Nyanyian Rindu dari Rantau

Kuhitung—hitung, telah dua belas tahun aku berada dirantau orang. Te­lah banyak kota yang kutempuh dan telah banyak pula desa yang kusinggahi. Berbagai macam pengalaman telah didapat dan berbagai macam cobaanpun telah dirasakan, dalam mencarikan punggung yang tak bertutup dan perut yang tak berisi. Selama itu pulalah kampung telah kutinggalkan. Usah ditanya rasa rindu, tak perlu di sebut soal taragak, sungguh tak tertahankan lagi.

Seperti yang kurasakan kini. Ingin hati hendak merobek malam, agar siang cepat menjelma. Ingin ku hendak berteriak, melepaskan segala sesak hati, merobek malam membelah sunyi. Tapi…, nyatanya aku tak berdaya. Aku telah letih didera beban derita hidup. Aku tak bergerak dan akupun tak bersuara, yang terdengar hanyalah tarikan nafas panjang menghunjam kalbu. Oh…..,alangkah sepinya hati ini.

Saat ini aku berada di sebuah desa di pedalaman Jawa Barat, sebuah desa di kaki bukit. Desa yang sunyi, sepi seperti desaku yang jauh kutinggalkan.

Aku berbaring di tempat tidurku. Malam merayap semakin larut, kesunyianpun makin mencekam.  Yang terdengar hanyalah nyanyian malam dari suara jangkrik yang bersahutan, disertai desiran daun bambu maupun kelepakan daun pisang yang ditiup angin. Keheningan itu sekali—sekali ditingkah oleh bunyi kodok dari parit dibelakang rumah yang aku tempati. Atau kadang—kadang juga terdengar suara tikus yang berlarian diatas loteng. Ketika semua itu telah berlalu, alampun kembali sunyi, seperti hatiku…….

Karena mataku tak juga mau terpejam, pelan-pelan aku bangun dan duduk di atas kursi dekat meja tulisku. Di atas meja di hadapanku, tergeletak dua buah foto ukuran kartu pos, yang kuterima beberapa waktu lalu dari dua orang teman, sebagai kartu ucapan Selamat Hari Raya.

Foto pertama menggambarkan seorang gadis Minang dengan pakaian adatnya. Dengan latar belakang Ngarai Sianok yang di bawahnya mengalir sebuah sungai. Orang kampungku menamakannya Batang Sianok, airnya mengalir berliku-liku, mengikuti alur ngarai. Di sekitarnya dan di kejauhan, sesayup—sayup mata memandang, kelihatan pohon—pohon kayu tumbuh menghijau, diselingi oleh sawah membentang berliku, serta rumah di sela—sela pohon, indahnya……..

Mataku beralih pada gadis yang memakai tingkuluak tanduak di bagian kiri foto itu. Batinku berdebar, duhai cantiknya…….

Berbaju kurung merah darah, berhiaskan bunga kembang emas. Di bahu kanannya tergantung selendang kain songket, menyerong terus kebawah, ujung bertaut di samping kiri. Di lehernya tergantung dukuah basusun, di tangannya melingkar gelang pusaka. Matanya memandang redup, bagaikan meminta penuh harap, seakan maimbau pulang si orang rantau.

Aku beralih memandang foto yang satu lagi. Foto Tugu Pahlawan tak dikenal, yang puncaknya telah rubuh hancur disambar petir.

Dibelakang tugu itu, di lerenq tebing yang landai, tumbuh pohon cemara yang seakan menjadi pagar gedung Tri Arga yang kelihatan di sela-sela daun di belakangnya. Di sebelah kanannya, agak kejauhan, kelihatan Jam Gadang berdiri dengan aggunnya. Saksi abadi kota Bukittinggi.

Aku menguap beberapa kali, kemudian berdiri dari kursi yang aku duduki, berjalan menuju tempat tidur, membaringkan diri, menarik selimut, tidur sendiri. Ah, malam yang dingin.

Aku telah lama berbaring , tapi mataku tak juga mau terpejam. Badanku sebentar berbaring kekanan dan sebentar kemudian berbalik ke kiri, akhirnya aku menelentang.

Aku menenangkan hatiku, dalam kesunyian malam dari jauh telingaku menangkap suara musik tarling. Sebuah kesenian gitar dan suling tradisionil Sunda. Aku tak begitu mengerti dengan apa yang dinyanyikan oleh penyanyinya yang disana dinamakan sinden. Tapi mendengar suaranya yang mengalun dalam nada tinggi, lagu itu terdengar olehku begitu menyayat hati. Dan bagiku itu terasa lebih mengharukan. Dengan nyanyian yang tidak aku mengerti itu, makin tarasalah diri ini kian terasing. Diriku bagaikan orang buangan, terpencil jauh dinegeri orang. Jauh da­ri sanak jauh pula dari saudara, ataupun dari teman— teman sepermainan di waktu kecil , aku tidak tahu entah dimana mereka semuanya kini.

Kini semuanya terbayang, pikiranku melayang semakin jauh dan semakin jauh. Nampaklah negeri yang kutinggalkan, negeri yang elok, negeri yang tenang dan damai. Tanahnya yang subur dengan tanaman yang menghijau. Dari jauh kelihatanlah sebuah bercak putih yang kelihatan kontras dengan bukit barisan yang membiru. Aku tahu pasti, itulah Batu Bajak. Bila aku pulang dan melihatnya dari jauh, hati ini berkata, “disanalah kampungku, tempat aku di lahirkan dan dibesarkan, ditimang dan diayunkan, hingga aku pandai berjalan. Kemudian ia kutinggalkan, karena panggilan jiwa dan hidupku”

Dibawah Batu Bajak itu, mengalirlah Batang Agam. Tempat aku dan teman—teman sama mengaji di surau yang terletak di pinggir Batang Agam itu se ring mandi—mandi, tempat dimana aku pernah berteriak histeris, karena kakiku digigit lintah yang besarnya seperti telunjuk. Sejak itu aku sangat takut dengan lintah.

Di balik Batang Agam yang penuh kenangan itu, menghamparlah sawah yang luas. Bila padinya telah tumbuh besar dan menghijau, sejuta hasratpun menumpuk, harap dihatipun telah menggunung, hilang semua penat, sirnalah segala letih karena bekerja, dalam menunggu musim datang. Setelah padi menguning, buah telah sarat dengan isi, sawah membentang bagaikan permadani emas, mengalun mengombak ditiup angin, mengayun terangguk—angguk manja, menunduk namun tak rebah, bak gadis senyum tak jadi, indahnya….

Tapi sayang, semuanya itu kini tak pernah kutemui lagi. Telah lama tangan ini tak pernah memegang sabit, untuk memotong rumpun—rumpun padi yang telah masak. Kakipun telah rindu untuk mangirik, melepaskan padi dari tangkainya. Walaupun kaki ini terasa pedih dan perih di sayat daun dan miang padi. Kapankah aku dapat mengenyamnya lagi.

Aku telah rindu makan disawah, di alam terbuka. Beratap langit mambiru, berlantai tanah beralas jerami. Daun pisang sebagai piring, habis makan piring dibuang, jadi santapan sapi gembala. Tempat minumnya tempurung kelapa. Sayak kata orang kampungku.

Selesai makan parabuangan pun diketengahkan, isinya sipuluik jo panyaram. Nikmatnya…!

Kini dia telah hilang dari pandanganku, semenjak dia kutinggalkan. Telah banyak yang berganti. Lagu gamat-ku telah bertukar dengan keroncong. Saluang ku telah berganti dengan tar­ling. Randai berganti dengan lanong, dan pantunku tak terdengar lagi.

Akupun tidak ta­hu. Apakah si upiak yang sama mengaji dulu, yang kini tentu telah berbaju kurung akan bertukar pula dengan si neng yang memakai kebaya.

Namun dihatiku, semuanya kini terkenang. Rinduku, rindu, kuingin melihatnya lagi……

 

Jakarta, 1981


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *