Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (5)

Aku dibawa Umi ke bok

 

Sore, setelah shalat ashar, umi bersiap untuk kembali ke bok. Kakakku satu persatu mulai memperlhatkan ketidak relaannya umi kembali masuk tahanan. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, yang dapat mereka lakukan hanyalah menangis, ada yang sesungukan dan ada pula yang hanya terdiam membisu dengan pandangan mata menerawang, sementara airmatanya mengalir membasahi pipinya yang setiap saat dihapus dengan kain panjang yang dikenakannya . Aku hanya diam dan membisu, memperhatikan umi berbenah. Umi juga kulihat tak kuat menahan kesedihannya untuk berpisah lagi dengan anak-anaknya. Air matanya tergenang, namun di tahan agar tak pecah menjadi tangisan dan memperburuk suasana.

Setelah selesai berbenah, umi lalu berdiri dan memperhatikan kami, anaknya satu persatu. Umi lalu mendekati keenam anaknya, menyalami dan memeluk satu persatu. Bendungan airmata yang tadi ditahan umi akhirnya jebol juga, umipun menangis sambil memeluk anak-anaknya. Namun umi tak mau terlalu hanyut, walau kakak-kakakku ada yang menangis dengan ratapan yang memilukan, umi berusaha untuk tegar. Hingga akhirnya umi tiba dihadapanku, aku diangkat dan ditatapnya dalam-dalam. Aku hanya terdiam tak mengerti, sambil juga menatap wajah umi yang berlinangan air mata. Disana, dalam tatapan matanya, seakan umi menyampaikan suatu pesan untukku. Namun aku tidak tahu, pesan apakah itu gerangan.

Setelah kami saling bertatapan, aku dipeluk umi lalu direbahkan ke pundaknya. “si Mi akan umi bawa….!” Umi memecah kebisuan. Semua yang ada di rumah gadang terkejut lalu melihat umi dengan tatapan penuh tanda tanya dan rasa tak percaya mendengar ucapan umi dan menunggu ucapan umi selanjutnya. Tapi umi tidak berkata lagi. Semua yang ada di rumah gadang saling pandang, tapi akhirnya nampaknya menyetujui apa yang dikatakan umi dan akhirnya saling dukung.  Mereka seakan terwakili oleh diriku disamping umi. Itu terlihat dengan berkurangnya isakan tangis mereka.

Kami, aku dan umi, berangkat meninggalkan rumah. Kakak-kakakku beserta etekku uminya Fitrizal, melepas kami di depan tangga rumah gadang. Walaupun masih dengan airmata yang berlinang, mereka melepas kami dengan perasaan yang mungkin agak sedikit lega, karena ada aku di samping umi. Walau nantinya terjadi sesuatu dalam perjalanan kami, akupun tak dapat berbuat apa-apa.

Dari rumah memasuki jalan kampung kami belok kekiri, menuju persimpangan yang di kampung kami menyebutnya Simpang Labuah. Simpang empat yang tepat berada di tengah kampung kami Ladang Darek. Sampai di Simpang Labuah kami belok kekiri kearah barat. Sebelum terjadinya pergolakan, pada jam-jam sehabis shalat asar, Simpang Labuah ini selalu ramai oleh penduduk kampung, khususnya laki-laki yang melewatkan waktu istirahat mereka menjelang datang waktu magrib, apalagi di bulan puasa. Pada salah satu sudut persimpangan terdapat palanta, bangku panjang  setinggi paha orang dewasa yang terbuat dari bambu di belah dua. Disanalah mereka mengobrol.

Namun sejak terjadinya pergolakan PRRI, Simpang Labuah lengang. Begitu juga jalan yang kami tempuh  saat ini. Kalau bukan untuk tujuan yang benar mendesak, penduduk tak berani meninggalkan rumah mereka, takut menjadi sasaran fitnah OPR.

Kami melewati dusun Tanjuang dan Batu Bakaluak. Di dusun Panji kami belok kekiri, keluar dari jala raya. Masuk jalan kecil yang melewati  rumah penduduk. Kami mengambil jalan pintas, agar tak terlalu jauh bila harus melewati jalan raya dan melewati simpang Kubang Putih. Jalan kecil itu kemudian berujung di tanah lapang, tempat anak-anak muda bermain sepak bola, lapangan yang luas itu juga sepi tanpa ada kegiatan, hanya kami berdualah yang melintas disana. Lepas dari lapangan kami kembali ke jalan raya yang membujur lurus dari selatan ke utara, membelah dua nagari Kamang Ilia, yang berakhir di pinggir Bukit Barisan, yang membentengi Kamang Ilia di bagian utara.

Kami terus berjalan, dikiri kanan jalan jendela dan pintu-pintu rumah tertutup rapat. Kalaupun kami berpapasan dengan penduduk lain, tegur sapa sangatlah mahal. Tak satupun yang ingin terlibat, masing-masing menyelamatkan diri sendiri. Kami melewati Masjid Wustha, yang boleh dikatakan masjid termegah di nagari Kamang Ilia saat itu. Persis berhadapan di seberang jalan bangunan Panti Asuhan Muhammadiyah yang beratap genteng. Namun panti asuhan tersebut juga sepi, bubar gara-gara pergolakan PRRI ini. Anak asuh kembali ke keluarga masing-masing, atau ikut kehutan mengungsi menyelamatkan diri, begitupun pengurusnya.

Aku mengikuti langkah umi yang berjalan di sampingku, bila aku capek umi menggendong aku dalam pangkuannya. Umi berjalan dalam diam, dan aku telah belajar dari kakak-kakakku. Bila umi diam kami tak boleh mengganggunya. Dan kini itulah yang aku lakukan.

Akhirnya kami sampai di Pintu Koto, Simpang empat pintu gerbangnya nagari Kamang Ilia menuju kota Bukittinggi. Rumah-rumah maupun warung yang berada disekitar sana semua tertutup. Beberapa orang tentara duduk-duduk di palanta  bambu yang  terdapat di beberapa tempat yang ada warungnya. Kami langsung menuju pondok kecil yang berdiri persis ditengah persimpangan. Umi membisikkan ditelingaku yang saat itu berada di pangkuannya, “Kita ke pos tentara…!” kata umi.

Mendekati pos aku diturunkan umi dari pangkuannya, lalu kami langsung masuk. Di dalam pos aku lihat seorang tentara duduk di kursi di belakang meja, umi lalu menemuinya dan berdiri di depan meja tentara itu. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan umi dengan tentara tersebut. Karena aku asyik melihat berbagai macam senjata yang tersandar, maupun yang tergantung di paku di kiri kanan maupun yang di dinding  di belakang  tentara yang menjaga pos itu. Aku tidak tahu nama-nama senjata itu, walaupun aku sering mendengar kakakku menyebut nama senjata kanon, basoka, pistol, granat atau meriam, namun tak satupun yang aku tahu, mana senjata yang disebutkan kakak-kakakku itu.

Setelah umi selesai berbicara dengan penjaga pos, kami langsung keluar. Umi menuntun tanganku. Kami terus berjalan kearah nagari Magek, melewati Pakan Salasa. Pasar yang terletak diperbatasan nagari Kamang Ilia dan Nagari Magek, yang ramainya dua kali seminggu, setiap hari Selasa dan Jum’at. Lewat Pakan Salasa kami sampai di persimpangan, kami belok kekiri.

Setelah berjalan agak lama, kami belok kekanan masuk jalan kecil diantara perumahan dan kebun. Setelah berbelok beberapa kali kekiri maupun ke kanan melewati persimpangan, kami sampai di bok tentara di nagari Magek, yang pernah aku datangi bersama anduang Ipah beberapa hari sebelumnya, namun melewati jalan yang berbeda.

Sebelum masuk ke bok umi ditanyai, sesekali tentara yang menanyai umi melihat kepadaku. Tentara yang menanyai umi itu kelihatannya marah kepada umi. Rupanya kehadiranku disana tidak dikehendaki, tapi akhirnya umi dan aku tetap dibiarkan masuk, setelah si penanya berbicara dengan tentara lain yang nampaknya lebih tua dari dia, mungkin atasannya.  Tidak berapa lama setelah kami masuk ke dalam bok tentara tempat umi ditahan itu, bedug magribpun berbunyi.

 

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *