Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI (7): Menikmati Masakan Jawa

Aku terbangun hari sudah siang. Umi tidak ada disampingku, aku lalu duduk sambil melihat ke sekeliling. Aku melihat umi sedang berada di sudut bok yang berfungsi sebagai dapur, melihat aku bangun umi lalu mendekatiku. Umi mengemasi balai-balai tempat tidur kami, melipat kain panjang yang menjadi alas tidurku dan juga selimut. Sambil bekerja umi menanyaiku apakah aku mau mandi, aku mengangguk. Selesai membereskan tempat tidur kami, umi memangku aku keluar dari bok.

Dari pangkuan umi aku melihat banyak tentara bergelimpangan tidur dengan masih memakai pakaian seragam mereka, aku tidak tahu kapan mereka kembali dari operasinya. Sesampai diluar bok aku juga melihat beberapa orang tentara yang baru bangun, maupun yang sudah selesai mandi serta yang masih berjaga-jaga.

Sampai di luar bok aku diturunkan umi dari pangkuannya. Kami berjalan menuju sumur yang terletak di pinggir tabek ikan, dibawah bukit dimana bok berada. Setelah agak jauh dari bok kami menemukan jalan dua jalur, kekiri jalan datar kearah kampung yang kami lewati kemarin, waktu datang dari rumah dan mampir di pos Pintu Koto, sementara yang kekanan jalan menurun. Kami mengambil jalan yang ke kanan. Jalan ini menurun, disebelah kiri kami tebing yang semakin jauh kami turun, tebing itu makin tinggi kurasakan. Dikanan kami jurang curam yang berujung di tabek ikan.

Di ujung penurunan terdapat sebuah sumur. Di sekeliling sumur ditutup dengan daun kelapa yang dijalin bersilangan setinggi orang dewasa, kecuali sisi dekat tebing.

Aku dimandikan umi, dinginnya udara pagi membuat aku menggigil kedinginan, tapi itu hanya sebentar setelah aku disabuni rasa dingin itu mulai berkurang. Setelah selesai mandi dan ganti baju kami kembali ke bok. Umi tidak ikut mandi, karena umi sudah duluan mandi sewaktu umi bangun subuh.

Sampai di bok aku melihat ada orang baru yang belum pernah kulihat sebelumnya, rupanya dia orang yang mengantarkan makanan untuk tentara yang bermarkas di bok. Dihadapannya beberapa buah rantang berisi makanan terletak di atas balai-balai yang ukurannya paling luas. Beberapa orang tentara diantaranya sudah menikmati sarapan paginya.

Melihat tentara itu makan, umi lalu mengeluarkan bungkusan nasi yang dibawa dari rumah kemarin, yang masih tersisa satu bungkus. Umi mengambil air buat cuci tangan, mencuci tangannya dan kemudian juga tanganku. Umi membuka bungkus nasi, setelah bungkusnya terbuka, kelihatanlah nasi putih dengan lauk ditengah-tengahnya. Walaupun sudah terletak semalaman, namun nasi yang kami makan itu biarpun dingin tapi tidak basi.

Melihat kami makan nasi dingin, seorang tentara yang kelihatannya lebih tua dari yang lainnya, mengajak aku ikut makan bersama mereka, umi menolak ajakan itu secara halus. Tapi dia rupanya serius mengajak aku makan bersamanya, dengan menyuruh si pengantar nasi menjemput aku dengan menggendongnya ketempat mereka makan. Umi dengan perasaan serba salah terpaksa membiarkannya.

Aku didudukkan disamping tentara yang lagi makan itu, diambilkan piring dan diisi nasi. Ketika akan diisi lauk pauk aku bingung, karena aku belum pernah melihat masakan yang ada dihadapanku itu sebelumnya. Tanpa bertanya, si pengirim nasi menambahkan lauk itu ke piring yang diambilkan untukku. Aku hanya diam saja, karena suasana yang asing di dalam bok itu masing menyelimutiku.

Setelah isinya lengkap, piring makanan itu lalu di letakkan dihadapanku. Beserta secangkir air teh untuk minumnya. Aku melihat kearah umi, umi hanya mengangguk.

Aku melihat piring nasi yang telah berisi lengkap itu. Pelan – pelan aku mengambil kentang, aku berpikir kok gulai kentangnya berwarna coklat? Biasanya kalau umi memasak gulai kentang, warnanya putih, kuning atau merah. Tapi yang ada dihadapanku saat itu gulai kentang berwarna coklat seperti kolak . dengan perasaan penuh tanda tanya aku membawa kentang itu kemulutku. Baru saja kentang itu tergigit dan kuah yang menempel disana tersentuh oleh lidahku, aku tersedak, kentang itu terasa terasa manis! Aku kelabakan.

Di keluarga kami, adalah larangan yang paling keras memuntahkan makanan dari mulut, makanya setiap akan menyuap nasi atau makanan apapun, kami disuruh memeriksa dulu apa yang kami makan, kalau ikan apakah ada tulangnya, kalau buah mungkin busuk, atau makanan yang dimasak mungkin basi. Tapi aku saat itu, tak bisa mentaati larangan itu. Kentang yang rasanya manis  seperti gula merah, langsung aku muntahkan ke tanganku, dengan perasaan takut, aku melihat kearah umi. Rupanya umi juga melihat kearahku. Umi meninggalkan makannya dan menghampiriku, dan mengambil kentang yang tadi aku muntahkan ditanganku, sambil bertanya kenapa. Tapi bukannya jawaban atas petanyaan umi yang aku berikan, malah aku minta minum, karena dimulutku masih tertinggal sisa gigitan. Umi lalu mengambil cangkir air teh yang telah disediakan pengantar nasi tadi. Tanpa berpikir panjang aku lalu meminum air yang di cangkir itu. Baru saja aku minum beberapa teguk aku tersedak lagi, dan lebih parah, karena air yang baru aku minum keluar dari hidung!

Umi nampaknya mengerti permasalahanku, umi segera pergi ke balai-balai tempat dia makan, lalu mengambil cangkir bekas minumnya yang masih berisi air, dan sekalian membawa kain panjang. Aku kembali diberi air minum dari cangkir yang di bawa umi. Aku minum, sementara umi membersihkan lantai bekas tumpahan air sedakanku.

Cukup banyak aku minum, hingga cangkir yang dibawa umi kosong. Setelah aku agak tenang, barulah aku sadar, tentara yang sedang makan itu mentertawakan aku!

“Kamu tidak suka smur, ya?” kata si pengantar nasi kepadaku dalam bahasa Minang yang kedengaran aneh di telingaku.

Aku hanya diam, sementara hidungku perih dan kepalaku berdenyut-denyut karena kesedakan tadi. Mataku kembali melihat gulai kentang yang masih ada di piring makanku. Smur, itu nama gulai kentang ini? Tapi kok manis? Gulai kok manis? Alam pikiran kecilku dijejali pertanyaan yang aku tak tahu jawabannya. Sebab bila umi maupun kakak-kakakku membuat gulai, pasti pedas tak pernah manis, dan belum habis sensasi rasa gulai manis ini meneror selera makanku, sensasi kedua ikutan menyerbu, disaat aku ingin menghilangkan rasa gulai kentang manis itu dari mulutku dengan minum air tawar, yang diberikan pengantar nasi itu justru teh manis!

Bukannya aku tak suka teh manis, tapi kebiasaan kami makan selama yang aku tahu tak pernah minumnya pakai teh manis. Jadi sensasi rasa teh manis disaat aku mengharapkan air tawar itulah yang membuat aku tersedak lebih parah, sebab airnya sudah sampai di tenggorokanku karena aku minum buru-buru untuk menghilangkan rasa manis smur kentang.

Aku dipangku umi kembali ke balai-balai tempat umi makan, nasi dingin peninggalan kemarin itu masih tersisa banyak, karena umi baru memakannya beberapa suap sebelum kejadian yang menimpa aku tadi. Tanpa bertanya umi lalu menyuapi aku. Rasa masakan yang sudah begitu familiar di lidahku, membuat aku segra melupakan kejadian tadi dan makan bersama umi hingga nasi itu habis oleh kami berdua. Sementara tentara itu juga makan dengan nikmatnya dengan smur kentang yang rasanya manis itu, serta minum dengan air teh yang juga manis.

Bersambung

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.