Idul Fitri 1975

Azan subuh berkumandang. Membangunkan kami yang tidur di kubah besar yang berada di puncak Masjid Raya Muhammadiyah yang terletak di jalan Bundo Kanduang, persis di tengah kota Padang itu.

Aku buru-buru bangun, membenahi pakaian dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Setelah itu keluar dari kubah lalu bergegas turun melewati anak tangga kayu yang menghubungkan lantai dua dan lantai tiga, dimana kubah itu berada. Sampai di lantai dua aku belok kiri masuk ruangan yang siang harinya sebagai tempat para mahasiswa Universitas Muhammadiyah belajar dan sorenya sebagai tempat mengaji murid-murid TPA. Aku belok kanan menuju tangga pintu utama yang ditutup dengan pagar besi, lalu menggeser pagar secukupnya agar bisa keluar menuju tangga utama menuju halaman masjid yang berhadapan langsung dengan jalan Bundo Kanduang. Sampai di halaman aku belok kiri, lima meter berikutnya belok kiri lagi melewati samping masjid yang bersisian dengan bagian belakang deretan toko mas yang berjejer di jalan Muhammad Yamin. Aku masuk salah satu kamar mandi yang berada di sudut masjid, lalu bergegas mandi agar tidak ketinggalan shalat subuh berjamaah.

Selesai shalat subuh dan berdoa, aku bergegas keluar dari masjid, lalu setengah berlari menuju beberapa bus yang berjejer di jalan Muhammad Yamin yang di seberangnya terdapat terminal oplet Pasar Goan Hoat.

Aku menaiki bus ANS, bus pertama yang pagi itu berangkat menuju Bukittinggi. Saat menduduki bangku bus yang masih kosong dengan nafas yang tersengal karena habis berjalan cepat, dari masjid Muhammadiyah dan juga masjid Kampung Jawa serta masjid Belakang Tangsi, suara takbir terdengar bersahutan. Sambil bergumam mengiringi takbir menyambut datangnya Idul Fitri itu, dalam hati aku berdoa agar bus segera berangkat, dan berharap pula bisa mengikuti shalat Idul Fitri di kampungku Kamang, 12 km dari kota Bukittinggi atau 109 km dari kota Padang.

Doaku rupanya dikabulkan Allah, karena tak lama kemudian bus mulai berjalan. Menyusuri jalan Muhammad Yamin di mana saat itu terdapat kantor mingguan Singgalang yang kemudian menjadi surat kabar harian, tak lama kemudian bus belok kanan menuju jalan Pemuda, melewati terminal bus Lintas Andalas yang pagi itu masih terlihat sepi. Lepas jalan Pemuda bus memasuki jalan Damar di mana terdapat harian Haluan, tempat aku pernah magang selama 4 tahun. Awal aku mengenal dan hidup di lingkungan persurat kabaran, wartawan atau media massa dengan segala lika-likunya.

Lepas dari jalan Damar dengan segala kenangan yang melekat di hati, bus kami melaju memasuki jalan Veteran, Purus Atas, Lolong, Ulak Karang, Air Tawar, dan Tabing. Selanjutnya meninggalkan kota Padang dan memasuki Kabupaen Padang Pariaman. Menyambut datangnya matahari pagi 1 Syawal bus berjalan diiringi takbir yang sambung menyambung di sepanjang jalan yang kami lewati.

Melewati jalan yang kami lalui, dengan bibir yang senantiasa mengikuti alunan takbir, namun dalam hati ada kecamuk yang mengharu biru dan dada terasa sesak. Bayangan kedua orang tua yang telah tiada, serta saudara yang berserakan dengan nasibnya masing-masing yang aku tidak tahu entah dimana beradanya, membuat aku saat itu terasa asing, bagai layang-layang putus yang tidak tahu dimana akan tersangkutnya.

Setelah melewati jalanan yang cukup datar sejak dari Padang, lepas dari Kayu Tanam, bus yang aku tumpangi mulai memasuki kawasan Lembah Anai. Di sebelah kiri kami terdapat tebing yang tinggi dan sebelah kanan kami jurang yang dalam namun semakin dangkal begitu mendekati lokasi air mancur, di dasarnya terdapat sungai mengalirkan air yang berasal dari air mancur Batang Anai. Lebatnya hutan bukit barisan di sekeliling Lembah Anai serta embun pagi yang menyusup masuk ke dalam bus, membuat hawa di dalam bus lebih dingin dari sebelumnya, apalagi pas melewati air mancur yang berada disebelah kiri jalan yang jaraknya hanya sekitar 10 meter dari badan jalan, percikan air yang terjun bebas dari ketinggian Bukit Barisan itu menguap dan ikut menyusup ke dalam bus yang membawa aku. Dingin, membuat aku semakin bersedekap sambil memeluk kantong plastik berisi pakaian yang akan aku kenakan selama di kampung.

Begitu bus melewati Air Mancur Batang Anai yang mengucurkan air dari bukit setinggi sekitar 35 meter, bus melewati kolong jembatan kereta api yang membentang di atas Lembah Anai. Jalur kereta api peninggalan Belanda yang menghubungkan kota Padang dan Padang Panjang, lalu ke Timur melewati Bukittinggi dan berakhir di Payakumbuh, atau dari Padang Panjang ke Selatan meleintas di sepanjang Danau Singkarak lalu melewati kota Solok dan berakhir di Sawah Lunto, dimana terdapat tambang batubara Ombilin.

Bus mulai melambat, disamping karena jalannya berliku banyak tikungan mengikuti alur Bukit Barisan, juga karena jalannya bergelombang menurun dan mendaki yang berujung pada sebuah tikungan tajam ke kanan membentuk huruf U. Bus memasuki pendakian yang paling terjal di kawasan Lembah Anai, terkenal dengan nama pendakian Silaiang. Pendakian terjal serta sempit yang panjangnya sekitar 200 meter dengan kemiringan bervarisi 30-40 derajat. Di kiri kami tebing tegak lurus cukup tinggi yang seandainya longsor, pasti akan menimbun bus dan segenap penumpang yang ada di dalamnya, sementara di sebelah kanan jurang dalam menganga seakan menunggu mangsa dan siap menelan apa saja dan siapa saja yang tergelincir ke sana. Keadaan sekitar yang masih samar-samar membuat jantung berdebar lebih cepat dari sebelumnya saat mata memandang ke kedalaman jurang yang masih diselimuti kabut dan embun pagi. Saat berpapasan dengan truk dengan gardan ganda, kecepatan bus semakin melambat lagi, karena saat bersisian, jarak kedua kendaraan itu hanya sekitar sejengkal. Semua kendaraan yang melewati pendakian itu maksimal hanya bisa melaju pada kecepatan 15 sampai 20 km/jam, baik kendaraan yang menurun apalagi yang mendaki, kecuali kendaraan kecil seperti sedan atau jeep, itu juga kalau tidak ada kendaraan lain yang searah atau berlawanan arah

Setelah melewati Lembah Anai yang berselimut embun pagi serta pendakian Silaiang yang membuat sport jantung, matahari menyambut kami dari balik pepohonan Bukit Barisan saat memasuki Silaiang Atas. Satu persatu kami mulai melewati rumah penduduk yang tidak jauh dari pinggir jalan, memasuki
perkampungan yang menandakan bahwa kami telah memasuki kota Padang Panjang. Jalanan yang tadinya sepi mulai berangsur ramai. Warga di sekitar jalan yang dilewati bus satu persatu mulai keluar rumah dengan pakaian terbaik mereka. Menuju masjid atau lapangan tempat diadakannya shalat Idul Fitri.

Semakin dekat bus ke tengah kota Padang Panjang, semakin ramai warga yang keluar rumah. Yang perempuan memakai tilakung (mukena) berwarna putih. Tidak semuanya baru, namun terlihat bersih dan licin oleh seterika. Sementara yang laki-laki memakai peci dan sarung. Salah satu keunikan cara orang Minang memakai sarung adalah gulungan sarungnya yang berada di bagian luar dan baju di bagian dalam, kecuali mereka yang memakai jas. Jasnya berada di luar menutup gulungan sarung bagian samping dan belakang. Kecuali bagian depan, gulungan sarungnya tetap kelihatan karena jas yang mereka pakai tidak dikancingkan.

Dengan semakin ramainya warga yang berangkat ke masjid atau lapangan, hatiku semakin tidak tenang, ingin segera tiba di Bukittinggi, lalu naik oplet ke kampung dan ikut shalat Idul Fitri bersama orang sekampung.

Perjalanan menuju Bukittinggi itu adalah perjalanan yang menanjak, sehingga bus tidak bisa memacu kecepatannya, dan itu membuat hatiku semakin tak tenang. Kecepatan bus baru bisa maksimal setelah melewati Koto Baru, karena jalan mulai mendatar, malah sebagian tempat ada yang menurun karena kami telah melewati puncak tertinggi jalanan yang melintas di pinggang Gunung Singgalang itu. Walau bus telah melaju dengan kecepatan cukup tinggi, namun aku tetap was-was, karena hari makin siang, matahari telah bersinar penuh tanpa ada halangan bukit barisan lagi. Jalanan semakin ramai, diiringi suara takbir yang bersahutan. Hatiku semakin tak karuan, apalagi bila bus melewati lapangan yang mulai penuh oleh umat yang ingin melaksanakan shalat Idul Fitri, merayakan kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Keyakinanku untuk bisa menunaikan shalat idul Fitri di kampung semakin menipis, tak terasa air mataku menetes. Keinginan untuk bersama kakak, adik sepupu maupun keponakan berbarengan berangkat dan shalat Idul Fitri di masjid kampung kami terancam gagal.

Bus memasuki terminal Pasar Banto, begitu bus berhenti aku bergegas turun. Penumpang yang tersisa di dalam bus hanya tinggal beberapa orang, karena kebanyakan turun di jalan, sehingga dengan cepat aku bisa turun dari bus. Aku berjalan cepat keluar terminal, melintasi jalan arah ke Payakumbuh, yang memisahkan terminal Pasar Banto dengan Pasar Bawah. Agar lebih cepat malah kadang berlari menuju terminal oplet Aua Tajungkang, melalui pasar bawah yang kosong. Sampai di terminal oplet aku tak melihat satupun oplet yang menuju ke kampungku!

Aku berdiri lemas, sementara nafasku sesak karena berlari. Dengan perasaan yang berkecamuk aku coba juga melihat kalau-kalau ada oplet yang menuju kampungku melintas di terminal itu. Tapi harapanku sia-sia. Yang semakin banyak melintas justru warga yang berjalan menuju lapangan Kantin atau masjid Tengah Sawah untuk ikut melaksanakan shalat Idul Fitri.

Dengan langkah gontai aku berjalan ke bangunan loket di pinggir terminal yang bersisian dengan rel kereta api. Dengan lesu kulihat kantong plastik yang aku jinjing. Seandainya celana lebaran yang baru selesai dijahit itu tidak hilang semalam saat aku letakkan di kantor samping masjid, mungkin saat itu aku bisa bersama-sama warga Bukittinggi pergi ke lapangan untuk ikut melaksanakan shalat Idul Fitri. Godaan menonton film India di Lapangan Imam Bonjol, Padang bersama teman, membuat aku harus kehilangan celana lebaran yang baru diambil di tukang jahit Pasar Raya. Sementara yang aku kenakan sekarang adalah celana lusuh yang usianya sudah sekian tahun.

Aku bersandar di dinding bagian dalam loket. Untuk menghindari tatapan dari orang yang lewat dengan pakaian baru bersama keluarganya, aku lalu menyembunyikan diri dengan duduk bersandar ke dinding. Kedua tangan memeluk kedua kakiku, kepalaku menunduk di atas lutut. Tanpa bisa kutahan airmatapun mengalir membasahi lutut tempat keningku bertumpu. Sementara suara umat melafazkan takbir bergema dari segala arah…


read more