Ada kisah persahabatan selama 22 tahun di meja kerja ini.

Secara formal ini adalah hubungan bisnis antara saya dengan client. Awal kehadiran saya di ruangan ini tahun 1997 adalah sebagai teknisi komputer.

Perkenalan pertama saya dengan beliau ketika saya di telpon saat dalam perjalanan bersama keponakan sekeluarga. Client mendapat nomor saya dari iklan service komputer yang saya pasang di harian Republika. Karena tidak bisa menulis saat memegang HP dan mobil sedang berjalan, saya lalu minta tolong kepada Dewi, istri keponakan saya untuk menuliskan alamat si penelpon.

Esok harinya saya mendatangi alamat yang diberikan. Sejak itu hubungan ini berlanjut hingga 22 tahun lebih.

Saat saya berada Solok untuk suatu tugas 9 Januari lalu, sebuah pesan lewat WA masuk ke HP saya, dari Dudu, asisten yang sudah bekerja di rumah tersebut jauh lebih lama dari saya.

“Ayah,
Aki Kusjaman sudah tidak ada.”

Innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun.

Saya tertunduk setelah membaca pesan itu. Persahabatan kami selama 22 tahun lebih segera membayang, airmata saya berlinang.

Saat pertama saya datang ke rumah di Wijaya Timur ini, saya memperkenalkan diri dengan nama asli saya. Dan hingga kepergiannya, pak Kusjaman dan keluarga inilah satu-satunya diantara sekian banyak client saya yang memanggil saya dengan nama asli saya tersebut, sementara yang lain tetap memanggil saya pak Dian Kelana atau pak Dian.

22 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Pertama saya menangani komputer beliau di ruang kerja pribadi di rumah pensiunan sebuah perusahaan tambang milik negara ini, saya menemui sebuah personal komputer di ruang kerjanya, yang setelah saya cek sebenarnya tidak mengalami kerusakan. Masalahnya hanya pada media penyimpanan data atau harddisk yang sudah hampir penuh, hanya menyisakan sedikit ruangan untuk menyimpan data tambahan. Begitu juga RAM yang kecil, membuat komputer bekerja tidak leluasa mengolah data yang sedang dikerjakan. Saran saya saat itu hanya penambahan harddisk dengan kapasitas yang lebih besar, sekalian juga kartu memori-nya. Setelah saran saya dipenuhi, komputer tersebut pun bekerja dengan lebih leluasa.

22 tahun saya menangani komputer di rumah pak Kusjaman ini, saya tidak pernah menemukan kerusakan serius di perangkat yang ada. Karena komputer tersebut juga tidak pernah dipakai untuk bekerja berat, aplikasi yang sering dipakai hanya MS Excel dan MS Word.

Penyakit yang sering dikeluhkan hanya masalah komputer sering hang, sehingga membuat pak Kusjaman sering kehilangan kesabaran. Tapi saat komputer saya periksa dan mencoba memakai kedua program tersebut, saya tidak pernah menemukan trouble atau hang.

Nah, komputer hang saat saya menyaksikan bagaimana beliau bekerja dengan MS Excel, lalu tiba-tiba komputer ngadat. Setelah saya perhatikan rupanya terjadi kesalahan saat memasukkan rumus Excel yang tidak dikenal oleh program, sehingga komputer membutuhkan waktu yang lebih lama dari seharusnya sebelum menyatakan kalau rumus yang dimasukkan tidak dikenal oleh sistem. Setelah MS Excelnya di tutup dan kemudian dibuka lagi, semua berjalan lancar.

Seringnya Excel dan Word dipakai, karena pak Kusjaman memiliki sebuah sekolah SMK di dekat Pondok Cabe, tidak jauh dari kampus Universitas Terbuka.

Seringnya saya dipanggil, membuat saya sudah diperlakukan sebagai keluarga di rumah tersebut. Saya tak pernah lagi ditanya berapa uang jasa untuk apa yang saya kerjakan. Setiap pekerjaan selesai sering nasi sudah terhidang di meja. Bahkan tak jarang saya makan bersama tuan rumah.

3 tahun belakangan pak Kusjaman mulai sering masuk rumah sakit. Faktor usia dan mungkin juga beban kerja yang berat semasa masih bekerja, membuat fisik beliau menurun begitu cepat.

Olah raga golf yang sering beliau jalani mulai ditinggalkan. Inspeksi ke sekolah yang biasanya sekali seminggu semakin jarang, hingga hampir dua tahun terakhir, beliau tak bisa lagi lepas dari tempat tidur dan kursi roda.

Sebagai pekerja saya memang kehilangan client, tapi sebagai sahabat dan rasa kekeluargaan dan jalinan silaturrahmi, saya masih sering berkunjung ke rumah beliau. Ngobrol tentang apa saja. Kedatangan saya malah kadang menjadi obat dari kejenuhan tidur di pembaringan. Obrolan tentang perkembangan sekolah yang prestasinya semakin baik, sehingga siswanya selalu lulus 100 persen, membuat wajah yang tadi muram berubah menjadi cerah, semangat hidupnya pun kembali menyala, walau fisik tak mendukung dan bicara juga sudah mulai sulit. Tidak hanya di rumah, saya juga sempat mengunjungi beliau saat dirawat di rumah sakit yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat saya bekerja.

Sebagaimana saya tulis di Postingan sebelumnya, 20 Desember lalu saya pulang kampung. Karena ada acara dan pekerjaan yang saya tangani, saya di berada di Ranah Minang selama 20 hari, di hari ke 19 saya menerima pesan WA seperti yang saya tulis di atas.

Menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana perjuangan pak Kusjaman ini melawan sakit yang beliau derita dengan selalu didampingi istri beliau.

“Rasanya kepergian beliau adalah satu-satunya jalan untuk melepaskan beliau dari rasa sakitnya.” Seperti yang dikatakan istri pak Kusjaman saat saya berkunjung ke rumah.

“Ibu sudah ikhlas melepas kepergian bapak, setelah melihat dan merawat sakit beliau selama sekian tahun. Rasa kehilangan itu ada dan masih sangat terasa. Tapi Allah lebih tahu apa yang terbaik buat beliau. Apa yang terjadi ini, juga sudah tertulis jauh hari sebelum kita lahir ke dunia ini.”

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *