Puasa Batal Gara-gara Tangguli

Bulan puasa, sekitar 50 tahun lalu.

Libur bulan puasa membuat aku punya banyak waktu untuk bermain. Rasanya tidak ada lagi sudut kampung yang belum aku jelajahi, sendiri atau bersama teman sepermainan.

Pagi itu aku meninggalkan rumah kak Izah, kakak sepupu yang tinggal di seberang jalan rumah kami, salah satu dari tiga rumah keluarga besarku yang sering aku tumpangi untuk tinggal selain rumah keluarga ayah yang berada di Guguak Rang Pisang, 4 kilometer dari Ladang Darek, kampungku.

Aku berjalan menuju Simpang Labuah, simpang empat penjuru angin di tengah-tengah kampungku. Bulan puasa membuat teman-temanku memperpanjang jam tidurnya setelah shalat subuh, hal itu membuat Simpang Labuah sepi tanpa ada anak-anak yang bermain. Lapau kak Nur yang berada di salah satu sudut jalan juga belum buka, hanya ada beberapa ekor anak ayam beserta induknya yang terlihat tengah mengais tanah mencari makan.

Aku belok kanan ke arah timur, menuju jorong Binu. Matahari belum kelihatan karena tersembunyi di balik bukit barisan di mana jorong Binu berada. Berjalan sendiri di tengah sepinya kampung, tidak  membuat aku ikut kesepian. Udara  yang sejuk dan hembusan angin yang sepoi-sepoi serta suara burung yang hinggap dan bermain di ranting kayu, mengantar aku berjalan menuju dusun tempat aku belajar mengaji di surau yang berada di pinggir batang agam.

Sampai di Jembatan yang menghubungkan Binu dengan kampung lainnya, aku juga tidak menemukan seorang temanpun. Aku masuk ke dalam surau, juga kosong. Dengan perasaan malas dan juga rasa sepi  aku keluar dari surau, kembali ke jembatan. Aku berpikir sejenak sambil bersandar di tembok ujung jembatan. Kalau aku ke kanan berarti aku kembali pulang ke Ladang Darek, bila aku ke kiri ada banyak kemungkinan, aku bisa ke Guguak Rang Pisang atau jalan memutar pulang melalui Jorong Koto Nan Gadang dan melewati SD Hilir Lama tempat aku dan teman-teman bersekolah.

Aku lalu berjalan dan belok ke kiri menelusuri  jalan yang membatasi batang agam di sebelah kiri dan sawah di sebelah kanan. Aku mengikuti alur jalan yang berliku mengikuti aliran batang agam, menikung  ke kanan lalu sampai di Batu Bajolang, sebuah bendungan  menghadang aliran sungai yang berfungsi sebagai sumber air untuk irigasi sawah yang berada di Jorong Guguak Rang Pisang. Setelah bendungan  aku melewati kincir penumbuk padi,terus melewati jalan yang semakin lebar.

Menjelang pendakian Gobah jorong Koto Nan Gadang, aku tertarik dengan sebuah aktifitas di sebuah  bangunan terbuka di sebelah kiri jalan, yang sisi kanannya menempel ke tebing dusun Gobah yang tingginya melebihi atap bangunan. Kilang Tebu demikian orang kampung saya menyebut bangunan tersebut. Aku lalu berjalan menuju bangunan tersebut, setelah dekat aku melihat beberapa orang sedang bekerja, ada yang sedang membersihkan daun tebu dari batangnya, ada yang mengangkut tebu tersebut ke dekat kilang.

“Kama ang Mi? Tanya salah seorang yang sedang memanggul tebu yang sudah dibersihkan daunnya dari halaman ke dalam kilang.

“Indak ado, main sen…” jawabku

“Lai puaso? Tanyanya lagi setelah meletakkan tebu di tempat penumpukan di samping mesin kilang, dan kemudian berjalan kembali ke halaman tempat tumpukan tebu yang akan dibawa ke dalam kilang.

“Lai…”

“Lah bara nan umpang?” sambungnya sambil berdiri sejenak dan melihat kepadaku

“Alun ado lai…”

“Iyo santiang…” katanya sambil melanjutkan pekerjaannya mengangkat tebu dan membawanya ke dalam kilang. Aku tidak menjawab hanya membalas dengan senyuman, tapi ada perasaan senang dibilang santiang. Hehehe…

Karena semua yang bekerja di sana mengenalku sebab mereka juga orang sekampung, maka aku dibiarkan masuk ke dalam kilang. Merasa kehadiranku diterima, tanpa berpikir panjang aku lalu ikut membantu mengangkat tebu dari halaman ke dalam kilang, aku hanya sanggup mengangkatnya  dua batang sekaligus, walau dilarang aku diam saja. Baru mengangkat beberapa kali, akumulai merasa letih dan keberatan mengangkat tebu dua batang sekaligus, kemudian aku menguranginya dengan mengangkat hanya satu batang.

“Baa… barek?

Ditegur begitu aku hanya tersenyum malu tanpa menjawab, hanya saja karena beban yang aku bawa lebih ringan dari sebelumnya, membuat langkahku juga lebih ringan dan cepat dalam melangkah. Beberapa kali bolak-balik sambil setengah berlari dari halaman ke dalam kilang, membuat nafasku mulai ngos-ngosan dan keringat juga membasahi tubuhku, jalanku pun tak lagi secepat sebelumnya, mau berhenti ada rasa tidak enak, karena tebu yang akan dipindahkan masih cukup banyak.

“Kok lah panek barantilah dulu, bata pulo puaso biko…!”

Kalimat itu seakan melepaskanku dari ikatan rasa malu yang melilit diriku untuk berhenti mengangkut tebu begitu saja. Setelah meletakkan tebu terakhir yang berada dalam genggaman tangan, aku lalu berjalan menuju bangku kayu yang cukup panjang yang terletak tidak jauh dari tempatku berdiri.

Sambil duduk mengatur nafas aku melihat ke sekeliling. Sejenak aku melihat bagaimana proses penggilingan tebu di kilangan. Seekor kerbau terlihat sedang berjalan mengelilingi kilangan, jejaknya membuat sebuah lingkaran di tanah yang dilewatinya, di bagian atas lehernya diikatkan ujung kayu yang ujung satunya lagi terhubung dengan salah satu dari sepasang kayu bulat yang salah satunya setinggi tubuh orang dewasa. Kedua kayu ini dipasang pada kerangka yang cukup kuat di tengah lingkaran. Saat kerbau berjalan kedua kayu bulat panjang berbentuk silinder dan dihubungkan dengan gir itu berputar berlawanan arah. Seorang pekerja yang berada di dekat kilang sibuk memasukkan sambil mendorong tebu ke sela dua kayu yang sedang berputar yang kemudian terjepit dan membuat air tebu mengalir ke panci penampungan yang berada di bawah kilang.

Disamping kilang diluar jalur jalan kerbau, terdapat sebuah tungku yang cukup besar, di atas tungku terletak kancah, wajan besar yang garis tengahnya hampir sedepa aku. Tidak jauh dari tungku terdapat tumpukan kayu bakar yang sudah dibelah yang panjangnya seukuran lengan orang dewasa, tersusun rapi dekat tebing yang seakan berfungsi juga sebagai dinding bangunan kilang.

Panci penampung air tebu yang berada dibawah kilang sudah hampir penuh, pekerja yang tadi memanggul tebu ke kilang juga sudah menyelesaikan pekerjaannya kemudian lalu masuk ke kilang, dia menggeser panci yang sudah penuh air tebu dan meletakkan panci kosong di bekas tempat panci sebelumnya, panci yang berisi air tebu lalu diangkat dan dibawa menuju tungku, air tebu lalu dimasukkan ke dalam kancah, dan baru terisi setengahnya.

Dalam menjalankan tugasnya berjalan di seputar kilang memutar kilangan tebu, sering sang kerbau berjalan lambat sambil mengunyah rumput makanannya. Bila hal ini terjadi maka pekerja yang memasukkan tebu ke kilangan akan melecut punggung sang kerbau agar berjalan lebih cepat. Pekerjaan melecut punggung kerbau ini kemudian aku ambil alih dengan mengambil pelecut yang dibuat dari ranting bambu tersebut. Aku ikut berjalan di samping kerbau berkeliling di seputar kilangan, dan melecut punggung si kerbau bila dia berjalan lambat. Karena sering aku lecut walau tidak sekuat yang dilakukan orang sebelumnya, kerbau itu akhirnya bisa berjalan dengan kecepatan yang lebih teratur, sehingga proses penggilingan tebu bisa berjalan lebih cepat.

Menjelang siang, setelah air tebu terkumpul cukup untuk memenuhi kancah, maka proses pengilanganpun selesai. Kerbau lalu dilepaskan dari ikatan kayu kilangan lalu dibawa keluar dan diikatkan di lapangan sambil dikasih makan. Karena kecapekan bekerja sedari pagi, kerbau itu lalu rebahan sambil mulutnya tetap komat-kamit mengunyah rumput.

Kancah yang berada di atas tungku sudah penuh oleh air tebu. Di bawahnya api sudah dinyalakan untuk memasak air tebu, kayu bakar bersilangan di ruang tungku dengan api yang cukup besar. Karena proses memasak air tebu ini cukup lama, untuk menghilangkan kejenuhan aku bolak balik ke lapangan tempat kerbau ditambatkan, lalu memberi makan kerbau dengan rumput. Gerah karena panas, aku kembali lagi ke dekat tungku, melihat keadaan air tebu yang sudah berubah warna, dari bening menjadi keruh kekuningan. Bila kayu bakarnya sudah pendek dan tinggal ujungnya, aku lalu mengambil kayu bakar yang baru ke dekat tebing, lalu meletakkannya di samping tungku. Aku tidak berani memasukkan kayu itu ke dalam tunggku, karena api yang menyala di tungku menyala cukup cukup besar dan panas.

Walau berjalan lambat, aku cukup menikmati bagaimana perubahan yang terjadi di dalam kancah. Mulai dari air tebu yang awalnya bening berwarna keruh keputihan hingga pelan-pelan menguning dan lama-lama menjadi coklat muda yang semakin lama warnanya semakin menua. Juga air tebu yang tadinya encer, pelan-pelan mulai mengental dan agak berat saat diaduk. Agar proses matangnya bagus dan merata, air tebu yang sudah mulai mengental itu memang harus diaduk. Pengaduknya, sebuah kayu yang cukup panjang yang bagian badan hingga ke ujungnya segenggaman tangan orang dewasa, sementara bagian bawahnya lebar seperti sendok, bentuknya pipih, lurus dan ujungnya rata.

Semakin sore air tebunya semakin kental dan warnanya semakin gelap menghitam, bila pengaduknya diangkat dari kancah, maka air tebu yang sudah kental itu akan mengalir seperti susu kaleng yang di tuangkan ke dalam gelas. Air tebu yang sudah kental itupun sudah berganti nama menjadi Tangguli,  demikian orang kampung kami memberinya nama.

Selepas asar, orang kampung satu persatu mulai berdatangan untuk membeli tangguli yang sudah matang ini. Pemilik kilangpun sudah mempersiapkan tempatnya, yaitu potongan bambu sebesar pergelangan yang dipotong satu ruas. Setelah bagian dalamnya dibersihkan, maka tangguli ini akan dituangkan dengan memakai sendok yang terbuat dari tempurung kelapa, lalu bagian mulut bambunya ditutup dengan daun pisang dan diikat dengan serat kulit batang pisang.

Setelah bermain seharian di kilang tebu, menjelang magrib aku pulang. Sebelum meninggalkan kilang, aku dibekali satu tabung tangguli yang tentu saja aku sambut dengan senang hati. Keluar dari kilang dan berjalan menuju rumah, aku berjalan melewati sawah yang membentang di depan kilang hingga ke Ngalau Rangkak, inilah jalan pintas terdekat ke rumah kami di Ladang Darek, aku tidak mau lewat  Jorong Koto Nan Gadang karena jalannya jauh dan memutar, bisa tiga kali lipat bedanya dibanding bila aku mengambil jalan pintas lewat pematang sawah ini.

Lewat pematang sawah yang membatasi antara sawah yang satu dengan yang lainnya, hingga akhirnya bertemu selokan sebagai sumber pengairan, beberapa kali aku mengangkat tabung bambu sambil membayangkan isinya yang hitam, kental dan manis, begitu juga aromanya. Seharian bermain di kilang sambil berpuasa aku tak begitu merasa lapar atau haus, bahkan aku menikmati suasananya. Tapi kenapa ketika magrib hanya tinggal sekitar 1 jam lagi, haus dan lapar begitu menyiksa? Apalagi saat menyadari ada tangguli yang manis dan enak ini ada di tanganku dan aromanya yang membuat godaan untuk membatalkan puasa itu begitu hebat, apalagi aku hanya berjalan sendiri dikelilingi sawah dengan padi yang menghijau dan mulai berputik.

Mencoba untuk bertahan dan melawan dua keinginan yang bertentangan: melanjutkan puasa yang hanya tinggal kurang dari satu jam, melawan lapar dan haus serta rayuan aroma tangguli yang terasa semakin wangi, sungguh sebuah pertempuran batin yang berat. Namun rupanya rasa lapar dan haus serta aroma tangguli berhasil mengalahkan puasaku, aku gagal untuk bertahan. Aku berhenti lalu melihat sekeliling, hamparan sawah di Ngalau Rangkak itu sepi, aku membuka tutup tabung bambu dan  dengan meminum isinya, tangguli kental itu mengalir dengan lamban menuju mulutku, menyentuh bibir dang terus mengalir sepanjang lidah hingga akhirnya tiba di kerongkonganku.

Batal sudah apa yang aku pertahankan seharian di bawah teriknya sinar matahari dan asap yang mengepul dari tungku di kilang. Nikmatnya rasa tangguli hanya hingga tenggorokanku, setelah itu yang tinggal hanyalah penyesalan yang tiada berguna. Hanya satu tegukan tangguli yang aku minum, manisnya yang luar biasa membuat mulutku tak nyaman dan perut terasa tidak karuan. Rasa bersalah dan berdosa membuat aku membuang tabung yang isinya masih banyak itu. Rasa bersalah dan berdosa membuat aku tidak sanggup untuk membawa sisa tangguli itu pulang dan menjawab semua pertanyaan yang akan timbul di rumah nanti.

Dengan langkah gontai aku berjalan pulang, rasa berdosa yang menyelimuti seluruh tubuh membuat aku kehilangan semangat yang sesaat sebelum tangguli mengalir menuju mulutku masih kurasakan. Aku bisa saja pulang ke rumah etek Timah yang berada di seberang jalan rumah kak Izah, tapi rasa bersalah dan berdosa malah membuat aku lebih takut untuk pulang ke sana. Diselimuti perasaan yang tidak karuan itu, aku sengaja berjalan pelan agar aku bisa sampai di rumah pas azan magrib atau setelahnya, dengan harapan, kesibukan berbuka puasa akan mengurangi kemungkinan banyaknya pertanyaan yang akan diajukan kepadaku tentang kepergianku seharian dari rumah.

Apa yang aku harapkan itu akhirnya aku dapatkan juga. Dentuman bunyi bedug dari mushalla dan masjid diiringi alunan Azan magrib terdengar pas saat aku masuk halaman rumah. Berlagak seperti masih puasa, aku masuk rumah lalu menutup seluruh jendela sekeliling rumah, sebagaimana aku kerjakan setiap sore menjelang magrib. Setelah itu baru aku ikut minum teh manis ditemani kolak pisang bercampur ubi. Saat makan kolak itu terbayang lagi tangguli yang aku buang di sawah tadi. Andainya aku membawanya pulang, pasti besok kami akan menikmatinya bersama-sama untuk berbuka puasa, tapi aku segera menepis lamunan itu, lalu berbuka buru-buru, kemudian shalat magrib, selesai shalat aku lalu makan juga dengan buru-buru. Selesai makan aku segera mengambil sarung dan berangkat ke mushalla.

Saat berjalan ke mushalla aku masih diiringi perasaan bersalah dan berdosa, tapi satu hal yang berhasil aku hindari saat itu adalah, pertanyaan dari seluruh keluarga, kak Izah dan suaminya, ayah dan ibu kak Izah. Aku menghindari pertanyaan mereka agar aku tidak berbuat dosa lagi, karena diantara pertanyaan mereka pasti ada satu pertanyaan yang akan sulit aku jawab dengan jujur…

 

=======

“Kama ang Mi? = Kemana kamu, Mi?

“Indak ado, main sen…” =  Tidak ada, main saja…

“Lai puaso?  = Puasa ngak?

“Lai…”  = Ya…

“Lah bara nan umpang?” = Sudah beraba yang jebol?

“Alun ado lai…”  = Belum ada

“Iyo santiang…”  =  hebat…

“Baa, barek?  = Bagaimana, berat?

“Kok lah panek barantilah dulu, bata pulo puaso biko…!” = Kalau capek istirahat dulu, ntar batal puasanya…!


6 Comments

  1. Fadhlidar Nazir

    Lah babayia puaso nan umpang gara2 tangguli tun, da?

  2. gimana nggak batal atuh… mainannya benda cair nan kental. pas buat membasahi kerongkongan… seger pastinya di minum di siang bolong. apalagi tambah es batu dan sedikit air lagi biar tidak terlalu kental

    • Karena kental malah susah menelannya, makanya tidak banyak yang terminum.

      Di kampung saya 50 tahun yang lalu, belum ada yang jual es, hehehe

  3. Cara bertuturnya asyik banget Om. Enak diikuti ceritanya sambil naik bus traja.

    Hahaha kisah puasa saat kecil memang menarik. Aku pernah batal gara-gara berenang di sungai.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *