Merantau ke Pekan Baru (6)

Setelah selesai makan, semua penumpang dipanggil melalui pengeras suara agar kembali naik bus. Begitupun kami, segera kembali naik bus. Setelah semua penumpang lengkap naik semua, bus yang kami tumpangi melanjutkan perjalanan. Sopir yang mengemudikan bus yang kami tumpangi ini telah berganti dengan sopir dua, tidak lagi sopir yang tadi yang dipanggil sebagai sopir satu. Sopir yang sekarang orangnya agak pendiam dan kurang suka mengobrol seperti sopir pertama.

Bus melaju meninggalkan nagari Lubuak Bangku, komplek rumah makan terbesar menjelang memasuki hutan raya Bukit Barisan, yang membelah dua pulau Sumatera menjadi Barat dan Timur. Pintu gerbang hutan Bukit Barisan ini adalah Kelok Sembilan. Dinamakan kelok Sembilan karena memang untuk mendaki puncak Bukit Barisan itu, semua kendaraan akan melewati jalan mendaki yang berkelok-kelok, dan jumlah kelok atau tikungan yang akan dilewati itu banyaknya Sembilan. Makanya dinamai Kelok Sembilan.

Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (6)”

Merantau ke Pekan Baru (4)

Setelah menembus pebukitan, bus kami kembali memasuki perkampungan, Simpang Batuampa. Bus bisa kembali melaju agak kencang karena perkampungannya tidak begitu ramai dan jalannya lumayan lebar. Kami melewati kebun-kebun dengan aneka ragam tanaman. Kebun jagung, kacang tanah dan sayur-sayuran, tapi pohon pisang tetap lebih dominan. Disetiap sudut kebun, halaman maupun pinggir sawah yang berbatasan dengan kampung, daun pisang yang lebar itu berayun dan berkepak ditiup angin. Disela-sela kebun itu menjulang tinggi pohon kelapa dengan buahnya yang sarat, tergantung diantara pelepah daun.

Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (4)”

Merantau ke Pekan Baru (3)

Dari dalam bus aku melihat timbunan pisang yang masih lengkap dengan tandannya, menumpuk di depan beberapa kios. Begitu juga karung beras yang sering disebut goni, bersusun rapi di depan kios lainnya.

Kami melewati stasiun kereta api dengan rel ganda, tempat persilangan kereta api yang datang dari Bukittinggi dan yang datang dari Payakumbuh. Saat itu aku tak melihat ada kereta api disana, stasiun itu kosong. Aku belum tahu, seperti apakah kereta api yang di katakan pak Sopir itu?

Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (3)”

Merantau ke Pekan Baru (2)

Ketika semua penumpang telah naik, bus pun pelan-pelan berangkat meninggalkan loket dan terminal Pasa Banto. Aku melihat para pengantar melambaikan tangannya, begitu juga kakakku. Aku tak tahu apa arti lambaian tangan itu, makanya aku hanya diam saja sambil sekilas melihat kakakku dan kemudian mengalihkan pandangan ke arah pengantar lainnya. Aku melihat ada diantara mereka yang menangis, dan aku pun tak tahu apa arti tangisan itu.

Lanjutkan membaca “Merantau ke Pekan Baru (2)”

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (16): Merantau ke Pekanbaru

Kepergian anduang Ipah, Pidan serta tuan Salim merantau ke Pekanbaru, rupanya pilihan yang di inspirasikan Tuhan kepada mereka. Ketiganya mendapatkan pekerjaan, walau pada awalnya tidak mudah. Dan rupanya keberhasilannya itu ingin dibagikan kepadaku, agar dapat juga menikmatinya bersama mereka. Walau sebenarnya untuk mereka sendiri sebenarnya masih pas-pasan.

Lanjutkan membaca “Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (16): Merantau ke Pekanbaru”