Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (6): Aku Menginap di Tahanan

 

Kami masuk kedalam bok, setelah umi ditanyai oleh tentara yang berjaga diluar. Sampai di dalam umi, meletakkan aku di salah satu balai-balai bambu. Aku duduk, sementara umi meletakkan barang bawaannya, pakaian ganti, dan dua bungkus nasi yang dibungkus pakai daun pisang yang dibawa dari rumah. Sementara umi pergi berwudhuk kesumur diluar bok, aku memperhatikan keadaan di sekelingku.

Ruangan dalam bok itu diterangi sebuah lampu petromak, yang di kampung kami lebih akrab dipanggil lampu starongkeng. Tidak seperti biasanya, bila orang kampung memasang lampu pertromak menggantungnya di langit-langit rumah, maka lampu di dalam bok ini diletakkan saja di atas lantai balai-balai dengan tudung lampunya yang tetap terpasang. Sehingga cahaya lampu itu hanya menerangi bok bagian bawah, sedang bagian atasnya remang-remang.

Di balai-balai sebelah yang aku duduki, ada dua orang wanita yang nampaknya lebih tua dari umi, disebelahnya lagi, seorang laki-laki yang umurnya mungkin sama dengan ayah tuo, ayah kakak-kakakku. Kedua wanita itu beberapa kali melihat kearahku, begitu juga laki-laki disebelahnya. Awalnya aku tidak tahu kenapa kedua wanita dan satu laki-laki ini berada didalam bok ini, belakangan barulah umi mengatakan bahwa mereka juga sedang di tahan, sama dengan umi.

Dibalai-balai yang lain aku melihat beberapa orang tentara. Semuanya berpakaian seragam sedang bersiap-siap seperti mau pergi, masing-masing mempersiapkan senjatanya.

Umi kembali dari sumur, lalu mengambil mukena dan sarung untuk shalat magrib dan memakainya. Setelah itu umi naik kebalai-balai tempat aku duduk, membentangkan sajadah dan shalat.

Selesai shalat dan membenahi perlengkapan shalatnya umi mengambil bungkus nasi, yang tadi dibawa dari rumah. Setelah menawari makan kedua wanita serta laki-laki sesama tahanan dan para tentara yang masih berada didalam bok, kami makan berdua. Umi hanya membuka satu bungkus nasi, karena isinya cukup banyak. Bila makan dirumah, umi selalu mengawasi anak-anaknya makan, bila ada yang makannya nasinya berantakan atau berserakan di luar piring, atau kalau ada diantara kakak-kakakku makan sambil bercanda, serta makan dengan mengunyah nasi dengan mulut  berdecak umi akan langsung menegur. Tapi saat ini umi makan tanpa suara sama sekali, umi dengan sabar membenahi nasiku yang berantakan diatas daun maupun yang jatuh ke balai-balai. Aku memang belum bisa makan dengan baik tanpa nasi berserakan, tangan kecilku belum bisa menggenggam nasi dengan benar.

Selesai makan umi membenahi balai-balai tempat kami duduk, lalu membentangkan selembar kain panjang diatasnya, umi lalu menanyaiku apakah aku mengantuk, aku menganggukkan kepala.

Perjalanan panjang hari itu, memang membuat aku kecapean. Dan makan kenyang bersama umi menambah berat beban mataku, dan aku tak perlu menunggu lama untuk tertidur pulas diatas balai-balai bambu beralaskan kain panjang, dan tubuhku diselimuti umi dengan kain panjang lain yang rupanya telah dipersiapkan umi sebelum keberangkatan kami dari rumah.

Dinginnya udara malam membangunkan aku dari tidurku, ini juga disebabkan karena bok itu hanya berlantai dan berdindingkan tanah.

Kulihat disampingku umi berbaring miring menghadap kearahku, juga hanya berselimutkan kain panjang. Ketika aku mengalihkan penglihatanku kearah lain, aku juga melihat kedua tahanan wanita yang bersebelahan dengan tempat tidur kami, juga tidur dengan berselimutkan kain panjang tapi tanpa alas dibawahnya.

Pergerakan badanku rupanya membangunkan umi dari tidurnya, atau jangan-jangan malah umi belum tidur sama sekali. Umi lalu memperbaiki selimut yang tidak lagi menutupi badanku, aku lalu melihat ke wajah umi, umi menangis! Aku tidak mengerti mengapa umi menangis ditengah malam itu. Aku lalu memeluk umi, umipun lalu memeluk aku. Dinginnya udara malam yang tadi kurasakan mulai berkurang, namun tetap lebih dingin dibanding bila aku tidur dirumah diatas kasur dan berselimutkan selimut tebal yang hangat.

Beberapa suara tembakan terdengar memecah kesunyian malam, namun jaraknya cukup jauh dari bok tempat kami berada. Tapi walau begitu, umi berusaha agar aku tidak mendengarkan suara tembakan itu dengat menutup telingaku dengan tangannya, tapi itu percuma. Sepinya malam membuat suara tembakan itu terdengar nyata, walaupun jauh dari tempat kami berada. Aku lebih sering malah mendengarkan suara tembakan itu dari jarak yang lebih dekat, sewaktu kami bersembunyi dilubang perlindungan dirumah dapur sebelum  umi ditangkap.

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *