Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (13): Berjuang di Kehidupan Baru, Tanpa Umi…

Berjuang di kehidupan baru… tanpa umi

Hari-hari semenjak kepergian umi, walau kami rasakan begitu berat, namun berlalu tanpa terasa. Hari berganti minggu dan minggu pun menjelang bulan, dan bulan pun berlalu…

Pergolakan pun telah menjelang usai. Meninggalkan ribuan kisah yang tak terungkap. Mencerai beraikan mata rantai yang ter-putus, dan generasi yang hilang.

Airmata kami telah kering, kami-pun telah pasrah terhadap takdir yang telah terjadi. Namun kehidupan harus terus berlanjut, kami tak ingin hanyut dalam penantian yang tak pasti. Bahtera kehidupan harus didayung, bila kami tak ingin mati kelaparan. Kehidupan baru harus dimulai, kami tak bisa hanya menunggu dan menunggu. Enam mulut menunggu sepiring nasi pagi dan petang, harus ada yang mulai bergerak memegang tongkat komando…

Warung kecil di simpang labuah, yang semenjak umi di tahan tak pernah dibuka, mulai dibuka lagi. Kakakku nomor dua Latifah yang sehari-hari aku panggil anduang Ipah,  dan yang rajin mengikuti umi berjualan, menjadi motor dan menggerakkan kami. Dengan modal yang tersisa dan tak seberapa, dialah yang pergi berbelanja ke Bukittinggi untuk mengisi warung kami. Kadang-kadang dia ditemani oleh kakak-kakakku yang lain.

Mendung gelap yang bergelayut menutupi keluarga kami mulai menyibakkan diri. Sedikit demi sedikit wajah-wajah yang tadinya sendu mulai berubah. Walau tak seceria sedia kala, tapi cukuplah, untuk membangkitkan semangat untuk memulai belajar menghidupi diri sendiri. Karena bila tak begitu, ke mana nasib kan dikadukan? Tuhan tidak akan merubah nasib kamu, bila kamu sendiri tak berusaha untuk merubahnya. Demikian Tuhan mengatakannya dalam Al-Qur’an, dan orang-orang tua menyampaikannya pada kami.

Usaha kopi bubuk pun dilanjutkan lagi, untuk mengisi warung-warung kopi langganan umi yang kehilangan pasokan. Bunyi alu beradu dengan lesung kembali meningkahi hari-hari kami, walau tak se meriah seperti saat umi masih bersama kami, namun rumah gadang tak lagi sunyi. Setiap Selasa dan Jum’at, anduang Ipah membawa kopi ke pakan, pasar yang terdapat diperbatasan nagari Kamang dan Magek, yang tidak berapa jauh dari simpang Pintu Koto, dimana dulu terdapat pos tentara yang pernah aku datangi bersama umi, untuk melapor sebelum pergi ke bok tahanan di nagari Magek.

Pelanggan anduang Ipah yang tadinya pelanggan umi telah kembali dan malah bertambah, dengan tambahan embel-embel yang kadang sampai juga ke telinga kami, “untuk membantu anak yatim”

Sapi peninggalan ayahku akhirnya di jual, karena sudah tak terurus lagi dan tidak ada yang menggembalakannya, lalu dibelikan sebidang sawah.

Sementara kakak-kakakku berjuang untuk menyambung hidup, aku dan uda Des hidup berpindah-pindah.

Dari rumah gadang kami di Ladang Darek uda Des dan aku sering bolak balik ke rumah gadang keluarga ayahku di Guguk Rang Pisang. Bersama kakek, nenek beserta kakak ayahku yang aku panggil tuo yang sudah berkeluarga dan punya sepasang anak, laki-laki dan perempuan Azwar dan Ernida. Dua adik ayahku yang semuanya perempuan satu sudah berkeluarga yang aku panggil angah, dan yang belum berkeluarga yang aku panggil etek. Dua orang lagi adik ayahku laki-laki sudah berkeluarga, kami panggil pak Adang dan pak Angah tinggal di rumah istri mereka masing-masing.

Di dua rumah gadang Ladang Darek dan Guguk Rang Pisang inilah, masa balita hingga masa usia masuk sekolahku dihabiskan. Diselingi dengan merantau ke Pakanbaru selama beberapa bulan.

Di Ladang Darek, amai Uda dan etek Timah dua sepupu umi menjadi orang tua yang selalu mengawasi kami, walau mereka juga disibukkan dengan anak-anak mereka masing-masing.

Walau di dua tempat itu aku di perlakukan dan di pelihara bagai anak kandung dan perhatian yang cukup, namun kehilangan umi tetap tak tergantikan…

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.