Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (3)

Menjenguk Umi

Tiga hari setelah ditahan, selepas shalat zuhur, aku diajak oleh anduang Ipah, kakakku yang nomor dua. Katanya pergi menjenguk umi yang lagi di tahan di bok tentara pusat di Magek, nagari tetangga kami.

Aku sungguh tak bisa membayangkan, bagaimana senangnya hatiku saat itu. Aku akan bertemu umi lagi! Rasanya dunia ini terasa begitu lega, dan akulah yang paling bahagia saat itu. Tak sabar rasanya untuk bertemu umi, bayangan umi dengan senyumannya yang selalu dapat menyejukkan hatiku, umi yang bisa mendamaikan bila aku bertengkar dengan uda Des, kakak laki-lakiku yang umurnya dua tahun diatasku. Umi yang dapat menenteramkan hatiku, bila aku tengah cemburu melihat kebahagiaan adik sepupuku dengan papanya.

Anduang Ipah, adalah panggilan kesayanganku dan uda Des terhadap kakakku yang nomor dua. Arti Anduang itu bagi kami adalah kakak kandung, kakak yang paling menyayangi dan disayangi, berdua dengan kakak yang ketiga, anduang Pidan. Sementara kakak yang pertama Inan tetap saja kami panggil kakak. Aku sendiri tidak tahu siapa yang memulai panggilan ini dan yang memperkenalkannya, aku hanya tinggal melanjutkannya.

Setelah semua siap, kamipun berangkat. Aku berjalan berdua dengan anduang Ipah, karena terlalu bersemangatnya agar segera bertemu umi, aku sering berjalan lebih cepat mendahului kakakku. Dari kampungku Ladang Darek, kami  menyusuri  jalan kampung menuju Kabunalah. Kampung terakhir menjelang perbatasan nagari kami dengan nagari Salo. Kami, aku dan anduang Ipah, tidak melalui jalan yang melewati jalan tengah nagari Kamang yang langsung menuju nagari Magek, karena hal itu akan membuat kami berjalan memutar cukup jauh, karena posisi bok tentara pusat ini lebih dekat keperbatasan nagari Magek dan Salo.

Rupanya kabar penangkapan dan ditahannya umi telah menyebar ke seluruh kampung. Di sepanjang jalan yang kami lewati penduduk memperhatikan kami, tapi mereka tak berani mendekat. Karena mereka juga tak mau terlibat atau ikut difitnah oleh mata-mata OPR yang mungkin ada di tengah mereka. Mereka hanya terlihat berbisik-bisik diantara mereka sambil melepaskan pandangan kepada kami. Kalaupun ada yang berpapasan dengan kami, mereka berusaha segera menghindar. Bila bertegur sapa, yang kedengaran kadang hanyalah jawaban yang tidak jelas, yang diucapkan dengan langkah yang diayunkan semakin cepat, untuk menghindar dari kami. Tidak seperti biasanya, keakraban penduduk kampung yang serba terbuka dan penuh kehangatan, saat itu berubah total. Kami benar-benar merasa tersisih saat itu. Mata kecilku melihat pandangan orang kampung yang tak aku ketahui artinya. Senang, benci, pandangan mancimeeh, atau kasihan tak bisa aku terjemahkan. Di depan kami mereka diam dan berusaha menghindar, tapi begitu kami menjauh mereka terlihat berbisik sambil sesekali melihat ke arah aku dan kakakku.

Di simpang tiga Kabunalah  yang jaraknya dari kampungku sekitar dua kilometer, kami belok ke kiri. Kira-kira tigaratus meter kemudian melewati perbatasan nagari Kamang dengan nagari Salo, dan desa pertama yang kami masuki di nagari Salo itu adalah Kampung Panjang.

Setelah melewati beberapa desa lagi, kami belok ke kanan, menyusuri jalan yang menghubungkan nagari Salo dan Magek. Tidak jauh setelah melewati perbatasan kedua nagari itu kami masuk jalan kecil berupa jalan setapak. Kami melewati  kebun yang ditumbuhi berbagai macam tumbuh-tumbuhan kayu yang menjulang tinggi. Juga melewati beberapa rumah dikiri maupun kanan jalan. Setelah melewati beberapa tikungan, dari jauh aku melihat bangunan yang kelihatan Cuma atapnya yang terbuat dari daun rumbia terletak di atas tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya.

Setelah dekat dan kemudian sampai di bangunan itu, barulah aku tahu, itulah tempat yang kami tuju. Rupanya atap yang kami lihat dari jauh tadi memang terletak diatas tanah, menutup lubang perlindungan yang digali sedalam lebih tinggi dari orang dewasa.

Beberapa orang tentara berjaga-jaga disekitar bok atau bunker dengan senjata di tangan. Didepan kamp tentara itu terbentang sawah yang cukup luas, yang saat itu sedang menguning tinggal menunggu waktu untuk di panen.

Setelah kakakku ditanyai dengan berbagai macam pertanyaan dengan bahasa yang terdengar asing ditelingaku yang aku tidak mengerti, serta memeriksa barang bawaan kami sambil sesekali melihat kearah aku, akhirnya kami dipersilakan masuk oleh tentara yang menjaga disana. Kami menuruni tangga tanah dan sampai di ruangan yang cukup lebar yang banyak terdapat balai-balai tempat duduk baralaskan pelupuh bambu, bahkan beberapa orang tentara aku lihat sedang tidur disana.

Melihat kami datang, umi yang datang dari sudut ruangan yang kelihatannya seperti dapur, langsung bergegas menemui kami. Begitu sampai umi langsung memeluk aku, airmata umi berlinang, kemudian menetes mengenai tanganku, terasa hangat. Umi kelihatan berusaha untuk tidak menangis dihadapanku. Nampaknya umi cukup tabah dan menahan diri untuk tidak memperlihatkan kesedihannya. Umi berusaha sekuat mungkin tidak menangis dihadapan kami, walau wajah dan airmatanya tidak dapat menyembunyikannya.

Begitu juga kakakku anduang Ipah. Apakah karena ketakutannya kepada tentara yang bersileweran disekitar kami, membuatnya begitu tegar, walau airmatanya juga tidak bisa di tahannya untuk tidak terlepas dari kelopak matanya. Aku mendengar dia sesungukan di pelukan umi, tapi kata-kata maupun bujukan umi akhirnya bisa menenangkannya.

Bagaimana dengan aku?

Aku tidak tahu, kenapa aku tidak bisa menangis disaat-saat seperti itu. Kenapa aku tidak menjadi seorang anak yang cengeng dan menangis sekencang-kencangnya untuk melunakkan hati para tentara itu agar melepaskan ibuku? Kenapa aku hanya terdiam dan bisu disaat umi dan kakakku bertangisan? Ataukah memang Tuhan mengajari aku menjadi anak yang tabah menghadapi kesedihan, karena akan masih  banyak penderitaan dan cobaan hidup yang lebih berat nanti yang akan menerpa aku?

Kenyataannya saat itu adalah, aku hanya diam dan membisu. Namun mata hatiku mengamati semua yang ada disana, seperti yang aku lakukan bila aku duduk di tangga teratas rumah gadang, merekamnya di dalam memori otakku, seorang anak kecil berusia tiga tahun.

Umi menanyakan keadaan kami semua,  sambil menangis kakakku menceritakan keadaan kami yang bagaikan anak ayam kehilangan induk. Semuanya bingung tak tahu harus berbuat apa, disertai juga rasa ketakutan, kalau-kalau hal ini akan menimpa anggota keluarga yang lainnya.

Setelah menyerahkan rantang berisi makanan serta baju dan kain pengganti yang dibawa kakakku anduang Ipah, kami kembali pulang. Dalam perjalanan pulang anduang Ipah lebih banyak diam, sesekali aku melihat dia menghapus airmata dengan kain tingkuluaknya.

Sampai di rumah anduang Ipah dikerubuti oleh seluruh keluarga, semuanya berebut menanyakan keadaan umi.  Suara tangisan kembali mengiringi cerita anduang Ipah, sedangkan aku kembali kedunia kecilku, bersama Fitrizal sepupuku.

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *