Saya Pernah Jadi “Tukang Cebok”

Foto: Sari Bundo

 

Mayoritas kita pasti tahu apa arti kata “cebok”, yaitu mencuci (maaf) selangkangan kita dan sekitarnya setelah buang air besar atau buang air kecil.

Namun bagi masyarakat Minang, cebok juga bisa bermakna lebih luas namun masih tetap berarti sebagai pekerjaan bersih-bersih. Seperti halnya yang sering disebut oleh para pekerja rumah makan Padang, di sana ada yang namanya “tukang cebok”. Tukang cebok ini boleh dikatakan bagian pekerjaan yang paling rendah nilainya dari struktur atau  hierarki pekerjaan di Rumah Makan atau Restoran Padang.

Tukang cebok di Rumah Makan atau Restoran Padang yaitu petugas yang pekerjaannya sebagai pencuci piring kotor yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan yang sudah selesai makan. Pekerja atau karyawan yang bekerja khusus sebagai tukang cebok ini umumnya ada di rumah makan atau restoran besar dan ramai pengunjung. Ruang geraknya memang hanya sebatas tempat cucian piring, sendok, gelas dan sebagainya.

 

Foto: SmartBisnis

 

Di Restoran atau Rumah Makan Padang ini struktur karyawan ini boleh dikatakan lengkap. Mulai dari tukang sanduak yang kerjanya hanya menyendok lauk pauk dan nasi ke piring yang kemudian disambung oleh tukang tatiang atau tukang hidang yang menghidangkan makanan ke meja dimana pelanggan duduk, yang sering terlihat kalau mengangkat piring makanan bertumpuk tersusun rapi di tangan kiri hingga belasan buah, ditambah lagi di tangan kanan beberapa buah piring nasi.

Struktur karyawan yang lengkap ini tidak akan ditemukan di Rumah Makan Padang kecil  yang semua pekerjaan ditangani oleh hanya 2 atau 3 orang yang bekerja serabutan, semua bisa jadi tukang sanduak dan tukang hidang sekaligus juga sebagai tukang cebok.  Lalu kapan saya pernah jadi tukang cebok?

Hehe… ini saya alami saat di Payakumbuh dan Padang tahun 70an silam. Di Payakumbuh jadi tukang cebok penjual cendol dan es tebak, kemudian kerja di bopet atau restoran kecil penjual soto dan gado-gado. Di Padang jadi tukang cebok warung nasi kaki lima di Jalan Pasar Baru dekat simpang Masjid Rawang. Berapa gajinya? Nggak usah ditanya, yang penting bisa makan gratis… hehehe


12 Comments

  1. Kl jd tukang hidang pernah blm pak, sekali angkat berapa piring. Hayoo jujur. Kwkwkw

  2. Saya belum pernah jadi tukang hidang, kecuali sewaktu dagang di kaki lima di Jalan Pasar Baru Padang

  3. Pengalaman hidup akan menjadi guru yang paling hebat ya pak.

    • Semua akan jadi pengalaman berharga dan guru kehidupan, tak satupun yang sia sia diberikan Allah, semua ada hikmahnya.

      Terimakasih telah berkunjung

      Salam

  4. Luar biasa semangat kerjanya, Pak Dian.. Semoga saat ini tinggal menikmati hasilnya ya, Pak.

    • Bakerja untuk menyambung hidup, apalagi di rantau orang, karena tak punya kerabat kaya buat menumpang. Berhenti bekerja, maka bersiaplah mati kelaparan. Kedengarannya terlalu sadis ya ungkapannya, hehehe….

      Tapi itulah kenyataannya, perjuangan hidup yang entah kapan akan berhenti.

      Terimakasih telah berkunjung

      Salam

  5. Setiap daerah punya makna masing2 tentang ‘Cebok’.
    Salut sama semangatnya Mas. Sukses selalu ya

    • Mungkin juga barangkali, di daerah lain bisa saja kata ‘cebok’ ini artinya berbeda, hehehe

      Teriimakasih telah siinggah

      Salam

  6. Saya pernah dengar kata ‘cebokan’ saat mampir ke rumah makan Padang di Padang. Haru sama pengalamannya.

    • Kalau di Jakarta sudah berubah jadi “kobokan” alias tempat cuci tangan hehehe

      Pengalaman hidup di perantauan memang penuh dengan perjuangan…

      Terimakasih telah berkunjung

      Salam

  7. Wahahahaa.. tukang cebok 😀 keragaman bahasa bikin saru bahasa yang satu dengan yang lainnya ya pakde hihihi

    • Begitulah sebagian orang memberi penilaian pada sebuah pekerjaan. Karena area kerjanya di bagian yang kotor kotor, maka nama jabatannya juga direndahkan.

      Terimakasih telah berkunjung

      Salam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *