Produk UKM Asli Indonesia Akan Menyerbu Dunia

 

Sebuah pameran bertajuk Telkom Craft Indonesia, digelar di Balai Sidang Jakarta dari tanggal 22 hingga 25 Maret lalu. Pameran dengan penonjolan pada produk “Asli Indonesia” itu diikuti oleh sekitar 400 peserta UKM ASLI INDONESIA binaan Telkom Indonesia bersama Blanja.com. Semua produk yang dipamerkan di sini pun dapat dibeli di toko online BLANJA.COM, dan pembayarannya bisa dilakukan dengan uang elektronik TCASH.

Berbagai produk Asli Indonesia hasil karya kerajinan tangan anak bangsa yang sudah mendunia maupun yang baru muncul, dapat ditemukan disini. Hasil karya kerajinan tangan dari bahan tekstil, kayu, kulit, serta produk kuliner makanan olahan rumah tangga, begitu juga produk kesehatan dan obat tradisional dan sebagainya, tampil begitu semarak dan menarik perhatian sekaligus menimbulkan rasa bangga dengan segala kreatifitas yang diperlihatkan para pengrajin Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Diantara produk yang menonjol itu adalah batik yang sudah mendapat pengakuan badan dunia UNESCO sebagai produk Asli Indonesia, begitu juga Rendang produk hasil karya kuliner yang rasanya cocok dan bisa diterima oleh perut seluruh bangsa manapun, dan diakui sebagai makanan paling enak di dunia.

Kita tentu juga ingin tahu, siapa saja diantara pengrajin dan inovator yang hebat itu. Bersama BLANJA.COM yang diwakili langsung oleh CEO Aulia Ersyah Marinto, menampilkan dua orang inovator sebagai nara sumber dalam talkshow yang digelar 24 Maret lalu. Keduanya yaitu, Yuka dengan produk olahan kulit berupa sepatu dengan merek Brodo dan Mamo juga dengan produk berbahan baku kulit dalam bentuk tas dengan merek Salawase.

 

Sepatu Brodo

Yuka terjun ke dunia industri sepatu ini karena kegalauannya setiap hendak membeli sepatu, dia selalu kesulitan mencari sepatu yang sesuai dengan ukuran kakinya yang berukuran 46, sehingga adakalanya dia harus pergi ke luar negeri hanya untuk membeli sepatu yang cocok dengan kakinya yang memang di luar ukuran umum mayoritas kaki  orang Indonesia.

 

Foto: www.mldspot.com

 

Kebalikan dari kebiasaan umumnya orang berdagang, diawal produksi Yuka memasarkan produknya bukan dengan membuka toko, tapi memasarkannya secara online di media sosial. Hal ini dilakukan untuk menyasar dan mengetahui pangsa pasar secara lebih mudah dengan biaya yang lebih murah dan tanpa modal yang cukup besar, dibanding langsung memproduksi secara masal dan dipasarkan lewat toko.

Setelah mendapatkan respon yang cukup baik dari pasar, baru Yuka berani membuka toko offline, itu juga berawal dengan memanfaatkan tempat kosnya Yuka di Tubagus Ismail, Bandung. Bila akhir pekan banyak yang datang untuk membeli dan mencoba sepatunya, ruang tamu kosnya menjadi ramai sehingga sempat dimarahi ibu kos. Kemarahan ibu kosnya ditanggapi positif dan dijadikan cambuk sekaligus inspirasi oleh Yuka, bahwa sudah saatnya dia harus membuka toko offline. Sejak itulah Yuka mulai membuka outlet bagi para pembeli sepatunya. Menyiasati keterbatasan modal, Yuka bukannya membuka toko di mall atau pasar, tapi memanfaatkan teman-temannya yang bertebaran di berbagai daerah sebagai reseller, sehingga penyebaran sepatu produksinya merata tanpa harus mengeluarkan modal yang besar untuk menyewa toko atau kios.

 

Tas Salawase

Berbeda dengan Yuka, Mamo memulai usaha tasnya awal 2014, terinspirasi dari istrinya yang suka mengoleksi kain-kain dari seluruh Indonesia, seperti Medan, Bugis dan Maumere dan tentu juga batik dari Solo. Mamo yang tadinya hanya menjual kain mulai berinovasi membuat tas. Kendala utama dalam memproduksi tas buatannya adalah masalah tukang jahit kulit yang berpengalaman di Solo. Setelah mengalami try and error, Mamo lalu mencari ke Yogya dan menemukan tukang jahit kulit yang diinginkannya untuk memproduksi desain yang dibuatnya.

 

Foto:http://www.beritasurabaya.net

 

Setahun berjalan Mamo merasa kurang puas dengan sistem yang dijalaninya, karena jauhnya jarak antara tukang jahit yang memproduksi hasil karyanya dan Mamo sebagai desainer, sehingga sulit dalam monitoring quality control.  Untuk mengatasi hal tersebut, Mamo lalu mengirim salah satu anggota keluarganya yang sudah punya basic sebagai tukang jahit dan mengirimnya ke Bandung untuk mengikuti training mengolah kulit sampai bisa selama satu tahun. Sejak kembalinya tukang jahitnya dari training, maka semua proses produksi tas mulai dari desain hingga penjualan, semuanya dikerjakan di Solo.

Awal 2016 mulailah Mamo dengan produk berlabel Salawase memasuki pasar dengan lebih intens dan dengan produk yang kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan.

 

Melawan kemudharatan dengan memanfaatkan sumber daya alam dengan benar.

Berangkat dari kegalauan pada penyalah gunaan aren yang terjadi di seputar lingkungan, maupun beberapa tempat lain di Sumatera Barat yang terkenal dengan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah itu. Dimana air aren yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan dan kemakmuran rakyat, malah diproduksi untuk merusak sendi kehidupan mereka dengan menjadikannya air tuak yang memabukkan.

Kegalauan ini mempengaruhi aktifitas Effendi Muharram yang sehari-harinya adalah pemilik dan kepala sekolah  SDIT Marhamah di Solok Selatan. Bagaimana tidak, di sekolah yang berlatar belakang agama itu mereka mengajarkan sendi kehidupan yang ditopang oleh agama dengan segala ajaran dan konsekwensinya, sementara di lingkungan mereka sendiri mereka melihat suatu hal yang bertolak belakang, yang bila dibiarkan terus sudah pasti lama kelamaan juga akan mempengaruhi diri mereka sendiri dan tentu juga pemahaman agamanya.

 

Foto : Minang Palm Sugar

 

Rupanya Tuhan mendengar kegalauan hati sang kepala sekolah ini, lalu memberikan jalan keluarnya. Hal itu berawal ketika dia kedatangan tamu dari Jawa Barat yang kemudian memperkenalkan diri dengan nama Rahardja, datang ke tempatnya di Solok Selatan. Saat berkunjung dan mengobrol itu diketahuilah kalau teman ini adalah seorang praktisi Aren di daerah asalnya Tanah Pasundan. Teman ini pindah karena mengikuti istrinya yang pindah tugas ke Sumatera Barat. Hal lain yang menyebabkan teman ini pindah adalah karena dia kalah bersaing dalam bisnis gula aren  dengan mereka yang bermodal besar di pulau Jawa ini, 8 tahun lalu.

Gayung bersambut, dua orang yang berlatar belakang berbeda ini menemukan kecocokan dan visi yang sama. Maka sejak itu mulailah mereka berkeliling di seputar Solok Selatan, dan nagari pertama yang mereka masuki adalah Pakan Rabaa Utara, yang berbatasan dengan nagari Surian. Sepanjang perjalanan mereka, keduanya melihat di pinggir jalan dan juga di ladang penduduk, terlihat banyaknya pohon aren yang tumbuh dan telah berbuah.

Mendapatkan teman yang sudah berpengalaman, Effendi yang berlatar belakang sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau, mulai lebih serius dalam menjalankan rencananya, mengalihkan kebiasaan buruk lingkungan sekitarnya dan mengajak para pemilik kebun pohon aren itu untuk berusaha ke arah yang lebih baik dan berkah, sekaligus membangkitkan perekonomian mereka yang masih jauh dari terencana dan terarah.

Selain memanfaatkan pohon Aren milik penduduk setempat, untuk mendapatkan pasokan yang lebih besar dan teratur Effendi pergi ke Payakumbuh dan seputar Kabupaten 50 Kota, setelah mendapatkan informasi bahwa di sana aren sudah dibudidayakan dalam satu perkebunan yang cukup luas. Benar saja, saat sampai di sana dia mendapatkan perkebunan aren yang telah tertata lumayan baik, luas dan siap panen. Tidak seperti di Solok Selatan yang dibiarkan tumbuh liar dan hidup secara alami tanpa ada sentuhan perawatan dan pemeliharaan serta pengembangan oleh tangan pemiliknya.

 

Foto: Minang Palm Sugar

 

 

4 Isyu utama perhatian Effendi dalam mengembangkan bisnis aren

  1. Sosial dan keagamaan
  2. Pelestarian lingkungan
  3. Kesehatan
  4. Pemberdayaan ekonomi rakyat

 

Ada 4 isyu yang menjadi perhatian Effendi, suami dari Dr. Desy Afriyanti yang bertugas di Puskesmas Balun, Pakan Rabaa, Solok Selatan, dalam melaksanakan rencananya dan membangkitkan semangatnya, sehingga dia berani mengambil keputusan menyerahkan pengelolaan SDIT binaannya kepada teman-teman seperjuangannya di sana, hal ini juga karena dia sudah menyiapkan sistem yang terancang baik untuk pengelolaan sekolah tersebut.

Setelah lepas dari kewajiban rutinitas mengurus sekolah, dengan penuh semangat Effendi kembali ke Payakumbuh. Melakukan pendekatan kepada para pemilik kebun aren dan membicarakan hal-hal yang bersangkutan dengan kerjasama pemanfaatan aren untuk industri yang mulai dirintisnya.

“Karena, saya lihat di Payakumbuh tidak semua aren itu dibuat jadi gula. Setiap pagi dan sore saya melihat ada mobil bak terbuka yang membawa dirigen besar menampung hasil produksi penduduk. Air Aren ini lalu mereka bawa untuk di produksi jadi tuak, lalu disebar ke kota-kota besar di Sumatera Barat, seperti Padang Panjang dan Padang dan kota lainnya. Sementara yang menyadap aren ini ada juga yang terdiri dari guru ngaji dan imam masjid. Sewaktu saya datang dan ngobrol, menjelaskan untuk apa hasil pohon aren yang mereka hasilkan oleh para pelanggan mereka itu, mata mereka berkaca-kaca, membayangkan hasil ladang mereka dibuat jadi barang haram yang diedarkan dan tanpa sadar juga malah ada yang dikonsumsi oleh anggota keluarga mereka sendiri untuk bermabuk-mabukan. Sadar akan hal itu, sebagian dari petani aren itu ada yang memeluk saya”

Setelah penjelasannya tentang kemudharatan air aren yang mereka jual kepada pengumpul itu, mulailah Effendi menyampaikan rencananya untuk bergerak di bidang industri aren dan membuat produk yang halal, sehingga jerih payah para petani itu tidak disalah gunakan untuk membuat produk haram yang akan merusak sendi keagamaan masyarakat Minang. Apalagi potensi aren ini di Sumatera Barat luar biasa banyaknya. Inilah isyu pertama yang diangkat oleh Effendi, yaitu Sosial Keagamaan.

Foto: Minang Palm Sugar

Kembali dari Payakumbuh dengan semangat yang semakin berkobar, Effendi lalu membentuk kelompok Unit Pelayanan Pengembangan Pengolahan Hasil Pertanian atau UP3HP di Muara Labuh. Dia lalu melakukan survey dan mengumpulkan data warga yang punya keahlian kuliner. Selanjutnya dia juga melakukan penghitungan berapa jumlah pohon aren yang ada di 3 kecamatan di Muara Labuh, yaitu Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, Sungai Pagu dan Alam Pauah Duo. Dari hasil surveynya ini Efendi menemukan 3103 pohon Aren.

Aren ini termasuk dalam produk HHBK atau Hasil Hutan Bukan Kayu. Dengan digerakkannya warga pemilik pohon aren dalam memelihara kelestarian dan kesinambungan pertumbuhan pohon aren mereka, karena daerah ini juga rawan bencana, dan juga lingkungan di sekitar kebun agar pohon arennya bisa berproduksi dengan baik, dengan sendirinya mereka juga telah melaksanakan Pelestarian Lingkungan.

Jadi dari aren ini kita bisa mengajak orang berbahagia untuk melestarikan hutan. Karena aren ini ”manis”maka banyak hal yang bisa kita dapatkan dari aren ini.” demikian Effendi menambahkan.

Bagaimana “manisnya” produk yang dihasilkan oleh pohon aren ini banyak yg belum tahu. Aren ini banyak manfaatnya, setidaknya ada 65 manfaat dari pohon ini. Sebagian bisa kita lihat dari data di bawah ini:

  • Pohon aren bisa menghasilkan bensin dan solar, pertama itu. Ini sekaligus bisa menjawab krisis energi bangsa ini. Pohon aren menghasilkan gula yang kemudian dikonversi menjadi bio etanol.
  • Selain itu pohon aren juga menghasilkan sagu, kolang-kaling, umbut, madu (dari bunganya) serta ijuk. Ijuk ini sudah digunakan untuk jok-jok mobil mewah di Eropa. Kayunya juga bisa dimanfaatkan dan sangat kuat dan tahan lama.
  • Gula aren juga dinyatakan lebih sehat ketimbang gula putih dari tebu, sudah dikenal sebagai gula diabetes, bisa juga sebagai ingridien obat asma.
  • Di Tomohon, Sulawesi Utara, punya 6 batang Aren sudah bisa buat modal membina rumah tangga, sebagai mas kawin bagi calon mempelai.

Jadi hasil produksi aren ini, langsung atau tidak langsung juga ikut menunjang program pemerintah dibidang Kesehatan.

Apa yang dilakukan Effendi dan teamnya ini, mendapat apresiasi yang luarbiasa dari Pemda Kabupaten Solok Selatan, kepala dinas dan asisten II Bupati. Karena Pemda sendiri tidak mempunyai data seperti yang dimiliki oleh Effendi ini. Agar apa yang telah dilakukannya tidak berhenti sampai disana, Effendi putar otak lagi bagaimana caranya mengolah potensi yang ada di depan mata itu. Beruntungnya Effendi sudah punya mitra yang sudah berpengalaman pada diri Rahardja. Merekapun lalu melakukan simulasi hingga Effendi dan teamnya menguasai apa yang akan mereka lakukan dengan potensi yang ada itu. Karena aren ini juga perlu perlakuan khusus dalam proses produksi dan pemetikan hasil produksinya oleh para petani.

 

 

Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Di Solok Selatan itu SDMnya lumayan banyak, hanya saja belum terlatih. Maka Effendi  dan teamnya pun melakukan pelatihan terhadap mereka yang berminat dalam budi daya aren ini, hingga akhirnya mereka bisa dan menguasainya. Melihat perkembangan yang memnggembirakan ini, agar apa yang dilakukannya ini punya landasan hukum, maka Effendi bersama dengan teman-teman berpatungan, lalu mendirikan sebuah perusahaan berbadan hukum dengan nama CV Minang Palm Sugar. Dengan resminya mereka punya badan usaha dan juga berproduksi, merekapun kemudian dilirik oleh Telkom dan menjadikan mereka sebagai UKM mitra binaan.

Effendi Muharram bersama sang istri dr. Desy Afriyanti

Setelah resmi berbadan hukum, perusahaanpun berproduksi lebih intensif. Produk pertama yang mereka buat adalah gula aren batangan berbentuk silinder, dengan bahan cetakan tradisional dari pohon bambu. Selanjutnya mereka mengembangkan produk brown sugar yang dikemas dalam sachet. Disamping melepas ke pasar tradisional maupun pasar modern dalam hal ini mini market, brown sugar ini juga dipersiapkan untuk masuk dan diterima oleh hotel-hotel yang ada di Sumatera Barat. Produk terbaru mereka yaitu kombinasi bandrek dan bajigur yang kemudian diplesetkan menjadi nama produk Bandrek Gurr dengan bahan baku gula aren dan jahe serta rempah-rempah yang juga tumbuh disekitar kebun aren rakyat. Sesuai namanya, Bandrek Gurr ini dipersiapkan sebagai minuman penghangat di malam hari atau di saat cuaca dingin.

Kehadiran Minang Palm Sugar inipun mendapatkan sambutan yang cukup baik di tengah masyarakat dan pemerintah daerah Sumatera Barat. Sebagai bentuk dukungan terhadap usaha ini, mereka pun dibawa berpromosi ke London, Inggris, oleh Pemda Sumbar. Di London mereka mendapat kesempatan melakukan pameran dan promosi dagang.

Harapan kita terhadap apa yang sudah dilakukan oleh para pengusaha UKM ASLI INDONESIA ini adalah, agar mereka semakin membesar dan produk mereka menyebar menyerbu ke seluruh dunia, dan secara bertahap rakyatpun bangkit dan lepas dari kemiskinan. Semoga.

Blogger peliput TelkomCraftIndonesia2018 berfoto bersama di booth Blanja.com

 


10 Comments

  1. Wah saya gak nemu booth gula semut nira,pdhl pgn bli klo liat

  2. Ya, sayang banget. Saya malah bolak balik kesana mencari pemiliknya. Alhamdulillah ketemu juga…

  3. Effendi Muharram

    Paling enak si kopi luwak.. luwak dicari para pemburu… dari pada aren dibuat tuak.. lebih baik kita jadiin produk yg baru….

    Lihat adek pakai celana…. celana robek kena selasih.. ternyata ini pak dian kelana…kami ingin ucapkan banyak terimakasih

    • Mantap pantun bung Effendi

      Muaro Labuah Pakan Rabaa
      Kampuang talatak di Solok Selatan
      Walau jauah badan tadampa
      Untuang takadia rahasio tuhan

      Batang banda aianyo tanang
      Bao baranang di sanjo hari
      Urang Sunda datang ka Minang
      Tibo di Minang nyo bangun nagari

      Batang anau tagak badiri
      Dimasak jadi gulo aren
      Sabana hebat pak Effendi
      Bisnis dibuek sabana keren

      Anau tagak tinggi manjulang
      Batang basaga sarupo lidi
      Kok taragak ambo nak pulang
      Pakan Rabaa ambo kunjuangi

  4. wahhh aku pun gak sempat mampir di boothnya Minang Palm Sugar ini. Makasih infonya pak Dian…

    • Saya ketemunya juga kebetulan saja Zata, tapi karena tertarik dengan produknya akhirnya jadi review deh…

      Terimakasih sudah berkunjung

      Salam

  5. emang enak nih palm sugar dipakai minum teh, kopi dan taburan roti panggang… hmmm mari beli ah palm sugar produk lokal

    • Bagi yang menginginkan gula sehat, gula aren ini memang jadi pilihan. Apalagi bagi mereka yang kena diabetes.

      Terimakasih telah berkunjung

      Salam

  6. produk UKM sekarang bagus2, aku paling suka sepatu sama tasnya. lumayan sering sich sekarang beli produk UKM… Aku kan cinta produk Indonesia… heheh

    • Sudah selayaknya kita memprioritaskna produk lokal untuk kebutuhan kita. Toh mutu mereka sekarang sudah bisa bersaing dengan produk luar.

      Terimakasih sudah berkunjung

      Salam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *