Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (12): Hari-hari Yang Sunyi

Semenjak umi dibawa pergi dan tak pernah kembali, kehidupan kami dirumah gadang berubah. Tak kedengaran lagi bunyi alu beradu dengan lasuang. Menumbuk kopi untuk dijadikan sabuak. Karena tidak ada yang menggantikan umi untuk berdagang berkeliling kampung. Umi belum sempat melakukan regenerasi pada anak-anaknya yang masih gadis-gadis kecil yang baru berusia belasan tahun.

Tak kedengaran lagi canda tawa kakak-kakakku, tuan Salim, uda Des dan aku. Kesunyian, kesedihan dan rasa kehilangan menyelimuti rumah gadang. Hari-hari berlalu dalam kemuraman, isak tangis terkadang datang putus bersambung diantara kakak-kakakku, sambil sesekali bertanya dalam ratapan mereka, kapankah umi akan pulang? apakah umi akan pergi selamanya dan tak akan kembali lagi? Pertanyaan yang pelan-pelan menghilang, berlalu bersama berjalannya waktu, tak seorangpun dapat memberikan jawabannya…

Gairah kehidupan tak ditemukan lagi diantara kami anak-anak umi yang enam orang. Walaupun etek Timah maupun amai Uda selalu mencoba dan berusaha menasehati dan membujuk kami agar tetap tabah dan selalu bersabar dan tawakal, menyerahkan segalanya akan takdir Allah, namun semangat kehidupan kami telah terenggut. Nasehat itu mungkin hanya dapat dimengerti oleh kakak-kakakku Inan, Ipah, Pidan maupun tuan Salim. Namun bagi uda Des dan aku semua itu tak bermakna apa-apa, kami belum mengerti apa-apa.

Belum sempat aku mengerti arti menjadi yatim karena ditinggalkan ayah disaat aku masih dalam kandungan umi, dan kini aku dan uda Des yatim piatu, karena umipun telah pergi menyusul ayah.

Berita dikampung beredar simpang siur, ada yang mengatakan umi ditembak di Kabunalah. Perbatasan nagari Kamang dengan Salo yang sepi tak berpenghuni. Berbagai tempat dan kampung disebut sebagai tempat pembuangan mayat umi. Tapi tak satupun yang pasti.

Kami terombang ambing dalam ketidak pastian dan penantian. Mata kakak-kakakku telah pada sembab memerah, karena tangis yang kunjung berhenti. Aku, hanya akulah yang tak bisa menangis. Si bungsu yang baru berusia menjelang 4 tahun. Bila aku melihat kakak-kakakku menangis sambil memeluk aku, aku hanya terdiam dengan pikiran yang menerawang, dan tak tahu harus berbuat apa.

Mungkin inilah mukjizat yang diberikan oleh Tuhan padaku, tak setetespun airmataku mengalir, padahal semua kakak-kakakku dan keluarga yang lain bertangisan. Tuhan memberi aku kekuatan dalam menghadapi musibah ini.

Rumah gadang kini terasa sepi, lantainya yang tebuat dari kayu, tak kedengaran lagi berisik terinjak oleh kaki-kaki kecil yang berlarian kesana kemari, tak ada lagi tawaria, maupun celoteh dari mulut-mulut kecil, canda diantara kami bersaudara.

Sekeliling terasa suram dan muram, kehidupan rasanya berhenti. Uda Des tak lagi bersemangat mengajakku pergi ke ladang, menggembalakan sapi peninggalan ayah kami.

Tuan salim pun tak bersemangat lagi belajar jadi tukang perabot rumah tangga, yang menjadi industri utama penduduk Kamang.

Setiap pagi sejak umi masih ada, aku selalu bangun paling belakangan. Sebelum turun kehalaman, dan dibawa kesumur dekat ladang. Aku duduk di kapalo janjang, anak tangga teratas rumah gadang, memperhatikan kesibukan umi maupun kakak-kakakku yang sibuk bekerja, didapur maupun dihalaman dibawah pohon manggis.

Kini, sejak umi tak ada lagi, semua kegiatan maupun kesibukan itu tak ada lagi. Aku hanya termangu duduk dikapalo janjang sambil melepaskan pandanganku kehalaman maupun kedapur, melihat kakak-kakakku berkumpul di sana.

Lesung batu yang umurnya lebih tua dari kakak-kakakku, tergeletak begitu saja dibawah pohon manggis, tak beranjak sedikitpun dari tempatnya, dipenuhi daun-daunan dan air yang menghitam tempat bersarangnya nyamuk. Tak jauh, dua buah alu yang telapaknya diberi besi agar kuat menumbuk buah kopi, bersandar dipohon manggis. Besi yang biasa mengkilat dan licin memutih karena dipakai saban hari, mulai memperlihatkan karat. Kuali yang biasa dipakai untuk merendang kopi, tengkurap penuh debu diatas pagu dapur. Begitu juga kisukan, penyaring kopi yang telah halus jadi bubuk, tergantung diam dipaku tiang dapur. Kaleng kopi umi yang lingkarannya lebih besar dari pelukanku, yang biasa dipakai untuk berdagang keliling kampung dengan menjujungnya dikepala, kini telah berubah fungsi menjadi tempat peralatan dapur.

Aku lebih sering main sendiri, terkadang mengelamun sambil membayangkan dan berharap umi kembali. Fitrizal, anak etek Timah yang biasanya paling suka mengganggu aku, seakan juga mengerti dengan keadaanku. Bila aku duduk menyendiri, karena kakak-kakakku sibuk dengan urusannya masing-masing. Dia datang menghampiri, duduk diam disampingku.

Bila malam tiba, kesunyian itu makin terasa. Walau rutinitas kehidupan kami tetap berjalan seperti biasa. Namun hilangnya umi yang sehari-harinya memegang tongkat komando ditengah-tengah kami sangat terasa. Tak kedengaran lagi suara umi menyuruh kakak-kakakku membereskan piring setelah makan. Dan lalu dilanjutkan dengan perintah untuk mengaji membaca Al-Qur’an bersama-sama. Serta membetulkan bacaan siapa yang salah.

Kini bila makan malam tiba setelah selesai shalat magrib, semuanya membisu, hanya dentingan beradunya sendok dengan piring yang memecah kesunyian. Bila sedang mengaji membaca Al-Qur’an. Kalau semasa umi masih bersama kami, suara kakak-kakakku saling bersaing berirama melantunkan ayat-ayat suci itu. Kini, yang terdengar hanyalah bacaan lirih, yang sering diiringi isakan tangis.

Malam haripun berlalu terasa begitu lama. Suara binatang malam yang selama ini bagaikan musik merdu berirama indah, kini seperti nyanyian sunyi yang menyayat hati. Gemerisik daun kayu ditiup angin, seakan tarikan nafas umi yang sedang meregang nyawa diberondong senjata api. Malam-malam yang panjang, alangkah sulitnya mata terpejam.

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.