Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (14): “Menikmati” Vanili

Warung di Simpang Labuah, di jaga bergantian oleh kakak-kakakku maupun tuan Salim. Sementara uda Des dan aku yang masih balita hanya menemani.

Karena warungnya kecil dan tidak ada yang menunggui malam hari, maka semua barang dagangan kalau sudah sore di bawa pulang kerumah. Besok paginya kembali lagi dibawa ke warung dan di pajang. Demikianlah barang dagangan itu bolak-balik dari warung ke rumah dan sebaliknya setiap hari.

Kebiasaanku bangun paling belakangan setiap pagi tetap tak berubah. Bila aku bangun rumah gadang telah kosong, karena semua kakak-kakakku telah memulai aktifitasnya di halaman maupun di dapur.

Biasanya setiap aku bangun, aku langsung berjalan menuju rumah saruang, yang merupakan gerbang rumah gadang menuju dunia luar ke halaman belakang, melalui tangga setinggi orang dewasa lebih. Dan disana aku duduk di anak tangga teratas, menikmati pemandangan kesibukan kakak-kakakku didapur maupun di halaman, sambil menunggu salah seorang diantaranya menjemput aku, dan membawa pergi mandi ke sumur yang ada di ujung ladang, dekat sawah.

Suatu pagi ketika aku bangun, dan dalam perjalanan menuju tangga di rumah saruang, aku melihat bakul bambu, yang di kampung kami bernama katidiang. Isi katidiang ini adalah barang-barang dagangan yang dibawa dari warung sore hari kemarinnya. Entah dapat ide darimana, tiba-tiba saja timbul keinginanku untuk melihat apa saja isi katidiang ini. Aku mendekati dan melihat apa saja yang ada disana. Tak cukup hanya melihat, lalu mengeluarkan isinya. Kopi yang sudah dibungkus pakai karisiak, teh yang dibungkus pakai kertas berwarna merah, garam, rokok berbagai merek dan entah apa lagi.

Selagi asyik membongkar isi katidiang itu, mataku lalu melihat bungkusan kertas putih. Kakakku bilang barang teresebut bernama Vanili, dan aku sering melihat umi atau kakakku memasukkan isi vanili ini kedalam adonan kue yang mereka buat. Mereka bilang Vanili itu gunanya agar kue yang mereka buat itu enak.

Aku lalu mengambil vanili itu satu buah, lalu membuka bungkus dan melihat isinya. Aku meihat isi vanili itu seperti gula pasir, namun ukurannya lebih besar. Dalam pikiranku, kalau vanili ini gunanya untuk membuat kue supaya enak, tentu rasanya juga enak. Tanpa berpikir panjang lagi aku lalu memakan vanili itu dalam sekali tuang kemulutku. Namun apa yang terjadi? Baru saja vanili itu menyentuh lidahku dan siap untuk menelannya, aku langsung memuntahkannya kembali keluar. Huekkkk….., pahit…!!!

Dengan mulut terbuka dan air ludah berceceran aku berlari menuju rumah saruang, sampai di tangga aku memuntahkan semua isi mulutku. Kakakku yang melihatku kebingungan, aku lalu minta air minum. Setelah diberi segelas air aku berkumur-kumur dan mencuci mulutku, barulah aku agak tenang.

Melihat benda warna putih kristal keluar dari mulutku, salah seorang kakakku yang naik kerumah dan menemukan bungkus vanili yang terbuka menanyakan padaku, apa aku yang mengambil dan memakan vanili itu. Aku mengangguk sambil tertunduk malu, sementara mereka semua tertawa terpingkal-pingkal…

 

Katidiang– Bakul yang dibuat dari anyaman bambu

Karisiak – daun pisang yang telah tua dan kering

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.