Saya Tidak Bahagia Melihat Rapor Anak Saya

Jika salinan rapor di atas adalah rapor anak Anda, apakah Anda bahagia?

Saat menerima rapor dari guru kelas di sekolah tempat anak saya belajar lebih seminggu yang lalu, saya kaget melihat hasilnya. Saat masih duduk berhadapan dengan guru anak saya tersebut, saya termenung beberapa saat, seakan tidak percaya dengan apa yang tertulis di rapor anak saya tersebut. Dari satu sisi saya gembira dengan naik kelasnya anak saya. Tapi disisi yang lain, saya sungguh tidak percaya kenapa nilai rapor anak saya bisa seperti itu.

Saya tahu betul dengan kemampuan belajar anak saya, itu tergambar jelas di setiap ulangan yang dijalaninya, apakah itu ulangan harian, atau ulangan tengah semester atau ujian semester. Setiap ada ulangan dan dia membawa hasil akhirnya pulang setelah diperiksa dan diberi nilai oleh gurunya, saya sering menangis dalam hati melihat kemampuan anak saya. Dalam bayangan saya sudah tergambar sebuah kecemasan, bahwa tahun ini anak saya tidak akan naik kelas.

Lalu kenapa di saat saya datang mengambil rapor anak saya, saya mendapatkan nilainya begitu bagus? Lalu berceritalah sang guru, bahwa ini sangat berkaitan halnya dengan reputasi sekolah. Sekolah tempat anak saya belajar sudah mendapatkan akreditasi A. Dengan posisi seperti itu, maka pihak Dinas Pendidikan telah memberikan rating atau index angka Kriteria Ketuntasan Minimal dalam setiap mata pelajaran.

Sebagai contoh, misalnya pada pelajaran agama, sebagai salah satu dari matapelajaran pokok, pihak dinas mematok angka 80. Dalam pengertian, setiap ada ujian atau ulangan, si murid harus mampu menyelesaikan mata ulangannya dengan persentase betul 80 persen dari soal yang ditanyakan. Bila dibawah 80 persen atau nilai yang berhasil dikumpulkan si anak kurang dari 80, maka angka ini akan mempengaruhi kemungkinan si anak tidak akan naik kelas, tergantung persentase nilai yang diraih sang anak, begitu juga dukungan dari mata pelajaran pokok lainnya. Bila mata pelajaran pokok lainnya si anak bisa mendapatkan nilai lebih dari 80, maka itu akan membantu mendongkrak nilai yang rendah tadi.

Bila dalam satu kelas hanya satu atau dua anak yang mendapatkan nilai rendah, bisa saja mereka tidak naik kelas di tahun ajaran berikutnya. Tapi bagaimana kalau mayoritas murid mendapatkan nilai rendah saat ulangan dan ujian mereka? Sekolahlah yang menjadi taruhannya! Bisa terjadi pada penilaian akreditasi berikutnya sekolah akan turun jenjang akreditasinya. Yang tadinya A bisa melorot jadi B dan seterusnya. Dan itu dampak negatifnya sangat luas bagi nama baik sekolah yang bersangkutan. Bila itu terjadi, para orang tua murid yang mengetahui hal tersebut akan segera beralih mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah lain yang nilai akreditasinya lebih baik. Bagi guru dan kepala Sekolah, itu adalah perjudian besar jenjang karir mereka. Bila sampai terjadi akreditasi sekolah mereka turun, maka itu akan menjadi pembicaraan ramai di kalangan guru-guru itu sendiri. Para guru disekolah tersebut tidak akan bisa lagi berjalan dengan kepala tegak bila bertemu dengan sejawat sekolah saingan yang bisa mempertahankan atau malah meningkatkan akreditasi mereka.

Mengatasi situasi yang tidak menguntungkan tersebut, maka gurulah yang menjadi sasarannya. Mereka bermain akrobat dengan angka-angka rapor murid yang mereka ajar, demi nama baik sekolah dan mempertahankan akreditasi terbaik yang mereka miliki. Juga untuk keamanan karir sang guru di tempat mereka mengajar, maka jalan satu-satunya adalah mendongkrak angka-angka sang murid yang ditulis di dalam rapor pada angka minimal tabel atau index Kriteria Ketuntasan Minimal. Buntutnya adalah kita akan menemukan murid-murid dengan nilai tinggi di rapor mereka, tapi sejatinya nilai mereka tidaklah layak untuk seperti itu. Bisa jadi nilai real yang mereka dapatkan adalah satu tingkat dibawah akreditasi sekolah mereka saat itu. Atau lebih jeleknya lagi dua tingkat dibawahnya. Lalu, pertanyaan yang selalu hadir dalam setiap ada kasus dalam dunia pendidikan kita adalah: Mau dibawa kemana dunia pendidikan kita?

Miris…

Join the Conversation

47 Comments

  1. Angka angka masih menjadi dewa tanpa memfokuskan pada kemampuan anak. Saya memimpikan sekolah yang tidak menuntut anak bagus di semua mata pelajaran, tapi mendorong anak untuk memfokuskan diri pada bidang yg memang menjadi bakatnya. Mengasahnya hingga anak tsb ekspert di bidangnya.

    Saat ini sekolah dituntut untuk meluluskan semua siswa melalui nilai rapotnya. Jadi, sudah disetting sejak awal agar tidak menyusahkan di kemudian hari (kelulusan).

    Miris sekali. Karena siswa sudah mulai terbiasa dan akan merasa “ah pasti naik kelas” “ah pasti lulus” ada remidi. Jd masa bodoh, di samping memang kemampuan anak pada mata pelajaran (tertentu) memang terbatas meski sudah belajar keras.

    Sangat berbeda dg kita jaman dulu, nilai jelek siap2 rapot merah & tidak naik kelas. Nilai ujian jelek siap2 mengulang 1 tahun lagi. Tapi, jaman dl pun jadi banyak yg mencontek. Sekarang pun?

  2. kalau nilainya nggak murni gitu, kasian anaknya. mgkn sekarang akreditasi oke, tp bagaimana masa dpn mreka kalo nggak jujur?

  3. Hmm.. Jadi nilainya semacam didongkrak gitu ya kak?
    Terkadang hal seperti ini rata – rata sekolah ada yang mengerjakan lantaran ingin nama sekolah tetap bertahan atau naik, sejak saya menginjak bangku sekolah dasar, hal seperti sudah ada juga dahulu kak, istilahnya “naik disepak”.
    Mudah – mudahan kedepannya prestasi anaknya kakak lebih meningkat 😀

  4. Perasaan bapak sama dengan yang pernah saya baca cerita tentang renal Kasali hanya tidak persis sekali. Saat itu beliau kaget saat anaknya yg kuliah di luar negeri mendapat nilai tugas dari dosennya bagus. Padahal menurutnya anaknya kurang pandai dalam berbahasa Inggris. Kemudian beliau mendatangi dosennya. Dan kata Dosennya melihat latar belakang kempuan siswanya hasil itu bisa sebuah prestasi. Karena dari Indonesia ya hasil itu cukup bagus.

    Dari sini bisa kita simak pak Dian, bahwa yang penting adalah proses.Jangan lupa pak Karakter lebih penting dari sekedar anak mampu menguasai sejumlah ilmu. Jadi bisa saja anak bapak menurut bapak kurang menguasai tetapi memiliki kecerdasan lainnya yang oleh munif Chatib dikatakan sebagai kecerdasan multi Intelegensi.

    Saya sependapat dengan bapak, walaupun saya guru untuk tidak sependapat kalau nilai anak diberikan nilai bagus jika alasannya adalah Angka akreditasi sekolah. Itu memang sangat miris. Tetapi lain soal kalau nilai itu diberikan karena melihat anak secara utuh.

    Artinya melihat kelebihan anaknya dari sisi yang lain, semisal kesolehannya, kerajinannya, kepeduluannya.

    Ayo pak, jangan sedih dengan angka yang diperoleh anak bapak. Siapa tahu memang anak bapak Cerdas. Hanya bapak belum menemukannya.

  5. Melihat kasus seperti ini, tentu saja, saya merasa sangat miris. Seharusnya, guru tidak perlu mendongkrak nilai anak. Tetapi berikan pemahaman atau pelajaran ulang kepada anak, hingga anak mengerti/paham mengenai pelajaran tersebut. Jadi anak bisa mendapat nilai yang baik karena telah paham, bukan karena di dongkrak.

  6. Nilai yg ada bukanlah merupakan representasi nyata dari skill anak. Ketika nilai hanya digunakan sebagai pencitraan, disitulah kita harus mempertanyakan kembali fungsi dari pendidikan. Pendidikan di Indonesia sudah cukup bobrok menurut saya, pencitraan everywhere.

  7. Itulah yang kita tidak mengerti Nova, padahal sebelum ditulis sang guru sudah punya data yang akurat.

    Terimakasih telah singgah Nova

    Salam

  8. Mudah-mudahan memang seperti itu Eva, tapi kalau saya bandingkan dengan nilai real anak saya setiap dia habis ulangan atau ujian, nampaknya penyesuaian yang diberikan guru itu masih terlalu tinggi.

    Terimakasih telah singgah Eva Sri Rahayu

    Salam

  9. Begitulah keadannya saat ini mbak Anita, kita hanya bisa mengurut dada melihat keadaan yang berlangsung di depan mata. Bak memakan buah simalakama, tak dimakan ibu mati dimanak bapak meninggal. Ingin kita bersikap idealis, tapi lingkungan tidak mendukung. Mau ikut begitu saja dengan sistem yang sudah rusak itu, akibatnya kita akan makan hati. Bagaimana lagi?

    Terimakasih telah berkunjung mbak Anita Makarame

    Salam

  10. Itulah problem pendidikan kita mbak Jiah. Seakan mengurai benang kusut. Tidak tahu dimana harus memulai membenahinya, karena semua seakan telah terbentuk menjadi jaringan yang susah diurai. Anak kita sudah diajar tidak jujur sedari dini, sayang sekali.

    Terimakasih telah singgah mbak Jiah

    Salam

  11. Naik disepak, begitu kan bung Reyhan? Dan kenyataannya memang seperti itu, demi sebuah prestise dan kebanggaan, murid-murid yang menjadi korbannya. Di Rapor nilai tinggi, tapi ketika ditanyakan sesuatu tentang pelajarannya, dia banyak yang tidak atau kurang mengerti.

    Terimakasih telah singgah bung Reyhan Ivandi

    Salam

  12. Sebagai blogger, kewajiban kita hanya menyampaikan bung Ryo Kusumo. Kalau ada pihak terkait yang merasa bertanggung jawab untuk melakukan pembenahan, silakan dibenahi, klau nanti hasilnya bagus tentu kita akan mengapresiasi

    Terimakasih telah singgah bung Ryo Kusumo

    Salam

  13. Terimakasih atas penilaian positif ibu Atjih terhadap anak saya. Tapi dari apa yang saya lihat dari keseharian anak saya, saya juga tidak mau mengatakan bahwa anak saya adalah anak yang pintar, saya harus jujur mengatakan hal ini. Makanya saya miris kalau anak saya mendapat nilai seperti yang tertera di rapor itu. Nilai yang sangat luar biasa bagi saya, yang selalu melihat hasil ulangan anak saya, sehingga saya cukup memahami sampai dimana kemampuannya.

    Terimakasih telah singgah ibu Atjih Kurniasih

    Salam

  14. Idealnya memang seperti itu mbak Nurul, tapi memberikan pengajaran ulang pada si anak tentu akan menguras tenaga dan waktu sang guru yang sudah di pusingkan menghadapai satu kelas murid dengan kemampuan yang beragam dan tak setara.

    Terimakasih telah singgah mbak Nurul Fitri Fatkhani

    Salam

  15. Karena semua berpegang pada nilai yang tertera, maka jadilah nilai menjadi ukuran. Padahal nilai itu sesuatu yang bisa di utak-atik, sehingga kejujuran hanya tinggal di kata-kata.

    Terimakasih telah singgah bung Jefry Dewangga

    Salam

  16. Dear pak Dian,
    Saya tergelitik ketika teman saya memposting tulisan bapak di sebuah media sosial.
    Saya paham sekali akan perasaan bapak yang demikian. Saya sendiri jujur ingin marah karena saya pernah bekerja di sebuah sekolah yang melakukan hal itu dengan atas nama akreditasi. Sampai sekarangpun kkm yang dibuat oleh sekolah masih terus dinaikkan demi nama baik sekolah. Selain itu tata cara ulangan dengan remedial dan sistemnya yang membodohi murid supaya sampai pada kkm juga berlaku. Semua demi nama baik sekolah. Satu hal lagi yang paling saya tidak sukai adalah, sekolah “mendukung” osn entah dengan tulus atau tidak.. Tetapi menjadi yang didewakan, sekali lagi untuk nama baik sekolah.

    Sekolah sudah menjadi sebuah bisnis dengan mafia nilai di dalamnya. Mari kita doakan semoga di kedepannya pendidikan Indonesia lebih baik lagi. Inilah pendidikan kita, menTuhankan nilai diatas kertas. Nilai angka menginjak nilai harga diri anak yang sesungguhnya. Terimakasih untuk sharingnya pak. Salam.

  17. Ko di Tip ex ya mas,,, mungkin sang guru pas ngisi rapotnya malam malam alias lagi lembur jadi salah nulis atau apa hehhee
    Semoga kedepannya lebih baik lagi dan di tingkatkan lagi belajarnya

  18. Apa yg ditulis pak Dian sudah pernah sy dengar 2 thn y.l. pd saat sy mencari sekolah dasar buat si sulung. Sungguh miris ya pak, makanya saat itu sy memutuskan memasukkan anak ke sekolah swasta sj… Mnrt sy, nilai bukan menjadi patokan utama bagi pendidikan dasar

  19. hai pak dian..

    sepertinya indikator seorang guru juga dipertanyakan kualitasnya..

    apakah ingin menaikkan level sekolah tempat dimana mengajar atau bukan?

    atau ingin mencerdaskan anak anak didiknya.

    sepertinya pendidikan negeri kita belum memihak pada kualitas..

  20. Waduuh.. Miris banget bacanya om.
    Kalau gitu, sekolah hanya jadi bahan gengsi-gengsian pamer akreditas antar sekolah ya, bukan lagi tempat belajar mengajar.
    Jadi makin galau mau masukin anak ke sekolah negeri 🙁
    Makasih sharenya ya om. Salam kenal 🙂

  21. Setau saya, dalam nilai rapor kurtilas ada 3 hal yang dinilai. Kognitif, afektif dan attitude. Hal ini saya lihat dari rapor anak. Nilai ulangan hanya satu aspek, yakni kognitif. Masih ada 2 aspek lain yang bisa mengangkat nilai, mungkin tugas selain ulangan, juga perilaku saat bersekolah. Bukankah itu prinsip awal kurtilas? Jadi, anak gak hanya dinilai dari hafalannya. Nilai ulangan tidak identik dengan nilai rapor. Begitu sih, bacaan di rapor anak saya.

  22. Halo pak..
    Saya guru dan memang untuk nilai itu bisa dibilang subjektif..tp kembali lagi kemampuan anak ga hanya dilihat dr bagaimana mereka menyelesaikan soal2 tes. Bisa saja dengan kemampuan lain yang memang guru tau bahwa si A punya kelebihan.

    Soal nili di rapor menurut saya sih ga ada kaitanya dgn akreditasi deh.krn menetapkan KKM itu juga ada prosedur yg rumit melihat dr indikator setiap mapel…

    Saya jd guru aja jg miris krn msh banyak yg mendewakan nilai dalam rapor…

  23. HOAX….
    coba foto/scan nilai raportnya satu lembar penuh yang ada stempel sekolahnya.

  24. Betul Mama Sebastian, hati nurani kita berperang antara keinginan anak naik kelas dengan mempertahankan idealisme dan kejujuran.

    Terimakasih telah singgah

    Salam

    *Kalau boleh tahu di mana teman Mama Sebastian men-share artikel saya ini?

  25. Saya juga tidak tahu dan tidak menanyakan kepada guru bersangkutan mengenai tip ex ini, Catatan Harian Irfan.

    Terimakasih telah singgah

    Salam

  26. Inilah problem besar dunia pendidikan kita Ka Faqi, darimana mau memulai pembenahannya itulah yang repot

    Terimakasih telah singgah

    Salam

  27. Itulah benang kusutnya bung Mukhofas Al-Fikri, darimana mulai dibenahinya? sebuah pertanyaan yang sulit untuk mendapatkan jawaban yang tepat.

    Terimakasih telah singgah

    Salam

  28. Kita memang layak galau Ibu Jerapah dan tidak tahu harus bagaimana, karena kita hanyalah korban dari suatu sistem yang salah kaprah.

    Terimakasih telah singgah

    Salam

  29. Nilai rapor memang tidak mencerminkan nilai ujiah secara utuh mbak Liz Prayitno. Tapi bagi orang tua yang mengikuti perkembangan anaknya pasti bisa menilai, apakah nilai rapor itu wajar atau tidak. Bagi yang anaknya pintar mungkin tak masalah, tapi anaknya yang nlainya dibawah rata-rata, mendapat nilai yang bagus itu justru menimbulkan beban.

    Terimakasih telah singgah

    Salam

  30. Saya juga memahami bahwa penilaian tidak hanya pada hasil ujian maupun ulangan lainnya Gurukecil, Tapi pembengkakkan nilai yang diluar kelayakan itu juga membuat hati tidak nyaman.

    Terimakasih telah singgah

    Salam

  31. Dear Pak Dian, sejauh yang saya pahami menjalani aktivitas sebagai guru SD di setahun belakangan ini, untuk sebuah sekolah yang menerapkan penilaian tidak sembarangan memberikan nilai kepada anak didik, perlu pengolahan real dari nilai harian siswa (bukan hanya berupa angka).

    Bila sekolah menerapkan kurikulum tiga belas akan terlihat jelas dari 3 aspek penilaian yaitu kognitif, afektif, dan sikap. Jika masih menerapkan KTSP penilaian akan berbentuk angka seperti tersebut di atas yang di olah dari nilai harian dan berbagai aspek guru tersebut menilai.

    Jika dibilang dari nilai raport untuk mendongkrak akredetasi sekolah, tidak juga. Karena penilaian Akredetasi sejauh yang saya pahami aspek” yang harus dipenuhi sebuah sekolah sangat banyak dan tertata dari berbagai segi penilai dan untuk mempertahankannya pun dibutuhkan kinerja guru yang handal dari segi administratif, kualitas sekolah dan sebagainya secara berkelanjutan. Oia kalau disekolah kami juga menerapkan rapat” kinerja dan perkembangan siswa, yang didalamnya membahas masalah yang dihadapi dikelas termasuk kondisi siswa yang perlu perhatian dan penanganan khusus oleh guru walas dan guru” bidang termasuk pihak sekolah untuk perkembangannya ke arah lebih baik.

    Semoga hasil/output anak Bapak kedepannya lebih baik.

  32. Sebagai orang awam, saya memang tidak mengetahui secara persis bagaimana akreditasi sekolah itu ditetapkan, GuruPipit. Tapi dari penjelasan sang guru yang saya tangkap adalah bahwa untuk penilaian rapor ada batas minimal KKM untuk setiap akreditasi.

    Terimakasih telah singgah

    Salam

  33. salam saya sbg wali kelas.Selayaknya orang tua wajib mendidik anaknya. saat keputusan sekolah sudah berdasarkan aturan serta dilihat sikap dan sifat anak yang memang kurang disiplin mencerminkan bahwa anak kurang pendidikan dari orang tua. sementara guru hanya di anggap sebagai pendidik yang kurang mampu dalam mendidik anaknya oleh orang tua. jadi ketika anak anda tidak naik kelas berarti guru mendidik agar anak anda jera tidak melakukan kesalahan yang sama untuk ke 2 kali. karena guru mempertimbangkan sikap prilaku anak jadi anda sebaiknya bertanya pada anak anda apa kesalahannya jangan semena – mena memponis guru secara sepihak. saat anak rajin sekolah kecuali sakit dan izin, tugas selalu mengumpulkan serta belajar dikelas memperhatikan guru mengajar pasti kejadian anak anda tidak naik kelas tidak akan terjadi karena guru selalu mempertimbangkan nilai meski hasil UAS sangat minim.

  34. No Name

    Mungkin Anda tidak membaca artikel saya ini secara utuh atau malah tidak membacanya sama sekali, lalu langsung memberi komentar. Sehingga komentar Anda itu tidak nyambung dengan isi artikel saya.

    Terimakasih telah berkunjung
    Salam

  35. No Name

    Kenapa ada tipe Ex? pertanyaan itu bukan saya yang harus menjawabnya, tapi guru yang bersangkutan. Karena saya tidak pernah melakukan apapun terhadap rapor anak saya tersebut selain menanda tanganinya.

    Terimakasih

  36. miris lagi jika guru kelas ngajar les. nilai gk akan objektif. sy mngalaminya pak. anak sy yg cukup pandai malah dpt nilai C d raport k13. sdgkan anak2 yg oon malah dpt nilai A.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *