Rindu Ingin Berkelana Lagi

Menunggu check in di Bandara Soekarno-Hatta.

Sembilan tahun lalu saya berkelana ke Sumatera Barat, atau yang lebih terkenal dengan julukan Ranah Minang. Tidak hanya sekadar pulang kampung ke Kamang Ilia, yang jaraknya sekitar 12 kilometer dari Bukittinggi, tapi benar-benar mengeksplorasi Ranah Minang. Mulai dari Kota Padang setelah mendarat di Bandara Minangkabau, hingga berlanjut ke Pariaman, Padang Panjang, Danau Singkarak, Bukittinggi, Payakumbuh.  Lalu menyeberang ke Propinsi Riau, Pakanbaru, Duri sampai ke Siberida, Indragiri Hulu.

Saya yakin, suasana Ranah Minang saat ini pasti telah banyak berubah. Apalagi saat itu Ranah Minang baru saja di goyang gempa dahsyat, yang memporak porandakan daerah Sumatera Barat dan sekitarnya, dan tentu saja yang lebih parah Kota Padang khususnya. Ribuan rumah runtuh, ratusan ribu penghuninya terpaksa tidur di tempat terbuka atau tenda darurat.

Bila teringat bagaimana saya menikmati perjalanan siang dan malam melintasi kota, desa dan hutan sepanjang Bukit Barisan tersebut, ingin rasanya saya buru-buru membeli tiket pesawat ke Padang. Apalagi saat ini membeli tiket begitu mudah melalui jaringan internet dan aplikasi yang terdapat di handphone. Seperti misalnya Pegi-pegi. Tinggal install di GooglePlay, buka aplikasinya, registrasi, selesai. Lalu cari deh tiketnya, berangkat dari Jakarta tujuan Bandara Minangkabau, Padang. Hanya dalam hitungan detik semua terpapar dengan jelas, kapan mau berangkat, dengan pesawat apa tinggal pilih, lalu bayar, selesai. Tinggal check in di bandara dihari keberangkatan. Mudah, kan…? Beda dengan 10 tahun yang lalu, saat beli tiket harus ke agen perjalanan dengan segala keribetan prosesnya…

Saat mendarat di Bandara Minangkabau, Padang

Pengelanaan saya di Ranah Minang tersebut berlangsung selama 18 hari, sebagai hadiah ulang tahun dari putri saya, bersama suaminya dan putra mereka yang saat itu berusia belum genap setahun, dan ikut mengantar ke bandara saat keberangkatan. 

Dari pengelanaan saat itu, saya berhasil menulis 46 artikel di blog keroyokan Kompasiana. Satu-satunya blog saya saat itu, sebelum saya memiliki personal blog seperti yang Anda baca saat ini.

Tidak semua artikel yang saya posting di Kompasiana itu saya tulis saat dalam perjalanan. Ini disebabkan saat itu saya belum mempunyai laptop.  Saat di Pariaman, saya sempat meminjam laptop dari cucu saya, itu juga hanya tiga hari, karena laptop tersebut juga dipakai untuk tugas sehari-hari.

Bendi, angkutan tradisional parawisata dengan latar belakang Jam Gadang di Bukittinggi .


Agar bisa posting setiap hari, begitu saya sampai di kota tujuan yang pertama saya cari adalah warnet. Begitu saya menemukan warnet, langsung mengetik artikel di Kompasiana. Karena saya tidak begitu cepat dalam mengetik di keyboard, maka untuk satu artikel ada kalanya bisa memakan waktu hingga dua jam, malah kadang lebih. 

Karena hanya memiliki waktu yang singkat untuk menulis dan menayangkan artikel, maka saya tidak sempat membalas komentar teman-teman yang mengomentari artikel hari sebelumnya. Mungkin saat itu saya terlihat tidak mempedulikan komentar mereka, bahkan mungkin ada yang menganggap saya sombong. Tapi mudah-mudahan saja mereka semua memahami situasi saya di lapangan.

Hanya sekitar 20an artikel yang sempat saya tulis dan tayangkan di Kompasiana selama dalam perjalanan hingga kembali ke Jakarta. Saat sampai di Jakarta lagi, sayamenuliskan sambungannya dan memperkirakan total postingan artikel saya paling banyak hanya sampai 30 artikel. Tapi setelah saya tuliskan, rupanya mencapai 45 artikel, di tambah satu artikel penutup.

Nasi Kapau, Bukittinggi, yang terkenal dengan bumbu dan rasanya yang khas.

Saya akui semangat menulis saya saat itu benar-benar sangat tinggi, walau tidak sempat menuliskannya setiap hari, karena di Jakarta saya juga sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan di studio. 

Kini, setelah berlalu sembilan tahun. Keinginan atau kerinduan untuk berkelana itu mulai bangkit lagi. Alam indah dengan gunungnya yang menjulang tinggi, atau Ngarai Sianoknya yang dalam terletak di tengah kota Bukittinggi. Tradisi adat istiadat yang bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah. Kulinernya yang beraneka ragam dan sudah terkenal di seantero negeri hingga manca negara. Rasanya tak cukup kata untuk melukiskannya di artikel yang pendek ini.

Guguak Rang Pisang, salah satu sudut desa di kaki Bukit Barisan, tempat saya bermain di waktu kecil.

Ini disebabkan saat saya berkelana di Ranah Minang waktu itu, saya belum benar-benar mengelilingi Daerah Sumatera Barat itu secara penuh. Masih banyak kota yang belum saya singgahi di Ranah Minang tersebut, seperti Solok, Sawah Lunto, Sijunjung, Lubuk Sikaping, Darmasraya, Painan, bahkan yang lebih dekat seperti Lintau, Batusangkar, Lubuk Basung dan Maninjau juga belum sempat saya kunjungi. Mungkin tidak akan cukup waktu satu bulan untuk mengunjungi semua hingga tuntas. Mudah-mudahan saja kerinduan dan keinginan ini dibukakan jalannya oleh Allah.

Aamiin, insya Allah…


Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.