Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (11): Pergi Dibawah Todongan Senjata Api

 

Kebiasaanku setiap hari sejak tak seorangpun diantara kami yang boleh menemani umi di bok, adalah menunggu kepulangan umi menjelang zuhur, siang hari. Kemudian melepas beliau ketika umi telah selesai shalat ashar. Tapi itu tak berlangsung lama.

Hari terakhir pulang, umi bilang, umi tidak akan kembali ke bok, ketika diantara kakakku bertanya kenapa, umi bilang ketika mau pulang tentara yang berjaga mengatakan bahwa umi tidak usah lagi kembali ke bok .

Kami begitu bahagia, kini kami tidak lagi akan kehilangan umi buat selamanya. Keceriaan mulai bersemi lagi di rumah gadang, wajah-wajah kembali berseri. Kakak-kakakku mulai membersihkan lagi peralatan dagang umi. Dapur yang berantakan dirapikan lagi, masakan hari itupun agak istimewa.

Ketika mangrib menjelang, kami semua telah berada di rumah gadang. Umi dan kakak-kakakku semua menunaikan shalat magrib, kecuali uda Des dan aku yang masih balita.

Ketika semua selesai shalat, kami makan bersama-sama dalam suasana yang bahagia, karena umi telah berada lagi ditengah-tengah kami. Dentingan sendok beradu dengan piring, begitu sering dan nyaring terdengar. Hal yang tak pernah terjadi semenjak umi di tahan.

Selesai makan, peralatan dibenahi. Ketiga kakakku begitu bersemangat bekerja, sehingga dalam waktu singkat rumah gadang telah rapi kembali.

Baru saja aku mengambil nafas karena makan kekenyangan, aku mendengar suara sepatu seperti berlarian di sekeliling rumah. Aku ingat bunyi suara sepatu seperti itu seperti sepatu tentara yang ada di bok. Tak lama kemudian terdengar suara: “Oi….buka pintu…!!!

Serentak kami semua terdiam….hening!

“Oi….buka pintu!” suara itu kembali terdengar, dan rasanya lebih lantang dari yang pertama, ini disebabkan kami semua sudah terdiam. Mendengar suara itu, wajah-wajah yang tadi gembira langsung berubah, kami saling pandang, dan pandangan terakhir jatuh pada umi.

Umi tak perlu menunggu lama untuk bangkit dari tempat duduknya. Apalagi setelah melihat anak-anaknya dalam keadaan tegang, pucat, takut dan gelisah. Umi bangkit dan berjalan menuju pintu, nenek yang selama ini hanya diam tak pernah ikut campur, karena kondisi fisiknya yang sudah lemah dan sakit-sakitan, seakan mendapat firasat buruk, dengan tertatih-tatih ikut bangkit menemani umi.

Benar saja, baru saja umi membuka pintu, seorang tentara dengan persenjataan lengkap, langsung mengatakan:

“Ibu harus ikut kami sekarang juga!

Sementara dibelakang dan sekeliling rumah,beberapa orang tentara dalam posisi siaga, untuk menjaga segala kemungkinan.

Umi yang sudah terbiasa menghadapi tentara selama di bok maupun di pos Pintu Koto, apalagi mereka yang datang ini sudah dikenal oleh umi, dihadapi umi dengan tenang.

“Baik pak, tapi izinkan saya untuk berkemas dan shalat isya sebentar…”

Si tentara yang menjadi juru bicara, melihat kebelakang. Rupanya di antara tentara yang sedang mengepung rumah kami tersebut, terdapat tentara yang lebih senior. Si Senior mengganggukkan kepala.

Umi lalu masuk, kembali kedalam rumah gadang. Sementara kakak-kakakku sudah tidak tahan dengan situasi yang ada. Mereka mulai bertangisan, umi berusaha menenangkan mereka, namun tak berhasil.

Umi lalu masuk kamar, membuka lemari dan mengganti pakaian. Baju kurung putih dengan kerudung juga putih. Disaat umi bersalin bedug isya pun terdengar. Selesai bersalin umi langsung memakai mukena, kain sarung dan shalat isya.

Disaat umi shalat, adalah saat yang menegangkan. Kakak-kakakku tak bisa menghentikan tangisnya, nenekku juga sudah mulai terpengaruh, begitu juga etekku yang sedang memangku anaknya. Tuan Salim kakakku yang nomor empat hanya tertunduk diam, namun sesekali aku melihat dia menghapus airmatanya. Uda Des dan aku pun diam. Tuo yang sudah buta dan tak bisa kemana-mana, serta pendengarannya yang sudah berkurang, hanya duduk tafakur, di sajadahnya.

Selesai shalat, umi merapikan perlengkapan shalatnya. Mukena, kain sarung sajadah dilipat ditumpuk jadi satu. Umi lalu mengambil Al-Quran yang masih baru, dua buah. Satu Al-Qur’an biasa, dan yang satu lagi Al-Qur’an ukuran kecil. Kedua kitab suci itu di letakkan diatas perlengkapan shalatnya. Lalu dibungkus oleh umi dengan sebuah kain panjang yang dilipat dua.

Setelah semua selesai, umi berjalan memangku bungkusannya diharibaannya, menuju pintu keluar di rumah saruang. Serentak semua yang ada di rumah gadang saat itu bangkit mengiringi umi dengan tangisan yang tak lagi dapat dibendung.

Umi menuruni tangga, diiringi yang lain. Nenek yang sudah renta tergelincir di tangga, untung ada yang cepat memegang hingga tidak sampai terjatuh ke halaman. Semuanya turun mengiringi umi, tapi begitu sampai dihalaman kami dihadang. Dalam ratapan yang tak lagi terbendung, negosiasi terjadi diiringi tangisan, tapi semua kandas. Permintaan terakhir, agar aku diperkenankan ikut bersama umi, pun tak di kabulkan.

Umi dibawa pergi, di bawah kawalan tentara bersenjata lengkap, diiringi ratapan yang menyayat hati. Runtuhlah bumi tempat berpijak, putuslah tali tempat bergantung, kepada siapa lagi tempat mengadu. Semua menangis, kecuali satu orang. Si kecil yang hanya diam membisu, yang tak tahu harus berbuat apa. Setetespun airmatanya tak mengalir, namun pandangannya nanar, jauh…..,mengiringi langkah sang bunda yang di bawa pergi entah kemana, pergi dan tak pernah kembali…..

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.