Si Gila Hormat yang Menjadi Pembunuh Berdarah Dingin

Dari tahun ketahun bila Ramadhan tiba, kita senantiasa di suguhi berita duka dari kalangan masyarakat miskin. Dari berbagai media terutama televisi, kita menyaksikan bagaimana antrian masyarakat golongan bawah itu berdesakan, saling dorong, lalu jatuh dan terinjak. Ada yang hanya sekadar luka memar namun tak jarang ada yang sampai pingsan bahkan meninggal karena tak tertolong lagi. Semua itu terjadi hanya karena ingin mendapatkan selembar uang 20 ribuan atau sekantong plastik sembako dari orang “dermawan” maupun orang kaya yang tinggal di suatu kota besar maupun kota kecil.

Hal ini terjadi karena sang “dermawan” atau si orang kaya itu ingin mengeluarkan zakatnya di bulan Ramadhan, sebagaimana diwajibkan dalam salah satu rukun Islam. Sebenarnya pengeluaran atau perhitungan zakat ini tidaklah muthlak dilakukan pada bulan Ramadhan. Karena hal ini dapat di bayarkan kapan saja, asal penghitungannya sudah cukup dalam setahun. Hanya saja karena bulan Ramadhan dianggap sebagai bulan penuh rahmat dan pahala yang melimpah, maka di jadikanlah bulan Ramadhan ini sebagai saat menghitung dan mengeluarkan zakat ini. Tentu saja dengan mengharapkan pahala yang berlipat ganda pula, disamping keinginan membantu para fakir miskin itu untuk ikut bergembira menyambut datangnya hari raya Idulfitri.

Namun disayangkan pembayaran zakat yang nilainya 2.5 persen dari kekayaan yang didapatkan selama setahun ini, dalam pelaksanaannya terkesan sebagai pemberian yang bentuknya seperti hanya sedekah. Seperti tidak didasari dengan ilmu yang cukup dan niat yang ikhlas sebagai suatu kewajiban yang harus ditunaikan sebagai seorang muslim, lebih terkesan lagi adalah sebagai wadah untuk pamer kekayaan dan rasa riya.

Padahal kewajiban Zakat itu dibebankan kepada seorang muslim adalah bagian dari perintah agama untuk pengentasan kemiskinan. Lalu pengentasan apa yang di dapatkan dengan memberikan uang sekadarnya maupun sembako yang hanya bisa untuk makan sehari dua hari yang untuk mendapatkannya juga harus menyabung nyawa?

Banyak cara yang lebih cerdas untuk membayarkan zakat. Cara yang paling sederhana dan tidak perlu ribet atau repot adalah melalui amil zakat yang saat ini bertebaran dimana-mana. Mulai dari Bazis bentukan pemerintah hingga Dompet Duafa yang sepenuhnya swasta, atau yang paling ringkas badan amil zakat yang ada di masjid disekitar kita. Namun bila ingin memberikannya langsung kepada mustahiq atau mereka yang berhak menerima zakat ini, para muzakki atau sipemberi zakat bisa saja memberikannya kepada orang yang telah dipilih dan menurut penilaiannya layak untuk dibantu.

Diantara banyak pilihan itu diantaranya bisa dengan memberikan bea siswa kepada pelajar dari keluarga tak  mampu, misalnya untuk setahun penuh atau kalau memang nilai zakatnya cukup besar bisa hingga si pelajar tamat dari sekolahnya. Pilihan lain adalah dengan membantu permodalan para pedagang kecil, hingga bisa berkembang menjadi menengah atau besar, hingga si pedagang yang tadinya mustahiq itu bisa berbalik menjadi muzakki, atau dia yang tadinya berada di kaki lima bisa pindah ke toko. Bisa juga dengan memberikan peralatan yang lebih lengkap untuk bengkel-bengkel kecil di kakilima, sehinga si pemilik bengkel bisa bekerja dengan lebih leluasa melayani pelanggannya, hingga dia kemudian bisa berkembang menjadi bengkel yang lebih besar dan dapat menampung pekerja yang lebih banyak, hingga mengurangi pengangguran.

Apa yang saya uraikan di atas hanyalah sebagian kecil dari banyak kemungkinan yang bisa di lakukan oleh para muzakki dalam menunaikan kewajibannya, sehingga tujuan mengentaskan kemiskinan itu tercapai walau baru pada skala yang lebih kecil atau ruang lingkup yang lebih sempit. Tapi apa yang dilakukan ini jauh lebih tepat daripada membagi-bagikan uang kepada fakir miskin dengan cara yang salah, hingga sampai menimbulkan korban luka-luka, pingsan atau malah meninggal dunia.

Saya kira Anda para muzakki, tidak ingin dituduh sebagai pembunuh berdarah dingin, hanya karena ingin pamer kekayaan dan rasa riya ingin terkenal dan masuk berita televisi sebagai orang dermawan. Biarlah hanya Anda dan Tuhan yang tahu apa yang Anda kerjakan dan apa yang ada di dalam hati Anda. Andaikan tangan kanan Anda memberi, biarlah tangan kiri Anda tak mengetahuinya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *