Jangan Penjarakan Orangtuamu!

Seorang ayah tak kan pernah berhenti bekerja, walau semua kebutuhan telah dicukupi oleh anak-anaknya yang telah berhasil “jadi orang”

Bukan karena terpaksa, tapi karena pasion atau juga karena rasa tanggung jawab yang melekat dalam dirinya sepanjang hayat. Diam di rumah tanpa melakukan apa-apa karena semua telah tercukupi, adalah siksaan bagi sang ayah. Dia akan merasa dipenjara, terkungkung, walau pada kenyataan dirinya bebas tak ada yang mengikat, tapi karena mengikuti perintah sang anak yang memenjarakan dirinya untuk tetap berada di rumah.

Kebahagiaan baginya adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Mungkin apa yang dikerjakannya saat ini tidak lagi sekeras dan seberat saat anak-anak masih sekolah dan butuh biaya yang besar.

Bisa saja pekerjaan yang dilakukannya hanya sekadar merapikan tanaman di kebun, atau membersihkan halaman rumah, namun itulah sorga bagi dirinya.

Saya punya teman yang sudah cukup berhasil di rantau, sehingga dia bisa mendatangkan kedua orang tuanya dan mengajak keduanya tinggal bersama di rumahnya yang cukup besar dan lega berikut kamar untuk kedua orang tua.

Tapi apa yang terjadi? kedua orang tuanya hanya betah seminggu di rumah besar sang anak. Kedua orang tua sudah mendesak untuk segera kembali ke kampung halamannya. Kenapa? ya, seperti yang saya sebutkan di atas tadi. Mereka tidak betah dan merasa terpenjara di rumah besar sang anak. Mereka merindukan kampung halamannya, hidup sederhana sambil melaksanakan tugas rutinnya setiap hari, mengisi hari tua yang mungkin tidak lama lagi mereka nikmati.

Jadi, jangan pernah memaksakan kehendak terhadap kedua orang tua, walaupun Anda sudah sukses seperti apapun. Mereka punya dunia sendiri, yang mungkin nanti juga Anda rasakan saat usia telah beranjak tua. Cukup Anda memberikan semua kebutuhan mereka, tapi jangan paksa mereka untuk melakukan yang Anda inginkan, hanya karena ingin membahagiakan mereka. Karena bahagia menurut kita, berbeda jauh dengan bahagia menurut mereka.

Jalanan Inilah Sekolah Tempat Saya Belajar Membaca

Jalan Ahmad Yani yang membelah dua pasar Payakumbuh. Di sinilah perjalanan 1,5 km itu bermuara (Dokpri BDRM2010)

Saat menerima rapor kenaikan kelas 1 SD tahun 1964, saya mendapati rapor saya kebakaran, nyaris terbakar habis! Hanya satu yang berwarna biru, itu pun bukan salah satu dari sekian mata pelajaran yang diajarkan guru di depan kelas, tetapi nilai kehadiran saya di sekolah yang di rapor ditulis sebagai Kerajinan. Ya, iyalah, bagaimana mau mangkir kalau Panti Asuhan tempat saya tinggal satu komplek dengan gedung sekolah. Halaman panti adalah halaman sekolah saya juga.

Mengisi libur setelah terima rapor hingga memasuki tahun ajaran baru saya merasa tidak nyaman, bagaimana tidak? Saya membayangkan bagaimana teman yang tadinya duduk bareng di kelas 1, sebentar lagi akan duduk di kelas 2 sementara saya harus tetap duduk di kelas 1, berdampingan dengan anak-anak baru masuk kelas 1 SD, yang tadinya adalah anak TK yang sekolahnya juga berdampingan dengan SD tempat saya belajar.

Rupanya Allah mendengarkan jeritan hati saya, sebuah peristiwa mengubah segalanya, yang kemudian membuat saya bersyukur. Peristiwa itu adalah, Panti Asuhan Muhammadiyah, Bunian, Payakumbuh, tempat saya tinggal dan diasuh itu berada di tengah kota. Menyempil di dua ruangan yang sebenarnya dibangun untuk ruang kelas sekolah di Komplek Perguruan Muhammadiyah itu.

Pemindahan lokasi Panti Asuhan ini disebabkan ada Panti Asuhan yang tadinya dikelola oleh Dinas Sosial, yang berada di Nagari atau desa Padang Tiakar, pinggir kota Payakumbuh, yang berjarak sekitar satu setengah kilometer dari Bunian, panti asuhan yang saya tempati saat itu, diserahkan pengelolaannya kepada Muhammadiyah. Keterlibatan Dinas Sosial selanjutnya hanya pada pemberian subsidi, tidak lagi pada pengelolaan secara langsung.

Perpindahan lokasi Panti Asuhan tersebut tentu saja membuat saya begitu senang. Karena saya sudah bertekat tidak akan kembali duduk di kelas 1, saya ingin naik ke kelas 2. Keinginan saya tersebut akhirnya terpenuhi, karena saya sudah bertekat tidak akan bersekolah bila tetap duduk di kelas 1. Saya tidak tahu bagaimana pembicaraan antara pimpinan Panti Asuhan dengan pihak sekolah untuk meloloskan saya untuk duduk di kelas 2. Bagi saya yang penting saat itu adalah saya jadi murid kelas 2, selesai.

Pindah asrama ke Padang Tiakar yang jaraknya 1,5 kilometer dari asrama yang lama, tidak membuat saya merasa terhalang untuk bermain ke pasar Payakumbuh. Bila sebelumnya antara panti asuhan dengan pasar cukup dekat karena hanya dibatasi oleh kantor Bupati Kabupaten 50 Kota. Kini saya harus berjalan di bawah panasnya terik matahari dan panasnya aspal jalan raya tanpa alas kaki, karena memang tidak punya. Bila sebelumnya dari panti ke pasar hanya butuh waktu tak sampai 10 menit, maka kini saya harus berjalan dari panti ke pasar hampir 1 jam.

Kenapa begitu lama untuk jalan yang hanya 1,5 kilometer itu? Inilah inti dari kisah ini.

Pulang sekolah saya langsung ke panti. Sampai di panti hal pertama yang saya lakukan adalah shalat zuhur, kemudian berlanjut dengan makan siang. Selesai makan siang baru saya berangkat menuju pasar. Perjalanan melewati jalan Ahmad Yani sejauh 1,5 kilometer itu saya tempuh dengan berjalan kaki, karena waktu itu belum ada angkot untuk menuju pasar, yang ada Cuma bendi atau andong, saya tidak punya uang untuk menaikinya.

Jalan Ahmad Yani, Payakumbuh . (Dokpri BDRM2010)

Berjalan sejauh 1,5 kilometer itu, bukannya hanya berjalan tanpa berbuat apa-apa, tapi inilah sekolah saya yang sebenarnya. Karena sepanjang jalan itu saya tidak hanya sekadar melihat sambil lalu, tapi saya mengeksplorasi setiap tempat yang saya lewati, terutama tempat yang ada papan namanya, apakah itu nama toko, nama jalan, spanduk atau apa saja yang ada tulisannya, termasuk nama mobil yang lewat di sepanjang jalan.

Dari apa yang saya lakukan inilah, kemampuan membaca saya meningkat dengan pesatnya. Sehingga saya akhirnya hafal nama-nama toko yang ada di sepanjang jalan yang saya lewati dalam perjalanan menuju pasar tersebut. Bukan hanya sekadar hafal, tapi saya bisa menjelaskan secara rinci urutannya dari awal saya berangkat dari panti asuhan hingga berakhir sampai di pasar, nama dan posisi atau lokasi tokonya, begitu juga apa usaha yang digeluti pemiliknya.

Begitu sampai di pasar, pelajaran membaca saya terus diasah semakin tajam. Saya masuk ke sebuah tempat tukang pangkas rambut bernama SINAMAR, sampai di sana lalu membaca surat kabar yang terbit hari itu, karena pemilik pangkas rambut tersebut berlangganan surat kabar Haluan yang terbit di Padang setiap hari.

Tidak hanya sampai disitu, di tempat pangkas rambut itu pulalah saya belajar mengisi teka teki silang yang hadir di setiap hari Minggu di harian Haluan tersebut. Awalnya saya hanya jadi tukang baca pertanyaan dan menyebutkan jumlah kotak yang terdapat di teka teki silang tersebut, kemudian menuliskan jawaban yang diberikan oleh bapak Darusan, sang pemilik tempat pangkas rambut. Selanjutnya saya mulai mencoba memikirkan jawaban pertanyaan TTS yang saya baca. Karena keterbatasan ilmu dan otak saya tidak mendapatkan jawabannya, baru saya menanyakannya. Tapi tak jarang juga saya menemukan jawaban yang tepat untuk jawaban TTS itu. Mengisi TTS ini membuat perkembangan ilmu pengetahuan saya semakin meningkat.

Saya bisa membaca koran disana setiap hari karena salah seorang tukang pangkas yang kerja disana bernama Zul, adalah orang kampung saya. Bukan hanya itu, bila dia melihat rambut saya sudah panjang, saya akan langsung disuruh duduk di kursi pangkasnya dan memangkas rapi rambut saya, gratis, tis. 🙂

Saat saya berkelana di Ranah Minang selama 18 hari tahun 2010, saya menyempatkan diri singgah ke pangkas rambut Sinamar ini. Sayang tempat pangkasnya sudah tutup dan juga berganti nama, walau nama Sinamarnya masih ada, tapi sudah bertambah dengan nama ZUL. Dugaan saya, mungkin bapak Darusan pemilik pangkas sebelumnya sudah tua, lalu menyerahkan tongkat estafet pengelolaan pangkas rambut tersebut ke anak buahnya yang bernama ZUL yang masih muda. Nah di saat Zul beranjak tua, dia tidak punya generasi penerus untuk melanjutkan tongkat estafet pengelolaan tempat pangkas rambut tersebut, sehingga akhirnya tutup.

Bagi saya, tutup atau tidaknya tempat pangkas rambut ini, dia sudah menjadi tempat bersejarah dalam perjalanan hidup saya, dan akan selalu terkenang hingga ajal menjelang. Karena jasanya yang cukup besar dalam mengisi otak saya dengan ilmu pengetahuan melalui surat kabar yang saya baca disana setiap hari. Saya baru berhenti berkunjung ke tempat pangkas tersebut ketika saya keluar dari Panti Asuhan dan pindah ke Panti Asuhan yang baru dibangun di kampung saya.

Pangkas SINAMAR di jalan Karya, tempat pangkas yang cukup terkenal di Payakumbuh tahun 60an. Disinilah awal pertama kali saya rutin membaca surat kabar setiap hari, saat duduk di kelas 2 SD tahun 1965. (Dokpri 2010)

Saya bisa membaca koran disana setiap hari karena salah seorang tukang pangkas yang kerja disana yang bernama Zul, adalah orang yang sekampung dengan saya. Bukan hanya itu, bila dia melihat rambut saya sudah panjang, saya akan langsung disuruh duduk di kursi pangkasnya dan memangkas rapi rambut saya, gratis, tis.

Saat berkelana di Ranah Minang selama 18 hari tahun 2010, saya menyempatkan diri singgah ke pangkas rambut Sinamar ini. Sayang tempat pangkasnya sudah tutup dan juga berganti nama, walau nama Sinamarnya masih ada, tapi sudah bertambah dengan nama ZUL. Dugaan saya, mungkin bapak Darusan pemilik pangkas sebelumnya sudah tua, lalu menyerahkan tongkat estafet pengelolaan pangkas rambut tersebut ke anak buahnya yang bernama ZUL yang masih muda. Nah disaat Zul beranjak tua, dia tidak punya generasi penerus untuk melanjutkan tongkat estafet pengelolaan tempat pangkas rambut tersebut, sehingga akhirnya tutup.

Bagi saya, tutup atau tidaknya tempat pangkas rambut ini, dia sudah menjadi tempat bersejarah dalam perjalanan hidup saya, dan akan selalu terkenang hingga ajal menjelang. Karena jasanya yang cukup besar dalam mengisi otak saya dengan ilmu pengetahuan melalui surat kabar yang saya baca disana setiap hari, hingga saya keluar dari Panti Asuhan Muhammadiyah Payakumbuh dan pindah ke Panti Asuhan yang baru dibangun di kampung saya.

Amal kecil yang dibalas Allah dengan berlipat ganda

Saat itu awal tahun 1984. Saya berkunjung ke Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta, membezuk seorang teman yang juga kebetulan adalah pegawai rumah sakit tersebut. Setelah sampai di ruangan instalasi rawat inap dan ngobrol dengan sang teman, dia lalu mengatakan ada pasien baru yang datang dari Padang, sambil menunjuk tempat tidur pasien yang dia sebutkan tersebut.

Saya lalu mendekati pasien yang berusia lebih dari 50 tahun tersebut. Saya mengulurkan tangan untuk berkenalan, beliau menyebut namanya Muhammad Nur, datang dari Lirik, Air Molek, Indragiri Hulu, Riau. Bekerja sebagai security di PTSI. Sakit yang diderita saat itu yaitu adanya cairan di sekitar dada yang untuk mengeluarkannya harus dioperasi. Dari obrolan selanjutnya saya ketahui kalau beliau ke Jakarta hanya berdua dengan anaknya, seorang laki-laki yang usianya lebih tua beberapa tahun dari saya.

Melihat kondisi si bapak yang terbaring di tempat tidurtanpa ada yang menemani dan sang anak yang agak kebingungan karena baru kali ini menginjak Jakarta, sorenya saya bezuk lagi. Saya datang membawa termos air, gelas, susu, telor setengah matang, madu dan beberapa lainnya lagi dan juga sebungkus nasi Padang buat anaknya. Sejak itu setiap jam bezuk saya bolak balik ke RS Sumber Waras serasa membezuk orang tua sendiri, hingga si bapak selesai operasi.

Selesai operasi, bapak Muhammad Nur dan putranya kembali ke daerah asal mereka Lirik, Indragiri Hulu. Beliau memang tidak sempat pamitan, karena saat berangkat pulang, belum lagi jam bezuk, sehingga ketika saya datang waktu jam bezuk beliau dan anaknya sudah tidak ada lagi. Karena saat itu belum ada alat komunikasi seperti sekarang ini, maka hubungan kami pun terputus begitu saja.

Saya baru menghubungi beliau lagi saat datangnya hari raya Idulfitri beberapa bulan kemudian dengan mengirim kartu lebaran. Waktu ingin mengirim kartu lebaran itupun saya agak kebingungan, karena saya tidak mempunyai alamat lengkap beliau. Lalu saya nekad saja mengirimkan kartu lebaran tersebuat hanya dengan menuliskan alamat Bapak Muhammad Nur dengan alamat PTSI, Lirik, Air Molek.

Rupanya kekhawatiran saya itu berbalas sebaliknya, karena beberapa hari kemudian saya mendapat balasan kartu lebaran dari beliau, tapi nama perusahaannya telah berubah, tidak lagi PTSI tapi Pertamina UEP Lirik.

Rupanya pihak PTSI membantu memberikan kartu lebaran yang saya kirim itu kepada beliau, karena memang kantor PTSI dan Pertamina Lirik itu berdampingan. Sebab area yang di pakai Pertamina tersebut tadinya adalah area milik PTSI yang kemudian diserahkan kepada Pertamina, karena sebagian dari ladang minyak yang dioperasikan oleh PTSI telah habis masa kontraknya dan tidak diperpanjang lagi, sehingga harus diserahkan kepada Pertamina berikut para pegawainya, termasuk diantaranya pak Muhammad Nur yang bekerja sebagai petugas security.

Rupanya apa yang saya lakukan terhadap pak Muhammad Nur itu tidak terlepas dari tatapan Penguasa Alam Semesta. Berapa waktu kemudian saya punya kesempatan ke Lirik, menunaikan tugas yang diberikan kepada saya. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya di sini

Dalam perjalanan pertama dalam seumur hidup saya naik pesawat Garuda, saya jalani dengan penuh rasa syukur. Kenapa tidak, dilihat dari sisi manapun saya tidak akan mungkin bisa naik pesawat terbang, dilihat dari pendidikan saya hanyalah tamat Sekolah Dasar, miskin dan yatim piatu, penghasilan pun hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, serta tak punya saudara kaya yang bisa diandalkan untuk minta bantuan finansial.

Sepanjang perjalanan lewat udara pertama kali dalam hidup saya itu, yang terbersit hanyalah pujian dan rasa syukur kepada ilahi, sambil sesekali membatin beginilah rasanya jadi orang kaya, bisa naik pesawat Garuda kemanapun pergi.

Saat transit di bandara SMB II Palembang, saya menyambung perjalanan menuju Lirik dengan pesawat Merpati, kembali rasa haru menyelimuti saya, di samping itu satu tanda tanya besar juga menyentuh hati saya, apakah saya akan bertemu dengan bapak Muhammad Nur? Benarkah PTSI yang dia sebutkan itu adalah perusahaan yang sama dengan tempat saya bekerja saat ini? Bermacam pertanyaan bergejolak di hati saya, yang tak lama lagi akan mendapatkan jawabannya.

Pesawat Merpati yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di lapangan terbang Japura, Lirik. Turun dari pesawat penumpang berjalan menuju ruang kedatangan. Ketahuan sebagai orang baru, saya disapa seorang laki-laki berbadan cukup tegap.

“Pak Hasjmi?”

“Ya, pak…!” kata saya sambil membalas uluran tangannya.

“Saya Masrun” katanya memperkenalkan diri. Selanjutnya sambil ngobrol dia mengajak saya menuju lapangan parkir. Sebuah Jeep CJ5 menunggu kami, sama seperti yang saya naiki saat dapat tugas ke Palembang dan Pendopo.

Diatas Jeep CJ5 yang kami naiki, kami lanjut ngobrol. Rupanya pak Masrun ini adalah kepala Security perusahaan yang cukup dikenal oleh penduduk setempat. Sehingga setiap berpapasan ada saja yang menegur dia, sambil menegur atau hanya sekadar mengangkat tangan.

Dalam perjalanan dari bandara menuju kantor itulah saya menanyakan apakah dia mengenal bapak Muhammad Nur, petugas security PTSI Lirik. Saya ceritakan juga bagaimana awal perkenalan saya dengan yang bersangkutan. Jawaban pak Masrun ini benar-benar melegakan saya, dia tidak hanya mengenal bapak Muhammad Nur, tapi juga adalah rekan kerjanya di PTSI Lirik.

Dari sini pulalah saya baru tahu kalau PTSI itu singkatan dari PT Stanvac Indonesia. Sementara di kantor Jakarta kami menyebut nama perusahaan tempat kami bekerja tersebut sebagai Stanvac saja. Tapi saat pak Masrun mengatakan bahwa bapak Muhammad Nur tidak lagi di Stanvac, tapi sudah pindah ke Pertamina, kegembiraan yang tadi saya rasakan sedikit menciut dan rasa kecewa tiba-tiba merasuk ke hati saya. Karena harapan untuk bertemu dengan bapak Muhammad Nur kembali mengambang.

Rupanya keheningan dan perubahan raut muka saya sejenak tersebut terbaca oleh pak Masrun, sehingga dengan cepat dia menimpali.

“Tapi pak Hasjmi tenang saja, karena kantor kita bersebelahan, kok…”

Jawaban pak Masrun yang bisa membaca suasana hati saya tersebut, tentu saja membuat hati saya kembali lega. Sehingga obrolan kami kembali berlanjut dengan penuh semangat seperti orang yang sudah berkenalan lama.

Rupanya pak Masrun ini benar-benar ingin memberikan kejutan kepada saya. Saat kami sampai di area perkantoran dia tidak mengajak saya melapor lebih dulu ke Area Manager maupun atasan saya Area PA Manager, tapi malah membelokkan mobil ke halaman kantor Pertamina.

Rupanya Allah benar-benar memberikan kejutan yang seakan tidak ada putusnya kepada saya, karena begitu saya sampai di halaman kantor Pertamina, bapak Muhammad Nur, sosok yang kami bicarakan tadi segera menyongsong kedatangan kami, dari jauh saya tersenyum kepadanya, tapi rupanya beliau belum begitu jelas melihat wajah saya yang tertutup oleh kaca mobil. Begitu mobil berhenti pak Muhammad Nur lebih dulu menyalami pak Masrun, sementara saya segera turun dari mobil dan berjalan memutari mobil menuju ke tempat pak Muhammad Nur berbicara dengan pak Masrun.

Begitu saya mendekat dan bapak Muhammad Nur melihat wajah saya, baru beliau terkejut dan tak menyangka yang datang bersama pak Masrun itu adalah saya. Saya mengulurkan tangan sambil tersenyum dan mengucapkan salam. Sementara dia, kaget dan tidak menyangka sama sekali akan bertemu saya.

Dalam keterkejutannya tersebut saya melihat rona wajah bapak Muhammad Nur tersebut sedikit berubah dari sebelumnya, sepertinya menyiratkan ada rasa kecewa tidak bisa tidak bisa mengajak saya bertemu keluarganya di Air Molek, karena dia sedang bertugas dan dia tidak bisa meninggalkan tempat tugasnya karena saat itu dia hanya bertugas sendiri. Tapi saya segera mengobati kekecewaannya dengan mengatakan masih ada waktu untuk bertemu dan berkunjung ke rumah dia dan bertemu keluarganya.

Setelah ngobrol beberapa saat, kami lalu pamit untuk segera ke kantor dan melaporkan diri bahwa saya telah sampai dan siap melaksanakan tugas. Dalam perjananan singkat menuju kantor kami yang bersebelahan itu, saya membatin. Jadi inikah balasan berlipat ganda yang diberikan Allah kepada saya atas apa yang telah saya berikan kepada bapak Muhammad Nur? Wallahu’alam bissawab. Hanya Allah yang maha tahu.

Artikel ini juga saya tulis untuk menjawab sebuah pertanyaan di Quora

Paket Untuk Pemakmur 100 Masjid di Kawasan BSD City

H. Bunyamin – Bendahara Umum Yayasan Muslim Sinar Mas Land, secara simbolis menyerahkan bantuan Al-Qur’an serta paket masker, vitamin C dan E serta bahan pangan kepada Hidayat – Mushola Darussalam. BSD City

Sejumlah 500 pemakmur masjid dari 100 masjid di kawasan BSD City yang terdiri dari Takmir, Muazin, Imam, dan Marbot, menerima paket sumbangan yang terdiri atas mushaf Al-Qur’an, masker kain, beras, mi instan, serta vitamin C dan E dari Yayasan Muslim Sinar Mas Land, pada bulan Suci Ramadan 1441 H.  Hal ini untuk menunjukkan kepedulian Yayasan Muslim Sinar Mas Land kepada para pemakmur 100 masjid di sekitar BSD City

“Hal ini merupakan bentuk perhatian Yayasan Muslim Sinar Mas Land kepada para pemakmur masjid sebagai garda terdepan yang tetap beristiqomah mengurusi Rumah Allah, melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an serta mengumandangkan azan sebagai pengingat waktu salat dan berbuka puasa bagi warga muslim BSD City saat pandemi ini,” ujar Dhony Rahajoe, Managing Director President Office Sinar Mas Land, yang juga menjadi Dewan Pembina Yayasan Muslim Sinar Mas Land.

Sebagai balasan, Ustadz Zulkifli dari Masjid Nurul Huda BSD City, mengatakan; “Kami berterima kasih kepada Yayasan Muslim Sinar Mas Land atas simpati dan sumbangannya. Semoga bantuan ini dapat kami manfaatkan dalam beribadah dan menjaga kesehatan dengan baik selama bertugas memakmurkan masjid sepanjang bulan Suci Ramadan di tengah pandemi Covid-19 ini,”

Acara penyerahan sumbangan ini belangsung secara simbolis di Mushalla Darussalam, BSD City, hari Selasa 28 April lalu.

Polio Merenggut Masa Depan Abrar

Bersama Abrar dan kursi rodanya.

Namanya Abrar, perkenalan saya dengannya melalui Facebook. Setelah menelusuri akunnya, baru saya tahu kalau dia sekampung dengan saya, tapi usia kami beda jauh, bahkan anak kedua saya lebih tua dua tahun dari dia. Dari FB jugalah saya tahu kalau Abrar ini kesehariannya hidup di atas kursi roda. Walau sekampung, tapi kami tidak ada hubungan keluarga. Hanya saja ayah Abrar adalah teman almarhum kakak saya Taslim dalam mengolah kebun kami. Sayangnya pertemanan mereka berakhir ketika kakak saya duluan di panggil Yang Maha Kuasa.

Abrar lahir 14 April 1987. Lahir dalam keadaan normal, namun diusia 6 bulan Abrar mengalami tubuhnya kejang-kejang dan membiru, badannya menggigil karena panas tinggi. Saat kejadian sang ayah sedang ke hutan menggarap tanah milik orang kampung yang dipercayakan kepadanya. Seorang tetangga lalu memanggil sang ayah ke tempat dia berkebun.

Setelah sang ayah sampai di rumah, Abrar segera dibawa ke Puskesmas, berjalan kaki sejauh 3 kilometer lebih, karena saat itu di kampung belum ada angkot. Sampai di Puskesmas Abrar langsung ditangani petugas. Selesai ditangani dan diberi obat, petugas sempat mengatakan kepada orang tua Abrar, kalau terlambat sedikit lagi, ada kemungkinan Abrar tak tertolong.

Rupanya kejadian yang menimpa di usia 6 bulan itu adalah awal dari perjalanan hidup Abrar akan berlangsung di kursi roda. Karena, walaupun asupan tubuhnya setiap hari normal, namun pertumbuhan fisiknya mulai melambat, terutama sejak dia berusia 2 tahun, pelan-pelan tubuh balita yang tadinya aktif bergerak lincah dan menggemaskan itu mengalami penurunan fungsi.

Perubahan paling nyata adalah saat dia berjalan. Jalannya yang tadi normal, mulai terlihat pincang. Tangannya yang sebelumnya bisa memegang dan menggenggam apapun yang dipegangnya, mulai melemah. Cengkeramannya tak lagi bertenaga, sehingga apapun yang dipegangnya berjatuhan. Begitu juga pertumbuhan badannya, tak lagi pesat, kecuali bagian kepala yang tetap tumbuh normal, begitu juga fungsi otaknya. Pada pemeriksaan lanjutan dokter mengatakan Abrar terkena polio. Kedua orang tua Abrar terkejut, namun tak bisa berbuat apa-apa.

Memasuki usia sekolah, Abrar dimasukkan ke SLB di Padang. Beruntung fungsi otaknya berjalan normal, bahkan Abrar termasuk murid yang cerdas di kelasnya.

Lumpuh totalnya semua fungsi tubuh Abrar, membuat dia harus berkenalan dengan kursi roda, kendaraan yang menemaninya hingga kini sepanjang hari. Kursi roda pertamanya adalah hasil kreatifitas mahasiswa IKIP Padang yang kost di komplek SLB. Sebuah kursi roda terbuat dari kayu yang dilengkapi papan sebagai meja di bagian depan, sehingga memudahkan Abrar dalam belajar menulis maupun mengerjakan tugas-tugas pelajarannya.

Dengan kursi roda buatan mahasiswa IKIP tersebut, Abrar yang tadinya kemana-mana harus digendong, kemudian bisa pergi belajar ke kelasnya dan bermain di seputar sekolah tanpa harus digendong lagi. Para mahasiswa itu malah dengan senang hati bergantian mendorong kursi roda buatan teman-temannya, mengajak Abrar bermain di sekitar sekolah sore hari, saat pelajaran sudah usai.

Sayangnya pendidikan Abrar harus terhenti saat dia kelas empat. Penyebabnya adalah penyakit polio yang dideritanya semakin merambat ke seluruh tubuhnya. Fungsi motorik tangan Abrar yang tadinya masih bisa dipakai untuk menulis, lumpuh total, hingga jari-jarinya tak lagi bisa memegang pensil untuk menulis.

Tapi rupanya Tuhan masih memberikan kesempatan buat Abrar meneruskan pendidikannya, sewaktu dia sudah kembali tinggal bersama kedua orang tuanya di kampung halamannya, Kamang Hilir. Sehingga pendidikan dan pelajarannya tidak terputus begitu saja.

Adalah Muziana, seorang pensiunan guru yang kebetulan juga sekampung, merasa terpanggil hatinya untuk melanjutkan pengabdiannya mengisi hari-hari dalam menjalani masa pensiunnya. Dengan berjalan kaki sekitar 1 kilometer dari rumahnya, Muziana membantu melanjutkan pendidikan Abrar dengan berkunjung ke rumah orang tua Abrar. Boleh dikatakan semua mata pelajaran diajarkan oleh ibu guru mempunyai jiwa sosial yang tinggi itu. Matematika, Menggambar, Bahasa Indonesia, Agama, Geografi, IPA, IPS dan yang lainnya. Jam belajarnya 3 jam sehari, mulai pukul 8 pagi hingga pukul 11 siang. Kecerdasan Abrar ikut menyemangati sang guru Muziana dalam memberikan pelajaran terhadap muri spesialnya ini

Seandainya semua saudara Abrar hidup, maka mereka ada 4 orang. Sayangnya, kakak tertua yang lahir setelah 8 tahun usia pernikahan orang tuanya, meninggal saat berusia 6 bulan. Lalu beberapa waktu kemudian ibunya keguguran. Setelah itu barulah lahir kakak laki-laki yang 6 tahun lebih tua, bernama Akmal. Akmal yang bertubuh normal, cukup beruntung bisa menempuh pendidikan hingga menamatkan STM. Akmal yang hingga saat  ini masih sendiri dan menjadi tulang punggung keluarga, bekerja menjadi relawan Petugas Pengawas Hutan, yang berada di bawah naungan Kementerian Kehutanan.

Beruntung, saat saya berkunjung ke rumahnya, saya bertemu dengan sang kakak yang di kampung di panggil uda, beserta Eli, ibu mereka. Setelah ngobrol bersama dan sebelum meninggalkan mereka, saya lalu menyerahkan laptop ASUS yang selama ini menemani saya,  berikut external DVD Driver dan sebuah flashdisk. Sebuah niat yang sudah saya tanamkan sejak saya tahu tentang kondisi Abrar. Semoga apa yang saya berikan itu bermanfaat bagi Abrar, termasuk Akmal, yang harus memberikan laporan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya, sehingga Akmal tak perlu lagi harus pergi jauh-jauh ke kantor Walinagari atau kantor Camat, meminjam komputer untuk membuat laporan hasil pekerjaannya

Akmal dan Akbar saat ini hidup bertiga dengan Eli, sang ibu yang sehari-hari mereka panggil Etek, di rumah yang dibangun dengan hasil keringat sang ayah sebelum dia meninggal tahun 2009 lalu.

Mungkin bagi mereka yang berkecukupan adalah saat yang tepat untuk berbagi dengan mereka, dengan zakat harta atau yang lainnya, karena Ramadhan adalah saat terbaik menunaikan kebaikan berbagi dengan mereka langsung atau melalui Dompet Dhuafa.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”