UMI DITAHAN

Apa yang dicemaskan keluarga selama ini akhirnya terjadi juga. Ketenangan kehidupan keluarga kami mulai terganggu.

Saat itu aku sedang bermain dirumah. Aku tak ingat lagi berapa orang kami yang berada dirumah saat itu. Beberapa orang tentara bersenjata lengkap mendatangi rumah kami. Aku tidak tahu siapa diantara kakakku atau keluarga lain, yang membiarkan mereka naik kerumah gadang, dengan memakai sepatu mereka yang kotor belepotan tanah. Hal yang tak pernah sekalipun dilakukan oleh keluarga kami, yang selalu menjaga kebersihan lantai rumah gadang. Aku sangat benci sama mereka, yang mengotori rumah kami dengan jejak-jejak sepatu tentara itu. Keluarga kami atau siapapun yang naik kerumah gadang, harus mencuci kaki dengan air cibuak yang ada dekat tangga rumah gadang. Kedatangan tentara itu juga didampingi orang kampung anggota OPR binaan PKI. Merekalah yang jadi tukang tunjuk siapa orang-orang kampung yang menjadi tentara luar atau anggota PRRI. Penunjukan ini bukan berdasarkan fakta, tapi karena fitnah maupun dendam pribadi.

Karena usiaku masih balita dan perbendaharaan kata-kataku belum seberapa, aku tak mengerti dan tidak tahu apa yang mereka bicarakan dengan umi maupun keluarga kami yang berada di halaman dan sekitar dapur saat itu. Bahasa mereka aku tak mengerti. Saat itu mereka membawa umi dengan paksa, dan tak seorangpun diantara kami yang boleh menemani, walaupun hanya seorang anak balita seperti uda Des atau aku. Seluruh keluarga kecuali aku, menangis melepas kepergian umi, tapi tak dapat berbuat apa-apa. Karena rasa takut juga menyelubungi seluruh keluarga. Tentara pusat itu membawa umi ke kamp mereka yang oleh orang kampung disebut “bok” di Magek, nagari tetangga kami.

Suasana keluarga kami langsung berubah sepeninggal tentara itu dan umi. Bisik-bisik mulai menyeruak diantara kakak-kakakku, wajah mereka diliputi kecemasan, semuanya jadi serba salah tingkah, ketakutan dan saling bertanya, kapankah umi pulang. Begitu juga keluarga etekku yang sama-sama tinggal bersama kami di rumah gadang.

Sore, malam hingga pagi esoknya rumah kami penuh ketegangan dan kecemasan. Rasa takut memenuhi semua anggota keluarga, kecuali aku yang tak mengerti apa-apa. Malam harinya bacaan ayat-ayat Al-Qur’an kakak-kakakku lebih panjang dari biasanya. Makan malampun tak lagi terasa nikmat, tak satupun terdengar celoteh yang biasanya saling bersahutan. Dentingan sendok beradu dengan piring, begitu nyaring terdengar memecah keheningan, membuat sipelaku menjadi semakin serba salah. Semua kelopak mata terasa panas dan tergenang air. Namun tak satupun tangis yang pecah. Langkah-langkah kaki kakak-kakakku yang biasanya berseleweran membenahi peralatan makan, yang membuat lantai papan rumah gadang berderit-derit, saat itu bagaikan langkah malaikat yang tak menjejak bumi.

Ketika semua aktifitas telah selesai, rumah gadang lebih hening dari biasanya, semuanya larut dengan pikiran masing-masing, menunggu hari esok dengan penuh kecemasan. Walau semuanya telah merebahkan diri di tempat tidur, namun tak satupun mata yang terpejam. Ada yang kembali bangun, lalu duduk menyandarkan tubuhnya ke dinding, memeluk lutut sambil menunduk membenamkan kepalanya diantara lutut dan dada, tapi dari tubuhnya yang bergetar, bisa diketahui dia tengah menangis, namun tak lama kembali membaringkan diri di atas kasur. Yang lebih sering terdengar adalah desahan tarikan nafas panjang, luapan beban yang begitu berat menghimpit dada. Kadang terdengar bisikan diantara kakakku, namun hanya sejenak, karena berikutnya yang terdengar adalah isak tangis diantara mereka. Setelah berusaha menenangkan diri, semuanya kemudian kembali hanyut dengan pikiran masing-masing.

Dalam ketidak mengertianku akan situasi yang menerpa keluarga kami, batinku merekam apa terjadi, dan menyimpannya didalam memori yang ada di kepalaku.

Malam itu terasa begitu dingin, walau kakakku telah menyelimuti aku dengan selimut tebal, namun hawa dingin itu tetap merasuk ketubuhku, sehingga aku sulit memejamkan mata. Kehangatan yang biasa aku rasakan dalam pelukan umi, kini menghilang begitu saja. Namun kantuk yang menyerang mata akhirnya membuat aku tertidur lelap juga.

Aku terbangun hari sudah siang, uda Des tidak ada lagi disampingku. Begitu juga kakak-kakakku yang lain, semuanya sudah bangun. Aku lalu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju rumah saruang,  membuka pintu lalu duduk di anak tangga teratas, sebagaimana biasa aku lakukan setiap pagi aku bangun tidur.

Kesibukan rutin setiap pagi sedang berlangsung di bawah, di halaman maupun di dapur. Namun suasananya jauh bebeda dari hari-hari biasa, tiada keceriaan. Langkah-langkah bergerak berat tak bertenaga dan diam tanpa suara, wajah-wajah yang sembab dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca. Yang kedengaran hanya suara ciapan anak ayam yang sedang mencari induknya, atau ayam-ayam betina yang berlarian dikejar ayam jantan, di sela meongan kucing minta makan, atau celotehan suara adik sepupuku Fitrizal dengan uminya, etekku.

Waktu berjalan terasa begitu lambat. Umi, dimana umi kini…..?

Bersambung

 

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.