Quiz Berhadiah Buku Balita PRRI

Saat aplikasi mobile banking saya bermasalah, saya lalu pergi ke salah satu cabang bank yang mengeluarkan aplikasi mobile banking tersebut.

Lagi antri, saya merasakan ada yang tidak beres dengan perut saya, ada yang memdesak ingin keluar. Saya lalu pergi ke toilet bank tersebut. Begitu sampai, alhamdulillah toiletnya kosong sehingga tak perlu antri. Seandainya saya juga harus antri, nggak tahu deh apa yang akan terjadi… kwkwkwk

Begitu masuk ke toilet yang terlihat bersih dan pasti akan membuat nyaman siapapun yang masuk, saya melihat sebuah kejanggalan. Saya lalu memotret jamban yang ada di dalam kamar berukuran lebih kurang 1 x 2 meter tersebut, karena saya menemukan sebuah ide dari apa yang saya lihat disana. 

Nah, pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kejanggalan yang terdapat di dalam toilet tersebut? 

Silakan tulis jawabannya di kolom komentar. Pemenangnya adalah yang memberikan jawaban paling tepat beserta alasannya.

Pemenangnya akan saya umumkan hari Senin tanggal 11 Februari dan akan mendapatkan 1 buku saya Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI dan sebuah kalender meja.

Menuju Kota Harapan!

Setelah menempuh jalan desa yang hanya beralaskan tanah atau sebagian tempat berpasir dan berbatu, begitu sampai di Baso kami bertemu jalan raya beraspal hitam. Kami menyeberangi jalan itu. Aspalnya yang panas diterpa panas matahari, membuat kakiku yang tanpa alas juga kepanasan. Aku menyeberang cepat-cepat. Tanganku yang tadi dipegang oleh pak Uwo aku lepaskan. Aku berlari menuju ke seberang jalan sambil meringis menahan panasnya aspal.

Sampai di seberang aku berdiri di sisi rel yang ditumbuhi rumput, menunggu pak Uwo yang menyusul di belakangku. Setelah pak Uwo berada di dekatku, kami lalu menyeberangi rel dua jalur dan terus berjalan menuju stasiun. Belum ada kereta di Stasiun Baso itu, karena kereta apinya belum datang.

Sampai di ruang stasiun kami menjumpai cukup banyak calon penumpang yang juga sedang menunggu kereta api. Kami lalu duduk di bangku panjang yang menempel ke dinding ruang tunggu. Stasiun ramai seperti pasar, karena stasiun Baso itu memang berada di seberang Pasar Baso. Sementara aku duduk, pak Uwo lalu mengatakan kepadaku agar tidak kemana-mana, karena pak Uwo akan pergi ke loket membeli karcis kereta.

Sekembalinya pak Uwo membeli karcis, beliau kembali ke tempat aku duduk, tempat duduk yang ditinggalkannya tadi sudah diisi orang lain. Pak Uwo menyuruh aku berdiri, kemudian beliau menggantikan tempat dudukku.  Sambil berdiri aku meraba sekitar celanaku yang tadi basah sewaktu menyeberang sungai. Nampaknya bagian luar semuanya sudah kering, kecuali bagian dalam di sekitar kantong, masih terasa agak lembab.

Di seberang jalan raya depan stasiun, berderet toko-toko yang menjual bermacam barang dagangan. Bahkan ada yang di depan tokonya menumpuk buah pisang yang belum dipisahkan dari tandannya, dan ada juga yang tokonya penuh dengan berkarung-karung beras hingga melimpah dan menumpuk ke bagian depan tokonya.

Dari obrolan calon penumpang kereta api yang juga duduk di ruang tunggu stasiun itu, aku mendengar kalau pisang dan beras itu akan dikirim ke Pakanbaru, dimana aku pernah merantau bersama dua kakakku 4 tahun sebelumnya.   

Di ujung deretan pertokoan terdapat los Pasar Baso, bersebelahan dengan lapangan sepakbola. Karena memang hari Minggu adalah hari pasarnya Pasar Baso, maka pasar itupun penuh sesak oleh pedagang maupun pengunjung yang berdatangan. Tidak hanya dari sekitar Baso, tapi dari nagari-nagari lain di sekitar Baso. Keluarga ayahku di Guguak Rang Pisang pun sering ke Pasar Baso ini.

Cukup lama kami menunggu hingga kereta datang. Capek berdiri, juga karena berjalan sejak dari kampung tadi, mataku mengantuk. Dalam keadaan bersandar di kaki pak Uwo, kadang-kadang badanku oleng, dan segera dipegangi oleh pak Uwo sambil menggoyangkan badanku hingga aku terbangun lagi, walau dalam keadaan mataku masih berat.

Akhirnya kereta yang kami tunggu datang juga. Dari jauh kedengaran suara peluitnya yang khas melengking tinggi dengan suara cuit, cuit… serta asap hitam yang mengepul dari lokomotifnya. Para penumpang di stasiun segera bersiap-siap, termasuk kami. Pak Uwo bangun dari bangku yang didudukinya, sambil memegangi tanganku kami berjalan mendekati peron.

Setelah kereta memasuki stasiun dan berhenti, aku lihat cukup banyak juga penumpang yang turun. Penumpang yang menunggu di bawah berebutan naik, sehingga tangga kereta menuju pintu masuk gerbong yang terletak di ujung dekat persambungan antar gerbong, menjadi sempit karena berdesakan.

Karena kami tak membawa barang seperti kebanyakan penumpang lain, dengan cepat kami bisa naik ke atas kereta dan mendapatkan tempat duduk di pinggir dekat jendela, bukan di bangku tengah yang tidak ada tempat bersandarnya. Ini adalah kedua kalinya aku naik kereta api, setelah dulu aku pernah ke Bukittinggi bersama kakakku.

Kereta berhenti cukup lama. Penumpang di sebelah kami mengatakan, lokomotifnya minum dulu. Aku tak mengerti apa maksudnya lokomotif minum dulu, aku menyimak saja apa yang di bicarakan orang itu. Selagi menunggu kereta berangkat, aku mendengar suara cuitan kereta api dari arah berlawanan masuk stasiun meleweati rel kosong yang berada di sebelah kereta yang kami tumpangi. Orang di dekatku mengatakan, bahwa kereta yang baru tiba itu datang dari Payakumbuh. Benar saja, tak lama setelah itu serangkaian gerbong kereta api berhenti di rel di sebelah kami.

Sambil membalikkan badan dan bersimpuh diatas bangku yang aku duduki, aku lalu melihat kereta yang baru datang itu. Warna cat kereta itu kuning muda yang sudah mulai pudar di bagian atas dekat jendela, lalu berwarna hijau daun di bagian bawahnya. Cukup banyak juga penumpang yang ada di atas kereta itu, tempat duduk yang dekat jendela penuh, sehingga pandanganku kebagian dalamnya agak terhalang.

Tak lama setelah kereta dari Payakumbuh itu berhenti, kereta yang kami tumpangi mulai bergerak. Pak Uwo menyuruhku kembali duduk seperti semula, menyender ke dinding dan membelakangi jendela, sambil menakuti aku nanti bangku tempat dudukku diambil orang.

Karena duduk membelakangi jendela, aku tak bisa melihat pemandangan yang ada di luar, begitu juga aku tidak bisa melihat pemandangan dari jendela di seberang tempat duduk kami, karena juga tertutup oleh orang yang duduk di sana. Kecuali hanya pucuk-pucuk pohon yang seakan berlari melawan arah laju kereta yang aku tumpangi.

Rupanya karena tidak ada pemandangan yang menarik hatiku di atas kereta itu, juga karena keletihan berjalan jauh, membuat mataku kembali mengantuk. Beberapa kali aku mencoba untuk menahannya tapi hanya bertahan sebentar, hingga akhirnya aku tertidur pulas tak ingat apa-apa lagi.

Setiap kereta api berhenti di stasiun aku terbangun, tapi begitu kereta berjalan kembali aku tertidur lagi. Irama roda kereta api yang beradu dengan rel, beserta ayunan kereta itu, kurasakan bagaikan ayunan yang menina bobokkan aku hingga aku tertidur pulas…

Bagaimana Membagikan Foto Instagram Anda?

Seorang teman pagi ini mengeluhkan susahnya membagikan foto yang dipostingnya di Instagram ke Facebook. Saya lalu mengomentari keluhannya tersebut dengan menjelaskan bagaimana men-share foto Instagramnya itu secara sederhana. Mudah-mudahan penjelasan yang singkat tersebut berhasil dilakukan sang teman, dan dia bisa menikmati postingan Instagramnya di Facebook.  Bagi teman-teman yang juga mengalami hal tersebut, berikut saya sarikan ulasannya dalam artikel singkat ini. 

Sebagai pemilik akun Instagram, tentu Anda juga ingin membagikan foto Anda ke akun lain yang Anda miliki. Apakah itu Facebook, Twitter atau akun sosial media lainnya untuk mendapatkan kunjungan yang lebih banyak, dan tentu juga untuk mendapatkan follower baru.

Yuk, kita mulai saja…

Hal pertama yang Anda lakukan adalah membuka akun Instagram yang menampilkan foto postingan baru Anda. Bila Anda ingin membagikannya, maka langkah pertama yang Anda lakukan mengklik titik 3 vertikal yang berada di sudut kanan atas foto Anda, seperti terlihat di gambar #1

Seperti terlihat pada Gambar #2 Anda tinggal memilih salah satu diantara banyak pilihan, dalam hal ini kita memilih pilihan paling atas, yaitu; “Bagikan”

Gambar #3 memperlihatkan tampilan setelah kita mengklik “Bagikan” tersebut. Di sini kita melihat ada tiga pilihan, yaitu; Facebook, Twitter dan Tumblr. Kita bebas memilih kemana foto Instagram kita akan dibagikan dengan menggeser slider ke kanan sehingga dia berubah warna menjadi biru.  Kita bisa memilih satu atau memilih ketiganya sekaligus. Begitu kita memilih dan warnanya menjadi biru, maka saat itu juga kita bisa melihat postingan tersebut sudah tayang di akun pilihan kita. Pada gambar di bawah saya memilih Facebook dan Twitter. 

Kita tidak terbatas melakukan pilihan hanya pada ketiga sosial media di atas, tapi juga bisa membagikannya di aplikasi lain.

Pada Gambar #4 memperlihatkan sebuah pilihan “Bagikan tautan ke aplikasi lain”. Silakan klik tanda panah yang berada di kanan yang saya tandai dengan lingkaran merah.

Pada Gambar #5 kita melihat beragam aplikasi dimana kita bisa membagikan Foto Instagram kita. Silahkan klik yang mana pilihan kita, maka foto tersebut akan tampil di akun aplikasi pilihan kita itu.

Selamat berbagi…

Perjalanan Menuju Masa Depan…

Dengan sampainya kami di jalan ini berarti kini kami sudah memasuki nagari Salo Bungo Koto Tuo. Tapi umumnya penduduk  sering menyebutnya hanya Salo, karena terlalu panjang untuk di sebut lengkap. Memasuki jalan raya itu, kami langsung belok kekanan, dan itu berarti langsung naik jembatan yang membentang di atas Agam yang tadi kami lewat di pematangnya. Jembatan ini terbuat dari kayu, tebal papan alasnya sekitar 8 centimeter yang disusun berjejer di atas bentangan sepasang besi baja yang menghubungkan kedua sisi jembatan.

Salah satu keunikan jembatan ini adalah karena memakai atap. Untuk apa jembatan ini diberi atap? Jarak perkampungan antara Jorong  atau desa Kuruak dengan jorong Kampuang Panjang sekitar satu kilometer. Diantara dua jorong ini terbentang sawah yang luas, di tengah persawahan inilah mengalir sungai yang di kampungku disebut agam. Agam yang membelah dua persawahan ini sekaligus menjadi batas antara jorong Kuruak dengan jorong Kampuang Panjang. 

Pada tahun 60an dan sebelumnya, penduduk yang melintas di jalan ini umumnya berjalan kaki atau naik sepeda. Bila dalam perjalanan itu datang hujan, maka ke jembatan inilah para pejalan itu berteduh. Begitu juga dalam keadaan musim panas, jembatan itu juga berfungsi sebagai tempat berteduh dari sengatan teriknya matahari yang membakar bumi. Fungsi lain dari jembatan ini adalah, di bawah jembatan terdapat bendungan irigasi untuk pengairan sawah penduduk setempat. Bila musim kesawah tiba, balok penghalang air diturunkan, sehingga permukaan air sungai naik dan mengalir melalui saluran irigasi. Bila musim kesawah telah lewat, maka balok penahan air akan diangkat lagi, sehingga sawah-sawah di hilir saluran akan kekeringan, menunggu masa panen.

Hari masih pagi dan matahari masih bersembunyi di balik bukit barisan, kami tetap meneruskan perjalanan. Setelah melewati jembatan, sekitar 20 meter kemudian kami kembali melewati jembatan. Jembatan ini adalah jembatan yang di bangun diatas saluran irigasi. Sungai kecil yang lebarnya kurang dari separo sungai yang baru saja kami lewati. Kami terus berjalan, walau belum disengat matahari, hawa hangat mulai aku rasakan. Keringat mulai terasa membasahi tubuhku.

Langkahku yang kecil terkadang harus kupercepat agar bisa mengikuti langkah pak Uwo, tapi aku masih sering ketinggalan. Bila aku ketinggalan agak jauh, pak Uwo suka melihat ke belakang. Kadang beliau berhenti sejenak, menunggu aku menyusulnya. Bila aku sudah dekat, pak Uwo akan mulai berjalan lagi dengan langkah dewasanya. Untung saja jalannya masih jalan tanah, sehingga kakiku yang telanjang tanpa alas, tak begitu sulit mengikutinya. 

Memasuki perkampungan desa Kampung Panjang, matahari, pelan tapi pasti, mulai terasa menyengat punggungku. Di ujung desa Kampung Panjang kami bertemu jalan bersimpang tiga, penduduk menyebutnya Simpang Tiga Kampung Panjang. Aku masih ingat tempat ini, karena sekitar enam tahun sebelumnya, semasa pergolakan PRRI. aku pernah melewati jalan ini sewaktu menjenguk Umi, saat ditahan oleh tentara pusat. Di simpang tiga kami berbelok kekiri, kini cahaya matahari mulai menerpa dari samping kiri kami, keringat mulai membasahi mukaku. Tanpa peduli dengan panas yang menyengat, kami terus berjalan. 

Kami memasuki desa Baringin. Aku teringat pernah dibawa ke sini oleh inyiak Aki sewaktu perutku kena borok. Di sini ada seorang mantri kesehatan, aku dibawa kesini berobat dan disuntik di pantatku, yang membuat aku menyeringai kesakitan. Lepas dari desa Beringin jalan menurun, kembali kami memasuki areal persawahan. Rupanya di sini baru saja melewati musim panen, asap mengepul dari jerami yang di bakar di beberapa sawah. Di bagian lain sapi dan kerbau ditambatkan di tengah sawah, memakan batang padi yang selesai disabit. Di ujung persawahan kembali kami melewati jembatan, di sini jembatannya tidak beratap seperti yang kami lalui tadi. Tapi sungainya cukup dalam, lebih lima meter dari permukaan jembatan, sehingga aku ngeri melihat ke bawahnya. Jembatan ini juga merupakan perbatasan antara nagari Salo Bungo Koto Tuo dengan dengan nagari Koto Baru.

Habis melewati jembatan, memasuki perkampungan jalan mulai mendaki. Setelah cukup jauh melewati jalan mendatar kami belok ke kiri. Cukup jauh kami masuk kampung dan melewati beberapa belokan, hingga akhirnya kami kembali melewati persawahan yang juga baru selesai panen. Setelah melewati persawahan yang cukup luas itu kami bertemu sungai, pak Uwo menyebutnya Batang Lasi.

Melihat air sungai yang cukup dangkal dan airnya mengalir jernih tapi cukup deras itu, terbit keinginanku hendak menyebur kesana. Membasuh keringat yang membasahi mukaku, maupun kakiku yang penuh dengan debu, alangkah segarnya di tengah matahari yang terik ini bermain air. Tapi aku tak berani mengatakan itu kepada pak Uwo, dan menyimpannya saja dalam hati. Seakan mendengar apa yang aku inginkan, pak Uwo berbelok ke kiri. Menuruni jalan yang menuju ke sungai, aku mengikuti dari belakang. Rasanya sudah tak sabar untuk segera sampai di sungai, mencuci muka dan bermain air, alangkah nikmatnya.

Sampai di sungai pak Uwo mencuci muka. Setelah lebih dulu meletakkan bungkusan yang ada di tanganku, aku mencari tempat yang agak dangkal, karena airnya mengalir cukup deras, aku tak ingin hanyut terseret air sungai itu. Air sungai itu begitu bening, sehingga aku bisa melihat pasir maupun batu-batu yang ada di dasarnya. Setelah mendapatkan tempat yang kuinginkan, aku lalu mencuci muka. Menyauk dan melemparkan air itu kemukaku beberapa kali, alangkah segarnya. Aku menggosok tangan yang berdebu, begitu juga kaki yang terendam dalam air. Tak lupa aku juga membasahi rambut hingga ke tengkuk dan seluruh leher. Dalam sekejap panas yang menerpa tubuhku tak begitu terasa lagi, kecuali di baju yang basah oleh keringat.

 “Alah tu, manyubarang awak lai!” 

Terdengar pak Uwo memanggilku. Tanpa menjawab aku lalu segera keluar dari sungai, mengambil bungkusan pakaian yang tadi kuletakkan di atas rumput pinggir sungai. Mendengar panggilan pak Uwo tadi baru aku tahu bahwa kami akan menyeberangi sungai ini. Aku sebenarnya takut menyeberanginya, karena air sungai itu mengalir cukup deras, walupun airnya dangkal. Hanya pada tempat-tempat tertentu air sungai itu cukup dalam, tapi aku yakin tak akan lebih dalam dari leherku.

Setelah mengambil bungkusan pakaian, aku kembali masuk ke sungai. Kali ini aku berjalan di samping pak Uwo, sambil berjalan mencari pijakan di atas batu yang ukurannya beraneka ragam itu, pak Uwo memegangi tanganku. Pada air yang agak dalam sampai setinggi lutut, kadang aku tidak kuat menahan arusnya. Sehingga aku terpaksa melangkah lebih lambat untuk melawan arus air itu. Pak Uwo nampaknya juga mengerti kesulitanku, sehingga tanganku dipegang lebih kuat. Pak Uwo berusaha mencari aliran sungai yang tidak begitu dalam, sehingga aku juga bisa berjalan melewatinya. Untung saja batu-batuan di sungai itu tidak berlumut, sehingga kami bisa berpijak dengan kuat tanpa harus takut tergelincir.

Walau berusaha mencari tempat yang dangkal, namun sempat juga aku terpaksa melewati aliran air yang agak dalam hingga sepaha, sehingga separo celanaku terendam air, tapi aku diam saja. Rasa takut hanyut lebih menguasaiku dari pada hanya sekadar mengingat celana yang basah.

Setelah melewati sungai dengan perasaan penuh kecemasan, akhirnya kami sampai juga di seberang. Aku bernafas lega, sekilas aku kembali melihat tempat yang baru saja kami lewati itu, aku bergidik membayangkan bagaimana kalau seandainya pegangan tangan pak Uwo lepas dan aku hanyut dan tak tertolong, sementara aku belum bisa berenang. Kembali aku teringat waktu aku nyaris tenggelam di sungai dekat kampungku, bayangan itu kembali membuat aku bergidik. Dengan celana basah kami melanjutkan perjalanan, panas matahari dengan segera mengeringkan air di rambutku. Tapi tidak pada bajuku yang tetap basah dengan keringat.

Tidak lama berjalan kami memasuki nagari Candung, dan setelah itu kami sampai di Baso. Kota kecamatan yang cukup ramai, jauh lebih ramai dari kampungku. Kami segera menuju stasiun kereta api.

Kisah sebelumnya…

Rindu Ingin Berkelana Lagi

Menunggu check in di Bandara Soekarno-Hatta.

Sembilan tahun lalu saya berkelana ke Sumatera Barat, atau yang lebih terkenal dengan julukan Ranah Minang. Tidak hanya sekadar pulang kampung ke Kamang Ilia, yang jaraknya sekitar 12 kilometer dari Bukittinggi, tapi benar-benar mengeksplorasi Ranah Minang. Mulai dari Kota Padang setelah mendarat di Bandara Minangkabau, hingga berlanjut ke Pariaman, Padang Panjang, Danau Singkarak, Bukittinggi, Payakumbuh.  Lalu menyeberang ke Propinsi Riau, Pakanbaru, Duri sampai ke Siberida, Indragiri Hulu.

Saya yakin, suasana Ranah Minang saat ini pasti telah banyak berubah. Apalagi saat itu Ranah Minang baru saja di goyang gempa dahsyat, yang memporak porandakan daerah Sumatera Barat dan sekitarnya, dan tentu saja yang lebih parah Kota Padang khususnya. Ribuan rumah runtuh, ratusan ribu penghuninya terpaksa tidur di tempat terbuka atau tenda darurat.

Bila teringat bagaimana saya menikmati perjalanan siang dan malam melintasi kota, desa dan hutan sepanjang Bukit Barisan tersebut, ingin rasanya saya buru-buru membeli tiket pesawat ke Padang. Apalagi saat ini membeli tiket begitu mudah melalui jaringan internet dan aplikasi yang terdapat di handphone. Seperti misalnya Pegi-pegi. Tinggal install di GooglePlay, buka aplikasinya, registrasi, selesai. Lalu cari deh tiketnya, berangkat dari Jakarta tujuan Bandara Minangkabau, Padang. Hanya dalam hitungan detik semua terpapar dengan jelas, kapan mau berangkat, dengan pesawat apa tinggal pilih, lalu bayar, selesai. Tinggal check in di bandara dihari keberangkatan. Mudah, kan…? Beda dengan 10 tahun yang lalu, saat beli tiket harus ke agen perjalanan dengan segala keribetan prosesnya…

Saat mendarat di Bandara Minangkabau, Padang

Pengelanaan saya di Ranah Minang tersebut berlangsung selama 18 hari, sebagai hadiah ulang tahun dari putri saya, bersama suaminya dan putra mereka yang saat itu berusia belum genap setahun, dan ikut mengantar ke bandara saat keberangkatan. 

Dari pengelanaan saat itu, saya berhasil menulis 46 artikel di blog keroyokan Kompasiana. Satu-satunya blog saya saat itu, sebelum saya memiliki personal blog seperti yang Anda baca saat ini.

Tidak semua artikel yang saya posting di Kompasiana itu saya tulis saat dalam perjalanan. Ini disebabkan saat itu saya belum mempunyai laptop.  Saat di Pariaman, saya sempat meminjam laptop dari cucu saya, itu juga hanya tiga hari, karena laptop tersebut juga dipakai untuk tugas sehari-hari.

Bendi, angkutan tradisional parawisata dengan latar belakang Jam Gadang di Bukittinggi .


Agar bisa posting setiap hari, begitu saya sampai di kota tujuan yang pertama saya cari adalah warnet. Begitu saya menemukan warnet, langsung mengetik artikel di Kompasiana. Karena saya tidak begitu cepat dalam mengetik di keyboard, maka untuk satu artikel ada kalanya bisa memakan waktu hingga dua jam, malah kadang lebih. 

Karena hanya memiliki waktu yang singkat untuk menulis dan menayangkan artikel, maka saya tidak sempat membalas komentar teman-teman yang mengomentari artikel hari sebelumnya. Mungkin saat itu saya terlihat tidak mempedulikan komentar mereka, bahkan mungkin ada yang menganggap saya sombong. Tapi mudah-mudahan saja mereka semua memahami situasi saya di lapangan.

Hanya sekitar 20an artikel yang sempat saya tulis dan tayangkan di Kompasiana selama dalam perjalanan hingga kembali ke Jakarta. Saat sampai di Jakarta lagi, sayamenuliskan sambungannya dan memperkirakan total postingan artikel saya paling banyak hanya sampai 30 artikel. Tapi setelah saya tuliskan, rupanya mencapai 45 artikel, di tambah satu artikel penutup.

Nasi Kapau, Bukittinggi, yang terkenal dengan bumbu dan rasanya yang khas.

Saya akui semangat menulis saya saat itu benar-benar sangat tinggi, walau tidak sempat menuliskannya setiap hari, karena di Jakarta saya juga sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan di studio. 

Kini, setelah berlalu sembilan tahun. Keinginan atau kerinduan untuk berkelana itu mulai bangkit lagi. Alam indah dengan gunungnya yang menjulang tinggi, atau Ngarai Sianoknya yang dalam terletak di tengah kota Bukittinggi. Tradisi adat istiadat yang bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah. Kulinernya yang beraneka ragam dan sudah terkenal di seantero negeri hingga manca negara. Rasanya tak cukup kata untuk melukiskannya di artikel yang pendek ini.

Guguak Rang Pisang, salah satu sudut desa di kaki Bukit Barisan, tempat saya bermain di waktu kecil.

Ini disebabkan saat saya berkelana di Ranah Minang waktu itu, saya belum benar-benar mengelilingi Daerah Sumatera Barat itu secara penuh. Masih banyak kota yang belum saya singgahi di Ranah Minang tersebut, seperti Solok, Sawah Lunto, Sijunjung, Lubuk Sikaping, Darmasraya, Painan, bahkan yang lebih dekat seperti Lintau, Batusangkar, Lubuk Basung dan Maninjau juga belum sempat saya kunjungi. Mungkin tidak akan cukup waktu satu bulan untuk mengunjungi semua hingga tuntas. Mudah-mudahan saja kerinduan dan keinginan ini dibukakan jalannya oleh Allah.

Aamiin, insya Allah…