Pulang…

Pertengahan Juni lalu saya pulang, bagaimana ceritanya sudah saya tulis Disini.

Jam-jam penuh ketegangan

Nah 20 Desember kemarin saya pulang lagi. Tapi kepulangan saya kali ini berbeda dengan yang sebelumnya.

Pulangnya kami kali ini sudah direncanakan 4 tahun lalu. Saat itu putra saya Alfajri bersama kakaknya Nurul, membuat rencana untuk pulang bersama seluruh anggota keluarga, termasuk mantu dan cucu yang belum pernah melihat kampung keluarga besarnya. Namun rencana yang sudah dicetuskan 4 tahun lalu itu, selalu saja ada halangannya. 

Begitu juga akhir tahun kemarin, hal ini disebabkan oleh kondisi Nurul yang lagi hamil berat menjelang 8 bulan. Terlalu besar resikonya bila dia memaksakan diri untuk ikut pulang lewat jalan darat. Kalaupun dia tetap pulang, paling pakai pesawat, tapi selama di kampung mau tak mau akan tetap juga naik mobil. Resiko paling besar adalah karena rumah keluarga istri saya ada di perbukitan, dan itu harus dilewati dengan berjalan kaki. Sesuatu yang tak mudah bagi orang hamil.

Tapi karena Alfajri sudah siap, maklum saja karena dia sudah 20 tahun tidak pernah pulang, saat dia masih di SMP. Sementara sekarang dia sudah punya istri dan anak yang juga sudah sekolah kelas 2 SD. Jadi dia memang sudah kangen berat untuk pulang, hingga akhirnya kami tetap berangkat, 6 orang dengan satu mobil Honda Mobilio. Kebetulan ada 2 mobil lagi teman Alfajri, yang juga ingin berlibur dan menyambut tahun baru di kampung halaman masing-masing. Sehingga kami bisa berjalan bareng berkonvoi menelusuri hutan belantara Sumatera.

Meninggalkan Jakarta melewati tol Tangerang-Merak  (Dokpri)

 Karena ingin melewati Lampung dan Sumatera Selatan siang hari, maka kami sengaja berangkat malam hari dari Rawamangun, tempat rombongan ngumpul dan mulai berjalan menjelang tengah malam. 

Karena jalanan tidak begitu ramai,  hanya macet 2 kilometer menjelang pelabuhan Merak, kami bisa mencapai Merak hanya beberapa menit setelah melewati penggantian hari dari Jum’at ke Sabtu, 21 Desember 2019. Beruntung, kami tak harus antri saat sampai di pelabuhan. Kami bisa langsung naik kapal penyeberangan.

Meninggalkan Pelabuhan Merak menjelang pukul 1 dinihari

Setelah berlayar menyeberangi Selat Sunda sekitar 4 jam, pukul 05.00 pagi selesai shalat subuh, kapal mulai merapat di Pelabuhan Bakauheni. Matahari pagi menyambut perjalanan non stop kami pagi itu. Melintasi jalan tol baru Bakauheni – Terbanggi Besar – Kayu Agung sepanjang 330 km. Selanjutnya menelusuri hutan Bukit Barisan yang berselingan dengan masuk kota, kampung dan hutan, sepanjang jalan Lintas Sumatera. 

Pelabuhan Bakauheni
Merapat di Pelabuhan Bakauheni pukul 5 pagi

Ada sedikit kesalahan saat membaca rute perjalanan, gara-gara Google Maps menyarankan kami memperlihatkan dua jalur jalan, yang satu berwarna merah menandakan jalur padat, dan satu lagi berwarna hijau sebagai tanda jalanan sepi. Karena pimpinan rombongan mengambil jalanan sepi, akhirnya kami tersasar ke arah jalan Lintas Timur Sumatera, namun sebelum tersasar terlalu jauh kami mengambil jalan kekiri memotong jalur menuju jalan Lintas Tengah Sumatera, melewati jalan SM Badaruddin II. Akibatnya lumayan juga waktu terbuang, sehingga kami sampai di Lahat pukul 8 malam. 

Melewati hutan karet di Sumatera Selatan

Berasa sudah berada di kampung sendiri, anak saya mengatakan ingin melanjutkan perjalanan, tapi saya melarangnya. Mengingat kondisi fisiknya yang butuh istirahat, karena sudah mengemudi sekitar 26 jam, dipotong 4 jam pelayaran dari Merak ke Bakauheni. Akhirnya kami beristirahat semalam di Losmen Sigma, Lahat.

Istirahat di Lahat, Sumsel.

Minggu pagi 22 Desember. Selesai sarapan nasi dengan goreng yang disediakan oleh losmen Sigma, kami bergerak meninggalkan Lahat. Baru separo perjalanan yang kami tempuh dari Jakarta ke Lahat yang berjarak 697 km, seperti yang saya lihat di Google Maps. Masih ada sekitar 700 km lagi untuk mencapai kampung halaman istri saya di pinggir Danau Singkarak. Walau sedikit lebih jauh dibanding Jakarta-Lahat, kami lebih bisa menikmati perjalanan karena sudah merasa di kampung sendiri. 

Shalat Zuhur dan istirahat di Lubuk Linggau

Sampai di Lubuk Linggau kami istirahat untuk shalat Zuhur dan sekalian makan siang. Kami berhenti di sebuah masjid yang berada di pinggir jalan Lintas Sumatera. Sayangnya kami tidak menemukan rumah makan di sekitar masjid yang berdekatan dengan sungai tersebut. Di samping masjid yang juga bersebelahan dengan sungai kami menemukan taman wisata yang nampaknya lebih didominasi area bermain anak-anak. Lumayan banyak warung disana, beruntung ada sebuah warung yang juga menjual nasi goreng. Maka jadilah makan siang kami dengan nasi goreng yang lumayan enak, sehingga kami tak harus mencari lagi rumah makan yang lain. 

Jalan Bergelombang di Lintas Sumatera

Setelah menempuh perjalanan sejauh 300 kilometer selama hampir 5 jam, kami sampai di Muaro Bungo. Istirahat parkir sejenak di halaman Masjid Assu’udiyah yang lokasinya strategis, karena berada persis di jalur Lintas Sumatera dan juga Pasar Muaro Bungo. Keluar dari halaman masjid, durian menantang kami di kaki lima depan masjid. Sebenarnya sejak dari Lampung kami sudah melihat banyak pedagang durian di sepanjang jalan Lintas Sumatera ini. Tapi karena tidak ingin mabok sepanjang jalan, niat makan durian terpaksa ditunda dulu. 

Pedagang durian di Muaro Bungo

Kami meninggalkan kota Muaro Bungo menjelang matahari terbenam. Perjalanan hampir 300 kilometer menyusuri beberapa kota serta perkampungan, maupun hutan Bukit Barisan di sepanjang jalur tengah jalan Trans Sumatera itu, akan kami lewati malam hari. Google Maps memberi kami perkiraan sekitar 5 jam, tapi saya kurang yakin dengan hal itu. Masalahnya kami jalan berombongan 3 mobil yang tentu saja dengan kecepatan yang tidak bisa maksimal, karena harus menjaga jarak dengan teman yang berada di belakang agar tidak tertinggal. Dugaan saya tidak meleset, kami memasuki kota Solok pukul 00.30 dini hari Senin. 

Keterlambatan ini juga disebabkan hujan menyambut kedatangan kami sejak dari Kiliran Jao. Hingga kami sampai di Solok, hujan belum benar-benar berhenti. Setelah dua mobil memisahkan diri dari rombongan, kami melanjutkan jalan menuju Pasir Jaya. Desa kampung istri saya yang berada di pinggir Danau Singkarak yang sudah masuk kabupaten Tanah Datar. Pukul 01.30 akhirnya kami sampai di rumah. Disambut oleh kakak ipar sudah menunggu kedatangan kami sejak sore harinya. Perjalanan sekitar 1.400 kilometer itupun berakhir sudah. Tinggal menyambung kampung saya Kamang Hilir, Bukittinggi, dua hari kemudian. 

Singkarakpun menghampar di depan mata

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *