Buah Baurai

Rumah gadang tempat kami tinggal, dikelilingi oleh kebun yang ditumbuhi beraneka ragam tanaman pangan. Dikebun bagian depan rumah gadang, tumbuh tiga pohon kelapa yang tingginya melebihi tinggi gonjong rumah gadang. Pisang dan pepaya menjadi tumbuhan abadi disana disamping kelapa. Pisang berbuah secara estafet bahkan sering berbarengan beberapa batang sekaligus, setelah yang satu matang Team dan dipetik dan kemudian mati, dipohon yang lain disampingnya telah menyusul buah yang masih muda atau malah baru berupa jantung pisang.

Di setiap tandan pisang yang matang, jarang kami menemukan buahnya yang kurang dari sepuluh sisir dan setiap sisir berisi dua belas sampai dua puluh butir. Jenis pisangnyapun beraneka ragam; pisang batu yang sering dibikin kolak untuk berbuka pada bulan puasa, atau digoreng dan dimakan bersama ketan ditemani kopi manis pagi hari diwarung, pulang dari shalat subuh di surau. Pisang mas yang buahnya imut-imut namun paling manis diantaranya. Pisang lidi yang bentuknya panjang tapi kurus-kurus, pisang gadang, alias pisang buai atau pisang ambon. Pisang gajah yang ukuran buahnya paling besar tapi berbiji, dan pisang raja walaupun tanpa mahkota.

Selain dimakan mentah sebagai makanan penutup atau sekadar kudapan. Pisang-pisang ini juga sering diolah menjadi makanan yang dimasak, seperti kolak, limpiang atau lepat dan bubur pisang, serta digoreng atau rebus. Semuanya merupakan makanan nikmat kesukaan kami sekeluarga.

Jantung pisangpun sering di masak jadi sayur, lalap atau gulai. Khususnya pisang batu, yang telah berbuah merata, namun masih menyisakan jantung yang sudah tak mungkin lagi mekar menjadi buah, lalu dipetik dan dijadikan sayur atau di gulai. Dipetiknya jantung ini juga bermakna ganda. Disamping jadi sayur juga agar buah pisang menjadi gemuk dan padat karena sari makanannya tidak lagi menuju jantung yang masih menggantung di ujung tandan, akan tetapi ke buah pisang yang membutuhkan sari makanan agar buahnya bagus.

Pepayapun tak pernah berhenti berbuah, Buahnya yang tak begitu besar seperti pepaya Bangkok namun begitu manis, dengan buah yang berwarna kuning. Daun pepaya inipun tak luput sebagai sebagai teman makan nasi. Digulai maupun di anyang atau di bikin urap bercampur kelapa yang sudah diparut plus cabe giling, sedaap…

Adakalanya disela-sela pohon kelapa, pisang dan pepaya ini disisipi tanaman muda seperti jagung, singkong, ubi jalar serta sayuran seperti kacang panjang, kacang buncis, terong, tomat dan bayam serta cabe keriting. Etekku termasuk orang yang rajin menanam sayur-sayuran dan tanaman muda ini. Sehingga untuk sayur-sayuran kami tak pernah kehabisan bahan dan tak pernah membeli!

Disebelah kanan atau barat rumah gadang ada pohon jambu air, yang bila berbuah begitu lebat, sering dahannya ditopang dengan bambu agar tidak patah. Pohonnya yang rendah dengan dahan yang bercabang-cabang, menjadi arena latihan memanjat bagi aku dan uda Des, serta sepupuku Fitrizal yang sehari-hari kami panggil An. Begitu lebatnya buah jambu ini, bila pagi-pagi kami mendekati pohonnya, dibawahnya telah berserakan buah-buah jambu matang dan sebagian membusuk. Aku tidak tahu, apakah umi dulu tak pernah terinspirasi untuk menjual buah jambu yang telah matang ini, dan membiarkannya rontok dan membusuk. Kami sering memetik buah jambu yang rasanya manis ini memasukkannya kedalam kibang tas yang dianyam dari pohon mansiro atau kumbuh.

Jambu pilihan yang buahnya besar dan berwarna merah pucat ini, kami bawa kerumah untuk dimakan bersama. Tapi jambu yang kami petik inipun sering juga tak terhabiskan, hingga akhirnya busuk dan terbuang. Tapi setelah aku dewasa, akhirnya aku mengerti kenapa jambu ini dibiarkan terbuang percuma. Sebab ketika jambu ini sedang musim berbuah, pada saat yang sama jambu-jambu lain dimana-mana didaerah kami juga berbuah, sehingga terjadi over produksi. Padahal jambu air ini buah yang tidak dapat bertahan lama dan akan segera membusuk How dalam dua atau tiga hari setelah dipetik.

Berdampingan dengan pohon jambu air ini tumbuh pula pohon alpukat. Berbeda dengan pohon jambu air yang tumbuh subur bercabang dan beranting banyak serta daunnya yang rimbun menutupi pohon. Pohon alpukat ini tumbuh dengan cabang dan ranting yang tidak seberapa, sehingga kelihatan kurus dan menjulang tinggi. Padahal tingginya tidak bebeda jauh dengan pohon jambu. Karena posisi dahannya tak seimbang, pohon alpukat ini tumbuh agak miring kearah halaman samping rumah. Tapi kemiringan ini menguntungkan kami, bila alpukat ini berbuah. Bila ada buah alpukat ini yang terlihat matang, tuan Salim pun siap dengan panggalan atau galah bambunya dan kakak-kakakku yang lain siap dibawah menyambut dengan tangan buah alpukat yang jatuh dijuluak tuan Salim, agar tidak pecah dan kotor bila jatuh ketanah.

Alpukat matang ini dibawa kedapur, dibelah dua, bijinya dibuang, dagingnya dikeluarkan dengan sendok dan dimasukkan kedalam gelas, ditambah gula diaduk dan hmm… sedaap!. Jadilah jus alpukat ala kampung, tanpa tambahan sirup, tanpa susu kental manis dan bahan pewarna atau pewangi lainnya. Walau masing-masing hanya kebagian dua atau tiga sendok, namun inilah pesta kami yang takkan terlupakan.

Masih dikebun yang sama sebelah barat rumah, tumbuh juga dua batang pohon kokoa. Tapi kami menamainya pohon coklat, karena dari cerita orang tua kami dari pohon inilah coklat yang lezat itu dibikin. Pohon kokoa yang tumbuh dikebun kami ini buahnya berwarna ungu. Karena tidak tahu bagaimana proses pembuatan coklat yang lezat itu, dan lagi karena pohonnya hanya ada dua batang, maka buahnya ini lebih sering dibiarkan begitu saja. Selalu berbuah tapi dibiarkan tua dan jatuh membusuk. Pernah juga kami mencoba memetik buah mengupas dan kemudian memakan isinya. Rasanya terasa manis bercampur asam dan terasa agak sepat dilidah. Kami juga tidak tahu buah yang kami makan Kesawah itu seperti apa, buah yang masih muda atau sudah tua dan boleh dimakan begitu saja.

Disamping kiri atau timur rumah gadang yang berhadapan langsung dengan jalan raya isi kebun lebih beragam. Diantaranya durian, cubadak atau nangka, baweh atau paraweh alias jambu biji, jambak (jambu bol), dan tentu saja pisang. Juga terdapat tanaman keras seperti pohon surian dan bayur. Disela-sela pohonnya tumbuh talas, kamumu atau talas putih yang tangkai daunnya buat lalap atau sayur serta paku atau pakis yang daunnya dipakai untuk gulai yang lebih sering dipakai untuk menemani ketupat. Yang lebih populer dengan Ketupat Gulai Paku. Dipagar yang membatasi kebun kami dengan kebun amai Uda tumbuh dan merambat labu siam dengan suburnya.

Karena rapatnya pohon buah-buahan yang berada dikebun ini mengakibatkan pertumbuhan tidak maksimal. Dua pohon durian selalu berbuah disetiap musim, satu batang persis berada dipinggir jalan dekat pagar, durian ini sudah tua, pohonnya tinggi menjulang, namun hasilnya tidak seberapa dibanding dengan durian yang tumbuh di ladang depan rumah diseberang kebun etek Timah. Sementara pohon yang satu lagi masih kecil, tapi cukup subur baru berbuah satu-satu. Nangka berbuah sepanjang tahun, tapi buahnya sering cacat. Putiknya sering di petik untuk lalapan, di bikin anyang atau urap seperti halnya daun pepaya. Rasanya yang kelat atau sepat menjadi penambah selera makan. Gulai cubadak atau nangka adalah salah satu masakan wajib dalam acara perhelatan di nagari Kamang. Nangka matang? Selalu jadi rebutan kami anak-anak umi

Jambak atau jambu bol yang buahnya tidak hanya tumbuh di ranting dan cabang, tapi sering juga di batang adalah buah-buahan yang ikut meramaikan isi kebun kami. Nama buah Jambak ini juga di abadikan sebagai salah satu nama suku kaum adat di kampungku, disamping Pisang, nama suku keluarga kami.

Di sudut kebun yang menghadap ke halaman rumah, tumbuh jambu biji. Kami menyebut buah pohon ini baweh atau dalam bahasa Minang paraweh. Pohonnya hanya sebesar betis orang dewasa, namun menjulang sekitar lima meter. Buahnya yang sering di ujung ranting menyulitkan kami untuk memetiknya, karena pertumbuhannya tidak merata. Disamping buah yang sudah matang juga berkumpul buah yang masih muda bahkan baru putik. Bila memetiknya pakai galah bambu, ada kemungkinan buah yang masih muda ikut jatuh.

Tapi tuan Salim punya cara unik untuk memetik buah yang sudah matang ini. Dia memanjat jambu yang pohonnya kecil itu. Keberatan beban tubuh kakakku pohon jambu itu merunduk, semakin tinggi dia memanjat pohonnya semakin merunduk, hingga akhirnya pucuk pohon jambu ini hampir menyentuh tanah. Tuan Salim yang tadinya bergelantungan, kini kakinyapun telah kembali mendarat ditanah sambil tetap berpegangan pada pohon jambu. Dari ranting pohon yang sudah nyaris menyentuh tanah itu tuan salim memetik buah jambu yang matang dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang satu lagi tetap berpegangan sambil menahan pohonnya.

Kadang-kadang kakak-kakakku yang lain ikut memetih buah jambu yang sudah masak itu tanpa harus memanjatnya lagi. Begitu selesai pohon jambu tadi lalu dilepaskan, dan pohonnya melenting dan berayun kembali keposisi berdiri awalnya. Ilmu tuan Salim ini menurun kepada uda Des dan kemudian aku.

Dibagian belakang rumah gadang atau utara, kebun kami ditumbuhi kepundung, manggis, mangga, serta langsat. Pohon Langsat ini sebenarnya bukanlah milik kami, tapi milik pemilik kebun tetangga kami. Tapi karena posisi tumbuhnya persis diperbatasan tanah kami dan tanah tetangga tersebut kami juga dapat menikmati buah langsat tersebut bila berbuah. Posisi tumbuh dan tinggi pohon-pohon ini, menyiratkan bahwa kesemuanya di tanam pada saat yang bersamaan oleh nenek moyang keluarga kami. Tumbuh subur dengan tinggi mendekati sama dengan gonjong rumah gadang. Seakan membentengi bagian belakang rumah kami, melapisi benteng bukit barisan yang membentang sekitar hampir dua kilometer dari rumah kami.

Kami hidup ditengah surga buah-buahan yang masing-masing punya musim berbuah sendiri-sendiri. Manggis yang kulitnya berwarna ungu tua kehitaman, namun ketika di kupas memperlihatkan isi yang begitu putih bersih. Kepundung yang berwarna kuning, dengan isi yang transparan, memperlihatkan bijinya yang berwarna kemerahan. Langsat yang berwarna kuning muda, dengan isi putih dan biji hijau. Serta mangga yang berwarna kuning seperti isinya.

Disamping musiman, ada juga yang berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim, seperti pepaya dan pisang serta nangka. Musim buah-buahan adalah saat yang selalu kami nantikan, kami dapat menikmati sepuasnya.

Karena subur dan beragamnya pohon buah-buahan disekitar rumah kami, maka disebut oranglah tempat kami tinggal tersebut dusun Buah Baurai atau Baburai, atau buah yang beraneka ragam dan lebat.

Bila Musim Kesawah Tiba

 

BILA MUSIM KESAWAH TIBA

1958-1959

 

 

Keluarga kami juga memiliki beberapa petak sawah, yang hasilnya cukup untuk makan sekeluarga. Salah satu lokasinya diantaranya di wholesale nba jerseys Alahan, dipinggir jalan raya yang menuju Solok. Jorong atau desa yang terletak persis di kaki bukit Barisan. Dipuncak atau tepatnya didinding paling atas Bukit Barisan tersebut terdapat sebuah batu  granit berwarna putih, penduduk kampung  menamainya  Batu Bajak yang kelihatan dari kota Bulittinggi, yang jaraknya sekitar 12 kilometer dari kampung kami.

Bila musim hujan tiba, berarti musim kesawah dan menanam padipun menyusul diambang mata. Kebun didepan rumah sebagian mulai dibersihkan untuk menyemaikan benih padi yang akan ditanam disawah. Sementara sawah mulai dicangkul atau di olah dengan bajak yang ditarik sapi yang kami sebut manjaja. Dirumah, ummi beserta kakak-kakakku sibuk memasak didapur. Bila tengah hari menjelang, akupun ikut ummi maupun kakakku mengantarkan makan siang untuk orang yang mengerjakan sawah kami. Begitu sampai disawah aku berjalan dan bermain di pematang yang membatasi sawah kami dengan sawah di sebelahnya, mencoba menangkap capung yang berterbangan dan hinggap di atas rumput yang tumbuh di pematang sawah.

Terkadang aku menginjak atau tersenggol daun putri malu yang berduri yang membuat aku berteriak kesakitan. Namun aku tak pernah jera, dalam keasyikan mengejar dan menangkap capung yang hinggap maupun beterbangan, walaupun selalu gagal, karena reaksi capung itu selalu lebih cepat dari tangan mungilku.

Setelah shalat zhuhur orang yang mengerjakan sawahpun makan siang dengan makanan yang kami antarkan. Duduk diatas pematang yang agak lebar beralaskan rumput. Akupun diajak ikut menikmati makan siang dibawah panas terik tersebut. Angin berembus sepoi-sepoi, kadang agak kencang, lumayan untuk menyegarkan tubuh yang telah basah oleh keringat. Makan siang dipematang sawah ini adalah saat yang paling nikmat kurasakan.

Usai makan Ships kamipun beranjak pulang meninggalkan sawah, sementara yang bekerjapun yang masih ada hubungan keluarga dengan kami melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai hingga usai waktu ashar nanti sorenya.

Setelah beberapa minggu, benih yang disemai di kebun didepan rumah mencapai wholesale nba jerseys tinggi sejengkal tangan orang dewasa. Berarti musim tanam telah tiba, sawahpun telah selesai diolah dan dihaluskan, musim hujan KELUARGAKU telah membuat sawah digenangi air yang cukup untuk bercocok tanam.

Saat menanam padi disawahpun tiba. Keluarga semua sibuk. Ummi, kakak-kakakku sebagian mencabuti benih di persemaian, sebagian lagi memasak untuk mereka yang ikut membantu menanam padi disawah, mereka umumnya masih famili dekat.

Benih yang dicabut diikat segenggaman orang dewasa, pucuknya dipotong beberapa sentimeter. Lalu dikumpulkan didalamupiah, kotak kayu persegi panjang yang berbentuk trapesium, mengecil kebawah, yang didalamnya juga telah dimasukkan abu bekas pembakaran didapur sebagai pupuk benih yang akan ditanam dan dicampur dengan pupuk kandang. Ditempat persemaian mereka sibuk mencabuti benih lalu mengikatnya.

Tuan Salim sibuk memotong pucuk benih dengan sabit yang Church tajam. Dengan memegang pucuk benih dengan tangan kirinya dan batang benih dengan tangan kanannya, dia memotong pucuk benih dengan sabit yang ditelentangkan ditanah dan diinjak dengan kakinya agar sabit itu tidak bergeser atau rebah disaat memotong benih padi, benih ditempelkan kemata sabit, didorong dari arah bawah keatas dengan gerakan cepat pucuk benihpun terpotong.

Suara persemaianpun ramai dengan canda dan tawa, membuat pekerjaan tak terasa berat. Aku sibungsu yang masih balita, danudaku yang baru melewati masa balitanyapun tak mau ketinggalan, membantu mengangkati benih yang telah diikat, dan meletakkannya dekat tuan Salim –demikian aku dan uda  Des memanggil kakakku yang nomor empat itu, semuanya bekerja. Tangan-tangan kecilkupun tak merasakan perihnya sayatan daun benih padi. Senang atas keikut sertaan membuat rasa perih Pemula itu tak terasa, yang ada hanyalah kegembiraan dan rasa bangga karena diperkenankan membantu, walau pada kenyataannya lebih banyak mengacak, daripada membenahi.

Sebagian benih yang telah dipotong dibawa kesawah, dan langsung ditanam. Aku mengikuti tuan Salim yang membawa benih kesawah dengan gerobak, langkah tuan  Salim yang lebih panjang dari langkahku membuat aku tersengal-sengal mengiringinya, sehingga keringat becucuran di seluruh badanku. Melihat nafasku tersengal kecapekan, tuan Salim lalu menaikan aku keatas gerobak. Hatiku semakin senang, karena tak perlu lagi berlari mengikuti langkah tuan Salim. Aku makin senang karena akan melihat bagaimana caranya orang menanam padi.

Sampai disawah, benih lalu diturunkan dan diletakkan dipematang. Benih itu dipungut lalu dilemparkan oleh salah seorang diantara mereka ketengah sawah satu persatu pada jarak tertentu. Sementara yang lain lalu memungut benih yang akan ditanam itu dan melepaskan ikatannya. Dengan tangan kiri mereka memegang benih yang telah Nyanyian lepas ikatannya itu, lalu dengan tangan kanan mengambil beberapa batang benih tersebut lalu mencelupkannya kedalam upiah nya masing-masing yang berisi abu dapur dan telah dicampur dengan pupuk kandang, cheap nba jerseys lalu menanamkannya kesawah dengan jarak antara benih yang satu dengan yang lain sekitar satu hasta, begitu seterusnya. Sambil membungkuk dan berjalan mundur rombongan penanam padi itupun bekerja. Seorang diantaranya tetap berada di pematang untuk mengontrol  dan memberi tahukan kepada mereka yang tanaman benihnya kurang lurus agar dibetulkan, sehingga Fun kelihatan dari luar barisan tanaman padi tersebut terlihat lurus dan enak dipandang mata.

Pulangnya aku diboncengi lagi naik gerobak oleh tuan Salim, senangnya…

KELUARGAKU

Di penghujung malam, tangis seorang bayi yang lahir dari rahim seorang wanita, memecah kesunyian, mengiringi fajar yang sedang menyingsing. Bayi keenam, dan terakhir. Seorang bayi laki-laki. Semua keluarga menyambut dengan penuh suka cita. Namun suka cita yang sumbang, bagaikan panas mengandung hujan. Ada yang tidak utuh disaat itu. Seseorang yang seharusnya ikut menyambut si pendatang baru dalam keluarga. Tapi dia tak ada, kemana dan kenapa?

Ayah…
Dua bulan sebelum sang bayi memperlihatkan dirinya dimuka bumi. Daun kehidupan sang ayah, telah gugur ditiup nafiri Izrail dari pohon kehidupannya di Lauhulmahfuz. Karena memang hanya sekianlah jatah
waktu yang ditetapkan untuk dia oleh sang Pemberi Kehidupan. Kepergian yang tak boleh ditunda, walau hanya sekedipan mata.

Itulah aku. Lahir dari ibu yang mempunyai 6 orang anak, dari dua suami.

Aku bungsu dari suami ibuku yang kedua, setelah berpisah dengan suaminya yang pertama yang memberinya empat orang anak. Tiga orang perempuan dan yang keempat laki-laki.

Dari ayahku, ibuku yang kami panggil umi melahirkan dua orang anak yang keduanya laki laki, aku dan kakakku yang aku panggil uda.

Ayahku meninggal karena menderita sakit yang akhirnya merenggut nyawanya. Sepeninggal ayahku suami pertama ibuku kembali bersama kami, dan akupun ikut memanggilnya ayah, sebagaimana yang lain.

Diwaktu aku berusia sekitar tiga atau empat tahun aku mendapat penyakit borok memanjang dari kiri ke kanan disekitar perutku. Dan sakitku ini bertahan cukup lama ditubuhku, sehingga mengganggu sekali bila aku pakai celana. Karena suka menempel pada borokku, yang membuat aku meringis kesakitan bila aku membuka celana untuk mandi atau keperluan lain. Setelah sembuh borok ini meninggalkan bekas di sekitar perutku.

Walau tanpa ayah kandung, namun aku dapat merasakan kebahagiaan ditengah-tengah keluargaku, karena kami semua saling menyayangi, tidak ada perbedaan antara adik kandung dan adik tiri, semua kurasakan memperhatikan dan menyayangi aku dan kakakku yang telah menjadi yatim. Ummi berhasil menanamkan rasa kasih sayang diantara kami anak-anaknya yang berlainan ayah.

Keluargaku tinggal pada sebuah rumah gadang, Pemula rumah adat keluarga besar orang Minangkabau. Rumah gadang kami bergonjong empat. Menghadap ke Selatan membelakangi bukit barisan yang membujur dari barat ke timur. These Dibagian depannya terdapat lima jendela, tanpa ada pintu untuk keluar masuk. Dibagian belakang, barulah terdapat pintu. Tanpa ada jendela lain. Pintu ini adalah satu-satunya pintu keluar atau masuk rumah gadang.

Dibagian dalam, rumah gadang itu dibagi dua, sebagian rumah sebelah selatan yang dekat ke jendela, adalah ruangan utama tanpa sekat memanjang dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Ruangan multi fungsi, sebagi ruang tamu, ruang makan maupun ruangan keluarga. Bagian utara adalah deretan kamar, jumlah kamarnya ada empat ditambah satu lagi rumah saruang- ditengah yang berfungsi bukan sebagai kamar, tetapi sebagai ruang penghubung antara pintu dan ruangan utama. Rumah saruang ini adakalanya juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan sementara padi yang baru dipanen, sebelum dimasukkan kedalam kapuak, ruangan khusus yang berfungsi sebagai lumbung penyimpanan padi yang terletak dikolong rumah gadang, yang pintu keluar masuknya terdapat di lantai ruangan utama. Padi yang habis dipanen dimasukkan kedalam kapuak ini. Kalau di perlukan lalu diambil secukupnya bila beras yang untuk dimasak telah habis.

Kamar utama yang biasa disebut biliak gadang ada dua, terletak di bagian ujung barat dan timur. Kamar sebelah barat adalah kamar keluarga kami, dan yang sebelah timur kamar keluarga etekku. Dua kamar lainnya dengan ukuran yang lebih kecil yang disebut biliak kaciak, terletak disebelah kamar utama. Biliak kaciak yang disamping kamar kami ditunggui oleh nenekku, sementara yang disebelah kamar etekku dihuni oleh tuo bibi etekku.

Rumah saruang terletak persis ditengah, diantara dua biliak kaciak nenekku dan tuo. Di rumah saruang inilah terletak sartu-satunya pintu yang menghubungkan bagian dalam rumah gadang ini dengan dunia luar, tempat keluar masuknya penghuni rumah gadang ini setiap hari.

Sebelum bisa turun tangga sendiri, aku sering duduk di puncak tangga dekat pintu rumah saruang ini. Memperhatikan semua aktifitas yang terjadi, menunggu aku dijemput oleh ummi dan di gendong menuju rumah dapur. Bila aku duduk dipintu rumah saruang, dihadapanku terbentang halaman belakang rumah kami, sebelah kanan berdiri rumah dapur etekku, dan sebelah kiri rumah dapur kami. Rumah dapur etekku lebih besar dari rumah dapur kami. Dibawah pintu telah menyambut tangga kayu dengan tujuh anak tangga, aku belum bisa menuruni anak tangga ini, karena jarak anak tangga yang satu dengan yang lainnya belum terjangkau oleh kakiku. Persis diujung tangga, sebelah bawah terdapat beberapa batu kali yang permukaannya datar sebagai alas untuk mencuci kaki. Disebelahnya ada cibuak yang terdiri dari beberapa potongan pohon bambu, yang buku sebelah dalamnya telah dilubangi, kecuali bagian paling bawah, disusun dalam posisi berdiri mungkin ada 10 buah, diikat dan ditanam ditanah. Tinggi cibuak tersebut sekitar empat ruas bambu, satu ruas ditanam ditanah, dan tiga ruas diatasnya berdidri kokoh diatas permukaan tanah. Setiap batang bambu tersebut diisi dengan air yang dibawa dari luak yang ada di ujung ladang, atau kalau musim hujan diisi dengan air yang mengucur dari atap rumah yang di tampung dan di alirkan dengan bambu. Untuk mengambil air yang berada didalam cibuak tersebut dibuatlah tanjua. Bambu yang lebih kecil ukurannya dari bambu untuk cibuak, yang panjangnya sekitar sejengkal, Faydalar? di beri tangkai yang panjangnya sama dengan dalamnya cibuak, dan dilubangi dekat buku bambu cheap nfl jerseys bagian samping bawah untuk saluran keluar airnya.

Kegunaan cibuak ini adalah untuk mencuci kaki, bagi yang ingin masuk kerumah gadang, dan juga untuk mengambil wudhu untuk shalat, terutama malam hari. Karena satu-satunya sumber air kami adalah luak atau sumur yang ada di ujung ladang. Luak atau sumur ini dibuat dengan menggali tanah yang mempunyai mata air dekat tebing di pinggir sawah, yang jaraknya dari rumah sekitar 300 meter.

Disamping keluarga kami, yang jumlahnya sembilan orang termasuk nenekku, juga tinggal di rumah gadang tersebut bibiku yang sehari-harinya aku panggil etek. Bibiku ini saudara sepupu ibuku, bukan adik kandung, Suaminya seorang pegawai negeri dan mereka punya satu anak. Sebenarnya dia punya dua anak yang lahir kembar, namun yang satu meninggal beberapa waktu setelah lahir. Usiaku dan anak bibiku tak terpaut jauh, aku hanya lebih tua enam bulan.

Terakhir yang tinggal dirumah gadang tersebut adalah bibi dari Neue bibiku, yang kami semua memanggilnya tuo, karena dia lebih tua dari kami semua selain nenekku. Dia hidup sendiri tanpa suami ataupun anak. Seharusnya aku dan kakak-kakakku maupun anak bibiku memanggilnya nenek. Tapi karena yang dipanggilkan nenek adalah nenekku maka untuk membedakannya kamipun ikut-ikutan orang tua kami memanggilnya tuo.

Sewaktu aku lahir, kondisi tuo ini sudah dalam keadaan tunanetra, sehingga hari-harinya selalu dihabiskan disekitar rumah, tak pernah kemana-mana.

Adalagi satu keluarga bibiku yang lain, dari tapi dia tidak tinggal bersama kami di rumah gadang. Dia bersama suaminya yang bekerja sebagai guru, telah membuat rumah sendiri, yang masih berdekatan dengan rumah gadang, hanya dipisahkan jalan yang membelah kampung. Keluarga bibiku tersebut punya dua anak, yang semuanya wanita, yang setelah menamatkan sekolahnya juga kemudian berprofesi sebagai guru, sebagaimana ayahnya. Terhadap bibiku ini kami memanggilnya amai

Walaupun kami keluarga besar, anggota keluarga kami tak pernah bertengkar. Kami hidup dalam keadaan rukun dan damai. Ajaran agama dan ikatan adat telah menyatukan kami dalam suatu keluarga besar yang harmonis. Walaupun aku dan udaku berlainan ayah dengan kakak-kakakku yang lain namun mereka menyayangi kami sebagai adik kandung. Setidaknya itulah yang kami rasakan saat itu.

Kehidupan kampung yang damai dan terikat kuat dengan adat, dan kehidupan beragama keluarga kami yang cukup taat, mengikat kami dalam satu keluarga yang utuh.

Mungkin karena aku dan udaku yang telah yatim, menjadi penyebab mereka menyayangi kami sebagaimana adik kandung sendiri. Atau mungkin juga didikan ummi yang berhasil menyatukan kami sebagai saudara kandung, apalagi karena sistim keluarga Minangkabau yang menganut sistim garis keturunan dari ibu, maka kami utuh dalam satu keluarga. Tak ada yang merasa anak-kandung atau anak wholesale mlb jerseys tiri maupun adik kandung maupun adik tiri.

Memang, aku tak begitu merasakan kedekatan, kehangatan, atau peran ayah tiriku terhadap aku dan udaku, namun aku tetap menghormati dia sebagai ayahku, karena dia juga tidak membeda-bedakan antara aku dan kakak-kakakku yang lain, walau terkadang aku merasakan ada sedikit perbedaan yang mungkin membuat sedikit jarak antara aku dengan dia.

Ini aku rasakan bila aku berada dikeluarga etekku disaat aku bermain dengan anaknya, aku sering merasakan perasaan lain bila aku melihat suami etekku yang こんばんは kami panggil pak aciak itu membelai dan mengajak anaknya bercanda dan bermain, ada rasa sepi, ada rasa iri, ada rasa kehilangan, ada rasa yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata…..!

Hal ini sering mengusik aku, bila aku sedang asyik bermain dengan Fitrizal-demikian nama sepupuku itu, lalu ayahnya yang dia panggil papa, pulang kerja dan kelihatan oleh anaknya maka dia akan lari meninggalkan aku dan mendapatkan papanya yang kemudian menggendongnya. Tinggallah aku sendirian memperhatikan kemesraan dan kehangatan antara anak dan bapaknya, keasyikan bermainku jadi hilang, aku hanya jadi diam termangu, rasa sepipun merayap menyentuh diriku, terasa sekali aku ingin punya ayah yang bisa menggendong dan membelai aku serta mengajak bercanda, inilah yang tidak aku temukan pada ayah tiriku, yang mungkin membuat aku dan kakakku merasakan ada jarak diantara kami. Andai…….

Dalam kondisi seperti itu, ummi jadi dewa penolong. Dia akan mencari dan mendapatkan aku bila dia melihat Fitrizal pulang digendong papanya. Ummipun akan menggendong aku, dan membujuk dengan kata-kata yang menenteramkan hati sehingga akupun merasakan punya seseorang tempat aku berlabuh, yang mengerti aku, sehingga pelan-pelan akupun mendapatkan hidupku kembali.

Diluar kondisi yang tanpa ayah kandung, sebenarnya aku cukup bahagia dengan keluargaku, tentu bahagia yang kumaksud disini adalah kebahagian dan perasaan yang terungkap dari seorang anak berusia diantara tiga sampai empat tahun cheap nfl jerseys atau istilah sekarang disebut balita -dibawah lima tahun-.

Pengetahuan Fotografi Untuk Pemula

Mengenal Kamera

Pada saat ini banyak bentuk serta model kamera yang dapat kita temui di pasaran atau di toko-toko yang menjual peralatan fotografi.

Kalau pada kamera konvensional kita hanya mengenal film sebagai media penyimpan data yang berbentuk gambar itu. Maka kini dengan berkembangnya tehnologi fotografi, kita akan menemukan kamera dengan media penyimpan data dalam bentuk digital pada kartu memory. Kamera dengan kemampuan penyimpanan data elektronik ini di pasaran sebut sebagai Kamera Digital. Continue reading “Pengetahuan Fotografi Untuk Pemula”

Nyanyian Rindu dari Rantau

Kuhitung—hitung, telah dua belas tahun aku berada dirantau orang. Te­lah banyak kota yang kutempuh dan telah banyak pula desa yang kusinggahi. Berbagai macam pengalaman telah didapat dan berbagai macam cobaanpun telah dirasakan, dalam mencarikan punggung yang tak bertutup dan perut yang tak berisi. Selama itu pulalah kampung telah kutinggalkan. Usah ditanya rasa rindu, tak perlu di sebut soal taragak, sungguh tak tertahankan lagi.

Seperti yang kurasakan kini. Ingin hati hendak merobek malam, agar siang cepat menjelma. Ingin ku hendak berteriak, melepaskan segala sesak hati, merobek malam membelah sunyi. Tapi…, nyatanya aku tak berdaya. Aku telah letih didera beban derita hidup. Aku tak bergerak dan akupun tak bersuara, yang terdengar hanyalah tarikan nafas panjang menghunjam kalbu. Oh…..,alangkah sepinya hati ini.

Saat ini aku berada di sebuah desa di pedalaman Jawa Barat, sebuah desa di kaki bukit. Desa yang sunyi, sepi seperti desaku yang jauh kutinggalkan.

Aku berbaring di tempat tidurku. Malam merayap semakin larut, kesunyianpun makin mencekam.  Yang terdengar hanyalah nyanyian malam dari suara jangkrik yang bersahutan, disertai desiran daun bambu maupun kelepakan daun pisang yang ditiup angin. Keheningan itu sekali—sekali ditingkah oleh bunyi kodok dari parit dibelakang rumah yang aku tempati. Atau kadang—kadang juga terdengar suara tikus yang berlarian diatas loteng. Ketika semua itu telah berlalu, alampun kembali sunyi, seperti hatiku…….

Karena mataku tak juga mau terpejam, pelan-pelan aku bangun dan duduk di atas kursi dekat meja tulisku. Di atas meja di hadapanku, tergeletak dua buah foto ukuran kartu pos, yang kuterima beberapa waktu lalu dari dua orang teman, sebagai kartu ucapan Selamat Hari Raya.

Foto pertama menggambarkan seorang gadis Minang dengan pakaian adatnya. Dengan latar belakang Ngarai Sianok yang di bawahnya mengalir sebuah sungai. Orang kampungku menamakannya Batang Sianok, airnya mengalir berliku-liku, mengikuti alur ngarai. Di sekitarnya dan di kejauhan, sesayup—sayup mata memandang, kelihatan pohon—pohon kayu tumbuh menghijau, diselingi oleh sawah membentang berliku, serta rumah di sela—sela pohon, indahnya……..

Mataku beralih pada gadis yang memakai tingkuluak tanduak di bagian kiri foto itu. Batinku berdebar, duhai cantiknya…….

Berbaju kurung merah darah, berhiaskan bunga kembang emas. Di bahu kanannya tergantung selendang kain songket, menyerong terus kebawah, ujung bertaut di samping kiri. Di lehernya tergantung dukuah basusun, di tangannya melingkar gelang pusaka. Matanya memandang redup, bagaikan meminta penuh harap, seakan maimbau pulang si orang rantau.

Aku beralih memandang foto yang satu lagi. Foto Tugu Pahlawan tak dikenal, yang puncaknya telah rubuh hancur disambar petir.

Dibelakang tugu itu, di lerenq tebing yang landai, tumbuh pohon cemara yang seakan menjadi pagar gedung Tri Arga yang kelihatan di sela-sela daun di belakangnya. Di sebelah kanannya, agak kejauhan, kelihatan Jam Gadang berdiri dengan aggunnya. Saksi abadi kota Bukittinggi.

Aku menguap beberapa kali, kemudian berdiri dari kursi yang aku duduki, berjalan menuju tempat tidur, membaringkan diri, menarik selimut, tidur sendiri. Ah, malam yang dingin.

Aku telah lama berbaring , tapi mataku tak juga mau terpejam. Badanku sebentar berbaring kekanan dan sebentar kemudian berbalik ke kiri, akhirnya aku menelentang.

Aku menenangkan hatiku, dalam kesunyian malam dari jauh telingaku menangkap suara musik tarling. Sebuah kesenian gitar dan suling tradisionil Sunda. Aku tak begitu mengerti dengan apa yang dinyanyikan oleh penyanyinya yang disana dinamakan sinden. Tapi mendengar suaranya yang mengalun dalam nada tinggi, lagu itu terdengar olehku begitu menyayat hati. Dan bagiku itu terasa lebih mengharukan. Dengan nyanyian yang tidak aku mengerti itu, makin tarasalah diri ini kian terasing. Diriku bagaikan orang buangan, terpencil jauh dinegeri orang. Jauh da­ri sanak jauh pula dari saudara, ataupun dari teman— teman sepermainan di waktu kecil , aku tidak tahu entah dimana mereka semuanya kini.

Kini semuanya terbayang, pikiranku melayang semakin jauh dan semakin jauh. Nampaklah negeri yang kutinggalkan, negeri yang elok, negeri yang tenang dan damai. Tanahnya yang subur dengan tanaman yang menghijau. Dari jauh kelihatanlah sebuah bercak putih yang kelihatan kontras dengan bukit barisan yang membiru. Aku tahu pasti, itulah Batu Bajak. Bila aku pulang dan melihatnya dari jauh, hati ini berkata, “disanalah kampungku, tempat aku di lahirkan dan dibesarkan, ditimang dan diayunkan, hingga aku pandai berjalan. Kemudian ia kutinggalkan, karena panggilan jiwa dan hidupku”

Dibawah Batu Bajak itu, mengalirlah Batang Agam. Tempat aku dan teman—teman sama mengaji di surau yang terletak di pinggir Batang Agam itu se ring mandi—mandi, tempat dimana aku pernah berteriak histeris, karena kakiku digigit lintah yang besarnya seperti telunjuk. Sejak itu aku sangat takut dengan lintah.

Di balik Batang Agam yang penuh kenangan itu, menghamparlah sawah yang luas. Bila padinya telah tumbuh besar dan menghijau, sejuta hasratpun menumpuk, harap dihatipun telah menggunung, hilang semua penat, sirnalah segala letih karena bekerja, dalam menunggu musim datang. Setelah padi menguning, buah telah sarat dengan isi, sawah membentang bagaikan permadani emas, mengalun mengombak ditiup angin, mengayun terangguk—angguk manja, menunduk namun tak rebah, bak gadis senyum tak jadi, indahnya….

Tapi sayang, semuanya itu kini tak pernah kutemui lagi. Telah lama tangan ini tak pernah memegang sabit, untuk memotong rumpun—rumpun padi yang telah masak. Kakipun telah rindu untuk mangirik, melepaskan padi dari tangkainya. Walaupun kaki ini terasa pedih dan perih di sayat daun dan miang padi. Kapankah aku dapat mengenyamnya lagi.

Aku telah rindu makan disawah, di alam terbuka. Beratap langit mambiru, berlantai tanah beralas jerami. Daun pisang sebagai piring, habis makan piring dibuang, jadi santapan sapi gembala. Tempat minumnya tempurung kelapa. Sayak kata orang kampungku.

Selesai makan parabuangan pun diketengahkan, isinya sipuluik jo panyaram. Nikmatnya…!

Kini dia telah hilang dari pandanganku, semenjak dia kutinggalkan. Telah banyak yang berganti. Lagu gamat-ku telah bertukar dengan keroncong. Saluang ku telah berganti dengan tar­ling. Randai berganti dengan lanong, dan pantunku tak terdengar lagi.

Akupun tidak ta­hu. Apakah si upiak yang sama mengaji dulu, yang kini tentu telah berbaju kurung akan bertukar pula dengan si neng yang memakai kebaya.

Namun dihatiku, semuanya kini terkenang. Rinduku, rindu, kuingin melihatnya lagi……

 

Jakarta, 1981