Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (9): Umi Hilang

 

Kembali giliranku menemani umi ke bok, setelah semalam kakakku Des yang usianya beda dua tahun dariku.

Perjalanan dari rumah ke bok kami lalui aman-aman saja seperti hari-hari sebelumnya. Karena kami tidak mampir di pos tentara di Pintu Koto, kami tiba lebih cepat dari sebelumnya. Kami sampai di bok hari masih terang, tapi tentara yang berada disana aku lihat telah berpakaian lengkap. Aku tidak tahu kemana mereka akan beroperasi malam ini.

Lanjutkan membaca “Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (9): Umi Hilang”

Seorang Balita di tengah Pergolakan PRRI (8): Senjata Itu Meledak di Samping Kepalaku

Ralat:

Mohon maaf. Ada kesalahan postingan, seharusnya postingan ini yang terbit lebih dulu, bukan yang kemarin dengan sub judul: Umi Hilang

DK

Kehadiranku di dalam tahanan markas tentara di nagari Magek itu sedikit mewarnai keadaan disana. Aku lebih banyak diam, karena suasana disana memang tak terasa nyaman bagiku, juga bahasa para tentara itu yang tak satupun aku mengerti, bila mereka berbicara sesamanya, umi bilang itu bahasa Jawa. Tapi aku juga tak merasa ketakutan, melihat tentara bersileweran dengan memanggul berbagai macam senjata.

Lanjutkan membaca “Seorang Balita di tengah Pergolakan PRRI (8): Senjata Itu Meledak di Samping Kepalaku”

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (7): Menikmati Masakan Jawa

Aku terbangun hari sudah siang. Umi tidak ada disampingku, aku lalu duduk sambil melihat ke sekeliling. Aku melihat umi sedang berada di sudut bok yang berfungsi sebagai dapur, melihat aku bangun umi lalu mendekatiku. Umi mengemasi balai-balai tempat tidur kami, melipat kain panjang yang menjadi alas tidurku dan juga selimut. Sambil bekerja umi menanyaiku apakah aku mau mandi, aku mengangguk. Selesai membereskan tempat tidur kami, umi memangku aku keluar dari bok.

Lanjutkan membaca “Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (7): Menikmati Masakan Jawa”

Berkelana di Ranah Minang (2): Padang, Antara Was-was dan Kepasrahan

Pukul 12 lewat beberapa menit, penumpang pesawat Lion Air menuju Padang dipersilakan naik pesawat di pintu 14. Para penumpang yang tadinya berkumpul di pintu 12 sesuai dengan yang tertera di tiket, terpaksa harus keluar dari ruang tunggu pintu 12 dan berrebutan menuju pintu 14.

Saya berusaha menahan diri agar tidak ikut-ikutan berebutan keluar dari pintu 12, dan berjalan santai menuju ruang tunggu keberangkatan pintu 14.

Lanjutkan membaca “Berkelana di Ranah Minang (2): Padang, Antara Was-was dan Kepasrahan”

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (6): Aku Menginap di Tahanan

 

Kami masuk kedalam bok, setelah umi ditanyai oleh tentara yang berjaga diluar. Sampai di dalam umi, meletakkan aku di salah satu balai-balai bambu. Aku duduk, sementara umi meletakkan barang bawaannya, pakaian ganti, dan dua bungkus nasi yang dibungkus pakai daun pisang yang dibawa dari rumah. Sementara umi pergi berwudhuk kesumur diluar bok, aku memperhatikan keadaan di sekelingku.

Lanjutkan membaca “Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (6): Aku Menginap di Tahanan”