KELUARGAKU

Di penghujung malam, tangis seorang bayi yang lahir dari rahim seorang wanita, memecah kesunyian, mengiringi fajar yang sedang menyingsing. Bayi keenam, dan terakhir. Seorang bayi laki-laki. Semua keluarga menyambut dengan penuh suka cita. Namun suka cita yang sumbang, bagaikan panas mengandung hujan. Ada yang tidak utuh disaat itu. Seseorang yang seharusnya ikut menyambut si pendatang baru dalam keluarga. Tapi dia tak ada, kemana dan kenapa?

Ayah…
Dua bulan sebelum sang bayi memperlihatkan dirinya dimuka bumi. Daun kehidupan sang ayah, telah gugur ditiup nafiri Izrail dari pohon kehidupannya di Lauhulmahfuz. Karena memang hanya sekianlah jatah
waktu yang ditetapkan untuk dia oleh sang Pemberi Kehidupan. Kepergian yang tak boleh ditunda, walau hanya sekedipan mata.

Itulah aku. Lahir dari ibu yang mempunyai 6 orang anak, dari dua suami.

Aku bungsu dari suami ibuku yang kedua, setelah berpisah dengan suaminya yang pertama yang memberinya empat orang anak. Tiga orang perempuan dan yang keempat laki-laki.

Dari ayahku, ibuku yang kami panggil umi melahirkan dua orang anak yang keduanya laki laki, aku dan kakakku yang aku panggil uda.

Ayahku meninggal karena menderita sakit yang akhirnya merenggut nyawanya. Sepeninggal ayahku suami pertama ibuku kembali bersama kami, dan akupun ikut memanggilnya ayah, sebagaimana yang lain.

Diwaktu aku berusia sekitar tiga atau empat tahun aku mendapat penyakit borok memanjang dari kiri ke kanan disekitar perutku. Dan sakitku ini bertahan cukup lama ditubuhku, sehingga mengganggu sekali bila aku pakai celana. Karena suka menempel pada borokku, yang membuat aku meringis kesakitan bila aku membuka celana untuk mandi atau keperluan lain. Setelah sembuh borok ini meninggalkan bekas di sekitar perutku.

Walau tanpa ayah kandung, namun aku dapat merasakan kebahagiaan ditengah-tengah keluargaku, karena kami semua saling menyayangi, tidak ada perbedaan antara adik kandung dan adik tiri, semua kurasakan memperhatikan dan menyayangi aku dan kakakku yang telah menjadi yatim. Ummi berhasil menanamkan rasa kasih sayang diantara kami anak-anaknya yang berlainan ayah.

Keluargaku tinggal pada sebuah rumah gadang, rumah adat keluarga besar orang Minangkabau. Rumah gadang kami bergonjong empat. Menghadap ke Selatan membelakangi bukit barisan yang membujur dari barat ke timur. Dibagian depannya terdapat lima jendela, tanpa ada pintu untuk keluar masuk. Dibagian belakang, barulah terdapat pintu. Tanpa ada jendela lain. Pintu ini adalah satu-satunya pintu keluar atau masuk rumah gadang.

Dibagian dalam, rumah gadang itu dibagi dua, sebagian rumah sebelah selatan yang dekat ke jendela, adalah ruangan utama tanpa sekat memanjang dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Ruangan multi fungsi, sebagi ruang tamu, ruang makan maupun ruangan keluarga. Bagian utara adalah deretan kamar, jumlah kamarnya ada empat ditambah satu lagi rumah saruang- ditengah yang berfungsi bukan sebagai kamar, tetapi sebagai ruang penghubung antara pintu dan ruangan utama. Rumah saruang ini adakalanya juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan sementara padi yang baru dipanen, sebelum dimasukkan kedalam kapuak, ruangan khusus yang berfungsi sebagai lumbung penyimpanan padi yang terletak dikolong rumah gadang, yang pintu keluar masuknya terdapat di lantai ruangan utama. Padi yang habis dipanen dimasukkan kedalam kapuak ini. Kalau di perlukan lalu diambil secukupnya bila beras yang untuk dimasak telah habis.

Kamar utama yang biasa disebut biliak gadang ada dua, terletak di bagian ujung barat dan timur. Kamar sebelah barat adalah kamar keluarga kami, dan yang sebelah timur kamar keluarga etekku. Dua kamar lainnya dengan ukuran yang lebih kecil yang disebut biliak kaciak, terletak disebelah kamar utama. Biliak kaciak yang disamping kamar kami ditunggui oleh nenekku, sementara yang disebelah kamar etekku dihuni oleh tuo bibi etekku.

Rumah saruang terletak persis ditengah, diantara dua biliak kaciak nenekku dan tuo. Di rumah saruang inilah terletak sartu-satunya pintu yang menghubungkan bagian dalam rumah gadang ini dengan dunia luar, tempat keluar masuknya penghuni rumah gadang ini setiap hari.

Sebelum bisa turun tangga sendiri, aku sering duduk di puncak tangga dekat pintu rumah saruang ini. Memperhatikan semua aktifitas yang terjadi, menunggu aku dijemput oleh ummi dan di gendong menuju rumah dapur. Bila aku duduk dipintu rumah saruang, dihadapanku terbentang halaman belakang rumah kami, sebelah kanan berdiri rumah dapur etekku, dan sebelah kiri rumah dapur kami. Rumah dapur etekku lebih besar dari rumah dapur kami. Dibawah pintu telah menyambut tangga kayu dengan tujuh anak tangga, aku belum bisa menuruni anak tangga ini, karena jarak anak tangga yang satu dengan yang lainnya belum terjangkau oleh kakiku. Persis diujung tangga, sebelah bawah terdapat beberapa batu kali yang permukaannya datar sebagai alas untuk mencuci kaki. Disebelahnya ada cibuak yang terdiri dari beberapa potongan pohon bambu, yang buku sebelah dalamnya telah dilubangi, kecuali bagian paling bawah, disusun dalam posisi berdiri mungkin ada 10 buah, diikat dan ditanam ditanah. Tinggi cibuak tersebut sekitar empat ruas bambu, satu ruas ditanam ditanah, dan tiga ruas diatasnya berdidri kokoh diatas permukaan tanah. Setiap batang bambu tersebut diisi dengan air yang dibawa dari luak yang ada di ujung ladang, atau kalau musim hujan diisi dengan air yang mengucur dari atap rumah yang di tampung dan di alirkan dengan bambu. Untuk mengambil air yang berada didalam cibuak tersebut dibuatlah tanjua. Bambu yang lebih kecil ukurannya dari bambu untuk cibuak, yang panjangnya sekitar sejengkal,  diberi tangkai yang panjangnya sama dengan dalamnya cibuak, dan dilubangi dekat buku bambu bagian samping bawah untuk saluran keluar airnya.

Kegunaan cibuak ini adalah untuk mencuci kaki, bagi yang ingin masuk kerumah gadang, dan juga untuk mengambil wudhu untuk shalat, terutama malam hari. Karena satu-satunya sumber air kami adalah luak atau sumur yang ada di ujung ladang. Luak atau sumur ini dibuat dengan menggali tanah yang mempunyai mata air dekat tebing di pinggir sawah, yang jaraknya dari rumah sekitar 300 meter.

Disamping keluarga kami, yang jumlahnya sembilan orang termasuk nenekku, juga tinggal di rumah gadang tersebut bibiku yang sehari-harinya aku panggil etek. Bibiku ini saudara sepupu ibuku, bukan adik kandung, Suaminya seorang pegawai negeri dan mereka punya satu anak. Sebenarnya dia punya dua anak yang lahir kembar, namun yang satu meninggal beberapa waktu setelah lahir. Usiaku dan anak bibiku tak terpaut jauh, aku hanya lebih tua enam bulan.

Terakhir yang tinggal dirumah gadang tersebut adalah bibi dari bibiku, yang kami semua memanggilnya tuo, karena dia lebih tua dari kami semua selain nenekku. Dia hidup sendiri tanpa suami ataupun anak. Seharusnya aku dan kakak-kakakku maupun anak bibiku memanggilnya nenek. Tapi karena yang dipanggilkan nenek adalah nenekku maka untuk membedakannya kamipun ikut-ikutan orang tua kami memanggilnya tuo.

Sewaktu aku lahir, kondisi tuo ini sudah dalam keadaan tunanetra, sehingga hari-harinya selalu dihabiskan disekitar rumah, tak pernah kemana-mana.

Adalagi satu keluarga bibiku yang lain,tapi dia tidak tinggal bersama kami di rumah gadang. Dia bersama suaminya yang bekerja sebagai guru, telah membuat rumah sendiri, yang masih berdekatan dengan rumah gadang, hanya dipisahkan jalan yang membelah kampung. Keluarga bibiku tersebut punya dua anak, yang semuanya wanita, yang setelah menamatkan sekolahnya juga kemudian berprofesi sebagai guru, sebagaimana ayahnya. Terhadap bibiku ini kami memanggilnya amai

Walaupun kami keluarga besar, anggota keluarga kami tak pernah bertengkar. Kami hidup dalam keadaan rukun dan damai. Ajaran agama dan ikatan adat telah menyatukan kami dalam suatu keluarga besar yang harmonis. Walaupun aku dan udaku berlainan ayah dengan kakak-kakakku yang lain namun mereka menyayangi kami sebagai adik kandung. Setidaknya itulah yang kami rasakan saat itu.

Kehidupan kampung yang damai dan terikat kuat dengan adat, dan kehidupan beragama keluarga kami yang cukup taat, mengikat kami dalam satu keluarga yang utuh.

Mungkin karena aku dan udaku yang telah yatim, menjadi penyebab mereka menyayangi kami sebagaimana adik kandung sendiri. Atau mungkin juga didikan ummi yang berhasil menyatukan kami sebagai saudara kandung, apalagi karena sistim keluarga Minangkabau yang menganut sistim garis keturunan dari ibu, maka kami utuh dalam satu keluarga. Tak ada yang merasa anak-kandung atau anak tiri maupun adik kandung maupun adik tiri.

Memang, aku tak begitu merasakan kedekatan, kehangatan, atau peran ayah tiriku terhadap aku dan udaku, namun aku tetap menghormati dia sebagai ayahku, karena dia juga tidak membeda-bedakan antara aku dan kakak-kakakku yang lain, walau terkadang aku merasakan ada sedikit perbedaan yang mungkin membuat sedikit jarak antara aku dengan dia.

Ini aku rasakan bila aku berada dikeluarga etekku disaat aku bermain dengan anaknya, aku sering merasakan perasaan lain bila aku melihat suami etekku yang ami panggil pak aciak itu membelai dan mengajak anaknya bercanda dan bermain, ada rasa sepi, ada rasa iri, ada rasa kehilangan, ada rasa yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata…..!

Hal ini sering mengusik aku, bila aku sedang asyik bermain dengan Fitrizal-demikian nama sepupuku itu, lalu ayahnya yang dia panggil papa, pulang kerja dan kelihatan oleh anaknya maka dia akan lari meninggalkan aku dan mendapatkan papanya yang kemudian menggendongnya. Tinggallah aku sendirian memperhatikan kemesraan dan kehangatan antara anak dan bapaknya, keasyikan bermainku jadi hilang, aku hanya jadi diam termangu, rasa sepipun merayap menyentuh diriku, terasa sekali aku ingin punya ayah yang bisa menggendong dan membelai aku serta mengajak bercanda, inilah yang tidak aku temukan pada ayah tiriku, yang mungkin membuat aku dan kakakku merasakan ada jarak diantara kami. Andai…….

Dalam kondisi seperti itu, ummi jadi dewa penolong. Dia akan mencari dan mendapatkan aku bila dia melihat Fitrizal pulang digendong papanya. Ummipun akan menggendong aku, dan membujuk dengan kata-kata yang menenteramkan hati sehingga akupun merasakan punya seseorang tempat aku berlabuh, yang mengerti aku, sehingga pelan-pelan akupun mendapatkan hidupku kembali.

Diluar kondisi yang tanpa ayah kandung, sebenarnya aku cukup bahagia dengan keluargaku, tentu bahagia yang kumaksud disini adalah kebahagian dan perasaan yang terungkap dari seorang anak berusia diantara tiga sampai empat tahun atau istilah sekarang disebut balita -dibawah lima tahun-.

Pengetahuan Fotografi Untuk Pemula

Mengenal Kamera

Pada saat ini banyak bentuk serta model kamera yang dapat kita temui di pasaran atau di toko-toko yang menjual peralatan fotografi.

Kalau pada kamera konvensional kita hanya mengenal film sebagai media penyimpan data yang berbentuk gambar itu. Maka kini dengan berkembangnya tehnologi fotografi, kita akan menemukan kamera dengan media penyimpan data dalam bentuk digital pada kartu memory. Kamera dengan kemampuan penyimpanan data elektronik ini di pasaran sebut sebagai Kamera Digital. Lanjutkan membaca “Pengetahuan Fotografi Untuk Pemula”

Nyanyian Rindu dari Rantau

Kuhitung—hitung, telah dua belas tahun aku berada dirantau orang. Te­lah banyak kota yang kutempuh dan telah banyak pula desa yang kusinggahi. Berbagai macam pengalaman telah didapat dan berbagai macam cobaanpun telah dirasakan, dalam mencarikan punggung yang tak bertutup dan perut yang tak berisi. Selama itu pulalah kampung telah kutinggalkan. Usah ditanya rasa rindu, tak perlu di sebut soal taragak, sungguh tak tertahankan lagi.

Seperti yang kurasakan kini. Ingin hati hendak merobek malam, agar siang cepat menjelma. Ingin ku hendak berteriak, melepaskan segala sesak hati, merobek malam membelah sunyi. Tapi…, nyatanya aku tak berdaya. Aku telah letih didera beban derita hidup. Aku tak bergerak dan akupun tak bersuara, yang terdengar hanyalah tarikan nafas panjang menghunjam kalbu. Oh…..,alangkah sepinya hati ini.

Saat ini aku berada di sebuah desa di pedalaman Jawa Barat, sebuah desa di kaki bukit. Desa yang sunyi, sepi seperti desaku yang jauh kutinggalkan.

Aku berbaring di tempat tidurku. Malam merayap semakin larut, kesunyianpun makin mencekam.  Yang terdengar hanyalah nyanyian malam dari suara jangkrik yang bersahutan, disertai desiran daun bambu maupun kelepakan daun pisang yang ditiup angin. Keheningan itu sekali—sekali ditingkah oleh bunyi kodok dari parit dibelakang rumah yang aku tempati. Atau kadang—kadang juga terdengar suara tikus yang berlarian diatas loteng. Ketika semua itu telah berlalu, alampun kembali sunyi, seperti hatiku…….

Karena mataku tak juga mau terpejam, pelan-pelan aku bangun dan duduk di atas kursi dekat meja tulisku. Di atas meja di hadapanku, tergeletak dua buah foto ukuran kartu pos, yang kuterima beberapa waktu lalu dari dua orang teman, sebagai kartu ucapan Selamat Hari Raya.

Foto pertama menggambarkan seorang gadis Minang dengan pakaian adatnya. Dengan latar belakang Ngarai Sianok yang di bawahnya mengalir sebuah sungai. Orang kampungku menamakannya Batang Sianok, airnya mengalir berliku-liku, mengikuti alur ngarai. Di sekitarnya dan di kejauhan, sesayup—sayup mata memandang, kelihatan pohon—pohon kayu tumbuh menghijau, diselingi oleh sawah membentang berliku, serta rumah di sela—sela pohon, indahnya……..

Mataku beralih pada gadis yang memakai tingkuluak tanduak di bagian kiri foto itu. Batinku berdebar, duhai cantiknya…….

Berbaju kurung merah darah, berhiaskan bunga kembang emas. Di bahu kanannya tergantung selendang kain songket, menyerong terus kebawah, ujung bertaut di samping kiri. Di lehernya tergantung dukuah basusun, di tangannya melingkar gelang pusaka. Matanya memandang redup, bagaikan meminta penuh harap, seakan maimbau pulang si orang rantau.

Aku beralih memandang foto yang satu lagi. Foto Tugu Pahlawan tak dikenal, yang puncaknya telah rubuh hancur disambar petir.

Dibelakang tugu itu, di lerenq tebing yang landai, tumbuh pohon cemara yang seakan menjadi pagar gedung Tri Arga yang kelihatan di sela-sela daun di belakangnya. Di sebelah kanannya, agak kejauhan, kelihatan Jam Gadang berdiri dengan aggunnya. Saksi abadi kota Bukittinggi.

Aku menguap beberapa kali, kemudian berdiri dari kursi yang aku duduki, berjalan menuju tempat tidur, membaringkan diri, menarik selimut, tidur sendiri. Ah, malam yang dingin.

Aku telah lama berbaring , tapi mataku tak juga mau terpejam. Badanku sebentar berbaring kekanan dan sebentar kemudian berbalik ke kiri, akhirnya aku menelentang.

Aku menenangkan hatiku, dalam kesunyian malam dari jauh telingaku menangkap suara musik tarling. Sebuah kesenian gitar dan suling tradisionil Sunda. Aku tak begitu mengerti dengan apa yang dinyanyikan oleh penyanyinya yang disana dinamakan sinden. Tapi mendengar suaranya yang mengalun dalam nada tinggi, lagu itu terdengar olehku begitu menyayat hati. Dan bagiku itu terasa lebih mengharukan. Dengan nyanyian yang tidak aku mengerti itu, makin tarasalah diri ini kian terasing. Diriku bagaikan orang buangan, terpencil jauh dinegeri orang. Jauh da­ri sanak jauh pula dari saudara, ataupun dari teman— teman sepermainan di waktu kecil , aku tidak tahu entah dimana mereka semuanya kini.

Kini semuanya terbayang, pikiranku melayang semakin jauh dan semakin jauh. Nampaklah negeri yang kutinggalkan, negeri yang elok, negeri yang tenang dan damai. Tanahnya yang subur dengan tanaman yang menghijau. Dari jauh kelihatanlah sebuah bercak putih yang kelihatan kontras dengan bukit barisan yang membiru. Aku tahu pasti, itulah Batu Bajak. Bila aku pulang dan melihatnya dari jauh, hati ini berkata, “disanalah kampungku, tempat aku di lahirkan dan dibesarkan, ditimang dan diayunkan, hingga aku pandai berjalan. Kemudian ia kutinggalkan, karena panggilan jiwa dan hidupku”

Dibawah Batu Bajak itu, mengalirlah Batang Agam. Tempat aku dan teman—teman sama mengaji di surau yang terletak di pinggir Batang Agam itu se ring mandi—mandi, tempat dimana aku pernah berteriak histeris, karena kakiku digigit lintah yang besarnya seperti telunjuk. Sejak itu aku sangat takut dengan lintah.

Di balik Batang Agam yang penuh kenangan itu, menghamparlah sawah yang luas. Bila padinya telah tumbuh besar dan menghijau, sejuta hasratpun menumpuk, harap dihatipun telah menggunung, hilang semua penat, sirnalah segala letih karena bekerja, dalam menunggu musim datang. Setelah padi menguning, buah telah sarat dengan isi, sawah membentang bagaikan permadani emas, mengalun mengombak ditiup angin, mengayun terangguk—angguk manja, menunduk namun tak rebah, bak gadis senyum tak jadi, indahnya….

Tapi sayang, semuanya itu kini tak pernah kutemui lagi. Telah lama tangan ini tak pernah memegang sabit, untuk memotong rumpun—rumpun padi yang telah masak. Kakipun telah rindu untuk mangirik, melepaskan padi dari tangkainya. Walaupun kaki ini terasa pedih dan perih di sayat daun dan miang padi. Kapankah aku dapat mengenyamnya lagi.

Aku telah rindu makan disawah, di alam terbuka. Beratap langit mambiru, berlantai tanah beralas jerami. Daun pisang sebagai piring, habis makan piring dibuang, jadi santapan sapi gembala. Tempat minumnya tempurung kelapa. Sayak kata orang kampungku.

Selesai makan parabuangan pun diketengahkan, isinya sipuluik jo panyaram. Nikmatnya…!

Kini dia telah hilang dari pandanganku, semenjak dia kutinggalkan. Telah banyak yang berganti. Lagu gamat-ku telah bertukar dengan keroncong. Saluang ku telah berganti dengan tar­ling. Randai berganti dengan lanong, dan pantunku tak terdengar lagi.

Akupun tidak ta­hu. Apakah si upiak yang sama mengaji dulu, yang kini tentu telah berbaju kurung akan bertukar pula dengan si neng yang memakai kebaya.

Namun dihatiku, semuanya kini terkenang. Rinduku, rindu, kuingin melihatnya lagi……

 

Jakarta, 1981