Berkelana di Ranah Minang (1): Keberangkatan Yang Terburu-buru

Untuk suatu tugas, saya harus meninggalkan Jakarta. Agar tak kesepian di jalan, saya akan mengajak Anda para Kompasianer mengikuti perjalanan saya yang mungkin akan memakan waktu sekitar sepuluh hari. Tapi walaupun saya mengajak Anda, kalau tiba giliran di potret hanya sayalah yang akan tampil…hehehe, Anda sekalian cukup menikmati saja. Kecuali kalau nanti di perjalanan saya bertemu dengan kompasianer lain, barulah dia akan saya tampilkan. Jadi nggak usah ngiri ya!

Lanjutkan membaca “Berkelana di Ranah Minang (1): Keberangkatan Yang Terburu-buru”

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (3)

Menjenguk Umi

Tiga hari setelah ditahan, selepas shalat zuhur, aku diajak oleh anduang Ipah, kakakku yang nomor dua. Katanya pergi menjenguk umi yang lagi di tahan di bok tentara pusat di Magek, nagari tetangga kami.

Aku sungguh tak bisa membayangkan, bagaimana senangnya hatiku saat itu. Aku akan bertemu umi lagi! Rasanya dunia ini terasa begitu lega, dan akulah yang paling bahagia saat itu. Tak sabar rasanya untuk bertemu umi, bayangan umi dengan senyumannya yang selalu dapat menyejukkan hatiku, umi yang bisa mendamaikan bila aku bertengkar dengan uda Des, kakak laki-lakiku yang umurnya dua tahun diatasku. Umi yang dapat menenteramkan hatiku, bila aku tengah cemburu melihat kebahagiaan adik sepupuku dengan papanya. Lanjutkan membaca “Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (3)”

Fotografi Untuk Pemula: Film

Aneka merek film negatif 135

 

 

Walaupun ekspansi kamera digital yang tak lagi membutuhkan film saat ini begitu gencarnya, namun ada baiknya juga kita membicarakan mengenai film ini. Sebab  biar bagaimanapun, standar-standar baku yang berlaku pada film celluloid ini, juga berlaku di kamera digital. Dengan mengetahui bagaimana seluk beluk film ini, kita juga akan dengan mudah memahami bagaimana cara kerja system kamera digital. Lanjutkan membaca “Fotografi Untuk Pemula: Film”

Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI

1958.

.

Sumatera Barat bergolak dengan gerakan yang bernama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI, dibawah komando Safrudin Prawiranegara. Rakyat yang mengerti politik maupun tidak, bangkit menggugat dan melawan pemerintah pusat dibawah pimpinan presiden Soekarno. PRRI menilai, Soekarno terlalu sibuk mengurus proyek mercu suarnya, Proyek Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, hotel Indonesia dan pembangunan yang hanya terpusat di pulau Jawa. Sementara rakyat didaerah luar Jawa hidup dalam kemiskinan dan serba kekurangan dan ketertinggalan dalam pembangunan. Lanjutkan membaca “Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI”