Suatu Pagi di Talang Babungo

BIMTEK Penulisan Buku Ajar yang dilaksanakan di SDN 09 Talang Babungo, Solok. Masih meninggalkan banyak kesan yang layak disajikan dalam bentuk tulisan, agar tak hilang ditelan waktu.

Setelah menjemput 3 nara sumber ke Bandara Minangkabau, Padang. Masing-masing Omjay alias Wijayakusumah dan ibu Betti Resnalenni dari Kogtik, Jakarta serta pak Edi S. Mulyanta dari penerbit Andi, Yogyakarta. Kami langsung menuju Desa Tabek, Nagari Talang Babungo.

Karena hari sudah malam, kami langsung diantar menuju homestay yang sudah disiapkan panitia, yaitu homestay 13 milik pak Toni yang sehari-harinya juga adalah kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Rumah dengan 4 kamar ini nampaknya memang sudah disiapkan sebagai homestay bagi para tamu atau wisatawan yang berkunjung ke Talang Babungo. Setiap kamar sudah dilengkapi dengan kamar mandi berikut dengan shower air panas dan dingin. Di setiap kamar terdapat dua dipan ukuran besar untuk dua orang. Sehingga kamar tersebut bisa dipakai untuk 4 orang. Untuk mengurangi dinginnya udara malam, juga disediakan selimut tebal di setiap tempat tidur.

Bangun pagi, selesai shalat subuh, ada kejutan buat kami. Sepiring nasi goreng panas datang menemani. Bukan sekadar nasi goreng seperti yang dihidangkan hotel buat sarapan gratis, tapi benar-benar nasi goreng yang nikmat dengan bumbu yang lengkap berwarna kemerahan. Sehingga kami benar-benar menikmati hidangan lezat di pagi yang dinginnya menusuk tulang itu. Dua hari nginap di homestay 13, dua hari pula kami menikmati nasi goreng yang nikmat tersebut.

Karena acara hanya dua hari, maka jatah homestay kami juga hanya dua malam di homestay 13. Namun karena masih ada bonus acara liburan dari panitia, maka di malam ketiga kami dipindahkan ke rumah ibu Gusmaletri, salah seorang panitia yang sebenarnya juga berupa homestay, dan sebelumnya diisi oleh peserta Bimtek yang saat itu telah kembali ke tempat masing-masing, sehingga homestay 6 milik ibu Gusmaletri tersebut kosong.

Karena rumah ibu Gusmaletri ini berdampingan dengan masjid, begitu subuh tiba kami dibangunkan suara azan. Bersama Omjay yang juga sudah bangun, kami berjalan ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.

Saat masuk masjid dan berjalan menuju sajadah untuk melaksanakan shalat sunat, saya melihat suatu pemandangan yang cukup unik. Seperti yang saya posting di di facebook, sebagian besar jamaah yang memakai kain sarung dan sedang melaksanakan shalat sunat sebelum shalat subuh berjamaah, tidak memakai sarungnya sebagaimana biasa dengan melilitkannya di pinggang, tapi mereka menyangkutkan kain sarung tersebut di leher, sehingga kain sarung tersebut juga berfungsi sebagai selimut, untuk menutupi tubuh mereka dari dinginnya udara di kaki Gunung Talang yang memang dingin menusuk hingga ke tulang. Sebuah pemandangan yang belum pernah saya lihat dimanapun sebelumnya. Tapi hal ini saya maklumi, karena mereka yang memakai kain sarung seperti itu tidak memakai jaket untuk menghangatkan tubuhnya dan melindungi tubuh mereka dari hembusan udara pagi.

Kembali ke homestaynya ibu Gusmaletri, tawaran kopi atau teh manis diajukan tuan rumah kepada kami. Untuk menghangatkan badan, saya memilih kopi.

Baru sempat menghirup kopi yang disuguhkan, hidangan istimewa untuk sarapan pagi menyusul datang. Sebagaimana di homstay 13 sebelumnya, kembali kami disuguhi nasi goreng panas dan masih mengepul. Dalam hati saya bergumam, mungkin hal ini sudah menjadi tradisi di nagari Talang Babungo ini, sajian hangat untuk meredam hawa dingin pegunungan.

Nasi goreng panas ini juga saya dapatkan saat saya menginap di rumah ibu Sri Melni di nagari Koto Gadang Guguak keesokan harinya. Sehabis mengantar Omjay, bu Betti dan pak Edi ke Bandara Minangkabau hari sebelumnya. Saya kembali ke kecamatan Gunung Talang karena ada keperluan lain disana, disamping itu juga untuk mengirimkan buku #BalitaPRRI kepada 10 guru yang beruntung saat saya mengajukan quiz dadakan di acara Bimtek Talang Babungo.

10 hari berada di Kabupaten Solok, khususnya di Nagari Talang Babungo, Koto Gadang Guguak dan Talang, banyak kenangan yang terbawa kembali ke tanah rantau di pulau Jawa. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk bermain ke sana lagi. Insya Allah.

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *