian lift berhenti dan pintunya terbuka. Sebuah ruang tunggu yang juga terdapat meja resepsionis dan seorang wanita muda yang duduk di belakang meja serta seorang petugas security menyambut kedatangan kami. Sang agen berjalan menuju meja resepsionis, berbicara singkat sambil menyerahkan dollar yang ada di tangannya.

Sang resepsionis lalu mengajak agen mengikuti dia melewati pintu yang ada di samping security, lalu kemudian keduanya menghilang dibalik pintu. Saya lalu duduk di kursi tamu, sekilas saya lihat sang petugas security melirik saya dengan pandangan menyelidik. Tapi saya cuek saja.

Ruangan berpendingin itu menyerap keringat saya yang tadi mengucur membasahi seluruh tubuh. Nafas sayapun sudah kembali normal. Sambil duduk, mata saya sekilas mencoba menyapu rangan yang tidak begitu luas tersebut. Di dinding yang berada di belakang meja resepsionis terdapat sebuah tulisan: “Embassy of the…”, sebuah nama negara Asia Timur tertulis disana.

Tidak lama kemudian, kedua orang tadi kembali dari dalam ruangan yang mereka masuki tadi. Sang resepsionis kembali ke meja kerjanya, sementara sang agen berjalan mendekati tempat saya duduk dan kemudian duduk di kursi yang ada di samping saya.

Agen menyerahkan dokumen yang baru saja dibawanya dari ruangan dalam kedutaan. Sebuah pasport berwarna hijau yang di salah satu halamannya telah di tempel dengan sticker visa kunjungan ke negara bersangkutan. Di samping pasport juga terdapat uang kembalian pecahan kecil US Dollar.

Saya menerima pasport tersebut berikut uangnya dan memasukannya ke dalam tas. Selanjutnya kami kembali menuju lift yang turun ke lantai dasar, meninggalkan kedutaan.

Setelah menyerahkan visitor card, saya dan agen lalu berpisah di lobby.

Saya berjalan meninggalkan gedung tempat pertemuan kami tersebut. Saat sampai di jalan, saya melihat lalu lintas sudah agak lancar. Saya lalu berjalan menuju perhentian bus pengumpan Transjakarta jurusan Pasar Minggu – Tanah Abang. Pulang ke studio dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Saya tak lagi terburu-buru, karena saya berangkat ke Padang dengan penerbangan terakhir Lion Air pukul 8 malam.
********

Setelah shalat ashar, saya naik Grab menuju Slipi, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus Transjakarta menuju Pluit. Di halte Penjaringan saya turun dari bus, lalu menyeberang menuju jalan Pluit Selatan. Berjalan sekitar 50 meter dari persimpangan, saya melihat sebuah taksi behenti dalam keadaan kosong.

Saya mendekati taksi tersebut, sang pengemudi menurunkan kaca pintu depan. Saya memberikan kode kepada sang pengemudi, dia mengangguk, sayapun lalu masuk ke dalam taksi. Tak lama berselang dua penumpang lagi datang dan ikut masuk ke dalam taksi, setelah itu taksi bergerak menuju bandara.

Taksi mengantar kami ke halte shuttle bus bandara. Saya lalu naik bus yang sudah menunggu. Setelah bus berjalan dan sampai di tujuan, baru saya sadar kalau bus tersebut menuju terminal 3. Oleh petugas bandara saya lalu diarahkan untuk naik kereta gantung yang menghubungkan ketiga terminal. Sebuah pengalaman barupun saya dapatkan saat menikmati perjalanan dengan kereta gantung tersebut menuju terminal 1.

Setelah cek in, saya langsung menuju ruang tunggu, lalu shalat magrib di mushalla gate 5. Selesai shalat dan menunggu boarding, baterai handphone maupun powerbank saya habis, lalu menyempatkan diri mengecas handphone di tempat yang sudah disediakan pihak bandara. Panggilan untuk masuk pesawat terdengar saat pas saya selesai shalat isya. Bersama penumpang lain kami masuk pesawat, setelah semua selesai boarding. Pesawatpun bergerak menuju landas pacu, dan beberapa saat kemudian lepas landas meninggalkan Jakarta menuju BIM, Padang.

Setelah terbang sekitar 1,5 jam, kurang beberapa menit pukul 10 malam, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Minangkabau.

Baru saja handphone saya nyalakan, sebuah pesan WhatsApp tampil di layar, dar sebuah nomor baru yang sudah dikirimkan kepada saya sebelumnya.

“Ambo tunggu di Minang Mart” demikian pesan yang tampil di layar, yang kemudian saya balas. “OK!”

Keluar dari bandara, berjalan menuju Minang Mart, tak lama sang teman datang menyongsong kedatangan saya. Dia langsung mengajak saya menuju mobil yang berada di tempat parkir. Begitu berada di dalam mobil, saya lalu menyerahkan dokumen beserta dollar dan sisa uang yang saya mabil di ATM pagi tadi. Setelah selesai serah terima, beberapa saat kemudian kami meninggalkan bandara. Saya diantar menuju rumah adik saya di Padang Baru.

“Mission completed”

Demikian sebuah pesan dari agen Jakarta yang belum sempat saya baca siang tadi, ketika saya membuka handphone setelah mobil yang mengantar meninggalkan saya di Padang Baru dan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, dimana sang bigboss berada.

Alhamdulillah…

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *